
Disekolah
Semua Santriyah sedang berada diluar kelas. Hari itu dijam pelajaran kedua ada pelajaran bahasa Arab. Mereka terlihat berpasangan-pasangan, sambil melihat buku.
"Mohon perhatian semuanya!" ucap salahsatu Santriyah. Mereka pun buru-buru berkumpul.
"Tadi ana habis dari ruang guru, ibu Nur sudah mengambil cuti untuk melahirkan. Jadi, sekarang ada ustadz baru yang akan ngajar bahasa Arab."
"Siapa?"
"Massya Allah, ustad lagi."
"Wah, pengen cepat ketemu."
"Apa ustadznya galak lagi?"
"Jadi kepo"
"Wah pasti tampan, seperti ustadz Adrian."
Para Santriyah bercakap-cakap, ada yang kegirangan, ada juga yang merespon dengan biasa aja.
"Sebentar lagi ustadznya kesini. Ustadznya dianterin dulu sama ustadz Adrian. Sepertinya temannya, ayolah kita masuk!"
"Yeeeee!" Merekapun buru-buru masuk.
Tak lama kemudian, Adrian dan Ashraf masuk ke kelas.
"Assalamualaikum ustad," ucap semua Santriyah.
"Waalaikumussalam warahmatullah," jawab Adrian dan Ashraf, lalu mereka duduk.
"Tafadhol, anta yang sudah dulu kenal mereka untuk memulai topik." bisik Ashraf.
"Naam ustadz."
"Baik, disini siapa ketua kelasnya?" tanya Adrian.
"Ukhty Ratna ustadz." Serempak menjawab.
"Naam. Ana minta absensinya ukhty Ratna.'
"Afwan ustadz, ana tidak pegang. Yang pegang ukhty Aisyah, karena ukhty Aisyah sekretarisnya." ucap Ratna, sambil berdiri.
"Kemana dia?" tanya Adrian.
"Dipanggil sama Ustadz Wakasek Kesiswaan ustadz."
"Dari kapan?"
"Dari jam akhir pelajaran pertama ustadz."
"Naam, kalau begitu ambil kertas HVS ini. Tulis nama dan posisi kursi. Dari pojok kanan nomor 1 ya!" titah Adrian. Ratna pun membawa kertasnya
"Toyyib (baik). Jadi, Ustadzah Nur sebagai guru bahasa Arab disini, sudah mengambil cuti melahirkan selama 3 bulan. Dan itu sudah disetujui oleh Ustadz Ishak, selaku kepala sekolah. Nah, Ustad Ishak sudah mengamanahkan ustadz yang berada disebelah ana untuk menggantikan posisi ustadzah Nur. Tafadhol Ustadz!" Adrian mempersilahkan Ashraf untuk memperkenalkan diri.
Saat, Ashraf sudah berdiri, tiba-tiba pintu diketuk. Tuk tuk tuk. Ashraf pun membuka pintu. Namun, lalu tanpa sengaja dia saling tatap dengan Aisyah.
"Cieeeeeeee." Sorak para Santriyah. Adrian yang melihatnya, hanya menatap mereka dengan datar.
"Assalamualaikum!" ucap Aisyah.
"Waalaikumussalam." ucap semuanya, Ashraf kembali ke posisi semula. Sedangkan, Aisyah masih didepan pintu.
"Apa ana boleh duduk?" tanya Aisyah, yang membawa banyak tumpukan buku.
"Tafadhol ukhty." ucap Ashraf. Lalu Aisyah menatap intens Adrian, sambil berlalu duduk.
"Afwan ustadz, ana mau bertanya." celetuk Aminah berdiri.
"Gak salah ukhty Amina?" tanya Aisyah keras. Sontak semua orang melirik ke Aisyah.
"Biarkan saja ukhty Aminah bertanya, kenapa anty bertanya seperti itu? Afwan." tanya Ratna, ketus.
"Ana lagi banyak tugas, jangan membuat ana cape untuk melayani terus menggubris pertanyaan anty." ucap Aisyah, tanpa menoleh.
"Mulai nih," batin Adrian, Ashraf hanya tersenyum.
"Ustadz Afwan, ustadz temannya ustadz Riza ya?" tanya Aminah PD, sontak semua orang tertawa. Aisyah, langsung berdiri. Sedangkan, Aminah langsung menutup mulutnya dan melirik ke arah Adrian.
"Sudah! Jangan tertawa, ukhty Aminah kan salah sebut. Afwan ustadz Ashraf."
"Untung anty pake cadar." bisik Aisyah,
"Naam untung pake cadar." respon Ashraf, yang mendengar bisikan Aisyah. Yang salah hanya menunduk. Sebagai Santriyah ada yang tertawa.
"Afwan ustadz." Aisyah menunduk dan langsung duduk.
"Afwan ana salah ustadz, ustadz temannya ustadz Adrian ya?"
"Naam. Kenapa?"
"Minn Aina anta?"
"Ana miin Surabaya."
"Oh, jauh ya ustadz. Apa ustadz juga lulusan Madinah?"
"Naam ukhty." Ashraf tersenyum.
"Ustadz Afwan, ismi Aminah Nugraha." Sontak semua sebagian Santriyah menahan tawa. Adrian hanya menggelengkan kepala.
"Naam ukhty Aminah. Ada lagi?"
"Ustadz berapa usianya?"
"Yeh, ukhty Aminah jangan diborong dong. Yang lain siapa tahu akan bertanya." Ketus Ratna.
"Bilang saja anty yang mau bertanya, gak usah dilempar ke yang lain." ucap Aisyah.
"Kalau ana yang harus bertanya. Ana mau tanyain, ustad kapan menikah?" Ratna ngegas.
"Jawabannya, insyaallah Minggu depan sama Aisyah Ak Hakim. Iya kan ustadz?" Semua orang tertawa, Shraf hanya tersenyum, Adrian menyunggingkan bibirnya.
"Sudah. Ana usianya 28 tahun ukhty."
"Naam. Syukron ustadz." Aminah buru-buru duduk.
"Mulai kepincut ustadz baru ya? Jadi ustadz Riza milik ana." Sindir Raina yang duduk dibelakangnya, sambil menyentuh pundak Aminah dengan Pulpen.
"Ambil saja ustadz Riza, yang masih menyimpan rasa sama Ukhty Aisyah." Aminah menoleh kebelakang, menghadap Raina. Semua orang kembali dikagetkan oleh tingkahnya. Aisyah, hanya menepuk jidat.
"Afwan ustadz Adrian dan Ustadz Ashraf, ukhty Raina selalu memancing ana." Aminah kembali duduk.
"Owhh. Asmara ya Asmara." batin Adrian.
"Ana tinggal dulu ya ustadz. Ana harus ngajar dikelas lain." ucap Adrian pamit.
"Naam ustadz." Adrian hanya melirik sebentar ke arah Santriyah dan berlalu keluar.
"Apa ustadz Adrian marah? Ah masa sih? Ana yang ke GRan kali. Ah lupakan." batin Aisyah.