Ustadz Nikah Yuk

Ustadz Nikah Yuk
Oh Cemburu



Saat itu istrinya Malik masih ngobrol dengan ustadzah lain di parkiran. Sedangkan, Adrian, Ashraf, dan Alvin berjalan menunu arah ruang guru. Aisyah sendiri, dia masih menonton film perang, menggunakan headsetnya. Saat itu posisi duduknya, membelakangi ruang guru.


Saat Malik keluar, dia mencari sosok istrinya. Yang ternyata saat VC, istrinya juga memakai hijab dan cadar berwarna hitam.


"Ustadz Alvin langsung pulang?" tanya Ashraf, saat melihat ustadz Malik keluar ruangan.


"Naam ustadz, ana mau ke Jakarta ke rumah mama."


"Terus disini sama siapa?"


"Sama papa, ustadz."


"Oh gitu. Naam-naam."


"Jadi, mama sama papanya kenapa?" celetuk Adrian.


"Qodarullah, mama kerja di Partai. Dan papa gak setuju, akhirnya papa buat keputusan untuk talak mama."


"Sejak kapan?"


"Sebulan yang lalu, ustadz."


"Subhanallah. Semoga Allah mudahkan, sering-seringlah sholat malam! Mereka masih bisa rujuk, tadz." ucap Ashraf.


"Naam. Semoga Allah mudahkan." sambung Adrian.


"Syukron ustadz."


"Aaaaaaaawww," spontan mereka melihat ke arah jeritan, mereka bertiga bergegas mendekat.


Terlihat Aisyah menjauh, tergesa-gesa.


"Loh?"


"Ustadz kenapa? Jangan peluk-peluk, bukan mahram!" ucap Aisyah.


Mereka bertiga melihat ke arah Malik.


"Afwan, anty siapa?" Malik kaget.


Aisyah membuka headsetnya.


"Ana Aisyah, kelas XII Ipa 1 ustadz. Afwan, kita hanya bertemu dikelas XI." Menunduk.


"Loh? Kenapa anty pakai hijab dan cadar hitam?"


"Afwan, ini milik Ukhty Amalia. Tadi beliau anter ana ke toilet, trus hijab ana malah jatoh ke lantai, jadinya basah."


"Terus dimana ukhty Amalia?


"Ukhty Amali sudah dijemput, mau mudik katanya. Ustadz kenapa masih nanyain ukhty Amali? Ingat ya! Usatdz udah nikah, dan uxah bikin ukhty Amali patah hati." Berkata polos.


Mereka bertiga, heran. Aisyah belum menyadari kalau merek bertiga ada dibelakangnya. Mamik sendiri mendengar perkataan Aisyah hanya melirik sebentar ke arah mereka bertiga.


"Afwan, kenapa anty berkata sangat polos. Ana menanyakan beliau, bukan karena masa lalu, tapi karena anty duduk sendiri disini."


"Ana nungguin ukhty Amina sama ukhty Raina, maaih test bahasa inggris."


"Oh,"


"Ustadz, kenapa tadi malah mau peluk-peluk? Duduk dekat ana lagi, uh" Aisyah kesel.


"Hehe. Afwan, kalau tahu itu anty mana mau ana dekat-dekat. Nanti ada yang cemburu." Melirik ke Alvin. Dan keberadaanya masih tidak disadari Aisyah, yang masih membelakangi merek.


"Terus?"


"Ana dijemput istri ana, tadi sempet VC. Beliau pake hijab dan niqob hitam juga. Agwan, berati ana salah. Kirain anty beliau, karena pas banget nunggu disini."


"Hem. Tumben dijemput, ustadz?"


"Memangnya kenapa? Kita mau ke puncak." jawbnya santai.


"Puncak? Ngapain coba kesana? Ukhty Amalia kalau tahu, pasti sangat cemburu."


"Anty lucu sekali, gak akan tahu kalau beliau tidak ada yang kasih tahu." Sindir ustadz.


"Kalau ana yang kasih tahu?"


"Anty yang salah,"


"Hem, ya juga sih."


"Ukhty Amalia sangat lembut, beda sama anty yang cerewet tapi tegas. Yang belum kenal anty, mereka tahunya anty itu pemalu dan tak banyak bicara." Tersenyum.


"Terus?"


"Cocok, dengan Ikhwan yang tidak banyak bicara, namun lebih tegas dari anty." Melirik ke arah Adrian, tanpa menyadari Alvin hanya menunduk. Sedangkan Ashraf hanya melongo seperti melihat drama.


"Uwuwu, massya Allah, itu bukti kalau ustadz itu lulusan psikolog. Tahu karakter seseorang hem."


"Jangan memuji! Sepertinya istri ana diparkiran, ana permisi."


"Tunggu ustadz!"


"Kenapa?"


# "Apa ustadz berniat poligami?" Mendenar itu Malik tertawa, gingsulnya sampe terlihat. Sedangkan mereka bertiga mengerutkan alisnya.


"Kenapa emang?"


"Ukhty Amali sepertinya masih belum move on dari ustadz, ustadz nikahi aja beliau."


"Kalau beliau mau." Tersenyum.


"Kalau istri ustadz gak bolehin?"


"Tidak akan pernah."


"Massya Allah, semoga cepat diberika amanah yang sama setianya seperti ustadz."


