Ustadz Nikah Yuk

Ustadz Nikah Yuk
Kemarahan Adrian dikelas



Dreet dreet


"Afwan, ana angkat telpon sebentar. Kasih minyak lagi aja, biar cepat siuman." ucapnya berlalu keluar.


"Naam ustadz," ucap beberapa santriyah.


"Kesempatan nih, ah bikin sw dulu, siapa tahu dilihat ustadz alvin." batin Ratna.


"Sad sad sad. Kenapa Ukhty A lagih sih yang dapat perhatian dari ustadz baru. Jadi pengen ikutan pingsan. Wkwkwkw." Send. Ratna membuat sw.


"Semoga aja dibaca, biar ustadz Alvin kepanasan dan menjauhi ukhty Ais." Melirik Aisyah sinis.


"Ukhty, pakaikan lagi aja cadarnya, dia sebentar lagi pasti sadar. Akan marah kalau taju cadarnya dibuka." ucap salahsatu santriyah.


Sementara diluar kelas


"Anta mau kesini? Ana masih ngajar nih, pulang habis asar." ucap Adrian mengganggam telpon.


"Ana kesana sama siapa? Ora tahu tempatnya tadz."


"Coba tanyakan sama umi, ada salahsatu pegawai ikhwan dirumah. Anta bisa suruh anterin sama beliau. Katakan saja, ana Ashraf yang semalam sama Adrian."


"Naam naam. Yasudah, nanti ana telpon lagi. Wassalamu'alaikum ustadz?"


"Naam, wa'alaikumsalam." Menutup telponnya.


"Emm, bau ih." Aisyah menepis minyak kayu putih, dari balik cadarnya.


"Alhamdulillah, anty sudah sadar." ucap beberapa santriyah yang masih mengerumuni Aisyah.


"Tunggu!" Aisyah memejam-mejamkan matanya beberapa kali.


"Apa ana pingsan?"


"Betul." ucap salahsatu santriyah.


"Afwan, ana belum sarapan tadi. Gara-gara dari semalam sakit perut, jadi tidurnya kemalaman."


"Pasti lagi pms." tebak santriyah.


"Betul. Perut sakit, kaki sakit, belum makan, haduh itulah penyebabnya. BTW ustadz Adri dah keluar?"


"Memangnya kenapa? Anty kok tanyain dia?" Melirik ke arah pintu.


"Gak enak kalau ana pingsan. Kesannya tuh ana lemah gitu. Haduh, bisa-bisa makin jauh dari kriterianya nih?"


"Ktiteria apa ukh?"


"Kriteria pasangannya lah, sepertinya beliau suka akhwat yang strong, ya kan?"


"Haduh, anty masih saja bahas itu. Gak usah halu kali." Ketus Ratna.


"Ekhm," Aisyah mencoba berdiri, dengan kaki yang sedikit diangkat dan langsung mengadap ke arah Ratna.


"Afwan anty bilang apa tadi?"


"Gak usah kebanyakan halu, ukhty Al Hakiiiiiim!" Ketus Ratna.


"Anty dari tadi mancing-mancing terus, ngajak berantem?" menggebrak meja.


"Anty kalau gak suka sama ana karena ustadz Alvin. Dekatin sana!" bentak Aisyah.


Diambang pintu, Adrian hanya menyender santai seperti seseorang yang sedang menonto drama.


"Gak bakalan ana dekatin, beliau sudah kepincut sama anty." Menatap tajam Aisyah


"Kurang ajar!" Melempar pulpen. Semua yang dikelas kaget.


"Ukhty Ais sudah!" salahsatu santriyah yang bernama Amalia itu, mencoba menenangkan Aisyah.


"Tunggu sebentar ukhty! Sepertinya ukhty Ratna belum puas, jika belum mendapatkan apa yang beliau mau." Tegas Aisyah, mengangkat tangan. Isyarat penolakan santriyah tadi, yang mencoba menenangkannya.


Prok prok prok


Adrian bertepuk tangan, sambil berjalan ke tengah.


"Hebat! Selama dua tahu belajar hanya teori yang didapat? Dan adab tidak pernah dipelajari? Apalagi diamalkan." Sindir Adrian.


Aisyah langsung menunduk, semua santriyah ketakutan.


"Bukan ana yang mulai!" ucap Aisyah.


"Tidak ada yang mengizinkan Anty berbicara." Bentak Adrian.


"Sabar! Duduklah ukhty Aisyah!" titah Santriyah yang baik tadi. Aisyah pun duduk.


"Apa perlu ana beritahukan kelakuan Antunna ke Ustadz Alvin?"


"Jangan ustadz!" larang Ratna.


"Jangan karena untuk jaga image." teriak Aisyah yang masih kesal.


"Jangan mulai ukhty Aisyah!" Bentak Adrian. Semua santriyah ketakuatan.


