Ustadz Nikah Yuk

Ustadz Nikah Yuk
Sadar Diri



Saat itu, Alvin akan bersiap-siap untuk pulang. Lalu, dia melihat hpnya yang disimpan dimeja.


"Coba chat Aisyah dulu lah," batin Alvin, sambil tersenyum.


"Ukhty Aisyah?" chat terkirim.


Dreeet


"Siapa ya?" batin Aisyah bertanya, saat hp yang disimpan disaku roknya bergetar.


"Ustadz Alvin?" Aisyah melihat hpnya, dengan tangan kanan.


"Naam ustadz?" balas Aisyah.


"Dimana?" Respon Alvin cepat.


"Ana masih disekolah, ada rapat osis ustadz."


"Oh yaudah. Pulangnya hati-hati ya! Ana pulang duluan."


"Naam ustadz. Oh ya ustadz, mau tanya dulu."


"Kenapa?"


"Mobil hitam yang di parkiran punya siapa ya?"


"Kenapa memangnya?"


"Qodarullah, ana tadi jatoh diparkiran. Ana parkirnya buru-buru tadi, soalnya ada berkas yang jatoh dijalan. Terus ana gak lihat lagi, motor ana nyenggol mobilnya gak yah? Ana takut orangnya marah."


"Innalillahi, terus anty dimana sekarang?"


"Di UKS. Ini mau rapat osis, ustadz. Tadi ada sedikit luka."


"Anty benaran lukanya gak parah? Di uks sama siapa?"


"Ana sendiri, ustadz."


"Oh yasudah. Mobil ana, punya mama. Tukeran kemarin. Jadi anty gak usah mikirin mobilnya lagi. Terus berkasnya dimana jatohnya?"


"Serius ustadz? Alhamdulillah. Tapi insya allah gak kena kayanya, tapi takut aja sih bagian belakang motornya ngegores mobilnya. Ana gak lihat siapnya ustadz. Kalau berkasnya jatoh dijalan, beberapa meter sebelum ke gerbang ustadz."


"Naam. Sudah dulu ya!"


"Naam ustadz."


Alvin pun buru-buru keluar dan mencari berkasnya. Karena takut kehujanan, saat dia mendengar suara petir dan cuaca yang sudah sangat mendung.


Sementara Aisyah, yang sudah memasukan hpnya kembali ke saku. Sedang mencuci tangan, lalu dia berusaha keluar. Dengan kakinya yang sedikit-sedikit ditekat, dipaksakan untuk berjalan.


Dreeet


"Siapa lagi?" batin Aisyah, namun dia meneruskan mengunci uks dulu.


"Ukhty Aisyah? Gimana keadaanya? Afwan anu buru-buru chat nya, takut ketshuan ust Adrian. Ukhty, ust Adrian senyuk ke ukhty Amalia, sepertinya sudah bertukar nomor hp. Afwan, anty harus mempertshsnkan ust Alvin. Ust Adrian kaya gitu. Emot marah." chat dibuka oleh Aisyah, dari Aminah.


Deg


"Baru terdengar suara petir yang sangat mengagetkan. Tapi berita ini lebih megagetkan." gerutu Aisyah.


"Naam ana mau kesana ukhty." chat terkirim.


"Yes. Biarkan saja, ana takut ukhty Aisyah sakit hati. Kalau tiba-tiba nanti tahu dari orang kain, kelakuan mereka. Hah." batin Aminah merasa puas.


"Ukhty Amalia orang kaya, ustadz Adrian juga orang kaya. Sedangkan aku? Ah jadi minder, mungkin saya harus membuang rasa obsesi ini." batin Aisyah, sambil berusaha tetap berjalan untuk masuk ke ruang osis.


Diruang osis, para pengurus sedang mendiskusikan kira-kira apa saja kegiatan yang akan ada saat pelantikan. Amalia dan Adrian terlihat sedang berdiskusi lewat laptop. Dan mereka tak pernah lepas dari pandangan Aminah.


