
Pagi hari telah tiba, saat itu Aisyah sedang berada di dapur. Dia terlihat baru saja mengangkat pepes ikan yang dikukus di panci.
"Bu, ini yang udah dingin dipanci yang satunya untuk pesanan atau untuk dijual keliling?" Aisyah membuka tutup panci.
"Yang baru mateng untuk dijual, yang dipanci untuk pesanan bu haji ya."
"Oh iya." Sambil mengeluarkan pepes dari panci dengan capitan, dan menjejerkannya di loyang stainlees.
"Ais, abis itu pindahin dulu yang buat bu haji ya. Pakein tempat terus masukin kresek putih. Kunci motor di bupet, ibu mau ke kebun dulu." Sambil berlalu.
"Tunggu bu, aku yang anterin apa gimana?"
"Nanti diambil."
Sementara dihalaman rumah Adrian, dia dan Ashraf akan ke rumah Aisyah untuk mengambil pepes.
"Anta bisa bawa motor?"
"Bisa." Ashraf melihag motor yang berjejer ada tiga.
"Yaudah bawa." Menyerahan kunci.
"Yang mana?"
"Yang copling."
"R15?"
"Iya."
"Hehe. Kurang lancar tadz." Menyerahkan kuncinya lagi.
"Harus belajar!" Adrian tersenyum, sambil menerima kunci dan menyalakan motornya.
Tak lama kemudian, diperjalanan Adrian dan Ashraf mengobrol.
"Ustadz, seprtinya akan turun hujan ya? Mendung." ucap Ashraf sambil melihat ke kanan dan ke kiri.
"Naam ustadz."
"Padahal masih awal agustus, biasanya september baru hujan."
"Hehe."
"Kenapa ketawa anta?" Melirik dari sebelah kiri.
"Itu dulu zaman kita, sekarang cuaca sudah tidak menentu."
"Betul ustadz. Loh kok berhenti?"
"Ana gak tahu rumahnya dimana, coba kita tanya dulu." Adrian menghampiri bapa-bapa yang sedang ngumpul di warung.
"Permisi pak," Adrian menyalamai tiga oran yang sedang ngopi sambil makan gorengan.
"Pak maaf mau tanya. Kalau rumahnya bapa Ahmad yang punya empang dimana ya?"
"Oh, ini masuk gang depan ya! Rumahnya yang cat biru muda."
"Oh iya. Makasih pak."
"Iya. Maaf, ini anaknya pa haji ya?" tanya salahsatu bapa sambil menyidik-nyidik.
"Iya pak."
"Owhh. Pantes tadi subuh ngelihat di Mesjid. Yang jadi imam kan?"
"Iya pak." Tersenyum.
"Oh yaudah." Bapa itu mangut-mangut.
"Ustadz, pak Ahmad punya anak gadis cantik banget, rajin, sopan, disekolahnya juga dapat ranking terus. Katanya pak haji mau jadiin calon mantu." Goda bapa yang lain.
"Massya Allah, buat ana berarti." Merespon godaan sambil tertawa kuda.
"Haha. Iya, belum berangkat sekolah kayanya. Biasanya, kalau mau berangkat suka nunggu mobil didepan sini." Menunjuk ke depan warung.
"Iya pak. Yaudah pak, saya permisi."
"Iya iya. Hati-hati!" Serempak semuanya.
Aisyah baru saja selesai mandi, terlihat dia masih menggunakan daster panjang polos, dan hijab bunga warna peach.
"Udah mau jam setengah tujuh." Melihat jam dinding.
"Yes. Bapa masih diluar, ah buka dulu celengan biar nanti pulang sekolah langsung belanja." mengintip Ahmad yang lagi diempang, sedang memberi makan ikan.
Reeeeeeet reeeeet reeeeet
"Ya Allah, bismillah banyak deh nih tabungan." ucapnya membelah celengan pelastik dengan pisau.
Bruk bruk
Uang lebaran dikeluarkan.
"Hah abis?" ucap Aisyah mulai menghitung uangnya.
"Asslamu'alaikum!" Adrian dsn Ashraf sudah berada didepan rumahnya.
"Aduh. Baru ngitung. Pasti yang mau ambil ikan." menyimpan uangnya dan bergegas ke dapur.
Aisyah buru-buru membuka pintu, sambil membawa pepes ikannya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Aisyah yang belum melihat ke arah mereka berdua.
"Ini pak," Adrian dan Aisyah sama-sama saling menatap. Sedangkan, Ashraf yang baru saja menghampirinya karena habis mengangkat telpon melihat mereka bengong.
"Massya Allah, cantiknya." batin Ashraf.
"Ustadz?" Aisyah tersenyum gembira.
"Iya, ustadz." Melirik ke Ashraf dan sedikit tersenyum.
"Afwan yang kemarjn ngalangin jalan ya?" celetuk Ashraf.
