Ustadz Nikah Yuk

Ustadz Nikah Yuk
Pelantikan 1




Visual Sekolah dan Kegiatan Pelantikan


Waktu menunjukan pukul 21:00 WIB


Beberapa kelompok sudah berada lagi di Aula, hanya tinggal nunggu kelompok terakhir. Semuanya hampir berjalan lancar.


"Toyyib akhwaty fillah, tadi gimana bisa gak jawab soalnya?" tanya MC.


"Bisaaaaaaa."


"Seru gak?"


"Seruuuu."


"Alhamdulillah, jadi berapa kelompok lagi yang belum kembali?"


"Satuuuuu."


"Kelas mana?"


"Sebelah IPS 3."


"Oh yasudah kita tunggu ya!"


"Itu udah pada datang,"


"Oh iya. Ayoo, kasih sambutan. Tepuk tangan yang meriah." Mereka pun tepuk tangan.


"Nah, sambil menunggu acara game dari sekbid kepempimpinan. Antunna boleh istirahat sambil minum dulu, tapi ingat ya! Jangan ada yang keluar dari sini, dan ingat! Pintu masuk hanya ada disebelah sini."


Aisyah yang tiba-tiba datang, berbisik kepada MC.


"Sebentar ukh." panggil Aisyah, sambil menyuruh MC mendekatinya.


"Kenapa ukh?"


"Tolong panggilkan ukhty Rina! Ana tunggu diluar."


"Oh baiklah ukhty." MC maju lagi ke depan, sedangkan Aisyah menunggu diluar.


"Perhatian semuanya, untuk ukhty Rina kelas XI IPA 1, ditunggu oleh ukhty Aisyah diluar ya! Silahkan!"


Tak lama kemudian diluar.


"Afwan ukhty Ais?" Menghampiri Aisyah.


"Naam. Kita bawa dulu data beasiswa ya, udah diminta sama ustadz Ishak. Tadi pas adzan isya, baru datang bareng ustadz Malik daru Kabupaten."


"Oh iya ukh, kok malam banget ya rapatnya?"


"Katanya sih sambil ada acara sama Kedinasan."


"Oh gitu, yaudah ayo ukh ambil dulu. Tapi kita cuma berdua ukh?"


"Iya memangnya kenapa ukh?" sambil mulai berjalan.


"Hehe. Malam-malam gini ukh, kelas ana kan dekat perpus. Dilantai dua lagi."


Aisyah membuang nafasnya dengan kasar. Lalu mereka bertemu dengan Adrian yang baru keluar dari ruang guru.


"Tunggu ukh!" Cegah Aisyah.


"Kenapa ukh?"


"Ustadz afwan, tunggu sebentar." mendekati Adrian.


"Kenapa?"


"Apa ustadz sakit?"


"Nggak. Kenapa?


"Ustadz lusuh sekali, afwan."


"Ya. Anty mau apa?"


"Ustadz Ishak dimana ustadz?"


"Kenapa dengan beliau?"


"Tadi bertemu ana, meminta data beasiswa. Karena besok mau diantarkan ke Kabupaten katanya."


Adrian membuang nafasnya, ekspresinya seperti orang yang punya beban berat.


"Beliau baru saja pergi ke rumah sakit."


"Innalillahi, apa ada yang sakit?"


"Anty mau apa?"


"Oh iya afwan. Ustadz bisa anterin ana sama ukhty Rina gak? Mau ke kelas XI Ipa 1, ambil data beasiswa."


"Bisa. Lagian kenapa disimpen dikelas?"


"Afwan ustadz, kelas kuncinya ana yang pegang kok. Tadi siang mau dikasih ke ukhty Ais, tapi sepertinya ukhty Ais sedang sibuk."


"Yasudah ayo!" Adrian berjalan duluan.


"Terus nanti dikasih ke siapa ustadz?"


"Biar ana saja."


"Naam."


"Ustadz Adrian kenapa ya? Apa dia sakit? Dari habis magrib ana lihat, dia lebih banyak melamun. Apa diomelin ustadz Ishak?" batin Asiyah bertanya-tanya.


Di Aula


Para pengurus osis, Ashraf dan Malik, memandu peserta untuk memulai game.


"Ustadz Riza?" Aisyah menunduk, melihat Riza yang menatapnya dengan tatapan teduh. Sedangkan Adrian memainkan ponselnya, dan menyender ke pintu yang sudah dibuka. Rina pergi ke mejanya untuk membawa data.


Riza berlalu pergi, dan langsung diikuti oleh Aisyah tanpa meminta izin ke Adrian.


Tek


Aisyah dan Rina pun ikut menjerit ditempar yang berbeda. Adrian buru-buru menyalakan senter hpnya. Dan mengarahkannya kepada Rina, yang tidak membawa hp.


"Ukhty Ais kemana?" tanya Rina.


"Diluar." jawab Adrian terus mengarakan senternya ke arah Rina yang sedang mengunci pintu kelas.


"Ustadz Riza? Usatdz Riza? Anta dimana?" panggil Aisyah, yang sudah ada di lantai satu dan meninggalkan mereka berdua, karena mengejar Riza.


