
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Adzan Maghrib telah tiba. Adrian ditemani Aisyah berbuka puasa.
"Selamat berbuka puasa!" ucap Aisyah, sambil minum es teh manis menggunakan sedotan dibalil cadarnya.
"Terimakasih!" Adrian yang sudah berdoa langsung minum air putih, lalu dia mengeluarkan plastik kecil dari dalam ransal, berwarna hitam.
"Ini buat anty! Maaf, hanya bawa tiga butir. Nanti ingetin ana dirumah ya, masih banyak." Memberikan pelastik kecil, yang berisi dua butir kurma, kepada Aisyah yang berada dimeja sebelahnya.
"Apa ini?" Melihat kurma.
"Em. Buat ustadz saja, kan ustadz puasa." tolaknya pura-pura.
"Buang saja!" Ketus Adrian yang meminum air putih lagi, setelah makan sebutir kurma.
"Ah, tahu aja nih orang. Aku dah lama gak makan kurma." Batinnya, sambil tertawa kuda.
"Kenapa ketawa?"
"Kurmanya ana makan ya! Ini yang sebutirnya mau dibagi dua?" Aisyah mengangkat kurmanya.
"Nggak. Ana mau makan nasi langsung, setelah ini ana ke Mesjid dulu." ucapnya. Aisyah langsung mengangguk sambil melirik Mesjid yang ada disebrang jalan, yang sudah dipenuhi sandal dan banyak kendaraan di halamannya.
"Anty mau makan apa?"
Gak jawab.
"Ana gak suka bertanya dua kali." Berusaha tenang.
"Ustadz mau makan apa?"
"Soto Bogor. Anty apa?" Menahan emosi.
"Sate manggarai." jawabnya santai yang langsung melihat ke Adrian, dan bibir Adrian seperti berkedut menahan tawa.
"Manggarai stasiun. Adanya sante maringgi." sambil berlalu.
"Manggari ustadz." Tertawa kuda.
"Yang benar sate maranggi, khas Purwakarta. Mau daging sapi atau kambing?" ucap salahsatu pembeli sambil tersenyum.
"Wah? Apa tadi bu?"
"Ma Rang Gi." ucapnya sambil menggelengkan kepala. Aisyah langsung sedikit berlari, mengikuti Adrian yang kedepan untuk memesan.
"Apa?" Adrian sedang menulis pesanan.
"Ana mau sate ma rang gi dari Purwakarta." Menatap sate yang sedang dibakar dengan kebupan asap dan wanginya yang menggoda.
"Purwakarta jauh." Canda Adrian.
"Yasudah gak usah." Berlalu ke mejanya.
"Mas, istrinya lagi hamil ya?" tanya pemilik Restoran.
Adrian hanya tersenyum, dia tidak menyebutkan bahwa Aisyah siswinya. Karena jam sudah masuk magrib. Nanti takutnya orang mencap sekolahnya buruk.
"Tunggu sebentar ya!" Berlalu untuk menghampiri Aisyah.
"Ekhm. Daging sapi atau kambing?"
"Soto Bogor." Tertawa kuda, Adrian menatap jam ditanganya sambil melirik tajam Aisyah.
"Ehehee. Daging sapi tanpa lemak. Kering ya!" saat Adrian akan berlalu, Aisyah bergerak.
"Duduklah! Biar ana yang pesan. Maaf bercandanya kelewat batas." Aisyah berlalu.
Tak lama kemudian, Aisyah membawa soto dan nasi.
"Ayo makan duluan! Kan harus ke Mesjid." ucapnya, lalu duduk dimejanya untuk nungguin sate pesanannya.
Hening
"Terimakasih." ucapnya pada pelayan yangmengantarkan sate.
Hening
"Massa Allah ustadz," Melihat status Adrian. Spontan Adrian melihat ke arahnya.
"Massya Allah, gadis ini buka cadar. Ana terlalu fokus makan, jadi gak ngeuh dari tadi." Batinnya.
"Kenapa?" Melirik Aisyah sebentar.
"Ustadz statusnya bagus hehe. Ana sering temukan ini bunga, tapi nama bunganya apa ya?"
"Hem." Mengelap mulutnya dengan tisu.
"Ustadz tahu?" Sambil ngunyah sate, tanpa nasi. Karena alasan masih kenyang makan mie ayam.
"Dandelion. Ada juga yang bilang randa tapak."
"Randa?" Aisyah menatap ke Adrian.
"Google kalau gak percaya. Ana ke Mesjid dulu. Anty gak ke Mesjid?" Berdiri sambil melihat hpnya.
"Habiskan makanannya! Pesenin buat Ayah dan Ibu anty." titahnya sambil berlalu.
Di Rest Area
"Kamu kenapa melamun sih?"
"Kiran yang tabrakan papa, aku kaget pah." ucapnya sambil meminum teh hangat.
"Benar kan kamu melamun. Harusnya kamu tadi kalau gak melamun, bisa lihat mobil papa nyalip kamu."
"Aku mikirin mama sama papa. Aku sedih pah, suasana seperti ini." Alvin bersilang tangan dimeja dan menunduk diatasnya melihat ke bawah meja.