"Nah, ustsdz masih ingat."
"Tentu dari suaranya." Ashraf tersenyum.
"Ap," Aisyah menutup mulutnya yang tidak bercadar.
"Pantes kesiangan, jam segini masih belum berangkat." ucap Adrian jutek sambil melihat jam.
"Ana gak sekolah. Males. Ini pepesnya." Memberikan pepes ke Ashraf, tanpa menoleh ke Adrian.
"Apa alasan anty tidak sekolah?" Adrian sedikit teriak.
"Males ketemu Ustadz Adrian. Kenapa emang?" Menatap Adrian.
"Siapa juga yang mau ketemu anty. Tidak ada jadwal." Ketus Adrian. Ashraf yang membawa pepes hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Ustadz memgganti ustad Malik menjadi pembina osis kan?"
"Naam."
"Ana ketus osis nya, nanti kan rapat. Mana ada gak ketemu." Ketus Aisyah kembali
"Anty kurang amanah, berarti bukan pemimpin yang baik." ucap Adrian.
"Ustadz Ashraf mau ketemu dulu sama Bapa ana?" Aisyah tidak menggubris ucapan Adrian.
"Anty sekolah ya! Masih keburu kok," ucap Ashraf ramah.
"Hem." Aisyah mengangguk.
"Insya Allah, kapan-kapan ana ketemu sali anty." ucap Ashraf tersenyum.
Deg
Bagai petir disiang bolong
"Padahal baru mendung belum hujan. Tapi perkataan ustadz membuat ana seperti mendengar petir." ucap Aisyah tersenyum.
"Kaget?"
"Iya. Yasudah saya permisi. Asalamu'alaikum." Ashraf dan Adrian berlalu.
"Ustadz Adrian?" panggil Aisyah tiba-tiba.
"Kenapa?" Adrian melirik Aisyah.
"Anta tidak mengucapkan salam?" Aisyah menyunggingkan bibirnya.
"Assalamu'alaikum." Sambil berlalu.
"Wa'alaikumsalam, calon menantu Pak Ahmad." jawab Aisyah sedikit keras. Ashraf tertawa, sedangkan Adrian meneng wae.
"Ah aku harus buru-buru nih. Untung aku bawa motor. Gak usah lama-lama nungguin angkot." ucap Aisyah, lalu buru-buru ke kamarnya dan melanjutkan ngitung uang.
"Sepertinya dia kagum banget sama anta ustadz." ucap Ashraf.
"Ya begitulah. Tapi ana gak suka, dia seperti wanita yang kurang ada harga dirinya. Sikapnya terlalu berlebihan kepada ana. Sopan santunnya juga kurang tadz."
"Sepertinya bukan dari keluarga yang agamanya bagus, wajar kalau dia seperti itu."
"Ya. Tapi ana tetap kurang suka."
"Afwan, bagaimana dengan gosif kedekatan beliau sama Ustadz Alvin kemarin?"
"Ya sepertinya memang mereka dekat."
"Tapi ana lihat, Aisyah lebih tertarik kepada anta." Kekeh Ashraf.
"Ana tidak mau."
"Dia cantik, masih muda juga." Goda Ashraf.
"Hem."
"Ana akan coba kenal dia lebih jauh, kalau anta kurang minat. Dia perlu pembimbing, semoga ada jodoh sama ana." Ashraf mencoba memanas-manasi Adrian.
"Tafadfhol ustadz."
"Ana yakin, suatu saat nanti anta yang bakal kejar dia." batin Ashraf, dan hanya menatap pepes yang dibawanya.
"Hem. Semoga dengan modal uang 87 ribu, aku bisa lancar jualannya. Bagaimanapun aku harus bantu setoran ibu yang perminggu itu ke bank emok. Belum lagi, sertifikat mah lah belum kebayang, sertifikat rumah dan saaah masuh digadein. Untung aja kebun dan empang nggak jadi waktu itu." ucapnya sambil menatap dirinya dicermin, yang sudah memakai baju seragam.
Tak lama kemudian, Ahmad masuk ke rumahmya. Saat Aisyah sedang membungkus nasi untuk dibekal. Dilihat, hanya ada dua ikan pepes yang tersisa.
"Pak, bapa mau pepes gak?"
"Nggak, bapa mau dimasakin daging sama ibu kamu." Sambil duduk dikursi dan meniangkan air.
"Terus ini pepes dua lagi siapa yang makan?"
"Bawa saja buat kamu sama teman kamu."
"Gak apa-apa nih?" Aisyah sumeringah.
"Iya Ais, disini juga gak ada yang makan."
"Yaudah. Makasih pa."
"Hemm." Ahmad berlalu pergi.
"Ah, bungkusin nasi dan pepes buat ustadz Alvin." batin Aisyah sumeringah.