"Aamiin."


"Silahkan ustadz, istrinya sudah menunggu. Ana mau nyamperin teman ana ke dakam aja."


"Assalamu'alaikum." Sambil berlalu.


"Waalaikumsalam," saat akan melangkahkan kaki.


"Yaa ukhty! (wahai wanita)" ucap Ashraf.


"Afwan,"


"Kenapa?" Aisyah kaget melihat tiga orang ustadz sudah berdiri didepannya. Perlahan dia mundur.


"Jangan takut!" ucap Ashraf. Alvin hanya melirik sebentar, lalu berlalu.


"Ustadz Alvin!" Aisyah berusaha nengok ke arah Alvin.


"Afwan ana sedang buru-buru!" ucap Alvin dan berlalu. Aisyah hanya mengangguk.


"Ana gak takut, afwan anta siapa? Sejak kapan anta dibelakang ana?" Melirik ke Adrian.


"Ana Ashraf, kawannya ustadz Adrian."


"Naam kenapa ustadz?"


"Tidak apa-apa, hanya ingin lewat. Anty berada ditengah-tengah." ucapnya santai. Adrian lewat duluan, Aisyah hanya meliriknya.


"Silahkan ustadz, ana tidak tahu. Benar-benar tidak tahu."


"Ana tahu anty shok tadi. Jadinya ngadep ke uatadz yang tadi ngobrol sama anty. Ana Permisi!" Ashraf berlalu.


"Namanya ustadz Malik. Naam ustadz. Tafadhol." Aisyah menunduk.


"Ana duluan,"


"Ana dulu ih,"


"Anty baru saja ditest, ana dari tadi ih."


"Tapi ana kan nungguin anty,"


Terdengar suara Aminah dan Raina, saat Aisyah mendekat ke ruang guru.


"Mereka kenapa ya?" batinnya penasaran.


"Awwwww," terdengar suara mereka berdua berbarengan keluar.


"Ana disini," sbelah kiri.


"Ana sebelah sini," sebelah kanan.


Mereka berdua sama-sama menyender disisi kanan kiri pintu ruang guru, dan baru menyadari adanya Aisyah.


"Kenapa kalian?" tanya Aisyah berkaca pinggang.


"Loh? ukhty Ais? Kenapa pake hijab hitam?" tanya Amina, berdiri tegak. Sedangkan Raina masih menyender.


"Ini punya ukhty Amalia, ana hijabnya jatoh ke lantai."


"Oh,"


Pintu dibuka oleh Alvin yang akan bergegas pulang.


"Ustadz?" Berbarengan Aminah dan Raina memanggil.


"Kenapa?" Alvin menatap ke Aisyah, yang sedikit-sedikit mundur.


"Afwan, kirain ustadz Riza." ucap Aminah.


"Beliau masih didalam. Kalian ada perlu?"


"Nggak ustadz, mau ucapin terimakasih aja. Tadi beliau yang gendoh ana, waktu pingsan." ucap Raina bangga.


"Kalau ana mau minta maaf, karena tadi waktu ustadz Riza gendong Ukhty Raina, ana ngomel-ngomel terus ke beliau." Celetuknya.


"Hem. Ana permisi." ucap Alvin.


"Asaalamu'alaikum ustadz." Ucap.merela berdua.


"Naam. Waalaikumsalam." Alvin berlalu tanpa melirik Aisyah yang masih menunduk.


"Ustadz afwan, tunggu sebentar!" ucap Aisyah, dia langsung menghampiri Alvin yang menghentikan langkahnya.


"Ustadz, apa ana ada salah?" Menunduk.


"Nggak ada ukhty."


"Bohong ya? Apa karena ana tadi buru-buru masuk? Waktu ustadz bukain gerbang?"


"Nggak."


"Ustadz?"


"Anty kalau sudah gak ada pertanyaan lain, silahkan pulang! Ana mau ke Jakarta."


"Jakarta? Untuk apa?"


"Untuk ketemu mama."


"Hm. Titip salam buat mama Indah (Nama mamanya Alvin)"


"Insya Allah,"


"Ustadz kok gitu jawabnya?"


"Benar kata ustadz Malik, anty cerewet, tapi anty cerdas. Cocok sama ikhwan yang bicsra secukupnya dan sholeh."


"Maksud ustadz apa?"


"Apa tadi anty pingsan? Terus dapat perhatian dari Ustadz Adrian?"


"Hehe. Bahkan, menyentuh ana pun beliau nggak. Makanya ana gak dibawa ke uks, sperti ukhty Raina. Ana sadar pun dikelas, karena santriyah gak sanggup untuk bawa ana ke uks. Apa ustadz cemburu?" Aisyah tersenyum.


"Naam. Afwan ana buru-buru."


"Naam. Hati-hati! Sampaikan salam ana sama mama ya!"


"Naam. Afwan jika ana berlebihan."


"Naam. Assalamu'alaikum." ucap Aisyah.


"Wa'alaikumsalam." Alvin berlalu.


Sementara didepan pintu, Riza, Aminah, dan Raina sedang melihat ke arah Alvin dan Aisyah.


"Kenapa ustadz Riza? Apa beliau masih ada rasa sama ukhty Ais? Tapi kan beliau sudah ada calon istri." batin Aminah.