
Waktu pulang sekolah telah tiba
Aisyah tergesa-gesa bersama Amina dan Raina, untuk masuk ke ruang Aula.
Dreeet dreeet dreeet
"Kalian duluan deh, ana angkat telpon sebentar." titah Aisyah, Amina dan Raina lamgsung pergi ke Aula.
"Ibu?" Batinnya. Tak fikir panjang, langsung mengangkat telponnya.
"Assalamualaikum bu?"
"Waalaikumsalam Ais."
"Kenapa bu?"
"Ais? Ibu boleh pinjem uan kamu gak yang kata kamu seratus dua belas ribu itu? Ibu ada yang nagih, biasanya bisa libur. Ini malah nungguin mulu. Bingung ibu."
"Hadeeuuh. Pusing aku jadinya, banyak banget sih bu yang datang." Kesal Aisyah.
"Yeh. Kan buat kebutuhan, ada nggak buruan?"
"Padahal itu buat modal aku usaha," batin Aisyah, sambil mengingat uangnya yang disimpan dibawah baju.
"Ais? Ih lama banget kamu, ini orangnya nungguin."
"Bu? Pulang sekolah nanti aku mau bicara. Ambil saja dibawah baju dereta pertama."
"Oh iya iya." Dija mematikan telponnya.
Tut tut tut
"Ya Allah, punya kakak tiga-tiganya kapan sih jadi pns? Yang udah susah banget dikabrin, yang satu ngasih uang pas-pasan. Kalau begini terus aku mana bisa kuliah. Tapi ada sih, kuliah sambil kerja. Ah, ntar deh aku fikirin lagi." Batin Aisyah, yang malah menyender ditembok kelas lain.
Dreeet dreeet dreet
"Yaaaan, asaalamualiakum." Jawab Aisyah saat Amalia menelpon.
"Waalaikumsalam. Afwan ukhty, udah di Aula belum ya?"
"Ini baru mau kesana, kenapa ukh?"
"Afwan, ana masih di ruang osis ukh. Kalau nanti ketemu sama ustadz Adrian, tolong kabarin ana ya. Nanti ana kesana, tadi ana telpon gak aktif."
"Mereka memang sudah dekat," batin Aisyah.
"Anty diruang osis smaa sekrestaris?"
"Naam ukh, masih ngetik buat besok."
"Baiklah ukhty." Aisyah mematikan telponnya.
"Semoga ustadz Alvin melihat ukhty Ais dan ustadz Adrian mengobrol." Batin Amalia.
"Sakit banget nih perut, apa ana makan dulu kali ya. Tadi gak sempat makan pas istirahat, cuma minum air sama kue yang seribuan hem." Aisyah melihat ke arah kantin.
Tak lama kemudian di Kantin
Terlihat Riza yang sedang memakan mie ayam dan segelas es teh manis.
"Aduh, ada ustadz Riza lagi. Apa ana balik lagi?" Batinnya.
"Neng Aisyah? Kenapa pergi lagi?" Teriak bibi kantin.
"Eh hehe. Iya bi. Bi mie ayam nya satu ya! Sambal nya setengah sendok aja, saosnya dikit, kecapnya banyakin." Sambil duduk disebelah meja Riza. Sedangkan Riza sendiri hanya menikmati Mie ayam nya.
"Malu ih, tapi kenapa ya jadi ingat waktu pdkt dulu. Eh kok pdkt sih? Pacaran kali ya, ah lucu huhuu. Ah ya Allah kenapa jadi sedih sih (Aisyah menarik nafasnya). Andai dulu anta gak menuduh ana jalan berdua sama ustadz Alvin, mungkin sekarang kita masih dekat. Orang-orang menyalahkan anta hanya karena anta ustadz. Padahal kata ustadz hanya karena anta guru disini, jadi dipanggil ustadz. Bukan karena anta ahli agama. Posisi anta sama seperti ustadz Malik dan ustadz Alvin. Beda dengan ustadz Ashraf dan ustadz Adrian yang memang mereka sekolah jurusan Agama." Batin Aisyah, sambil terus melihat meja yang dialasi oleh karpet gambar minuman.
