Ustadz Nikah Yuk

Ustadz Nikah Yuk
Ruang OSIS



Jam waktu istirahat sudah hampir habis, semua para santriyah masih berkeliaran. Ada yang masih jajan, ngobrol, makan, dan bersenda gurau. Namun berbeda dengan Aisyah, Aminah, Raina, dan dua orang santriyah yang menjadi pengurus osis. Kebetulan mereka sangat akrab.


Saat itu mereka sedang berada diruang osis. Terlihat mereka sedang membereskan lembaran kertas, ada juga yang baru menutup laptop.


"Ukhty Amalia masih di Asrama kali ya?" tanya Raina.


"Masa sih? Pergi dulu kali dia." ucap salahsatu santriyah.


"Hem. Masih ada lima belas menit, mau pada pergi?" tanya Aisyah tiba-tiba.


"Nggaklah, pergi kemana? Kan kita tadi makan udah. Tinggal ke kelas nih." ucap Amina.


"Wah, mempeng lagi ngumpul. Kita bikin video pendek yuk!" ajak Raina.


"Vidpen apa?" Ketus Amina.


"Nyanyilah, kaya waktu itu loh."


"Boleh-boleh."


"Iya boleh tuh."


"Lagu apa?" tanya Aisyah.


"Lagu si Rosa ajalah, yang lagi viral." celetuk salahsatu santriyah.


Tak lama kemudian, Aisyah dan Amina menjadi vokalis, lalu duduk didepan. Dipinggirnya, dua orang santriyah. Satu pegang pulpen dan spidol, dan satu lagi pegang tip-x. Raina sendiri sudah siap tangan dimeja.


"Bareng dulu ya!" titah Amina, mereka semua melihat ke arah camera. Tak lupa mereka membuka cadarnya, itu juga karena mereka berada diruang osis yang pintunya ditutup.


1


2


3


Dug dug dug


Raina memukul meja, untuk membuat nada. Sedangkan dua orang lainnya sudah memainkan benda yang dipegangnya dan sama-sama membuat nada. Vokalis sendiri, bernyangi sambil menepuk-nepuk tangan membuat nada.


Senada cinta bersemi di antara kita


Menyandang anggunnya peranan jiwa asmara


Terlanjur untuk terhenti


Di jalan yang telah tertempuh semenjak dini


Sehidup semati (Bareng)


Kian lama kian pasrah kurasakan jua


Janji yang terucap tak mungkin terhapus saja


Walau rintangan berjuta, walau cobaan memaksa


Diriku terjerat di peluk asmara (Aisyah)


Bersama dirimu terbebas dari nestapa


Dalam wangi bunga cita cinta dan bahagia


Walau rintangan berjuta, walau cobaan memaksa


Diriku terbuai di batas asrama (Amina)


Kian lama kian pasrah kurasakan jua


Janji yang terucap tak mungkin terhapus saja


Walau rintangan berjuta, walau cobaan memaksa


Diriku terjerat di peluk asmara (Aisyah)


Terlambat untuk berdusta, terlambatlah sudah


Menyentuh sanubari tak semudah kusangka


Yakin akan cintamu, yakin 'kan segalanya


Perlahan dan pasti daku


'Kan melangkah menuju damai jiwa (Aminah)


Senada cinta bersemi di antara kita


Menyandang anggunnya peranan jiwa asmara


Terlanjur untuk terhenti


Di jalan yang telah tertempuh semenjak dini


Sehidup semati (Bareng)


Terlambat untuk berdusta, terlambatlah sudah


Menyentuh sanubari tak semudah kusangka


Yakin akan cintamu, yakin 'kan segalanya


Perlahan dan pasti daku


'Kan melangkah menuju damai jiwa (Aminah)


Terlambat untuk berdusta, terlambatlah sudah


Menyentuh sanubari tak semudah kusangka


Yakin akan cintamu, yakin 'kan segalanya


Perlahan dan pasti daku


'Kan melangkah menuju damai jiwa (Aisyah)


Duuug duud dug


Selesai, mereka pun bertepuk tangan dan bersorak. Raina buru-buru mengambil hpnya.


"Sekali lagi nih? Mau gak?" tanya Raina.