"Haduh, lemes banget aku. Benar-benar lemas, gimana mau jualan nih aku. Pada sakit banget badan." batin Aisyah, menyenderkan tubunya ditembok dekat pintu ruang osis.


Dreeet


"Afwan, ini berkasnya udah ana temukan." Alvin mengirim foto berkasnya.


"Alhamdulillah, ustadz Alvin benar-benar baik sekali." batin Aisyah.


"Alhamdulillah. Syukron ustadz, afwan itu berkasnya gak apa-apa dibawa ustadz dulu. Ini udah ujan gerimis, besok ana ambil. Itu hanya data santriyah yang akan ikut ldks, sudah ada filenya di laptop kok."


"Naam. Kalau begitu, ana pulang dulu."


"Hati-hati ustadz." balas Aisyah, sambil menaruh hpnya kembali.


"Assalamu'alaikum." ucap Aisyah, sambil mengetuk-ngetuk pintu.


"Waalaikumsalam wa rahmatullah," serempak semuanya.


"Biar ana buka pintunya," ucap Amalia, yang lamgsung bergegas membuka pintu.


"Ukhty Aisyah?"


"Naam ukhty Amali, afwan telat." Aisysh mencoba tidak merasakan sakit akibat lukanya.


"Anty tidak apa-apa, ayo masuk!"


"Nggak apa-apa ukh, santai ini gak seberapa kok lukanya,"


"Dibanding dengan rasa cemburu ana yang sedang membara." lanjutnya dalam hati, sambil melirik ke arah Aminah. Yang sudah menatapnya dengan tajam.


"Silahkan duduk ukh." Amalia mempersilahkan duduk, dikursi khusus Ketua Osis, yang tadi diduduki nya.


"Kenapa dia duduk disini?" batin Adrian, melirik ke arah Aisyah yang ada didekatnya, berjarak kurang lebih setengah meter. Amalia sendiri hanya tersenyum ke arah Adrian, saat melihat Aisyah sudah duduk dikursinya.


"Cih, sok perhatian." batin Aisyah.


"Seperti yang terlihat ustadz, ana baik-baik saja. Lukanya gak terlalu parah kok,"


"Yan lebih parah luka di hati ana tadz. Ah, nafsu syaiton." batin Aisyah.


"Naam." ucap Adrian, dan memposisikan laptopnya ke arah Aisyah.


"Duh, jadi gak enak sama ukhty Amalia." Adeian melirik ke arah Amalia, yang sedang membuka berkas. Dan tak sengaja, terlihat oleh Aisyah.


"Bikin kesel aja, rasanya ingin nonjok meja." batin Aisyah mulai berkecamuk.


"Toyyib semuanya! Perhatian!" ucap Aisyah tegas.


"Tadi bahasanya sampai mana ustadz?" tanya Aisyah, lebih dekat.


"Mereka sedang mendiskusiakan kegiatan yang akan ada diacara pelantikan."


"Toyyib. Gimana masing-masing bidang, sudah ada ide yang akan diajukan?"


"Afwan ukhty Aisyah," seorang Santriyah berdiri.


"Saat pelantikan akan ada empat pos, post 1 di lapangan, pos 2 di taman, post 3 di perpustakaan, dan pos 4, didekat ruang guru."


"Sudah dicatet ukhty sekretaris?"


"Sudah ukhty Aisyah."


"Baik. Disetiap post ada kegiatan apa saja?" Aisyah melirik sedikit ke arah Adrian, yang dari tadi mendengarkan tapi terus melirik ke arah kiri.


"Pos pertama ada materi evaluasi yang diambil dari materi yang disampaikan saat kegiatan sebelumnya. Pos dua ada game. Pos tiga pengetahuan umum. Dan pos empat argumen dari setiap post."


"Baik. Untuk post dua, game apa?"


"Untuk game nya sudah disiapksn oleh ukhty kabid 4, hanya saja beliau gak hadir."


