
Waktu menunjukan pukul 17:05, saat Aisyah melihat jam ditangannya. Tak lama kemudian, dia langsung mengakhiri rapat OSIS nya.
Setelah semuanya pada bubar, kini tinggal Aisyah, Aminah, Amalia dan Adrian yang sedang nelon diluar dengan abahnya.
"Afwan ukhty Ais, ana bawa motor hari ini. Mau bareng?" tawar Aminah.
"Afwan ukhty, ana juga bawa motor." tersenyum, tetapi terlihat bingung.
"Oh jadi tadi anty jatoh pake motor anty ?"
"Naam ukhty."
"Kalau begitu ana duluan ya!"
"Tunggu ukhty, kita bareng yuk. Aku gak ada teman jalan ke asrama." ucap Amalia yang masih membereskan berkas.
"Naam ayo ukh, terus ukhty Ais gimana? Kuat bawa motor?"
"Kuat ukhty Amali, insya Allah."
"Yasudah kita duluan ya. Assalamualaikum." ucap Amalia dan Aminah.
"Waalaikumussalam hati-hati antunna!" Aisyah ikut berdiri.
Dreeer dreet
"Assalamualaikum Bu?"
"Waalaikumussalam, kamu masih dimana Aisyah?"
"Masih disekolah bu, baru kelar rapat osis, ini mau pulang."
"Buruan pulangnya!"
"Iya Bu. Kok ibu ngos-ngosan, darimana Bu?"
"Biasa habis setor ke bank emok. Cape bange ibu nih, biasanya ibu kan bawa motor."
"Hem. Yasudah deh, udah dulu Bu. Aku buru-buru nih. Takut keburu malam dijalan."
"Iya-iya." Mematikan telpon.
Saat Aisyah sudah berdiri dan akan keluar, tiba-tiba Adrian yang masih menatap hp berjalan ke arahnya.
"Afwan ustadz?" Aisyah melirik Adrian dan langsung memalingkan wajahnya.
"Kenapa?"
"Boleh minta nomor hp ustadz Ashraf?" Menyodorkan hpnya.
"Untuk apa?" Adrian menyeringitkan mata, sambil menerima hp Asiyah
"Kunci motor ana, beliau yang bawa apa ustadz Riza yah? Ustadz Riza ana telpon gak diangkat kenap kali." Aisyah mencebik.
"Huznuzan saja, mungkin beliau sibuk." sambil mengetik nomor hp, lalu memberikannya kembali.
"Syukron!" Asiyah keluar, sedangkan Adrian membawa bukunya.
Tuuut tuuut tuuut
"Gak diangkat, gimana ini pulang?"
Adrian melirik hpnya, lalu melirik Aisyah.
Turut tuut tuut
"Ya Allah, ustadz Ashraf ini. Kemana kali?"
"Sudah?" ikut keluar.
"Tidak bisa dihubungi. Besok sajalah ustadz." Putus asa, sambil mengunci pintu.
"Anty mau menanyakan kuncinya dimana?"
"Naam. Ana menelpon untuk itu, bukan untuk yang lain."
"Bisa bawa motor sendiri?"
"Sebenarnya sih tangan masih perih, apalagi siku. Gak bisa keggores baju dikit, perih. Tapi kan ana sudah ditunggu ibu, ana gak mungkin nginep di asrama. Nanti bapa nyusul kesini." Ketus Aisyah.
"Ow. Ayo pulang!" ajak Adrian.
"Duluan ustadz." Aisyah masih berfikir.
"Kalau hanya berfikir tanpa bertindak, akan membuang waktu."
"Ustadz mau pulang duluan kan?"
"Pulang bareng, pake motor anty. Nih." Memperlihatkan kunci motor Aisyah.
"Ustaaadz? Kenapa gak dari tadi?" Aisyah gereget.
"Lupakan! Ayolah buruan!" ajak Adrian, sambil berlalu.
"Ana saja yang bawa motor. Bisa kok."
"Waktu ana tidak banyak ukhty. Motor dibawa ustadz Ashraf, ana ada pengajian habis magrib."
"Jadi kita satu motor?"
"Jadikan tas anty sebagai pembatas."
"Baiklah. Tapi kalau kita udah nikah, gak bakalan ada pembatas." Goda Aisyah, tertawa kuda.
"Jangan berkhayal, gak bagus."
"Aamiinkan saja. Kita tidak tahu jodoh kita siapa kan ustadz?"
"Anty terlalu bawel."
"Tentu saja. Ana bukan ukhty Amali, yang tidak banyak bersuara dan sangat lemah lembut." Aisyah terseng dibalik cadarnya.
"Kenapa bahas ukhty Lia?"
"Memangnya kenapa? Kalau ana sebutkan ukhty Aminah, beliau lebih bawel dari ana." menjawab dengan bangga.
"Hem."
"Padahal ana lagi, lagi, hah lupakan." batin Aisyah. Setelah itu, mereka berjalan tanpa berkata-kata lagi, Aisyah lebih memilih berjalan sambil melihat-lihat kelas yang sudah kosong, sedangkan Adrian sambil menatap layar hpnya.
