Ustadz Nikah Yuk

Ustadz Nikah Yuk
Tidur di Kelas



Saat Aisyah sedikit berlari dia sedikit melirik ke kelasnya.


"Alhamdulillah masih belum ada ustadzah, aman-aman." ucap Aisyah yang langsung masuk kelas dan menghampiri Aminah.


"Ukhty min?"


"Ah ukty min mulu, kenapa sih anak gak pernah disapa duluan?" tanya Raina tiba-tiba, menyangga dagu diatas meja Aisyah. Santriyah yang lain pun masih pada ngobrol.


"Is selama jadi ketos dia telat mulu ana jadi herana kenapa yang lain mempertahankanya?" sindir Ratna. Aisyah sendiri pura-pura tak mendengar.


"Ingat bank emok! Itu yang sekarang harus aku fikirkan." Batin Aisyah.


"Apa anty tak mendengar keluahan ana?" tanya Raina yang masih menyangga dagu, lalu Aisyah menepis tangan Raina yang dijadikan penyangga. Dan mengajak salaman tangan Raina, sambil saling menatap.


"Adakah hati yang bisa mengerti?" tanya Aisyah yang memejamkan matanya.


"Anty kenapa?" tanya Raina yang menekan erat tangan Aisyah. Amina sendiri dibuat penasaran.


"Ehm. Lepaskan! Bukan saatnya curhat, kembali ke meja anty!" titah Aminah ketus.


"Ana akan rindu suasana seperti ini. Masihkan kita rebutan ustadz Riza ukhty min?" Raina mundur ke mejanya sambil menaikan turunkan alisnya.


"Sepertinya aku akan segera move on. Ustadz Ashraf lebih menarik kayanya." batin Amina.


"Kenapa tadi?" bisik Amina kepada Aisyah yang sedang membuka buku pelajaran.


"Sebelum ana datang ke kelas, siapa santriyah yang datang?"


"Oh. Kenapa emang?"


"Jawab dulu! Oh ya dia gak bawa tas."


"Nih." Amina memperlihatkan tulisan yang baru saja ditulisnya di kertas dan langsung dihapusnya. Aisyah sendiri hanya mengangguk.


"Semoga aku gak merasakan cemburu. Come on lah Aisyah Al Hakim! Kalaulah Ustadz Adrian dekat bahkan sampai menikah sama ukhty Amalia memangnya kenapa? Toh mereka sama-sama kaya." batin Aisyah, lalu dia menutup wajahnya dengan buku dan menyender dikursinya.


"Ukhty Ais? Awas ketiduran." senggol ukhty min.


"Mana ada ana ketiduran, ini pelajaran ustadzah Zainab."


"Anty suka banget ya sama usyadzah Zainab?"


"Suka banget, beliau cara mengajar bahasa sundanya sangat menarik. Apalagi kalau udah bicara bahasa sunda. Duh, sundanya alus banget."


"Iyalah dia kan orang Sunda, eh tapi beliau orang mana sih? Ana lupa."


"Sumedang dia, tapi bukan Sumedang kota. Di daerah Perbatasan Majalengka loh."


"Oh yang ada bendungan itu kan? Waduk Jati?" Amina mikir.


"Gedeeeeee." ucap Aisyah meneruskan.


Tak lama kemudian saat mereka sedang mengobrol, tiba-tiba Alvin datang.


"Assalamualaikum." Alvin masuk dan langsung duduk.


"Waalaikumsalam wa rahmatullah." serempak para santriyah kebingungan.


"Pelajaran siapa?"


"Ustadzah Zainab ustadz."


"Oh. Bahasa sunda ya?"


"Naam ustadz."


"Coba lihat kesini!" serempak semuanya melihat.


"Ustadzaz Zainab gak bisa masuk. Beliau sedang ada rapat dulu sama Pak Komite dan salahsatu Donatur sekolah. Jadi, kalian dijam pertama hanya dikasih tugas ini saja!" menunjuk ke papan tulis.


"Naam ustadz." Serempak santriyah.


"Ah, kalau cuma ngehafalin undak usuk basa mah ana sudah dari semalam. Mening tidur deh." Batin Aisyah, menatap ke arah papan tulis.


"Yasudah. Nanti kalau sudah hafal, buat dialog dua orang menggunakan bahasa sunda alus ya! Setelah ini di jam keduanya Ustadzah Zainab kalau keburu, pasti kesini." ucap Alvin sambil berdiri.


"Naam ustadz."


"Assalamu'alaikum." Alvin berlalu keluar.


"Waalaikumsalam wa rahmatullah ustadz." Serempak para santriyah.


"Loh? Anty kenapa malah ngeluarin buku itu?"


"Biasalah ukhty min." Mengeluarkan nafas panjang.


"Ah ana tahu, anty pasti sudah belakar kan semalam?"


"Alhamdulillah ukhty min, jadi sekarang ana bisa nyantai." Membuka buky diary nya. Amina hanya mengangguk, dia faham kelau Aisyah sedang ada masalah.


"Hallo diary! :)


Hehe maafya kesini kalau ada maunya aja. :)


Diary? Aku lagi senang banget nih, karena aku semalam vc sama Alvin dan Papanya. Dan tadi pagi ketemu langsung sama mereka. Ya walaupun disisi lain aku sedang merasa sedih. Mau tahu karena apa? Hemmm.


Ada dua penyebabnya sih, pertama karena aku merasa malu dan ada rasa menyesal kenapa aku harus bercanda tentang perasaan aku ke Adrian. Bukankah itu hal yang memalukan diary?


Diary? Aku bukanlah orang kaya seperti mereka, aku memang punya kakak yang semuanya pada kuliah. Tapi mereka belum jadi pns semua, diary. Mereka masih honorer yan gajinya gak seberapa. Jadi, untuk membantu aku dan ayah ibu kadang ngepas banget.


Diary? Jadi tadi pagi tuh (Sambil membayangkan kejadian tadi pagi) aku dan ibu sedang sarapan, sedangkan bapa pergi ke sawah.


Tiba-tiba pintu rumah diketuk sambil ada orang yang ucap salam. Ah diary betapa terkejutnya aku. Ternyata orang itu salahsatu rekan ibu. Dan ibu ternyata menggadaikan empang untuk biaya kuliah kakaku yang nomor tiga. Saat itu udah mau wisuda, itu kata ibu. Dan digadaikannya sebanyak delapan juta. Orang nya sudah nagih sekarang, diary. Aku harus dapat uang darimana? Gak ada yang bisa bantu kah? :( Bapa gak tahu kalau ibu gadein empang.


Ah sulit diary. Oh ya ada lagi nih, satu lagi. Tapi apa harus dibahas? Adria,"


Buku diary nya tergores pulpen, karena Aisyah mulai mengantuk.


Beberapa menit kemudian saat Aisyah tertidur, dia dibangunkan lagi oleh Amina.


"Ukhty Ais?" Menggoyangkan tubuh Aisyah.


"Hem?" Aisyah bangun dengan mata terpejam.


"Ana minta temanya dulu nih buat dialog sunda. Nanti biar ana yang buat."


"Sini!" Mengambil buku dan pulpen Amina.


"Ini temanya!" Aisyah menulis temanya.


"Anty gunakan bahasa sunda yang halus ya! Tapi kalau ada bahasa loma (bahasa sunda sehari-hari) juga gak apa-apa. Asal jangan sunda kasar!" Aisyah tidur lagi.


"Naam, naam ukhty." ucap Amina, yang mulai sibuk mengerjakan.