
Suara riuh para santriyah terdengar ketika bel pulang berbunyi. Kecuali, kelas x, xl, dan para pengurus osis yang akab melaksanakan pelantikan.
Semua kelas x dan xl yang sudah diizinkan untuk mengikuti pelantikan. Terlihat langsung bergegas ke lapangan dan mengantri untuk menyerahkan surat izin orang tua, kepada pengurus osis yang bertugas.
Sesuai dengan agenda yang sudah disahkan, mereka akan mengikuti beberapa kegiatan. Sampe menginap, dan akan pulang sekitar jam sepuluh pagi di hari minggu.
"Ukhty, tolong pake speaker saja untuk mentertibkan para santriyah agar tidak teriak-teriak." titah Aisyah, kepada santriyah bagian Humas.
"Baik ukhty." Sedikit berlari untuk mengambul speaker.
"Sabarya! Sabarya! Ayo barang-barangnya jangan sampe tertinggal ya! Surat izin nya yang belum disetorkan, tolong segera setorkan." teriak Raina.
Aminah, Amalia, dan para pengurus osis yang lain melakukan tugas yang lain.
"Ukhty afwan, ustaz Alvin nya udah datang?" tanya Amalia yang ngos-ngosan dibalik cadarnya sambil membawa selembar kertas.
"Hah?" Aisyah yang mendengarnya hanya melongo.
"Kenapa ukh?"
"Anty bilang ustadz Alvin tadi. Kenapa beliau?" Aisyah yang sudah berada ditengah-tengah kerumunan para santriyah merasa keheranan.
"Eh. Afwan emang iya? Maksud ana ustadz Adrian ukhty." ralat Amalia merasa malu.
"Iya gak apa-apa, biasa efek panik itu ukh." Aisyah mencoba menenangkan.
"Gak biasanya ukhty Amalia seperti itu, apalagi ana lihat, ngobrol sama ustadz Alvin kemarin." Batin Aisyah pura-pura melihat jam. Amalia sendiri langsung pamit untuk mengerjakan tugas ya ada di Aula.
Disisi lain, seorang santriyah kelas xI yang ditugaskan untuk mengumpulkan data beasiswa kemarin merasa kebingungan.
Beruntunglah para pengurus osis, memakai jas osisnya. Sehingga bisa lebih dikenali oleh para peserta. Aisyah sendiri memakainya, dibelakang jasnya terdapat tulisan "Leader Of OSIS".
"Nah, itu ukhty Aisyah." ucap santriyah tersebut yang langsun menghampirinya, saat Aisyah sedang memantau kinerja Raina dan wakilnya untuk mengumpulkan surat izin.
"Assalamualaikum ukhty Ais?"
"Oh ya, waalaikumsalam ukhty Rina. Kenapa?"
"Afwan ukhty, ana kemarin gak jadi ngumpulin data beasiswanya. Nunggu hari ini, karena harus ada foto kopi kk dan ktp wali."
"Laa ba'sa. Udah dikumpulkan sekarang?" Aisyah tersenyum.
"Sudah ukhty, ada di bawah meja ana dikelas. Insya Allah gak bakalan hilang, karena kunci kelas ana yang pegang."
"Oh gitu, syukurlah. Yaudah nanti saja kalau ada waktu senggang ya, tapi jangan sampe besok. Karena datanya mau diambil sama ustadz Malik, nanti habis magrib beliau baru datang. Sekarang masih di Kabupaten sama ustadz Ishak lagi rapat."
"Naam ukh. Afwan ya, tadinya mau ana kasih sekarang tapi takutnya anty sibuk." Menunduk.
"Nanti saja gak apa-apa. Ayo sekarang anty baris dulu, mau dibagi kelompok dulu." titah Aisyah.
"Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh," ucap Humas sambil memegang toa kecil berwarna putih.
"Waalaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh." jawab semuanya.
"Afwan akwhaty fillah, apa sudah baris sesuai kelas masing-masing?"
"Sudaaaaaah."
"Toyyyiiiiiib. Sekarang kita bagi kelompok dulu ya!" Mereka pun membagi-bagi kelompok.
Diruang guru, terlihat Adrian yang sedang tertidur, sambil bersidekap dada dengan posisi duduk.
"Massya Allah, ustadz Adrian lelah banget kayanya." ucap Ashraf yang baru saja balik dari kelas putra.
