
Beberapa menit kemudian
"Kok bisa buku ana ada di ustadz?"
"Bisa. Sudahlah, ana kan akan tanggungjawab. Lagian ana gak baca diary anty, gak penting juga."
"Dengan cara apa ustadz akan tanggungjawab?"
"Anterin anty pulang, tadi kan sudah bilang."
"Owh. Baiklah. Tapi geratis kan? Ana tidak punya uang buat bayarnya. Tas jinjing ana ditaro didepan motor ukhty Amina, lupa bawa tadi. Soalnya ana tadi langsun lari."
"Bawel. Yang nyuruh anty bayar siapa?" Adrian berlalu. Aisyah hanya menatap Ashraf dengan penuh tanda tanya.
"Ustadz? Ustadz orang SBY kan?"
"Naam. Kenapa?"
"Ustadz dulu ana ada kenalan di Jatim juga, tapi bukan di Sby nya." Mereka berdua mengobrol, Adrian hanya menjadi pendengar.
"Terus dimana?"
"Di Malang ustadz, tapi ana belum pernah bertemu sama beliau."
"Hem. Siapa?"
"Ustadz Ahmad Tito, ustadz kenal?"
"Em. Kenapa sama beliau?"
"Beliau pembimbing ana di WA grup kajian. Tegas banget, kalau jawab pertanyaan, ana langsung faham."
"Oh ya? Massya Allah."
"Iya ustadz. Ana tertarik sekali sama beliau."
"Tertarik gimana?"
"Mau nikah sama beliau, bahkan udah izin sama bapa. Tapi kata ibu malah gak boleh."
"Kenapa tuh?"
"Karena ana masih sekolah, terus Jawa barat ke Jawa timur kan jauh."
"Hem."
"Tapi?"
"Kenapa?"
"Tapi ana mau di ta'adud (poligami)"
"Hah?" Ashraf dan Adrian menghentikan langkahnya karena kaget.
Krik
Krik
"Kok anty bisa mau?"
"Karena ana dsri SD pengen banget Pesantren, tapi gak pernah dapat izin. Nah, kalau nikah ke ustadz kan minimalnya ana bisa diajarkan agama langsung sama ustadznya hehe."
"Jadi karena ilmunya?"
"Tentulah ustadz, makanya ana tertarik."
"Pantes, sama ustadz Adrian juga tertarik." Ledek Ashraf melirik Adrian.
"Gak lucu mereka bercandanya." Batin Adrian.
"Nggak lagi sekarang mah ustadz. Kan bercanda dalam hal itu, gak boleh kan? Ana minta maaf ya ustadz Adrian."
"Naam." jawab Adrian simple. Ashraf sendiri hanya tersenyum.
"Oh ya? Boleh minta nomor anty!" Menyodorkan hp.
"Boleh ustadz." Menerima hp Ashraf.
"Syukron."
"Wa iyyaki ustadz."
"Ustadz? Bukankah berkumpul dengan yang bukah mahram gak boleh? Terus ana kan bukan mahram, gimana?"
"Kan tidak sengaja, kita juga kan bertiga. Lagian bentar lagi jadi mahram kok." Ashraf tersenyum.
"Siapa ustadz?"
Ashraf hanya tersenyum, dan melirik Adrian sambil mengangkat alis.
Tak terasa mereka sudah sampe parkiran, disana terlihat mobil mewah berwarna hitam. Mobilnya terlihat sangat bersih, seperti mobil yang sudah dibeli tapi jarang dipake.
"Ustadz inii kuncinya!" Ashraf menyerahkan kunci mobil.
"Anta saja yang nyetir, ana nanti mau turun dulu di mimimarket sebentar."
"Baiklah." Ashraf pun memarkirkan mobil.
"Ayo naik!"
"Ana duduk dimana?"
"Dibelakanglah."
"Ustadz dimana?"
"Ana didepan sama ustadz Ashraf."
"Ana gak mau ustadz." Ucap Aisyah seperti ketakutan.
"Ana takut ada yang nemanin dibelakang."
"Apaan sih maksudnya." Kesal Adrian.
"Ustadz dibelakang aja!"
"Terserah. Yang penting ana gak sendiri. Ana tadi mimpi ustadz, ana didekat pemakaman jalan yang ke rumah ana itu loh. Disana ada cewek dipohon jengki, menatap ana kaya sinis banget, kaki nya digoyang-goyangkan kedepan ke belakang. Ana takut ustadz."
Tiiid
"Cepat masuk!" titah Adrian! Sedangkan dirinya, menghubungi seseorang.
Aisyah pun masuk ke mobil dibagian belakang.
"Ustadz afwan!"
"kenapa?" Ashraf melihat Aisyah dari kaca spion, sedangkan tangannya masih memegang kemudi.