"Kenapa disaat ana benar-benar ingin move on, dia malah kesini sih? Ana tergekan dengan situasi seperti ini. Selalu terbayang, saat anterin dia pulang. Walaupun hanya pernah sekali. Massya Allah, anty gadis yang benar-benar mandiri, tegas, dan sangat menjaga harga diri. Jujur rasa ini masih ada Aisyah, maaf." Batin Riza.
Tak sengaja, karena rasa penasaran juga mereka saling melirik.
Krik
Krik
"Eh, iya bi. Afwan ustadz." Melirik Riza, lalu buru-buru mengalihkan pandanganya ke mie ayam yang masih ngebul.
"Gak apa-apa Ais." jawabnya santai.
Deg
"Panggilan Ais tanpa ukhty? Itu kan panggilan sayang dulu." Batin Aisyah tak menjawab, dia hanya mengaduk mie ayamnya.
Krik
Krik
Riza yang penasaran, kenapa Aisyah hanya mengaduk terus mie ayamnya penasaran. Dengan rasa malu, Riza memberanikan diri untuk meliriknya.
"Kok dia malah menangis? Apa melamun?" Batin Riza.
"Kenapa aku jadi mengingat semuanya? Ginilah kalau punya mantan, mening gak usah ketemu. Lagian dia sudah mau menikah." Batin Aisyah.
"Ehm. Kalau makan fokus makan, jangan melamun. Sayang waktunya terbuang." ucap Ashraf yang tiba-tiba datang, Riza hanya melirik mereka sambil membayar pesanannya.
"Ustadz ini benar sekalian sama punya neng Ais?"
"Iya bi." Riza berlalu.
"Kembaliannya ustadz," teriak sambil melirik Riza yang baru melangkahkan kakinya.
"Gak usah bi." Buru-buru berlalu.
Ashraf hanya meliriknya sebentar, lalu buru-buru melirik Aisyah lagi.
"Emang iya?" tanya Ashrsf, sambil nunggu pesanan shomay nya.
"Iya. Tadi ukhty Amina menangis, malu kali dia. Padahal dia yang paling humor loh. Gara-gara ustadz pasti." Mencebik, sambil memakan mie ayam dari balik cadarnya.
"Hemm." Ashraf tak menjawab, hanya mengulum senyumnya.
Dreet dreet dreeet
"Hah? Mau apa ya?" ucap Aisyah keras
"Kenapa?" Ashraf yang berada dimeja bekas Riza bingung.
"Ustadz Adrian nelpon, ana harus buru-buru ke Aula. Afwan ustadz ana duluan." Kepada Ashraf yang lagi minum, dan mulai memakan syomaynya.
"Bi, jadi berapa?"
"Oh? Udah neng? Cepet banget."
"Iya, laper bi. Istirahat gak sempe makan." Tertawa kuda.
"Bi berapa? Ayo aku mau ke Aula bi, udah ditunggu."
"Geratis neng" tersenyum, sambil menyangga dagu menatap Aisyah.
"Ah jangan bercanda bibi cantik," Aisyah menaikan alisnya.
"Gak bercanda. Udah dibayarin ustadz Riza, cieeee cieee."
"Ih bibi apasih. Udah ya bi, makasih bi. Aku pergi dulu. Assalamualikum." Aisyah sedikit berlari untuk pergi ke Aula.
Tak lama kemudian di Aula, Alvin sedang memberikan materi kepada para peserta LDKS.
"Assalamu'alaikum. Ustadz?" panggil Aisyah kepada Adrian yang sedang mengobrol dengan beberapa santriyah. Tak sengaja Alvin melihat mereka dari kaca dalam, dan dia yang merasa akan cemburu lagi. Hanya menelan salivanya dengan susah.