Ustadz Nikah Yuk

Ustadz Nikah Yuk
Parfum



Pagi hari disekolah


Aisyah yang hampir kesiangan masih berada didekat gerbang. Terlihat dari angkot yang baru saja melaju, membenarkan bahwa dia baru saja sampe sekolah.


Tiiiiid


"Pagi-pagi gini santriyah ada aja yang melamun vin." ucap Ali ketika menatap ke arah samping kaca mobil, dan melihat Aisyah yang kaget ketika Alvin membunyikan klakson.


"Iya pah," Alvin melirik Aisyah yang terus berjalan.


"Loh itu kan?" Alvin buru-buru memarkirkan mobilnya saat melihat Aisyah berdiri dan berusaha menelpon seseorang.


Tuuuut


"Masih ada waktu lima menit buat aku nelpon balik kak Shofia, semoga aja kakak belum berangkat ngajar." batin Aisyah.


"Aisyah ya?" tanya Alvin tiba-tiba, Aisyah yang kaget langsung mematikan telponnya.


"Oh iya ustadz Alvin, selamat pagi! Asaalamu'alaikaum ustadz."


"Waalaikumsalam wa rahmatullah. Anty jam segini masih disini?"


"Oh iya ustadz, sebenarnya dari rumah setengah tujuh tapi kan jalan kaki dulu ke jalan raya. Tapi segini mah aku pagi ustadz." Tertawa kuda.


"Vin?" Sapa Ali yang baru saja turun dari mobilnya. Spontan Ali dan Aisyah melihat ke arahnya.


"Loh ustadz itu papanya kesini?"


"Iya itu papa, mau ada perlu kesini."


"Oh iya."


"Siapa vin?" Tersenyum ke arah Aisyah dengan penuh tanda tanya.


"Ini om aku." Aisyah tersenyum sambil memperlihatkan name tag nya yang bertuliskan Aisyah Al Hakim.


"Oh massya Allah, neng Aisyah ternyata."


"Ya om. Assalamualaikum om." Aisyah tersenyum.


"Waalaikumsalam wa rahmatullah." Ali tersenyum, sambil mengusap kepala Aisyah.


"Om aku masuk dulu ya, hampir telat nih hehe." ucap Aisyah.


"Disini masih ada ana ukhty." Alvin mengerucutkan bibirnya, Aisyah hanya tersenyum sambil melirik ke arah Ali.


"Kamu ikut papa!" Alli menarik lengan Alvin dsn mengajaknya pergi, sambil menengok ke arah Aisyah dan tersenyum.


"Kamu sudah berani ya, ini sekolah jaga batasan lah gimana sih." Omel Ali.


"Emang kenapa sih pah? Nyapa doang kok." Ketus Alvin sambil menarik tangannya yang masih digenggam Ali.


"Mereka lucu juga, pagi tadi udah dibikin down. Tapi Allah ngasih aku hiburan lewat mereka. Memang banyak cara Allah untuk menghibur hambanya." batin Aisyah, lalu dia bergegas ke arah lorong untuk masuk ke kelasnnya.


"Mau langsung ke ruang wakasek?"


"Kamu nanya papa?"


"Ya lah."


"Gak sopan. Kalau nanya lihat orangnya sebut nama panggilannya!"


"Heuh ini masih pagi. Gunakan energi kamu buat ngajar!" Berlalu meninggalkan Alvin, Alvin hanya menatap punggung Ali sambil mengekuarkan nafas.


"Ustadz memangnya ngajar dikelas mana?" tanya Amalia yang tak sengaja berpapasa dengan Adrian.


"Ana dikelas XII Putra A." Adrian sudsh siap dengan bukunya, cool banget menggunakan batik mega mendung berwarna ungu tua.


"Oh iya ustadz." Amalia mengangguk.


Aisyah yang sudah berada dilorong, melihat Adrian yang sedang mengobrol.


"Ustadz Adrian? Siapa santriyah yang mengobrol itu? Seperti sudah akrab." Batin Aisyah, lalu dia mundur kembali dan diam menyender dibalik tembok.


"Ana pergi dulu! Siapkan untuk rapat osis nanti."


"Iya ustadz. Tapi kan di jam kedua ustadz juga ngajar dikelas ana."


"Oh ya? Ana belum lihat jadwal berikutnya."


"Naam ustadz. Afwan, ana ke kelas dulu. Asalamualaikum!" Amalia menunduk.


"Waalaikumsalam wa rahmatullah." Adrian berlalu ke arah Aisyah, untuk memasuki kelas putra yang pintu masuknya diseblah gerbang pintu masuk putri.


"Siapa ya? Penasaran." batin Aisyah memejamkan matanya.


"Wangi banget nih parfum, emm aku tahu. Ini biangnya paris Hilton atau apa ya? Ah masa paris hilton sih?" batin Aisyah membuka matanya.


Deg


"Ustadz Adrian? Selama itu kan aku melamun sampe gak sadar ustadz Adrian sudah lewat?" batin Aisyah lalu membalikan tubuhnya, ke arah kelas.


"Jangan halu untuk aku bisa mendapatkannya, kita beda jauh. Cukup bank emok menjadi saksi atas perbedaan derajat aku dan dirinya di dunia ini." Batin Aisyah lagi, memejamkan matanya.


"Mau kemana?" tanya Adrian yang menarik tas Aisyah tiba-tiba.


Deg


"Aww. Tasnya jangan ditarik tangan ana sakit." ucap Aisyah menunduk, spontan Adrian melepaskan tasnya.


Flasback On


Saat Adrian lewat, tak sengaja dia melirik ke arah santriyah yang sedang menyender ditembok dan memejamkan matanya.


Maha suci Allah, yang telah menyempurnakan sebaik-baik ciptaanya. Bulu mata Aisyah terlihat sangat lebat dan panjang namun tidak lentik.


Lalu dia melirik ke arah name tag dan terukir nama Aisyah Al Hakim.


"Gadis ini lagi, Massya Allah Ya Rab." Batin Adrian.


Flashback Off.


"Ini sudah jam berapa? Kenapa anty masih disini?"


"Assalamualaikum ustadz." Aisyah berlalu, tanpa menjawab pertanyaan Adrian. Namun Adrian dengan cepat sedikit teriak.


"Sangat tidak sopan anty sebagai santriyah." ucap Adrian, buru-buru Aisyah berbalik menatap Adrian.


"Afwan, ana sudah akan masuk kelas tadi. Tapi gak enak lihat ustadz sedang ngobrol sama salahsatu santriyah. Ana takut ganggu. Afwan ana duluan ustadz." ucap Aisyah sambil berlalu, Adrian hanya bisa menahan emosinya.


"Ana harus buru-buru ke kelas nih." batin Aisyah sedikit berlari.