Ustadz Nikah Yuk

Ustadz Nikah Yuk
Debat panas dikelas



Ketika Adrian sudah menulis ayat al-qur'an yaitu Q.S. An-nur ayat 32 yang artinya,


"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui."


"Perhatikan Yaa Akhwaty! Ustadz Malik sebelumnya menyuruh untuk menghafalkan surat ini kan?"


"Naam ustadz." Serentak menjawab.


"Isi kandungan suratnya sudah dijelaskan?"


"Belum ustadz,"


"Baiklah!" ucap Adrian sambil mengeluarkan gelas yang berisi nama, seperti akan mengocok arisan.


"Ini permainan ustadz Malik?" Mengangkat gelas.


"Naam ustadz."


"Ya Allah semoga aku gak keluar deh namanya, benar-benar belum hafal. Semalam mau menghafal benar-benar ngantuk." batin Aisyah.


"Berarti yang namanya keluar harus test hafalan?"


"Naam ustadz,"


"Ustadz afwan, biasanya hanya dua orang yang ditest, saat namanya keluar. Selebihnya, nanti di ujian ustadz Malik suruh nulis qur'an dan hadits yang sudah dihafal." ucap salahsatu santriyah.


"Naam." Adrian mulai mengocok gelasnya, tak lama kemudian, dua nama keluar, lalu dia melihatnya.


"Ratna Anjani maju kedepan." Santriyah bersorak.


"Yang kedua," Saat melihat namanya, Adrian langsung menggulung kertasnya.


"Tafadhol Ukhty Ratna!" Tak lama kemudian, Ratna membacakannya.


"Kalau baca qur'an jangan cepat-cepat! Anty tadjwidnya sudah bagus, hanya makhroz nya masih kurang. Tafadhol!"


"Syukron ustadz!" Sambil kembali duduk.


"Wa iyyaki!"


"Selanjutnya, Aisyah Al Hakim."


Aisyah yang mendengar namanya disebut, hanya kaget dan malah terdiam.


"Kenapa diam? Anty tidak percaya kalau nama anty yang keluar?"


"Ustadz?" Gugup Aisyah.


"Maju!" titah Adrian, Aisyah pun langsung maju.


"Lihatlah!"


"Aisyah Al Hakim, ustadz!" Membuka kertas yang tadi digulung.


"Test!" titahnya sambil fokus melihat buku.


"Afwan ustadz, ana lagi haid. Jadi ana gak boleh baca qur'an." berbisik ke Adrian, agar santriyah yang lain tidak mendengarnya.


"Apa hubungannya? Anty hanya perlu baca! Dengan ditalar bukan dengan membaca dan memegang Al-Qur'an."


Santriyah tegang, melihat Aisyah yang diomelin.


"Ana belum hafal!" Spontan Aisyah berkata dengan keras.


"Ukhty Aisyah harusnya tidak fokus terus dimata pelajaran lain, apalgi Biologi. Jangan karena ustadz Alvin dekat sama anty." Sindir Ratna.


Deg


Jantung Aisyah langsung bergetar. Sedangkan Adrian hanya menautkan kedua alisnya.


"Afwan apa maksud anty, ukhty Ratna?" ketus Aisyah.


"Fikirkanlah, ukhty Ais! Semua pelajaran disekolah ini penting." ucap Ratna kembali.


"Anty tidak diizinkan berbicara." jawab Aisyah.


"Afwan ustadz." ucap Ratna berdiri dan duduk kembali.


"Sok iyeh banget si Ratna." batin Aisyah.


"Naam. Laa ba'sa (tidak apa-apa)" ucap Adrian dan berdiri.


"Tafadhol! Anfy berdiri sebelah sana!" titah Adrian. Dengan cepat Aisyah pun berdiri, dan kaki yang sakitnya sedikit ditekan.


"Kita lanjut ke isi kandungan suratnya! Perhatikan dan baca terjemahannya dulu!" Menunjuk terjemahan surat yang ditulisnya dipapan tulis.


"Sudah?"


"Sudah ustadz?" Serentak santriyah.


"Bab Nikah, ada yang ingin ditanyakan sebelum ke inti bahasan?"


"Wah, nikah? Asyik nih." batin Aisyah.


"Afwan ustadz, izin bertanya." Ratna berdiri.


"Tafadhol!"


"Ustadz perihal nikah. Kalau jodoh itu takdir mubram atau mualak? Syukron!"


