
Di Ruang OSIS
Adrian yang baru saja habis cuci muka dengan rambutnya yang basah, terlihat sangat berkharisma. Lalu dia masuk ke ruang osis. Disana terlihat Amalia dan beberapa santriyah sedang mengetik di laptop. Ada juga yang sedang mengecek beberapa lembaran kertas didepannya.
"Assalamu'alaikum!" ucapnya sambil masuk.
"Waalaikumsalam wa rahmatullah," serentak mereka sambil melirik Adrian.
"Massya Allah," batin mereka melihat Adrian yang berlalu ke meja khusus pembina osis.
"Afwan ustadz, ada yang harus ditandatanganu oleh ustadz Ishak. Gimana ya?" tanya Amalia, sambil membereskan lembaran kertas yang baru keluar dari mesin printan.
"Siapa saja yang harus menyetujui?"
"Hanya ustadz Malik sebagai wakasek, dan ustadz Ishak sebagai kepala sekolah." ucapnya sambil menunduk.
"Ehm." Deham salahsatu Santriyah, sambil melirik Amalia, yang dilirik hanya menghembuskan nafasnya.
"Ana baru ingat ucapan ukhty Ais, kalau Amalia pernah dekat sama ustadz Malik." Batin Adrian.
"Ustadz Malik sudah menyetujui?"
"Belum ustadz." Amalia menyerahkan lembaran tersebut.
"Aisyah nya kemana?" Mengecek laporan.
"Afwan, apa ustadz akan menyuruh ukhty Aisyah untuk menemui ustadz Malik?"
"Apa ana berkata seperti itu? Apa pertanyaan ana tadi?" tegasnya.
"Oh iya ustadz. Afwan, sepertinya ukhty Ais ada di Aula, biasanya setiap ada yang mengisi materi ukhty Ais stanby nya disana. Jadi, kalau pengurus osis yang lain ada perlu. Kalau nggak nelpon, pasti ke Aula ustadz."
"Telpon dia suruh kesini!"
"Ana load gak apa-apakan ustadz?" Mengeluarkan hpnya.
"Naam." jawabnya singkat, sambil mencharger hpnya.
Tuuut tuuut tuuut
"Gak diangkat. Coba sekali lagi deh." ucap Amalia, tanpa meminya izin ke Adrian.
Tuut tuut
Amalia menyimpan hpnya dimeja Adrian, dia sendiri duduk didepannya.
Panggilan suara berlangsung, namun ketika Amalia mengucapkan salam. Hanya terdengar Riza sedang menyampaikan materi, dan Aisyah sedang debat dengan salahsatu santriyah. Adrian yang melihatnya, mengisyaratkan agar jangan dimatikan.
"Jujur saja, pelantikan malam itu tidak pernah ana setujui. Tapi yang lain malah setuju. Dan sekolah ini pertama kalinya mengadakan pelantikan malam seperti diagenda kita. Sekarang, ana heran kenapa ustadz Malik sudah menyetujuinya, apa karena ini pendapat ukhty Amalia?"
"Biarkan sajalah ukhty, ini udah disetujui. Gimana besok aja jadinya."
"Jadi ukhty min setuju juga?"
"Ya mau gimana lagi, hanya anty yang kekeh tak setuju. Tapi pelantikan malam kayanya seru deh."
"Memang ana tak perna setuju karena banyak resikonya, lihat aja besok kalau anty gak percaya. Tapi ana sebagai leader gak mau egois juga."
"Terus?"
"Jadi, karena ana terpaksa menyetujui pelantikannya. Ana usulkan, agar para santriyah dikasih selembaran surat yang berisi surat izin orang tua, suratnya berisi boleh nggak nya mereka mengikuti pelantikan. Kita gak bisa sembarangan mewajibkan, karena diantara mereka pasti ada yang kurang percaya kepada pihak sekolah. Jika saat para santriyah nginap disekolah, terlebih lagi kita dsn mereka akhwat."
"Haha. Iyaialah akhwat."
"Ya Akhwat, makanya minta izin dulu hih."
"Em. Tapi iya juga sih. Pantes anty bisa jadi leader seperti ini, karena setiap acara yang akan dilaksanakan selalu anty fikirkan konsekuensinya."
