
Ali yang mendengarnya sampai tidak bisa fokus kerja, akhirnya dia menutup laptopnya. Dan menyenderkan diri dikursi.
"Ni anak sifatnya kenapa persis banget saya ya? Heran." Batin Ali.
"Ustadz ana masih disini, ustadz kenapa? Kok gak jawab?"
"Anty tadi dianterin sampai mana?"
"Sampe rumah ustadz, kan tangan ana sakit. Makin kesini lukanya lumayan juga kerasa."
"Jadi ustadz Adrian duluan ke rumah kamu?"
"Kan kita searah."
"Jangan cemburuan! Dia lagi luka habis jatoh, bukannya perhatian." Bisik Ali sambil menyenggol kaki Alvin.
"Yaudah deh. Dah dulu ya! Kamu cepat istirahat. Besok gak usah bawa motor lagi!"
"Yaudah! Assalamualaikum ustadz."
"Ya. Waalaikumsalam." Alvin langsung menyimpan hpnya dimeja, merebahkan tubunya, menyalakan tv, namun melihat ke langit-langit. Ali sendiri hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Papa besok jadi ke sekolah?"
"Jadi dong."
"Tapi kan ustadz Ishak lagi gak ada pah."
"Ada wakasek kan, lagi papa ketemu sama pak Komite dan bagian keuangan."
"Yaudah deh. Oh ya pah,"
"Apalagi?" Ali yang sudah berdiri dan membawa laptopnya menengok lagi ke arah Alvin.
"Papa minggu besok ada acara nggak?"
"Belum ada jadwal."
"Yes. Kalau begitu aku mau ajak papa jalan yah."
"Kemana?"
"Kemana aja pah, yang penting papa jangan ada janji lagi yah!"
"Baiklah! Matiin tvnya, kamu pindah ke kamar!"
"Iya pah."
"Asyik. Aku bisa mempertemukan papa sama mama." Batin Alvin.
Waktu menunjukan jam 10 malam
"Loh kok, gak dimakan basoknya tadz?" Adrian melihat ke arah bakso yang masih utuh dan dua bungkus cemilan diatas meja makan.
"Buat siapa tadz?" tanya Ashraf yang masih menatap layar hpnya.
"Buat anta."
"Yah. Anta gak bilang, padahal habis dari Mesjid ana lapar. Jadi malah makan nasi."
"Lupa bawa hp tadi. Sayang dong, baksonya gak dimakan."
"Nanti kalau ana lapar lagi, ana angetin deh. BTW, anta dapat cemilan darimana itu?"
"Aisyah yang ngasih."
"Ooh, jualan dia?"
"Gak tahu ana, sepertinya nggak deh. Umi juga gak pernah bilang, cuma bilang jualan pepes doang."
"Anta nyobain?"
"Iya tadi. Masih ada dua lagi tadz, makan deh cobain!"
"Hemm." Adrian melihat hpnya.
"Aisyah? Amalia?" Batin Adrian melirik ke arah Ashraf.
"Sepertinya anta sibuk." ucap Adrian sambil membuka chat Amalia.
Readeres anggap saja Adrian Putra Ishak ya! :)
"Ana sedang melihat kurikulum dari ustadz Malik tadz. Besok ana ngajar dikelas XI Putra."
"Ohh. Yaudah lanjutin dulu!"
"Anta ada perlu?"
"Ada. Nanti saja, ana masih ada urusan nih." Mengetik. Ashraf hanya mengangguk.
"Waalaikumsalam naam ukhty Amalia, ana kurang tahu kenapa ukhty Ais bikin status seperti itu. Tadi kita memang pulang bareng." balas chat Amalia terkirim.
"Waalaikumsalam, ada perlu apa ukhty Ais?" Balasan pesan untuk Aisyah.
Aisyah yang saat itu sedang belajar, langsung melihat hpnya. Dan menyimpan pulpennya diatas buku.
"Afawan ustadz, ustadz tadi lihat status ana ya yang dibelakangnya ada ustadz Adrian?" Send.
"Iya." Send.
"Afwan apa tanggapan ustadz?" Send.
"Tanggapan gimana?" Send.
"Apa ustadz nyangkanya ana sengaja?"
"Apa anty tidak melihat ke arah belakang saat mengambil video? Bagimana kalau jadi fitnah? Kan gak bahaya."
"Afwan ustadz. Jujur saja, ana tidak sengaja. Kalau ustadz tadi lihat videonya dan fokus ke tatapan ana yang melihat ke arah depan terus, pasti ustadz bisa menyimpulkan. Itu ana melihat hujan terus, tanpa melihat ke belakang. Apalagi sengaja mengambil video ustadz Adrian. Siapa ana? Ana juga gak enak seperti itu. Lagian ana tadi lagi bikin video, tiba-tiba ustadz Adrian udah ads dibelakang ana. Kaget banget ana tadi, setelah itu ana gak lihat hp lagi. Pas dilihat, tiba-tiba sudah banyak notifikasi. Afwan." Send.
"Lain kali jangan ceroboh!" Send.
"Afwan ustadz. Terus bagaimana kasih tahu ustsdz Adrian nya?" Send.
"Ini ana. Waktu anty minta nomor ustadz Ashraf, ana kasih punya ana."
Deg
"Massya Allah, asyiiik. Berarti disave dong nomor aku sama ustadz Adrian?" Batin Aisyah samvil senyum-senyum.
"Kok bisa?" Send.
"Anty kan minta nomor ustadz Ashraf untuk nanyain kunci. Sedangkan kuncinya ana yang pegang, yasudah ana kasih nomor ana."
"Baiklah." Send.
"Lain kali jangan ceroboh! Ana gak mau sampai ada fitnah! Jelaskan ke mereka kalau ini semua salah faham." Send.
"Tanpa ustadz suruh ana akan jelaskan. Ustadz jangan takut! Apalagi takut kalau ukhtu Amalia akan cemburu." Send, Aisyah merasa panaa hinhha ngetik dengan cepat.
"Maksud anty apa?" Send. Aisyah hanya membaca pesannya, yang membuat Adrian merasa kesal.
"Takut banget digosifin sama ana, giliran digosifin sama ukhty Amalia pasti seneng. Ciiiihh." Gerutu Aisyah kesal, sambil menyimpan hpnya. Lalu menutup bukunya, da merbahkan diri untuk tidur.
Adrian sendiri, langsung menyimpan hpnya dan pergi untuk makan.