"Naam. Jodoh itu ikhtiar, dan semua orang akan dimudahkan dari awal tujuan mereka diciptakan. Kita diciptakan oleh Allah untuk ibadah. Dan nikah itu ibadah, berarti akan ada kecendrungan dan akan ada pintu terbuka untuk antum menikah. Kata kuncinya,jangan rewel! Contoh, datang yang mau melamar yang gendut gak mau, yang hitam gak mau, yang putih gak mau, yang pendek gak mau, antum nolak terus dan Allah kasih terus. Tapi orang yang gak rewel itu mudah, hanya menjalani saja. Karena baik dan jeleknya seseorang, hanya sifat duniawi saja. Jadi, jodoh itu pilihan dan ikhtiar kita. Dan Allah dengan sifatnya yang Maha Tahu, sudah tahu kalau kita akan berjodoh dengan pasangan kita. Faham?" ucap Adrian.


"Fahimtu, ustadz." Serentak Santriyah.


"Berarti kalau ana datang ke ustadz untuk menikah, gimana? Ustadz gak nolak kan?" Celetuk Aisyah.


Sontak semua orang tertawa, sedangkan Adrian hanya mengabaikannya.


"Huhu, baru kali ini ukhty Ais dikacangin." celetuk salahsafu santriyah.


"Rasain." batin Ratna.


"Sabar! Belum saja anta terpikat sama ana ustadz." Menatap Adrian.


"Gadis itu benar-benar harus dikasih perhitungan." batin Adrian.


"Ada lagi?" tanya Adrian.


"Izin bertanya ustadz, afwan!" Salahsatu santriyah berdiri lagi.


"Naam, tafadhol!"


"Ustadz, jodoh yang baik itu seperti apa? Syukron!"


"Naam. Untuk akhwat, pasti harus dilihat dari agamanya dulu, agamanya bagus apa nggak? Kenapa? Karena suami antunna(kalian wanita) akan menjadi imam. Kedua, tanggungjawab apa nggak? Kenapa? Karena suami akan menjadi kepala keluarga, ntah itu tanggungjawab dari nafkah lahir, batin, ataupun yang lainnya. Untuk masalah fisik, sudah ana bilang tadi, asal jangan rewel! Faham?"


"Fahimtu ustadz,"


"Ustadz afwan bagaimana jika laki-lakinya galak?" Sindir Aisyah kepada Adrian.


"Ekhm. Kok aku merasa sesak ya?" batinnya.


"Galaknya dalam hal apa dulu?"


"Misal, calon suami kita tuh guru. Terus suka marah-marah gitu. Pasti istrinya juga dimarahin kan dirumah? Iya kan ustadz?" tanyanya polos.


"Huuuuuuuuhhhh." Santriyah bersorak.


"Kenapa? Bukan ustadz kok yang ana maksud. Afwan." ucapnya, sedangkan Adrian menatap tajam Aisyah.


"Kenapa ustadz? Apa ana bertanya salah?"


"Belum tentu. Suami marah pasti ada sebabnya. Makanya antunna, yang akan menjadi isrtri. Jangan memancing suaminya untuk marah." jawabnya, dan melihat bukunya kembali.


"Syukron ustadz."


"Naam. Wa iyyaki."


Setelah itu, Adrian pun langsung menjelaskan inti bahasan.


"Ya Allah, semakin sakit nih kaki. Aku gak kuat berdiri. Mana nafas engap, haid sakit lagi." Sedikit membuka cadar bagain bawahnya, dengan tujuan agar udara lebih masuk.


"Aduh, heum. Engap banget." batin Aisyah, tiba-tiba keringat dingin keluar.


"Ah gak kuat." batinnya.


"Ustadz afwan," suara Aisyah dalam.


"Apalagi?" menjeda bahasan materi.


"Ana,"


Bruk


Aisyahpun pingsan


"Astagfirullah Aladzim." Semua santriyah berdiri, begitupun Adrian yan kaget. Dia langsung menutup bukunya.


Satu santriyah buru-buru maju, ketika Adrian mencoba untuk mendekat.


"Dingin banget tangannya, keluar keringat juga," tanpa fikir panjang, santriyah itu membuka cadar Aisyah. Yang menjadikan Adrian sangat kaget, dan tiba-tiba terdiam mematung.


"Massya Allah, cantiknya, wajahnya benar-benar imut. Kirain dia gak seperti itu," Batin Adrian.


"Afwan ustadz, ana membuka cadarnya. Takutnya engap." ucap santryah itu.


"Tidak masalah, tolong bawa ke UKS!"


"Siapa? Berat ustadz, kenapa gak ustadz saja?"


"Ana?" mengerutkan Alisnya.


"Jangan! Ukhty Aisyah pernah digendong sama ustadz Alvin waktu upacara pingsan. Pas sadar marah-marah. Katanya gak boleh ada yang nyentuh dia. Sebaiknya kita rebahkan dia disini aja sampe sadar." ucap salahsati santriyah.


"Gimana ustadz?"


Adrian yang shok dengan ucapan santriyah barusan, hanya mengiyakannya.