Ustadz Nikah Yuk

Ustadz Nikah Yuk
Pelantikan 2



"Aisyah?" Alvin tak berhenti memanggil Aisyah.


"Aisyah kamu dimana? Aisyah?" Pangil Adrian.


"Ukhty Ais? Ukhty Ais?" panggil Rina, sambil deg-degan, karena dia pun penakut.


"Aaaaaaaaaa." Teriak Rina.


"Afwan ustadz ana takut." Rina berjongkok, sambil menutup wajahnya dengan data beasiswa.


"Kenapa?" Alvin dsn Adrian menghampiri Rina.


Tak lama kemudian, Rina tiba-tiba tertawa seperti kuntilanak.


Di Aula


"Ini mati lampu apa sakelarnya turun?" tanya Ashraf.


"Mati lampu kayanya, coba lihat ke rumah-rumah warga. Lampu mereka pun padam." ucap Malik.


"Naam. Perhatian untuk semuanya. Karena mati lampu, yuk kita ngaji juz ama ya, mundur dari q.s an naba." titah Ashraf, merekapun mulai ngaji.


Dreeet dreet


"Ustadz Alvin?" Ashraf menatap layar telponnya.


"Tolong anta ke kelas XII IPS 4, sekarang!" titah Alvin dan langsung menutup telponnya.


"Ustadz afwan mau kemana?" tanya Amina tiba-tiba yang membuntuti Ashraf keluar dengan tergesa-gesa.


"Pergi. Anty disini saja."


"Ana ikut."


"Yasudah." Ashrsf dan Amina membawa dua senter hp.


Aisyah sendiri duduk dilantai, sambil nyender ke tembok bersama Riza.


"Kamu kenapa terus menangis sih?" tanya Riza melepaskan pelukannya dan menenangkan Aisyah, Aisyah sendiri terus menangis.


"Ana tahu anty takut gelap, bahkan kalau gak gelap pun anty selalu merasa takut kan?"


"Sekarang bukan menangis karena itu." ucap Aisyah dengan bibirnya yang bergetar.


"Kenapa?"


"Kenapa ustadz tadi langsung pergi? Apa karena melihat ana bareng usatdz Adrian?"


Riza tidak menjawab, hanya menatap senter yang dinyalakan oleh Aisyah.


"Kenapa gak jawab?" Bentak Aisyah, tangisanya semakin kencang.


"Apa perasaan anty kepada ana sekarang?" tanya Riza menatap Aisyah, yang hanya terlihat oleh cahaya senter.


"Mungkin sudah mengurang. Bahkan perasaan ana sekarang benciiiiiiiii." Lirrih Aisyah, sambil menghempaskan cadarnya ke teras, karena sudsh basah oleh ingus dan air matanya.


"Kalau benci kenapa ikutin ana tadi?"


"Ini yang terakhir kalinya ana dan ustadz seperti ini. Cukuplah, jangan bersikap seolah ustadz tidak suka jika ana dekat sama yang lain."


"Ana sudah berusaha untuk move on kok, dan sekarang ana akan buka hati untuk yang lain. Untuk wanita yang benar-benar tulus dan mencintai apa adanya. Tanpa banyak menuntut ana harus seperti ini dan itu. Apalagi menyuruh ana untuk menjadi orang lain. Menghargai dan mengerti ana, disaat ana sedang cemburu." Sindir Riza kepada Aisyah.


"Ana minta maaf." Aisyah menunduk.


"Sudah ana maafkan. Dan ana minta maaf, karena saat itu ana lebih percaya kepada yang lain dari pada percaya kepada anty."


Aisyah kambali menangis.


"Tolonglah! Jangan menangis lagi!"


"Jangan bahas masalah hati yang telah lalu. Masalah hati kita sudah masing-masing." ucap Aisyah tegas, disela tangisannya.


"Ana tahu. Lalu bagimana kedekatan anty sama ustadz Alvin?"


"Anta gak perlu tahu, dan jangan sekali-kali campuri urusan hati ana." ucapnya.


"Kalau gitu ana pergi." Riza berdiri.


"Jangaaaaaan! Jangaaaan sekarang ana takut." Aisyah kembali menangis.


"Baiklah. Tapi ana minta reward." Riza tersenyum.


"Apa itu?"


"Ketemulah sama mama ana. Dia sangat kesepian." ucap Riza lirih sambil menunduk. Aisyah yang melihatnya, langsung mengusap air mata dipipinya.


"Ini semua terjadi, setelah kepergian papa." ucap Riza, yang air matanya mulai menetes.


"Ustadz ana akan ketemu mama ustadz, tapi jangan menangis lagi." Aisyah menatap Riza.


"Ana hampir depresi."


"Kenapa?"


