
...Hallo readers! Maafya baru bisa up lagi, qodarullah banyak sekali hambatan nih. Semoga gak kecewa ya readers. :)...
Tak lama kemudian, Adrian datang dan langsung menghampiri Aisyah yang sedang fokus menatap layar hpnya.
"Afwan sudah menunggu, mau pulang sekarang?" Adrian masih berdiri, sambil mengeluarkan hpnya dari saku celana.
"Oh ya ustadz, mau ustadz. Gak apa-apa deh hujan dikit mah." Aisyah langsung berdiri dan langsung keluar dari tempat bakso tersebut.
"Assalam'alaikum,"
"Waalaikumsalam, afwan anta dimana? Ini sudah pada nungguin yang mau pengajian. Ana sudah du Mesjid." ucap Ashraf,dilusr teras Mesjid.
"Afwan, setelah rapat osis tadi ana malah kejebak hujan. Ini baru mau pulang."
"Apa masih sama ukhty Ais?"
"Naam."
"Hujannya masih turun, tahan aja dulu disana."
"Jadi anta mau handle ana buat ngisi pengajian?"
"Tentu. Ana gak enak nunggu anta lama, bapa-bapa sudah menunggu."
"Yasudah. Jazakallahu khair ustadz."
"Naam wa iyyaka. Anta hati-hati ustadz."
"Naam. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Telpon dimatikan.
Diluar Aisyah mencoba untuk mengambil video dirinya dengan camera depan, untuk dikirimkan ke status wa nya. Dan tak sengaja, Adrian yang baru memasukan hp ke sakunya, langsung bergegas keluar.
"Ayo!" ajak Adrian, yang membuat Aisyah kaget dan langsung mengirimkan video ke statusnya.
"Iya ustadz ayo!" ajak Aisyah.
"Neng? Mau pulang sekarang? Kan masih hujan." teriak tukang bakso yang sedang membereskan mangkok-mangkok gambar ayam.
"Iya bang, gak apa-apa bang nanti takut gede lagi hujannya." ucap Aisyah.
"Mari pak! Makasih banyak ya pak." Adeian tersenyum.
"Ustadz afwan." ucap Aisyah saat skan naik motor.
"Kenapa lagi? Buruan naik!" Menatap ke arah depan.
"Basah ustadz joknya, bisa nggak kalau ambilin dulu kanebo di jok?"
Tanpa menjawab, Adrian langsung turun dsn membuka jok. Lalu langsung mengelap jok motornya dan memasukan kanebo ke joknys lagi.
"Ustadz ana bisa mengelapnya sendiri afwan."
"Buruan naiklah!" titah Adrian ketus.
"Iya." Aisyah pun naik, dengan tas disimpan ditengah-tengah.
Diperjalanan yang tinggal beberapa menit lagi, Aisyah mendapatkan telpon, saat hpnya bergetar disakunya.
"Ustadz Alvin?" Batin Aisyah menatap layar hpnya, dan langsung menjawab telponnya.
"Assalamualaikum ustadz?"
"Waalaikumsalam ukhty Aisy?"
"Kenapa ustadz?"
"Afwan anty dimana? Sama siapa?"
Deg
"Siapa?" tanya Adrian tiba-tiba.
"Ini ustadz Alvin ustadz." jawab Aisyah sambil menjauhkan hpnya. Adrian hanya mengangguk.
"Ukhty?" panggi Alvin.
Deg
"Sebaiknya aku jujur saja."
"Ustadz nanti ana telpon lagi ya, ini lagi dijalan pulang." ucap Aisyah ragu-ragu.
"Jadi benar Aisyah, sedang bersama Adrian." batin Alvin, langsung mematikan hpnya. Lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Apa ustadz Alvin marah?" batin Aisyah, menatap ke arah layar hpnya.
"Kamu kenapa vin?" tanya Ali tiba-tiba.
"Gak apa-apa pah." Alvin mengerucutkan bibirnya.
"Wanita?" Ali menepuk pundak Alvin.
"Iya pah."
"Kenapa?"
"Aisyah jalan sama ustadz lain." Lirih Alvin, sedangkan Alli hanya tertawa.