"Telpon Aisyah dulu deh," batin Ashraf sambil berlalu keluar, dan ke dalam hanya untuk menyimpan bukunya.
"Naam. Waalaikumsalam ukhty Ais."
"..."
"Ada diruang guru, kelelahan kayanya tidur sambil duduk."
"...."
"Untuk apa?"
"..."
"Oh, jadi sambutan dari pembina dulu? Setelah itu baru kegiatan dimulai?"
"..."
"Gimana banguninnya ya? Gak enak duh," batin Ashraf dan masuk lagi ke dalam.
Krik
Krik
"Lima menit lagi nih, ah bangunin aja deh." Batin Ashraf.
"Ustadz? Ustadz?" Menepuk pelan bahu Adrian.
"Oh ya?" Adrian membuka matanya pelan.
"Afwan ana bangunin,"
"Oh ya gak apa-apa, justru ana yang makasih udah dibangunin." Menyipitkan matanya melihat hp.
Deg
"Jangan panik! Mereka udah siap kok, hanya saja ustadz ditunggu untuk memberikan sambutan sekaligus pembukaan acara akhir dari LDKS." ucap Ashraf menyodorkan minum.
"Syukron." Adrian langsung minum, Ashrafhanya menangguk pelan.
"Apa ada yang mencari ana?"
"Gak ada. Hanya ukhty Ais yang menanyakan ustadz tadi."
"Apa dia kesini?"
"Nggak, dia nelpon tadi."
"Anta gak pulang kan?"
"Nggak. Tanggunglah, males jalannya tadz. Bentar lagi nuga pasti macet."
"Yasudah makanlah dulu! Ana mau ke lapangan." Berlalu ke toilet terlebih dulu.
Singkat cerita, waktu menunjukan hampir magrib. Saat itu, Riza yang akan ke sekolah tergesa-gesa keluar karena ketiduran.
"Mama kenapa gak bangunin aku sih mah?" Omel Riza ke mama nya yang sudah memakai mukena. Dia sendiri baru saja darikamar mandi, habis kengambil wudhu. Benar-benar sangat terlihat manis.
"Kamu tidurnya pules banget za, kamu tidur habis asar tadi. Lagian kamu mau kemana jam segini?"
"Hari ini disekolah ada pelantikan mah, aku ditugaskan juga. Aku berangkat ya mah, mahrib dijalan aja." Riza yang masih menggunakan baju koko berwarna putih dan celana panjang cingkrang berwarna hitamn langsung memakai sweeter.
"Gak cuci muka dulu sayang?"
"Ini mau mama,"
"Mirip banget kamu pah, aku jadi sedih ingat kamu. Kepergian kamu memanglah sudah ketetapan Allah pah, tapi aku masih merasa belum ikhlas. Maafin aku pah." Batin mama Riza.
"Mah, kenapa?" Rizaudah siap dan membawa tas ransalnya.
"Kamu kok bawa ransal yang itu? Apa gak bawa mobil?"
"Macet mah, aku kejar waktu. Mama kenapa"
"Mama ingat sama papa za." Sudah berkaca-kaca. Riza membawa mamanya ke pelukannya.
"Aku harus pergi dulu mah, disini kan masih ada Tasya." Melirik ke kamar adiknya.
"Tapi dia gak sedekat kamu sama mama." Meneteskan air mata.
"Aku tahu mah, Tasya memang egois dan arogan seperti papa." Batin Riza.
"Nanti aku bawakan Aisyah buat mama." Hibur Riza.
"Apa itu benar?" Melepaskan pelukan dan tersenyum menatap Riza.
"Insya Allah. Aku selalu mengusahakannya mah. Tapi,"
"Gak apa-apa sayang, kalaulah bukan Aisyah yang nanti kamu bawa. Mama akan senang kok, mama akan menyayanginya. Ayo nanti kamu telat." Mengulurkan tangannya, Rizapun menciumnya.
"Assalamu'alaikum mama." Berlalu.
"Waalaikumsalam sayang," Menatap kepergian Riza yang sudah tak terlihat dibalik pintu.
"Maaf aku harus bohong mah, saat ini aku sedang berusaha move on dari Aisyah. Dia benar-benar sudah sangat kecewa sama aku mah." Riza terus melamun sambil melajukan motornya.