
Saat itu, semua pengurus osis sudah berkumpul diruangan. Mereka sudah duduk sesuai jabatannya. Mulai dari, Sekretaris dan wakilnya, Bendahara dan wakilnya, serta sekbid dan anggotanya.
Sedangkan, Amalia sebagai wakil ketua osis putri terlihat duduk sendiri. Dimeja paling depan, persis dideretan meja pembina osis.
Tak lama kemudian, datanglah Adrian ke ruangan tersebut.
"Assalamu'alaikum!"
"Waalikumsalam wa rahmatullah, ustadz!" ucap semua Pengurus Osis.
"Afwan ustadz, ukhty Aisyah masih diluar." ucap Amalia, berdiri.
"Kenapa?" Adrian duduk.
"Ukhty Aisyah, masih menyelesaikan tugas dari wakasek kesiswaan. Nanti hasil tugasnya, akan dibahas disini." Amalia ikut duduk.
"Kenapa gak konsul sama ana?" Melihat berkas berupa laporan keuangan osis.
"Ukhty Aisyah sedang mengubah data ustadz Malik, menjadi data ustadz. Awfan, tadi juga ukhty Aisyah mencari ustadz. Tapi ustadz, sedang ngobrol dengan salahsatu akhwat. Jadi, beliau gak jadi ketemu ustadz." Amalia coba menjelaskan, yang hanya direspon dengan anggukan oleh Adrian.
"Toyyib. Yang pertama, ana ucapkan terimakasih kepada antunna sebagai pengurus osis putri. Disini ana diamanahkan untuk menjadi pembina osis, menggantikan ustadz Malik. Untuk yang belum bertemu ana dikelas, ana Adrian dan ana baru beberapa hari gabung disekolah ini. Untuk itu, ana sebagai pembina yang baru, mudah-mudahan bisa diterima oleh antunna dan kita bisa bekerja sama."
"Aamiin." Serempak pengurus osis.
Didekat gerbang, terlihat Aisyah yang terburu-buru melajukan motor. Saat sudah diparkiran, dia memanggil salahsatu satriyah yang akan pulang.
"Afwan ukhty, bisa nggak titip laptop sebentar. Maf ana ada yang jatoh dijalan." ucap Aisyah, sambil menurunkan beberapa tumpukan buku yang ditaro didepan motornya.
"Naam ukhty bisa, sebentar doang kan ukh?"
"Sebentar aja ukh," Aisyah, memberikan tas laptopnya. Lalu dia bu-buru memarkirkan motornya kembali.
Bruuuk
"Awww," ringis Aisyah
"Ukhty Aisyaaaaah!"
"Kenapa?" tanya Ashraf, yang akan duluan pulang bareng ustadz Riza. Buru-buru mencari sumber suara motor yang jatuh.
"Ustadz, ukhty Aisyah gak sengaja jatoh." ucap santriyah yang masih memegang laptop, dan berusaha membantu Aisyah.
"Gimana ceritanya anty bisa seperti ini?" tanya Riza khwwatir, sambil membenarkan motor berdua dengan Ashraf.
"Ana tadi mau parkir, tapi terlalu mepet ke mobil ini (menunjuk mobil mewah berwarna hitam), terus motornya malah muter sama ke gas." ucap Aisyah menahan sakit.
"Tangan anty luka (melirik ke arah punggung tangan Aisyah), tuh kan ini juga (melihat baju dibagian sikunya) darahnya nembus ke baju. Ini kena baju koral kayanya ukh, sampe robek gini. Ayo kita obatin, pasti perih."
"Bisa jalannya?" tanya Ashraf, melirkk ke Aisyah.
"Bisa gak bisa harus bisa ustadz, ana belum ada suami buat gendong ana. Hehe." Aisyah melirik ke aeah Riza, yang dilirik pura-pura melihat bagian motor yang tergores.
"Anty baru saja jatuh, jangan bercanda dulu!" Respon Ashraf.
Dreeet dreeet
"Yah, afwan ukh. Ana sudah ditelpon mama lagiiii, gimana dong?" ucap santriyah tersebut, sambil menatap layar hpnya.
"Gak apa-apa biar ana yang bantu," pinta Ashraf.
"Ana permisi juga, udah ada janji." ucap Riza yang tiba-tiba berdiri.
"Ustadz Riza kenapa ya? Ah, lupakan. Jangan sampai aku fikir, ustadz Riza belum move on dari aku. Masa hanya karena ustadz Ashraf duluan mau bantu aku, dia pundung. Hem. Mungkin emang benar masih ada kesibukan." batin Aisyah.
"Hati-hati ustadz!" ucap Aisyah, Riza sendiri hanya mengangguk dan berpamitan kepada Ashraf.
"Laptop dan berkasnya biar ana bawa, ukhty." ucap Ashraf.
"Naam ustadz. Afwan, ustadz biar ana sensii ke uks. Ustadz, ana minta tolong boleh?"
"Boleh."
"Berkas sama laptopnya, minta tolong kasih ke ukhty Amalia, wakil ketua osis. Sekarang ada diruang osis ustadz."