"Afwan ana tidak sempat absen tadi. Toyyib, nanti sekretaris hubungi beliau. Lalu catet game nya seperti apa. Dan untuk pos empat, argumen apa maksdunya?"


"Jadi, nanti setiap kelompok akan disuruh membuat argumen. Menurut mereka pemimpin yang baik itu seperti apa?"


"Catet dulu. Yang ini ana sendiri kurang srek. Karena bahasan tentang pemimpin baik itu kan udah ada dimateri saat sebelum evaluasi. Jadi, coba ralat. Jadi mereka siruh berargumen, apa yang kurang saat mereka dipimpin oleh kita sebgai pengurus osis sebelumnya. Jadi, manfaatnya buat kita. Nanti hal yang kurang dari kepempimpinan kita, bisa di beritahukan ke para pengurus yang baru."


"Naam ukhty, hanya itu ukhty. Afwan." Santruyah yang menjadi kabid tersebut, duduk.


"Toyyib." pinta Aisyah.


Lalu dia mengetik sesuatu di laptopnya.


"Afwan ustadz?" Aisyah memperlihatkan tulisannya di laptop, agar yang lain tidak curiga.


"Apa ana harus duduk dibelakang? Atau tidak menghadiri rapat ini?"


Deg


"Apa maksud anty?" ketik Adrian.


"Anta seperti jijik sama ana, Afwan."


"Kata siapa?" Adrian kali ini, membalasnya dengan menulis dikertas. Jadi, mereka gak curiga. Mereka menganggap mereka sedang berdiskusi. Termasuk Amalia, yang masih fokus ke berkas.


"Baiklah." Aisyah, hanya membalas seperti itu, lalu buru-buru dihapus. Dengan cepat, dia memundurkan bangku, dan berdiri.


"Anty sedang apa?"


"Ana lagi cek balance data santriyah ukh." ucap Amalia.


"Lanjut besok saja ukh. Anty tadi sedan bahas apa sama ustadz Adrian?"


"Santriyah ukh."


"Naam. Anty pindah dulu duduknya, terus anty lanjutkan lagi bahasannya. Biar ana leluasa, ana mau bahas yang tadi sama para kabid." ucapan Aisyah sanhat serius, yang langsung dipercayai Amalia.


"Toyyib ukh." Langsung Amalai pindah duduk.


"Sebenarnya dia kenapa?" batin Adrian.


"Ustafz Afwan ana lanjutkan ya yang tadi."


"Naam ukhty." Adrian langsun menatap ke layar laptop.


"Baiklah, jika dekat dengan ukhty Amalia anta senang tadz. Ah, jadi minder. Aku yg keluarganya banyak utang, malu jika hrus mncintai org yg kaya raya. Trmasuk anta dan ustadz Alvin. Walaupun ustadz Alvin, dari dulu suka memnerikan perhatian lebih." batin Aisyah, sambil pura-pura membaca selembar kertas, yang diberikan kabid tadi.


"Afwan yang bertugas membua materi siapa?" tanya Aisyah, yang tidak kngin berlama-lama melamun.


"Ana ukh." saohsatu kabid menjawab.


"Sekretaris maju kesini!"


"Tulis, rapihkan semua yang dibahas tadi. Termasuk materinya, unyuk game kosongkan dulu. Hari ini harus diajukan ke ustadz Adeian sebagai pembina, waktu sangat mepet." ucap Aisyah tegas.


"Cerdas benar-benar cerdas, pantad jadi ketua osis." batin Adrian, iya-iya aja saat Amalia menjelaskan, lain diotak lain di hati lain dikenyataan. Fikirannya kemana-mana.


"Bendahara?" panggil Aisyah.


"Naam ukhty?"


"Tolong serahkan laporan keuangan bulan sekarang!"


"Ini ukhty!" Santriyah yang menjadi bendahara, menyerahkan satu maf, berwarna biru.