Bug
"Wa Inna ilaihi Raji'un." Lanjut Aisyah.
"Berjalanlah yang benar! Jangan sambil menatap layar hp, ustadz."
"Afwan," ucap Adrian yang masih memegang pelipisnya, karena menabrak tembok.
Dirumah Alvin
"Udah mandi Vin?" tanya Ali, yang baru pulang kerja, lalu duduk disofa bersama Alvin.
"Apa aku terlihat kucel pah?"
"Tentu saja, tapi bukan bajunya. Melainkan, wajah tampannya."
"Hem. Ini karena papa sama mama yang gak sebuah lagi." To the point, lalu menutup buku dan membawa air untuk Ali. Sedangkan, Ali sendiri membuka membuka jasnya dan melonggarkan dasinya.
"Pah?" Memberikan segelas air putih.
"Terimakasih." Langsung meminum airnya.
"Oh ya. Besok papa mau ke sekolah kamu."
"Untuk apa?"
"Mau rapat. Papa mau naikan donasi disekolah, buat mereka yang kurang mampu. Kemarin kan papa cuma bantu buat fasilitas kelasnya saja. Tapi pas lihat, perkembangan sekolahnya bagus."
"Semua yang kurang mampu, apa gimana pah?"
"Ya kan besok baru mau dirapatin dulu, sekalian mau ketemu putranya pak Ishak."
"Siapa?"
"Emang kamu belum bertemu? Kan tadi pak Ishak mampir ke kantor papa sebelum ke kantornya. Terus bahas anaknya, yang baru pulang dari Madinah. Nagajar juga katanya disekolah."
"Oh. Ustadz Adrian."
"Bersahabat lah dengan dia! Seperti papa bersahabat dengan bapanya." Ali tersenyum.
"Kita pernah ngobrol pah, dia terlihat jutek tapi kalau udah ngobrol enak juga."
"Bukan dia saja, kamu juga seperti itu." Sindir Ali, tersenyum.
"Gak usah senyum-senyum pah. Papa juga kaya gitu kan?"
"Yaaa-yaaa. Oh ya, papa nanti malam mau pergi. Kamu mau ikut?"
"Kemana?"
"Ketemu mama."
"Serius pah?" Menyimpan bukunya dan menatap Ali.
"Hem."
"Untuk apa?"
"Nanti kamu juga tahu."
"Apa besok papa libur kerja?"
"Kan sudah papa bilang, mau ke sekolah kamu."
"Bawa mobil sendiri?"
"Bareng kamulah! Males banget papa nyetir, jalannya berliku&liku seperti kehidupan." Ali melempar candaan.
"Bercanda lah sama mama pah! Biar dapat pahala."
"Ah sudahlah. Udah papa mau mandi dulu, kamu mau pergi?" berdiri, lalu membawa jas dan tasnya kembali.
"Nggak pah. Cape. Tapi, nanti aku mau cerita pah."
"Ah, kalau udah mau cerita. Pasti gak privasi, kenapa gak sama mama kamu aja?" Menghentikan langkahnya.
"Jika masalah wanita, cerita ke wanita lagi aku kurang percaya pah. Karena mereka, selalu memakai perasaan."
"Baiklah. Sepertinya kamu mulai dewasa."
"Ayolah pah, aku ini sudah dewasa. Izinkan aku menikah." Mengangkat kedua tangannya dan membukanya.
"Paaaaahhh? Ehhuhhh." Alvin kesal, karena Ali tidak mendengarnya. Lalu menghempaskan tangannya.
Aisyah dan Adrian masih dijalan pulang. Hanya ada suara mesin motor, Adrian fokus melajukan motornya. Sedangkan, Aisyah disepanjang perjalanannya hanya melamun. Meratapi nasibnya, yang terkena masalah ekonomi keluarganya dan masalah hatinya
"Kemarin baru dua masalah besar, sekarang nambah jadi tiga, saat aku terjatuh dari motor tadi. Gimana nih?" batin Aisyah.
Cekiiit
"Loh kok berhenti?"
"Kenapa bertanya? Anty tidakihat hujan?"
"Astagfirullahaladzim. Iya ustad, maaf."
,"Diajakan jangan melamun nanti jatuh."
"Ana tidak melamun, hanya ngantuk."
"Apalagi ngantuk, lebih bahaya jika terjatuh." Gak mau kalah.
"Iya iya." ucap Aisyah, melirik ke tukang bakso.
"Ayo!" ajak Adrian.
"Kemana ustadz? Ini hujan."
"Permisi bang, baksonya dua yah."
"Untuk siapa?"
"Ana kalau makan bakso harus dua mangkok " ucapnya sambil duduk.
"Oh."
"Duduuuuk! Kenapa masih berdiri? Tari tengah tasnya, sebagai pembatas."
"Belum halal ternyata, halalin aja bang." celetuk tukang bakso, sambil nyengir.
"Ustadznya belum siap bang, gak tahu kenapa kali " respon Aisyah, menanggapi candaan tukang bakso.