"Naam."
"Afwan ustadz, lutut ana juga perih. Spertinya luka juga."
"Cepatlah obatin!"
"Afwan ana gak maksud nyuruh ustadz."
"Santai saja. Ana pergi dulu."
Tak lama kemudian, Aisyah langsung masuk ke uks. Lalu dia membuka cadarnya, dan menggukung baju kanannya. Terlihat luka yang cukup dalam, dengan banyak goresan luka.
"Untung tangan kiri, sakit juga ini. Yah, yang disiku cukup dalam. Apa langsung perban aja ya? Dibersihin sakit juga." Melihat ke arah lukanya.
"Assalamualaikum!" Pintu diketuk oleh Ashraf.
"Waalaikumussalam warahmatullah." Semua orang menjawab termasuk Adrian.
"Masuk!" titah Adrian.
"Loh? Belum pulang?" tanya Adrian, ketika Ashraf membuka pintu.
"Baru mau, bareng ustadz Riza. Tapi pas mau ke parkiran, terdengar motor jatuh. Pas dilihat ukhty Aisyah jatuh."
"Innalilahi," Semua kaget termasuk Adrian.
"Ukhty Aisyah nya dimana ustadz?" tanya Amalia.
"Di UKS sendiri." ucap Ashraf, sambil menginap berkas dan laptop
"Apa ukhty Aisyah terluka? Afwan." tanya Aminah tiba-tiba, yang saat itu menjadi ketua bidang tiga.
"Naam. Ditangannya banyak luka yang mengeluarkan darah, kalau kepalanya dipelipis kanan memar." ucap Ashraf.
"Ana permisi, ustadz." Melirik Adrian.
"Mau pulang?"
"Mau ke UKS." Semua orang kaget, Adrian mengeryitkan dahinya.
"Untuk apa?"
"Serius amat, ana mau pulang."
"Yasudah bawa motor ana saja, diruang gak ada orang.” Mengikuti Ashraf keluar.
"Istirahat dirumah, ini kuncinya." ucap Adrian, menyerahkan kuncinya.
"Ini gimana?" Memperlihatkan kunci motor Aisyah.
"Punya siapa?"
"Punya ukhty Aisyah, di UKS gak ada orang. Ana gak kesana dulu, takut jadi fitnah." ucap Ashraf, menyerahkan kunci motor ke Adrian.
"Kenapa dikasih ke ana?"
"Titip. Dia sedang membersihkan lukanya, sebentar lagi kesini. Tapi gak bisa bawa motor kayanya, belum lagi yang pas jatoh dari tangga itu. Kaki nya masih terlihat sakit." ucapnya.
"Yasudah. Hati-hati!" ucap Adrian. Ashraf pun pergi untuk pulang. Adrian kembali masuk.
"Ustadz, Afwan ini file Santriyah dari semua kelas sudah ada." ucap Amalia, memperlihatkan layar laptop.
"Naam. Lanjutkan dulu yang barusa."
"Toyyib, yang terakhir. Untuk jadwal pelantikan. Akan dilaksanakan malam Minggu ustadz. Dan hari minggunya penutupan." ucap ketua bidang tadi.
"Naam. Untuk Wakasek sendiri, sudah ngasih tahu belum jadwal pelantikan untuk kelas putra? Jangan sampai ana bentrok."
"Kelas putra, ldksnnya akan dilaksanakan Minggu depannya ustadz. Oh iya, Afwan ustadz belum sempat bertemu Wakasek ya? Tadi Wakasek bilang, hanya sebentar bertemu ukhty Aisyah, tidak sempat ketemu ustadz. Tadi minta nomor ustadz ke Ustadz Ishak tapi belum dibalas. Terus minta ke ukhty Aisyah juga tapi gak punya katanya." ucap Amalia, menunduk. Sedangkan, Adrian sendiri masih melihat berkas-berkas yang tadi dibawa Ashraf
Nb: LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa) jadi, acara untuk menemukan calon-calon pengurus OSIS yang baru. Karena pengurusan OSIS sebelumnya akan diganti. Biasanya diadakan saat pengurus OSIS sebelumnya sudah menjadi kelas tiga, acara diadakan di semester satu. Maaf, lalu beda, karena tergantung sekolah juga.
"Anty bawa hp?"
"Bawa ustadz."
"Coba pinjam, ana save nomornya."
"Tafadhol Ustadz." Amalia pun memberikan ponselnya. Tak lama kemudian, Adrian sudah mengetik nomornya.
"Namanya ustadz?"
"Terserah anty." ucap Adrian.
"Massya Allah, kenapa tiba-tiba aku jadi senang?" batin Aisyah.
"Ustadz Adrian :)" Amalia memberikan nama tersebut.
"Seperti ini ustadz?" Terlihat dari balik cadar mata Amalia menyipit, menandakan dia tersenyum.
"Pake tanda itu?"
"Katanya terserah, Afwan ustadz." Menunduk.
"Naam." Adrian sedikit tersenyum.
"Kenapa tuh?" Para pengurus OSIS yang lain, mulai bisik-bisik.