
Saat mereka akan ke lapangan, dijalan mereka ketemu dengan Aisyah, yang sedang berjalan sedikit cepat, dengan kaki yang sedikit pincang, kaki yang satunya bentar-bentar diangkat dengan sedikit digeret.
"Loh? Itu kan dia, ternyata kakinya benar-benar sakit?" batin Adrian.
"Aisy?" panggil Alvin, ketika itu Aisyah melihat ke bawah jalan. Karena ada yang merasa memanggil, Aisyah pun menengok.
"Oh, ustadz Alvin? Hehe. Afwan ustadz, tadi ana buru-buru." Takut diomelin.
"Lain kali jangan buru-buru! Katakan saja alasan kenpa anty telat, pastinada toleran asal jangan keseringan!
"Naam ustadz." Aisyah melirik Adrian yang menatap ke arsh kakinya, lalu memalingkan wajahnya pelan.
"Terus karena anty buru-buru, jadi jatuh?"
"Naam ustadz."
"Pergilah ke kelas! Lapangan sedikit masih lebih jauh, kalau maksain kesana tetap telat." Alvin berlalu mengikuti Adrian.
Aisyah pun kembali ke kelasnya, karena sudah ada izin dari Alvin.
"Sepertinya ustadz Alvin menaruh hati pada siswi itu," batin Adrian sambil berjalan. Sedangkan Alvin sendiri, masih memikirkan keadaam Aisyah.
Untuk menghilangkan kecanggungan, Adrian pura-pura bertanya kepada Alvin.
"Afwan ustadz, apakah yang namnaya ustadz Mamik ada dua orang?"
"Naam. Yang tadi, beliau Wakasek Kesiswaan, dan yang satunya, sudah dua hari ambil cuti. Beliau memgajar Qurdis tadinya."
"Berarti benar, ana yang akan menggantikan beliau sementara."
"Jadi anta mengajar juga?"
"Naam ustadz." Adrian sedikir tersenyum.
"Berarti anta ngajar di kelas XII ya?"
"Oh beliau di kelas XII ngajarnya? Kirain kelas X." Baru tahu.
"XII ustadz. Hari ini ada jadwal berarti?"
"Ana belum melihat jadwal ustadz, tadi hanya melih ruangan-ruangan kelas doang. Alhamdulillah, sekolah ini berdiri sudah 7 tahu. Tapi peminatnya banyak juga."
"Betul ustadz. Merea tertarik karena ada Ilmu umum dan agama yang dipelajari. Dan mereka juga bisa memilih sekalian mondok atau pulang pergi."
"Betul-betul ustadz."
Tak lama kemudian, mereka sudah sampe dilapangan. Para guru, dan staff sekolah berdiri didepan. Sedangkan Ustadz Ishak sendiri, sudah mulai memberikan sambutannya.
Tak lama kemudian dikelas
"Namanya Adrian? Apa dia anaknya ustadz Ishak? Massya Allah, kalau benar dia. Wahh, tampan sekaliiii. Sama-sama tampan sama ustadz Alvin. Tapi aku lebih penasaran ke ustadz Adrian sih." Gumamnya.
Lalu Aisyah mengeluarkan buku berwarna coklat dari tasnya. Sepertinya buku diary, karena buku itu memilik gembok.
Tak lama kemudian, dia menulis sesuatu.
"Hari ini menyenangkan, aku bertemu dengan seorang ustadz yang sangat tampan. Aku penasaran jadinya. Namanya ustadz Adrian, belum tahu sih. Kira-kira dia mau ngajar apa ya disekolah ini?
Ntah kenapa? Aku merasa ingin sekali caper sekarang-sekarang. Yah, inin caper biar diperhatiin dia. Huhu.
Ustadz Alvin sayang yang selama ini ada di hati ku, maafin ya. Sekarang perasaanku harus dibagi dua. Huhu.
Ah, kalau udah merasakan jatuh cinta seperti ini. Rasanya gak mau kuliah. Ustad nikah yuk! Nikah aja sama aku! Huhu, maaf jadi halu. Wkwkwk.