"Tatapannya bikin meleleh, astagfirullah Ya Allah." batin Aisyah menunduk.
"Ehm. Kenapa?"
"Ustadz?"
"Udah belum?" Adrian menelpon seseorang.
"....."
"Alhamdulillah. Syukron kalau sudah masuk. Assalamualaikum."
"Kenapa?" Ashraf masih penasaran.
"Semoga Aisyah sudah didepan bersama ustadz Ashraf." batin Adrian.
"Ustadz ana tak,"
Ceklek
Adrian membuka kunci mobil bagian belakang, dan langsung masuk. Ashraf yang melihat dari kaca spion kebingungan. Mereka berdua hanya saling menatap.
"Kenapa anty tidak didepan?"
Tiiiiiiid
Ashraf sengaja langsung melajukan mobilnya, agar Aisyah tidak pindah ke depan.
"Ya Allah, bagaimana ini? Kenapa sih? Jika seperti ini terus kan bahaya." batin Aisyah.
"Syukron ustadz!" Aisyah menunduk.
"Ya Allah, magrib-magrib gini malah mau ujan. Untung pake mobil." Batin Aisyah.
"Syukron apa?"
"Ana jadi gak takut, karena ustadz duduk disini."
"Gak usah ke PDan, ana fikir anty sudah duduk didepan."
"Ana sadar diri ustadz, kalau ana gak mimpi serem. Ana duduk sendiri gak apa-apa." jawabnya santai.
Adrian menatap lurus kedepan tanpa menjawab ucapan Aisyah, sedangkan Aisyah sendiri hanya menatap ke arah luar kaca mobil.
"Kasiahan ukhty Ais." Batin Ashraf.
"Ustadz jadi ke minimarket?"
"Aduh, takutnya gak ada kalau sebanyak gitu." Batin Adrian.
"Gak jadi ustadz, hujan kayanya. Buru-buru pulang saja. Nanti habis nganterin langsung ke Mesjid. Udah adzan juga."
"Naam-naam ustadz." Ashraf mengangguk.
"Duh, udah ganteng, cool, pake parfum lagi haduh. Dahlah mabok halu ini mah." Batin Aisyah.
Dirumah, Dija yang sudah memakai mukena, sangat terlihat gelisah. Ahmad sendiri, memutuskan untuk pergi ke Mesjid.
"Aisyah kemana ini? Mana hujan. Apa nginep di Asrama kali." Batin Dija, sambip terus menatap layar hpnya.
Beberapa menit kemudian
"Berarti anty mimpi disini dong?" tanya Ashraf tiba-tiba.
"Eh sut ustadz, ini udah magrib loh. Takut ada ustadz."
Deg de deg
Aisyah melirik ke kanan dan ke kiri
"Sebenarnya bukan mimpi saja ustadz. Sebenarnya kan ada dua jalan untuk bisa ke jalan raya, satu jalan yang hanya bisa dilalui sama motor dan jalan kaki doang. Karena yang bawa motor tak semuanya berani melewati jalan itu. Nah, yan kedua jalan ini yang bisa masuk mobil.
Jadi, kejadian mimpi yang ana alamai tadi. Itu persis banget saat ana masih smp. Benar-benar nyata banget ustadz, gak ada ana ngarang-ngarang cerita mistis tuh." ucap Aisyah mencoba menjelaskan, ketika sudah lewat dari pemakaman.
"Hem. Harus sering baca ayat ruqyah mandiri kalau gitu ukhty. Kemana-mana harus berdoa dulu." ucap Ashraf, memberhentikan mobilnya. Adrian sendiri, asyik dengan ponselnya.
"Anty berani turun sendiri?" Ashraf menatap dari kata spion.
"Nggak ustadz. Takut ada yang ngikutin."
"Haduh. Gak bakalan lah, ana gak enak malam-malam anterin anty. Ana kan bukan orang sini. Nanti kalau bertemu orang-orang pasti pada nanyain." Ashraf mencebik.
"Tapi ana takut ustadaz, apa usatdz gak bawa masker?" Aisyah menatap keluar, dimana keadaan kampung tersebut benar-benar sangat sepi dan gelap. Hanya ada cahaya lampu, dari rumah warga yang tidak terlalu padat.
"Ana yang anter ayo!" Adrian keluar.
"Hujan-hujanan?"
"Laa. Anty pake jaket ana nih! Ini hanya hujan kecil kok, dipercepat aja jalannya." Ashraf membuka jaketnya.
"Syukron ustadz."
"Naam. Anty hati-hati!"
"Naam ustadz. Assalamualaikum" Sambil buru-buru keluar.
"Ayo!" Ajak Aisyah, melihat Adrian yang masih memainkan hp. Dan mencoba menyalakan senter.
"Pantes anak ini penakut, benar-benar tempat yang sepi." Batin Adrian.