"Boleh deh,"


"Boleh-boleh,"


"Lagu apa nih?"


"Rasa yang tertinggal yuk!" ajak salahsatu santriyah.


"Wiiihhhhh. Pengalaman nih?" Sindir Aisyah.


"Wah, kalau rasa yang tertinggal ana kurang hafal. Ukhty Ais saja sama anty ya! Biar ana yang pegang tip-x." Amina merebut tip-x yang dipegang salahsagu santriyah.


1


2


3


Kali ini bunyi tip-x yang dimainkan Amina yan menjadi intro.


Trek ktrek ktrek ktrek ktreeeeeeek


Dug dug dug (suara nada dari meja)


Trak trak trak traaaaak (Suara pulpem dsn spidop yang diadu-adukan)


Bila asmaraku telah tiba


Merenggut nafas dijiwa


Itu dia yang datang hadirkan cinta


Menyebar ke dalam rasa (Santriyah)


Dapatkah ku mengatakannya


Perasaan yang ku punya


Untuk dia mestinya ku ungkapkan saja


Tuk dapat jawaban darinya (Aisyah)


Trek ktrek ktrek


Dapatkah aku memeluknya


Menjadikan bintang di Surga


Memberikan warna yang bisa


Menjadikan indah


Aku tak mampu mengatakan


Aku tak mampu tuk mengungkapkan


Hingga sampai saat ini


Perasaan tlah tertinggal (Bareng)


Dapatkah dia merasakan


Satu nafas yang tersimpan (Santriyah)


Itu bukan cinta


Sekedar cinta biasa


Yang sesaat dan trus hilang (Aisyah)


Dapatkah aku memeluknya


Menjadikan bintang di Surga


Memberikan warna yang bisa


Menjadikan indah


Aku tak mampu mengatakan


Aku tak mampu tuk mengungkapkan


Hingga sampai saat ini


Perasaan tlah tertinggal (Santriyah)


Dapatkah aku memeluknya


Menjadikan bintang di Surga


Memberikan warna yang bisa


Menjadikan indah


Aku tak mampu mengatakan


Aku tak mampu tuk mengungkapkan


Hingga sampai saat ini


Perasaan tlah tertinggal (Aisyah)


Dapatkah aku memeluknya


Ku jadikan bintang-bintang di Surga


Memberikan warna yang bisa


Dan teruslah bisa


Menjadikan indah (Bareng)


Na na na na na na na na na n naaaaaaaa


Tuuuuuuuut tuuuuuuut tuuuuut


"Beeeeeeeeel." ucap mereka serempak, lalu buru-buru memakai cadar. Raina langsung menyimpan videonya dan berlari keluar dengan yang lainnya. Aisyah sendiri panik nyari hpnya.


"Aw." Ringis Aisyah, saat siku kirinya yang luka terbentur meja.


"Untung yang dipunggung tangan cuma kegores dikit." ucap Aisyah, dan mengambil hpnya yang disimpan dilaci meja ketua osis.


Tak lama kemudian dia keluar. Saat sedang mengunci pintu, tiba-tiba Ashraf dan Riza yang akan mengajar lewat.


Aisyah yang buru-buru berbalik badan, tak sengaja menyenggol buku yang dipegang ditangan kanan Riza.


"Astagfirullah afwan ana sudah telat." Aisyah buru-buru mengambil buku yang terjatuh. Ashraf dan Riza hanya melongo.


"Ini." Aisyah menunduk sambil menyodorkan buku ke arah Riza. Namun, Riza hanya menagap name tag Aisyah.


"Oh stadz Riza, afwan. Assalamualaikum usatdz." Menengadah, lalu melirik Ashraf.


"Waalaikumsalam. Pelajaran siapa?" Riza menerima bukunya.


"Biologi ustadz." Aisyah menunduk dan sedikit kepinggir.


"Pantes buru-buru." Batin Riza, membuang nafasnya sambil berlalu.


"Biolog berarti ustadz Alvin, pantes ustadz Riza langsung pergi." Batin Ashraf masih mematung, namun menatap kepergian Riza. Dan Aisyah sendiri buru-buru berlari ke jalan yan lain.