"Mama kamu susah diatur, sama seperti kamu. Papa megan perusahaan tambang dan rumah sakit sendirian. Mama kamu lebih milih masuk anggota dewan. Dan kamu, malah memilih untuk ngajar." Menatap ke arah jalan tol.
"Kasih aku waktu pah, aku ingin merasakan sbentar saka menjadi seorang guru. Dan papa, cobalah bujuk mama lebih pelan lagi. Gak bisa papa langsung larang mama begitu aja pah. Apapagi itu cita-citanya dari dulu."
"Coba nanti papa bicara lagi lah. Tapi kalau mama kamu masih gak mau. Papa besok mau langsung ke Pengadilan ya."
"Kenapa harus besok sih pah?" Alvin menatap tajam Ali.
"Karena lusa, papa harus ke Kalimantan. Papa sebulan disana Alvin." Tegasnya.
"Apa kita bakal jadi pindah dari Bogor pah?"
"Tentu saja. Tiga bulan lagi rumah yang di Jaksel jadi."
"Permisi! Ini makanannya." ucap seoran pramuniaga membawa makanan.
"Ayo makan dulu lah vin!" Ajak Ali.
"Pah?"
"Apapagi sih? Papa bilang makan dulu! Nanti saja ngobrolnya." Ali memukul piring dengan sendoknya, sebagai tanda penegasan.
"Maaf pah." Alvin langsung memulai untuk makan.
Dua jam kemudian
"Ais kenapa belum pulang sih?"
"Katanya ke rumah pa haji Ishak dulu, yah. Ada proposal yang harus ditandatangani. Besok pagi-pagi pa haji nya mau rapat ke Kabupaten." ucap Dija yang masih memakai mukena dan masih memegang Al Quran.
"Telponin. Malulah jam segini masih dirumah orang."
"Kalau sudah gak jadi ketua osis mah dia pasti tepat waktu yah. Telatnya pasti hanya karena pelajaran tambahan aja." Berlalu mengambil hpnya.
"Assalamualaikum!" ucap Aisyah.
"Waalaikumsalam wa rahmatullah." Ahmad langsung membuka pintu.
"Eh dianterin lagi, jadi gak enak tuh kan. Masuk-masuk nak!" ajak Ahmad.
"Asaalamualaikum pak. Mohon maaf." ucap Adrian.
"Waalaikumsalam. Udah masuk dulu ayo!"
"Mohon maaf pak, mungkin bisa lain waktu. Saya sudah ditunggu abi pak. Ini saya anterin Aisyah, mohon ma,"
"Sudah-sudah gak apa-apa, tadi ibunya udah bilang kok." Ahmad tersenyum.
"Alhamdulillah," Adrian masih mematung.
"Aiiiiis?"
"Apa yah?"
"Yeeh kamu. Ini ustadznya mau pulang lagi."
"Oh iya. Makasih ustadz udah nganterin. Asalamualaikum, hati-hati dijalan!"
"Iya sama-sama. Waalaikumsalam. Pak saya duluan ya, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam hati-hati nak!" Ahmad sedikit menuruni teras rumahnya, untuk mengantarkan Adrian ke jalan kecil yang tadi dilaluinya.
"Bu, tadi udah naik mobil sebenarnya. Tapi di mobilnya penuh banget, aku juga hampir terhimpit. Terus ustadz Adrian berdiri kaya tukang knehm eh, udah mau ke pemandian mobil. Tiba-tiba suruh berhenti disalahsatu rumah makan. Pas aku tanya kenapa gak dirumah aja, ustadzny bilang. Gak kuat berdiri, mobilnya agak ngebut, katanya takut puasanya batal, kan sayang tanggung mahrib." ucap Aisyah sambil membuka tas dsn jaketnya.
"Iya ibu tahu. Kapan sih LPJ osis nya?"
"Besok baru mau pelantikan bu. Semingguan lagi lah bu. Apa bapa marah?"
"Nggak. Malu aja katanya, jam segini masih dirumah orang."
"Oh iya bu nih?"
"Eh apanih? Ih, alhamdulillah ya allah. Banyak banget ini is, dikasih bu haji?"
"Iya. Kurma Ajwad itu bu, enak banget. Ada kismisnya juga bu, terus ada mukena buat ibu. Terus peci, sarung, dan sajadahnya buat ayah."
"Kamu gak dikasih mukena?" Melihat mukena.
"Nggak bu. Kata bu haji malah bercanda loh bu, mana ada ustadz Adrian sama ustadz Ishak. Katanya, nanti saja buat neng Ais mah kalau nikah sama Adrian. Jadi mahar katanya gitu bu." Padahal Aisyang senang dalam hati.
"Gak apa-apa. Gak usah ditampik kalau kamu dilamar Adrian. Baik kayanya dia. Banyak uang nya pa haji mah."
"Ah ibu, uang terus yang dipikirih ih."
"Yeeeeh. Udah kerasa mah nanti Ais, kalau udah rumah tangga. Uang itu benar-benar sangat diperlukan." Sambil melihat sajadah dengan membentangkannya dan mengendusnya.