"Pelajari Adab sebelum Ilmu! Faham?"


"Fahimtu ustadz." Serentak santriyah.


Sementara di UKS


Raina terus mengerjai Aminah. Dia menyuruh Aminah terus memijit kepalanya yang tidak sakit.


"Afwan ukhty Raina! Sebaiknya kita ke kelas. Apa anty sudah kuat berjalan?"


"Kita paksakan saja ukhty, ana juga minta maaf. Anty jadi kerepotan urusin ana." Pura-pura membuka tutup matanya.


"Naam. Ayo biar ana bantu ukhty." Aminah membantu Raina untuk duduk terlebih dahulu.


Waktu pulang sekolah hampir tiba, saat itu Aisyah sedang berada di toilet. Dia dianter oleh salahsatu santriyah. Karena Aminah dan Raina, masih mengerjakan tugas Qur'an hadits yang tertinggal.


"Ukhty Amali? Afwan, gimana ini hijab ana jatoh, jadinya basah." teriak Aisyah.


"Yahh??? Terus gimana dong?" respon Amalia.


"Basah ukhyy, kotor."


"Yaudah tunggu sini! Ana ke kelas dulu; ana ada hijab dama cadarnya cuma warna hitam. Kebetulan mau ana bawa mudik tadinya ukh."


"Yaudah gak apa-apa, kan kelas udah gak ada. Aku tinggal nunggu ukhty Mina ngerjain tugas doang."


"Yaudah tunggu ya ukh!"


"Ukhtyyyyy?"


"Kenapa ukh? Ana masih disini!"


"Makasih ukhty udah baik," Aisyah tersenyum.


"Naam. Anty kunci dulu toiletnya. Takut ada yang masuk."


"Naam ukhty."


Dikelas lain, terlihat Adrian dan Ashraf sedang mengobrol, lalu datang Alvin yang baru saja keluar kelas.


"Ustadz? Baru keluar?" tanya Adrian ramah.


"Naam ustadz." Melirik ke Ashraf.


"Oh iya. Assalamu'alaikum, ana Ashraf kawannya Ustad Adrian."


"Waalaikumsalam, naam. Ana Alvin. Ustadz juga baru lulus?"


"Naam ustadz."


"Sini gabung ustadz, kita nyantai sebentar." ajak Adrian.


Tak lama kemudian, Aisyah dan Amalia baru saja masuk ke kelas. Disana hanya ada beberapa orang santriyah yang masih mengobrol.


"Afwan ukhty! Ukhty Amina kemana?" tanya Aisyah sambil masuk ke kelas.


"Oh iya, anty suruh nunggu didepan ruang guru saja ukh. Tadi ukhty mina buru-buru ngumpulin tugas qurdis sama bahasa inggris. Itu juga mau test bahasa inggris dulu sama ukhty Raina.


"Naam. Ukhty Amalia mau bareng?"


"Naam. Ayo! Ana sudah ditunggu bapa nih, didepan gerbang." Sambil bawa tas.


"Yasudah ayo!"


Disisi lain, Malik lagi VC sama istrinya diruang guru.


"Naam sayang, bawa motor kan?" tanya Malik ke istrinya.


"Naam abi, aku dah diparkiran nih bi. Bentar lagi kesana. Kamu masih ngapain bi?"


"Aku masih ngetik sih, bentar lagi nih." Sambil melirik le Laptopnya.


"Yasudah," Telpon dimatikan.


Tak lama kemudian, istrinya ustadz Malik bertemu dengan salahsatu ustadzan yang juga akan pulang, merekapun mengobrol.


"Assalamu'alaikum ukhty Amali, sampe jumpa hari senin. Insya Allah." ucap Aisyah merangkul Amali.


"Waalaikumsalam. Anty cdpat sembuh kaki nya yah! Daahhhh." Amalia pun pulang.


Aisyah berjalan melihat ke arah Dewan Guru.


"Yah, masih lama kayanya." Melihat ke arah Amina dan Raina yang sedang ditest bahasa inggris.


"Duduk dulu deh," Aisyah duduk, sambil mengeluarkan headset dan hpnya. Lalu dia melihat film perang islam.


Tak lama kemudian, Malik menutup laptopnya. Lalu dia bergegas untuk pulang.


"Ustadz Riza? Ana duluan!" Menghampiri Riza, yang baru saja duduk usai ngajar.


"Naam ustadz. Hati-hati ustadz."


"Assalamu'alaikum." ucap Malik dan tersenyum lalu berlalu.


"Waalaikumsalam," ucap Riza sambil melihat hpnya.


Dibalik hijab/batas ruang ustadzah dan ustadz


"Loh? Suara ustadz Riza tuh, berarti belum pulang." ucap Amina dalam hati. Sedangkan Raina, sedang ditest bahasa inggris.