"Jangan suuzan dan cemburu dulu! Kalaulah barengan pasti ada alasannya. Ustadz yang baik gak mungkin tiba-tiba ngajak jalan siswinya." Jelas Ali.
"Papa benar, tapi hati tetap aja merasa cemburu pah."
"Tabayyun dulu!" ucap Ali penuh penekanan, Alvin sendiri hanya mengangguk pelan.
"Nanti aku harus telpon dia lagi." Batin Alvin.
Nb: Kata-kata dibawah ini, akan sering muncul ya readeras. :)
-Tabayyun (Meneliti kebenaran)
-Tafahum (Saling memahami)
-Tabaruj (Berhias dengan berlebihan)
-Taadud (Poligami)
-Tawadhu (Rendah hati)
-Tawakal (Berserah diri)
-Tafadhol (Silahkan)
-Tajasus (Memata-matai)
-Taaruf (Saling mengenal)
Cekiiit
Adrian memberhentikan motornya didepan rumah Aisyah. Tak lama kemudian, Aisyah langsung turun.
Beeeerrrrrr
"Yah, ustadz-ustadz Ayo! Mauskin aja motornya ke sebelah sana!" Aisyah menunjuk ke arah garasi kecil. Tanpa basa-basi, Adrian langsung memasukannya.
"Hujannya gede lagi nih, gimana ustadz pulangnya?" tanya Aisyah, tiba-tiba.
"Gak apa-apa ana mau pulang sekarang. Ana harus langsung ke Mesjid." jawab Adrian
"Loh? Ais? Sama siapa?" tanya Dija bertanya-tanya.
"Ibu, maafin aku bu. Aku baru selesai rapat osis jam 5, tapi sebelumnya aku jatuh. Jadi, aku gak bisa bawa motor. Ini usadz Adrian bu, yang bawa motor tadi." Jelas Aisyah.
"Jatuh? Dimana?"
"Diparkiran sekolah bu, tapi cuma luka dikit nih."
"Yasudah. Kamu masuk! Ganti baju langsung!" titah Dija. Aisyah mengiyakannya, sambil melirik ke arah Adrian.
"Ini nak Adrian putranya bu haji?"
"Iya bu, Assalamualaikum bu."
"Iya waalaikumsalam. Kamu pada basah, ayo masuk dulu!"
"Gak apa bu saya mau langsung pulang aja."
"Ehh jangan! Gak apa-apa ayo masuk! Ada bapaknya Aisyah juga kok, baru pulang dari Mesjid. Biasa, harusnya ikut pengajian, tapi malah nggak. Rematiknya kambuh lagi."
"Subhanallah. Iya bu."
"Masuk ayo! Lagian hujan gede banget, kalaupun pake payung tetap aja pasti kebasahan."
Tak lama kemudian Adrian pun masuk.
"Assalamalaikum." ucap Adrian, langsung mengulurkan tangannya ke Ahmad.
"Waalaikumsalam," Menerima uluran tangan Adrian dan membenarkan posisi duduknya.
"Pak? Saya Adrian, saya sangat minta maaf pak sudah lancang anterin Aisyah pulang."
"Sudah-sudah nak! Aisyah tadi sudah cerita."
"Ini teh nya ayo diminum dulu!" Dija menyediakan teh hangat.
"Terimakasih bu!" Adrian tersenyum,
"Pak? Bu?", Aisyah langsung duduk dikursi, menggunakan gamis polos biru muda dan kerudung segiempat bunga-bunga.
"Massya Allah, cantik sekali." batin Adrian dan langsung membuang muka.
"Kamu gak mandi?" bisik Dija.
"Kata bapa gak boleh, nanti lukanya kena air bu."
"Jadi, nak Adrian ini putranya bu haji pa." ucap Dija, melirik Adrian yang hanya terdiam membisu.
"Bapa sudah melihatnya bu, waktu di Mesjid. Cuma bapa suka langsung pulang gak ngobrol dulu." Melirik Adrian, yang dilirik hanya tetsenyum mengangguk.
Dreeet dreet dreeet
"Siapa bu?" tanya Aisyah, Dija melirik hp gang berafa didekat vas bunga.
"Aminah, diangkat dulu ais!" titah Dija, begitu Aisyah beranjak. Adrian mengeluarkan hpnya dengan maksud menghubungi ustadz Ishak.