"Aisyah?" Panggil seorang perempuan.


"Naam. Siapa ya?" Aisyah mengarahkan senter hpnya ke sumber suara.


Deg


"Aisyah ana disini." ucap perempuan tetsebut. Aisyah pun mengarahkan senternya lagi, mengikuti sumber suara.


"Ukhty Amina ya? Ah ukhty jangan bercanda dong, ana tahu ana penakut. Jangan bikin ana lebih takut lagi. Please ukhty min." ucap Aisyah sambil terus berjalan dikegelapan.


"Awww. Aaaaaaaaaa" Aisyah menjerit, saat kakinya menendang sesuatu benda.


"Suara ada orang menjerit." ucap Rina, dan Adrian yang buru-buru mengarahkan senter ke sumber suara.


"Sepertinya ukhty Ais sudah turun, ayo buruan anty duluan!" titah Adrian, sambil mengarahkan senter ke arah tangga.


"Ana benar-benar takut heuu heuuu." Aisyah yang jantungnya dek-dekan malah menangis.


"Ana harus telpon ustadz Adrian." Buru-buru Aisyah menyambungkannya.


Tuut tuut


"Tunggu sebentar ukhty!" ucap Adrian, mengentikan langkahnya.


"Heuuu heuu." Aisyah menangis dibalik telponnya.


"Ukhty Ais? Dimana?" Adrian shok, karena tahu Aisyah penakut.


"Heuu heuu. Ana gak tahu ustadz, ana takut heu heu."


"Sudah turun apa belum dari lantai dua?"


"Sudah," Aisyah yang sedang berjongkok melirik ke arah kiri.


"Aaaaaaaaaaaa." Aisyah menjerit, saat ada sepasang kaki yang sudah terlihat sangat pucat.


"Aisyah? Aisyah?" Teriak Adrian.


"Loh? Siapa yang memanggil Aisyah?" Batin Alvin, yang sedang berjalan sambil membawa tas ransal yang digendongnya disebelah kanan. Sedangkan sebelah kiri, tangannya memegang senter hp.


"Astagfirullah Ya Allah, mati hpnya." Adrian kesal.


"Siapa disana?" tanya Alvin, sambil berusaha mempercepat langkahnya.


"Alvin? Ustadz Alvin? Ini ana ustadz," Teriak Alvin.


"Ustadz ana takut, gelap sekali." ucap Rina.


"Afwan, anty disebalah mana? Jangan kemana-mana!"


"Ana disini ustadz," suara Rina berada disebelah kanan Adrian.


Tak lama kemudian, Alvin datang.


"Afwan disebelah mana? Tolong lihat cahaya senter ana!" Teriak Alvin.


"Ustadz itu kali, ustadz Alvin," ucap Rina yang menghadap ke sebelah kiri.


"Aaaaaaaaaaaaa," teriak Aisyah lagi, saat kaki yang pucat itu berjalan mengejarnya.


"Astagfirullah, Alalhu Akbar." Teriak Aisyah sambil berlari yang ntah kemana.


"Aisyah? Itu suara Aisyah." ucap Adrian.


"Ini ada apa?" tanya Alvin.


"Ukhtu Aisyah kesasar, ayo kita cari ustadz." ajak Rina.


"Benar itu ustadz?" tanya Alvin, kepada Adrian yang sedikit melamun.


"Anta kenapa?" Alvin menatap Adrian.


"Afwan ho ana lowbat." tanya Adrian sambil berjalan ke arah suara.


"Gak apa-apa, ayo kita cari Aisyah." ajak Alvin.


"Aisyah kamu dimana?" Alvin langsung teriak.


Brak


"Aaaawwwwwww." Teriakan Aisyah semakin lama, semakin pelan.


"Ikut ana! Gak ada apa-apa ayo! Anty kenapa bisa disini sendiri?" tanya Riza.


"Heuheueee." Aisyah terus menangis.


"Aaaaaaa. Heu heu heu. Ustadz ana gak kuat ana takut." Aisyah sesegukan, sambil menutup matanya. Riza membawa Aisyah kepelukannya.


"Maaf." ucap Riza.


"Bukalah mata anty. Anty kenapa?"


"Ustadz ana takut, ustadz ada kaki terus ada wanita duduk sambil menangis, terus mainin rambutnya." Aisyah masih menutup matanya.


"Anty diisengin, makanya jangan menangis dan jangan takut. Harus dilawan, udah berhenti menangis." ucap Riza, mengusap kepala Aisyah berusaha menenangkan.


"Ustadz ana takuuuut, wanita itu masih ada," Aisyah sesegukan, karena ada wanita yang dimaksud Aisyah sedang menatap ke arahnya.


"Darimana anty tahu? Sedangkan anty sendiri menutup mata."


"Ana nggak nutup mata, ana hanya menyipitkan mata ana ustadz." ucapnya sambil memeluk erat Riza.


Oke deh Readers, penasara dengan kisah selanjutnya? Yuk tebak yuk!


"Apakah mereka yang sedang berpelukan akan dipergoki oleh Adrian, Alvin, dan Rina? Apa reaksi mereka?" Koment! Koment yah! Yang benar ana kasih bunga huhu