Ustadz Nikah Yuk

Ustadz Nikah Yuk
Salah Faham



"Assalamu'alaikum kenapa ukh?" Aisyah mengangkat telpon dari Aminah.


Disisi lain, Adrian saat membuka hpnya mendapatkan beberapa panggilan dari nomor baru dan Ustadz Malik.


"Kok pada nelpon?" mengeritkan alisnya.


"Assalamu'alaikum, afwan ustadz. Ana Amalia, afwan ustadz sedang jalan sama ukhty Aisyah ya? Ukhty Aisyah membuat status video pendek. Afwan."


Deg


"Assalamualaiakum, afwan ustadz sedang dimana?" Pesan dari ustadz Malik.


Buru-buru Adrian pergi ke beranda status.


Flashback on


Saja saat disekolah, ketika Aisyah meminta nomor ustadz Ashraf kepadanya. Adrian malah memberikan nomor dirinya. Dan saat Aisyah mencoba menelpon ustadz Ashraf, otomatis yang ditelpon nomor dirinya. Ketika Adrian kejedot tembok, ternyata dia sedang menyimpan kontak atas nama Aisyah.


Flashback off


Buru-buru Adrian langsung melihat status Aisyah.


"Apa-apan ini? Apa dia sengaja?" Batin Adrian.


Distatus Aisyah, terlihat suasana didekat tukang bakso dengan hujan yang masih turun. Diperlihatkan wajah Aisyah yang masih menggunakan cadar dan hijab sekolah. Namun, yang membuat Adrian dan yang lainnya kaget. Ada cuplikan Adrian akan beranjak keluar dari ruko bakso. Sambil memasukan hp ke dalam saku dan meunu ke arah Aisyah.


"To the point aja sih ukhty, ada apa? Apanya yang jadi gosif? Apa karena ana jatuh dari motor?" Aisyah masih menelpon Aminah.


"Baik-baik. Gosifnya bukan karena anty jatuh, coba lihat status anty!" Aisyah pun melihat statusnya.


Adrian sendiri karena kesal, meminta maaf kepada Dija dan Ahmad. Untuk segera pulang, dengan alasan ada sesuatu yang urgent.


"Yasudah, pake payung ya nak Adrian!" Dija mengantarkan Adrian sampe luar rumah, dan memberikannya payung.


"Terimakasih ibu, besok saya kembalikan payungnya ya! Oh iya bu, di motor ada bakso buat ibu sama bapa. Tadi lupa diambil ke dalam."


"Loh siapa yang beli?"


"Saya bu, tadi pas hujan nunggu ditukang bakso. Tapi kelamaan bu baksonya, tsdi mau langsung pulang hujan lagi."


"Oh iya gak apa-apa. Terimakasih nak." Dija tersenyum.


"Iya bu. Yaudah ya bu, saya buru-buru bu. Assalamualaikum."


"Waalikumsalam wa rahmatullah. Hati-hati nak, hujan!"


"Iya bu." Adrian buru-buru pergi, dengan hujan yang masih cukup deras.


"Waalaikumsalam warahmatullah." ucap Dija, dan buru-buru masuk ke dalam.


"Nak Adrian saat lihat hpnya seperti panik gitu ya bu? Ada apa ya?"


"Gak tahu pa, buru-buru juga tadi. Ni, smape teh nya gak diminum." Dija meminum teh yang dibuatkan untuk Adrian.


"Astagfirullah, Ya Allah yang lihat udah banyak. Ya Allah, pantesan ustadz Alvin menelpon. Ternyata dia juga melihatnya." batin Aisyah, lalu langsung menghapus statusnya.


"Kesel banget Ya Allah, astagfirullah. Apa dia sengaja? Masa dia gak lihat saya ada dibelakangnya?" batin Adrian, sambil terus berjalan menyusuri jalan yang gelap dan sepi.


Kuk


Kuk


"Suara apa itu?" Batin Adrian, melirik ke kanan dan ke kiri.


Kuk


Kuk


Adrian melihat ke arah sumber suara yang ternyata banyak sekali pohon pisang.


Kuk


Kuk


Kuk


"Astagfirullah Aladzim." Adrian melempar payung ke arah pohon pisang tersebut, saat pocong itu keluar. Lalu Adrian langsung membaca ayat kursi, namun pocong itu malah mendekat.


"Ini kenap jin gak takut? Apa ini manusia yang sedang ngeprank?" Batin Adrian, saat pocongnya semakin mendekat.


"Baiklah" batin Adrian, lalu menangkis pocong tersebut hingga tersungkur ke pohon pisang yang banyak itu.


Kuuuuuuuuk


Pocong itu pura-pura pingsan.


"Jangan kebanyakan ngeprank orang-orang! Kasihan, kalau ada yang jantungan gimana?" Adrian membawa payungnya kembali.


"Huh, tetap saja ini basah. Gara-gara orang itu." Gerutu Adrian sambil berjalan cepat.


"Bu? Ustadz Adrian kemana?" tanya Aisyah yang tiba-tiba datang.


"Sudah pulang dari tadi." ucap Dija, sambil berlalu untuk menyimpan gelas ke dapur. Sedangkan Aisyah kembali lagi ke kamarnya, saat melihat Ahmad sudah memejamkan matanya dikursi.


"Sebentar lagi adzan isya, aku akan telpon ustadz Alvin kalau udah jam delapanan aja kali ya." batin Aisyah sambil menatap hpnya.


"Oh iya? Ustadz Ashraf tadi kan melihat status aku juga. Apa aku coba chat aja ya?" batin Aisyah. Tanpa basa-basi dia mengetik chat untuk ustadz Ashraf.


"Assalamu'alaikum ustadz? Afwan, ustadz dimana ya? Ustadz ana ada perlu, awfan ini Aisyah." chat dikirim.


"Hem. Besok ada tugas gak yah?" batin Aisyah, sambil menatap jadwal pelajaran.


Tul tuk tuk


"Ais?"


"Iya bu?" Membuka pintu.


"Ais, ini tadi Nak Adrian memberikan bakso.


"Loh, berapa?"


"Tiga bungkus, ayo kita makan bareng."


"Coba lihat bu!"


"Ya Allah bu, yang satunya pasti punya ustadz Ashraf. Ini loh bu yang kreseknya dipisah. Aku udah makan bakso tadi bu."


"Aduh gimana dong? Dia nya udah pulang lagi." Dija bingung.


"Aku aja yang anterin bu, aku gak enak dia udah mau anterin aku pulang tadi."


"Luka kamu gimana itu?"


"Payung dipake ustadz Adrian kan bu?"


"Iya."


"Yaudah aku pake jas hujan aja bu." ucap Aisyah.


"Yaudah ibu tunggu diluar ya!" Dija keluar membawa baksonya.


Tak lama kemudian Aisyah keluar.


"Loh bu? Kok jadi banyak bu?"


"Itu cemilan Ais, basreng kering daun jeruk sama seblak kering kencur daun jeruk."


"Oh, ini mah yang ukurannya jumbo ya bu?"


"Iya is. Yaudah sana ntar keburu malam lagi."


Aisyah pun buru-buru pergi, dia menggunakan masker dan jas hujan berwarna navy.