Dah dulu ah, nanti kita lanjutkan dirumah, huhu." Lalu buku diary itu kembali dikuncinya dan dimasukan lagi ke dalam tas.
2 jam kemudian
Suara riuh orang-orang terdengar dari speaker. Saat itu Raina dan Amina bertanya-tanya kenapa Aisyah tidak ke lapangan.
"Sepertinya dia gak masuk, baru kali ini dia gak bareng-bareng kita Ukhty min."
Saat mereka sedang mengobrol, Raina melihat Riza yang sedang berjalan dan sedikit terburu-buru.
"Ustadz? Yah, gak bertemu deh minggu ini. Padahal SKI (Sejarah Kebudayaan Islam) sangat seru banget, apapagi ustadz yang ngajar. Langsung nempel deh ke otak." batin Raina, menatap ke arah Riza.
"Kenapa kamu ukhty Rain?"
"Nggak apa-apa ukhty min, sedikit pusing saja. Kenapa ya?"
"Yaudah ayo kita berlari aja ke kelasnya!" ajak Aminah. Raina sendiri dia sengaja tidak menolak ajakan Aminah, agar bisa mengejar Riza yang sepertinya akan melaksanakan ulangan dikelas XII yang lain.
Bruk
"Astagfirullah! Toloooong!" teriak Aminah yang melihat Raina tiba-tiba terjatuh. Semua Santriyah berlarian melihatnya. Melihat hal itu, buru-buru Riza menghampirinya.
"Maafkan aku, yang telah berbohong ya Allah. Aku hanya ingin Ustadz Riza menolong aku."
"Kenapa?" tanya Riza.
"Ustadz, tadi Raina bilang katanya pusing terus aku ngajak dia berlari. Tapi malah keburu pingsan. Mungkin kepanasan di lapangan tadi." ucap Aminah ketakutan.
"Afwan, bawakan kertas ulangan inj dan suruh bagikan ya, ke kelas XII IPA 3." titah Riza kepada beberapa santriyah.
"Naam ustadz." Merekapun pergi, sedangkan Riza menggendong tubuh Raina, dan ditemani oleh Aminah.
"Bismillah!" Gendong Riza.
"Wadaw. Kesempatan banget nih ukhty Raina." batin Aminah.
"Haha. Iri bilang bosss. Iri kan ukhty min." batin Raina tertawa.
"Ustadz, ini langsung ke uks?"
"Naam ukhty." Suara lembut Riza keluar.
"Aduuhh." Dek dek dek dek jantung Aminah berdebar-debar.
"Ustadz? Itu ukhty Raina berat gak?" Aminah melirik Raina tatapan tak suka.
"Hem. Kenapa emang, ukhty?"
"Badannya kan berisi dia, sperti gentong kecil." Berkata polos.
"Apa? Awas aja ukhty min." batin Raina kesal.
"Sut. Anty tidak boleh menggibah!"
"Ana tidak menggibah ustadz, itu fakta." Aminah memang rada cerewet, tubuhnya sedikit kecil dari Raina yang memiliki tubuh agak pendek dan sedikit gendut.
"Itu namamya gibah"
"Ustadz belain dia terus kayanya." Gerutu Aminah dibalik cadarnya.
"Apa ukhty?" Riza melirik Aminah, sambil membaringkan tubuh Raina.
"Wah huhu, walau pake cadar minyak wanginya tetap tercium. Emmm. Wangiii." batin Raina.
"Ustadz? Mau apa?" Aminah langsung menghentikan Riza dengan membentangkan tangannga.
"Anty kenapa lagi?" Mengerutkan alisnya.
"Cadarnya jangan dibuka! Sekedar ngasih minyak ana juga bisa."
"Memang anty yang kasih minyak, ana mau langsung ke kelas. Nanti ada ustadzah kesini." Menaruh minyak kayu putih dimeja dekat kasur dimana Raina dibaringkan.
"Yasudah. Syukron, ustadz!" Amina jutek. Riza yang menyadari bau-bau cemburu hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.