"Haruslah. Jadi sekarang anty boleh pergi. Lakukan tugas lagi ya!" titahnya.
"Baiklah. Maaf tadi sedikit mendebat." ucap Amina menggoda.
"Hahaha. Ana rasa kita gak debat, anty punya argumen juga, yang harus disampaikan kan?"
"Haha. Anty memang sahabat yang mudah mengerti. Assalamu'alaikum mantan ustadz Riza." Aminah berlalu sambil tertawa.
"Gak lucu Aminaaaaaah." kesel Aisyah sambil menutup wajahnya.
Deg
"Jadi, Aisyah mantannya ustadz Riza." batin Adrian.
"Ustadz, ukhty Aisyah gak ngeuh kali. Apa hpnya digetarkan? Terus nyangkanya alarm? Kok udah diangkat gak bicara ya?"
Flashback On
"Ukhty afwan, Ukhty Amalia menelpon anty. Terus menload spekakernya. Disini ada ustadz Adrian." chat masuk, dari salahsatu santriyah yang ada diruang osis.
Saat itu, Aisyah membacanya ketika sedang ngobrol bersama Amina. Tadinya sengaja dia tidak mengangkat telpon pertama dari Amalia, hingga akhirnya chat dari salahsatu santriyah tersebut masuk.
Aisyah yang tadinya akan menelpon balik Amalia lagi. Keburu ditelpon Amali yang kedua kalinya.
"Asyik, kesempatan nih." batin Aisyah, menjawab telpon. Tanpa diketahui Amina.
Flashback off
"Apa ana harus kesana aja ustadz?"
"Naam." Adrian, menyembungkan telpon ke ustadz Malik. Amalia sendiri langsung pergi ke Aula.
"Assalamu'alaikum ustadz."
"Waalaikumsalam wa ramatullah ustadz."
"Ustadz dimana ya?"
"Ini di ruang wakasek, kenapa ustadz?"
"Oh masih disana, ana mau bertemu sebentar."
"Naam ustadz. Ana tunggu ya!"
"Toyyib. Syukron."
"Wa iyyaki ustadz." Telpon dimatikan.
Tak lama kemudian, Adrian menghubungkan telpon lagi.
"Asaalamualaikum Abi?"
"Waalaikumsalam, kenapa?"
"Abi ada yang harus ditandatangani,"
"Apa? Abi masih nyetir." Melirik istrinya dan Anisa.
"Proposal."
"Besok saja."
"Ya gak bisalah bi harus sekarang, aku masih disekolah nih."
"Suruh ke rumah saja ketua osis nya! Abi gak ke sekolah dulu." Mematikan telpon.
"Subhanallah abi." kesal Adrian.
Dua orang santriyah malah tertawa dibalik cadarnya.
"Lucuya kalalu mereka sedang ngobrol. Ternyata bapanya lebih dingin dari anaknya." mereka berdua Cekikian.
"Kenapa kalian?" Adrian menatap mereka dengan tajam. Mereka hanya menggelengkan kepala sambil menunduk.
Tuuut
"Assallamualaikum afwan, anta dimana?"
"Waalaikumsalam, ini mau ke Bandara." Ashraf sudah diparkiran, sedang memakai helm.
"Anta bawa motor apa mobil?"
"Motor saja ustadz."
"Bukannya anta punya sim mobil?"
"Punya, tapi kan mobilnya di Surabaya." Ashraf tertawa kuda.
"Bukan itu maksud ana. Abi udah dijalan pulang. Anta bawa saja mobil. Kan sudah ana bilang kemarin. Soekarno Hatta dari Bogor jauh loh, ngapain bawa motor sih?" kekehnya.
"Gak enak ana." lirihnya.
"Motor mau ana pake, anta pake mobil." Adrian mematikan telponnya.
"Adrian memang sangat baik, benar-benar sangat dermawan. Padahal motornya ada tiga. Alasan dia saja, agar ana bawa mobil. Luar biasa akhlaknya." batin Ashraf, yang berlalu pergi melajukan motornya.
"Apa ana pulang pake elf saja bareng Aisyah? Abi pasti gak mau tahu. Besok kan Abi pagi-pagi pasti udah berangkat ke Kabupaten buat rapat. Gak ada waktu lagi, kecuali sekarang." batin Adrian.