"Mama yang terus meratapi kepergian papa, sudah hampir bisa merelakan kepergiannya saat anty sering main ke rumah. Anty bisa bikin mama tertawa lagi, ceria lagi, dan sekarang mama seperti dulu lagi. Mama sering menangis, dan ketika ana akan pergi berangkat kemanapun mama selalu bersedih. Terus-terusan mengatakan dan mengungkit kepergian papa."


"Ustadz?" Aisyah ikut menangis, Riza sendiri hanya menyeka air matanya.


"Bagaimana dengan Tasya?"


"Tasya semakin parah, dia egois dan arogan. Dia selalu menyalahkan mama karena kepergian papa. Selalu bilang mama gak bisa merawat papa. Padahal papa sakit, karena paru-paru."


"Sudah jangan dibahas. Allah yang maha membolak-balikan hati seseorang. Ustadz tahu gak? Bahwasanya, Allah itu ngasih ke kita tuh bukan apa yang kita minta, tapi apa yang kita butuhkan. Kita minta yang ini, dan terus merengek minta yang ini. Sedangkan Allah yan lebih tahu bilang, kamu gak butuh yang itu tapi kamu butuh yang ini. Allah datangkanlah kepada kita, apa yang kita butuhkan."


Riza hanya mengangguk.


"Tunggu! Ana seperti mendengar akan ada orang yang kesini. Afwan ukhty Ais, ana harus buru-buru pergi. Ana gak mau anty dicap sebagai seorang pezina seperti dulu. Ana gak mau anty disebut tukang pacaran. Apalagi disebut hamil duluan. Afwan ukhty Ais, ana harus pergi." Riza berdiri.


"Siapa yang akan kesini?" tanya Aisyah, senter hppun gak ada. Hanya ada senter dari hp ana, yang sebentar lagi akan mati karena lowbat."


"Ana takut ketahuan, nanti anty malah kena kasus lagi."


"Tapi ustadz ana takut." Aisyah menangis kembali.


"Heuuuuuu heuuuu heuuuuu euuuuu." tangisan perempuan kembali terdengar.


"Aaaaaaaaaa tolooooong!" Aisyah teriak, dan didengar oleh Alvin dan Adrian, sedangkan Rina masih diam ditempat. Dan sedang ditangani oleh Ashraf serta Amina.


"Disitu, tadi saya lihat dia pergi sama teman saya." ucap Rina sambil tertawa dan menunjuk ke tempat dimana Adrian dan Alvin pergi ke arah Aisyah menangis.


"Tolooooong!" Aisyah teriak.


"Toloooong! Ustadz Rizaaaaa? Anta kemana? Kenapa tinggalin ana sendiri?"


"Aisyah? Disana ustadz." teriak Alvin.


"Aisyah?" Adrian teriak, Aisyah yang melihat kedatangam Alvin dan Adrian langsung pingsan, karena tak kuat dengan rasa paniknya.


"Maksudnya apa?" tanya Amina berulang kali, Rina sendiri masih terus tertawa.


"Sudah ukhty jangan ditanya lagi, ini dia kemasukan jin. Percuma ditanya berulang kali juga, jin banyak bohongnya." ucap Ashraf.


"Coba anty pegang tangannya, biar ana baca ayat ruqyah." Ashraf pun mulai membacanya. Amina sendiri memegang tangan Rina yang terus menunjuk ke arah-arah tertentu.


"Hah. Ini saya. Ini saya." Ashraf terus membaca ayat-ayat ruqyah dengan merdu. Amina sendiri walaupun takut bertanya kepada Rina.


"Siapa kamu? Keluar dari tubuhnya." Teriak Amina.


"Ini saya. Ini saya." Menangis, persis seperti kuntilanak.


"Iya siapa?" Bentak Amina.


"Yang suka dibawah tangga, Aisyah pernah jatuh saya yang tarik kakinya." Menangis.


"Hah. Jadi kamu pelakunya. Kurang ajara yah. Kamu keluar sekarang. Kalau nggak saya bikin kamu mati." Ashraf dan Amina sama-sama membaca ayat ruqyah.


Tak lama kemudian Rina pingsan.


"Ustadz ini gimana? Ana gak mau gending Aisyah lagi, dulu Aisyah pernah marah gara-gara ana gendong pas pingsan saat upacara."


"Ana pernah mendengarnya." Batin Adrian.


"Ustadz?" Sapa Alvin lagi.


"Apa kita gotong saja biar adil?" tanya Alvin, yang kurang faham agama.


"Kita disini saja. Anta coba telpon ustadz Malik."


"Suruh kesini?"


"Naam."


"Kalau ustadz Malik kesini, di Aula gak ada ustadznya kan ustadz Ashraf kesini."


"Astagfirullah, bahkan ana sampe melupakannya." ucap Adrian.


"Apa ustadz Alvin tahu kalau ustadz Riza tabrakan, dan sekarang mengalami koma?" batin Adrian.


"Oh iya, ana ada nomor security nih." ucap Alvin, langsung menghubungkan ke security.