
Seorang siswi terlihat berjalan melewati pemakaman. Setelah sebelumnya dianter oleh bapaknya sampai pinggir jalan kecil. Tidak biasanya siswi tersebut dianter seperti itu, hanya saja kabut pagi itu sangatlah tebal.
Dia berjalan begitu cepat, saat berada dideretan pemakaman. Dari kejauhan, bapaknya sudah tak terlihat. Karena terhalang oleh kabut.
Deg
"Hah? Siapa itu?" Batin Aisyah, sambil terus berjalan. Perasaannya campur aduk, keringat dan hawa dingin tubuh tiba-tiba dirasakannya.
"Iya itu ada wanita dipohon jengki." Batin Aisyah lagi, saat tatapannya lurus kedepan. Tapi sekelebat, dia melihat seorang wanita berbaju putih, rambutnya panjang, dan kakinya di maju mundurkan atau digoyang-goyangkan.
Aisyah merasa wanita itu, terlihat menatapnya dengan sangat sinis. Dia tidak berani menengok ke arah wanita tersebut. Lalu dia buru-buru baca do'a. Dia membuang fikiran-fikiran mistis yang sudah memenuhi otak dan fikirannya.
Namun yang membuat dia semakin kaget ialah, saat sudah berada ditengah-tengah deretan pemakaman. Dimana bau bangkai yang menyengat sangat jelas tercium.
Dengan perasaan kacau, dia sedikit berlari. Lalu buru-buru melwati jalan yang menurun.
"Ya Allah tolong aku, tolong aku, semoga bukan, semoga gak ngejar aku. Aku takut ya Allah, bagaimana jika dia tiba-tiba mendekap aku dari belakang. Bukankah dia bisa terbang?" batin Aisyah, hatinya menjerit. Sedangkan, mulutnya terus membaca ayat kursi dan ayat-ayat pendek.
Kresek kresek
"Apa itu?" Batin Aisyah, saat ada suara orang dari pinggir jalan, dimana pinggir jalan tersebut. Yang sebelah kiri ialah hutan yang kebawahnya jurang, dan sebelah kanan ialah hutan yang dijadikan pemakaman.
Untuk ke jalan raya sendiri, Aisyah harus melewati jalan yang banyak sekali turunannya.
Kresek kresek
"Kok suaranya makin dekat? Jangan-jangan?" Aisyah membayangkan wanita yang dipohon jengki tadi mengikutinya.
Tak lama kemudiaan
"Aaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaa aaaaaa aaa' aaaa aaaa." Aisyah berlari sangat kecang, menuruni jalan yang tidak terlalu bagus seperti jalan di jalan raya.
"Ukhty Aiiiiiiiiiiiiis? Banguuuuuuun!" Teriak Ashraf.
Deg
Tubuh Aisyah seperti tersengat listrik. Keringat yang sangat banyak dan nafasnya yang sangat cepat, terlihat jelas oleh Ashraf.
"Loh? Ustadz? Kenapa belum pulang?" tanya Aisyah. Melihat ke kanan dan ke kiri, yang terlihat semua kelas sudah sangat sepi tidak ada orang.
"Ana masih ada perlu dengan ustadz Adrian disini. Anty kenapa sendirian disini? Ini sudah mau magrib." Tegas Ashraf.
"Apa?" Aisyah shok, melihat jam ditangannya. Lalu membuang nafasnya dengan kasar. Dia langsung bangun dan merapikan mejanya.
"Anty sebenarnya kenapa?" Tatap Ashraf sangat tajam.
"Nggak apa-apa. Ustadz sendiri kenapa bisa kesini?"
"Ana lagi nunggu ustadz Adrian, beliau lagi rapat sama waksek."
"Kok ustadz gak ikutan? Kenapa rapat sampe magrib?"
"Nunggu bapa komite katanya. Tadinya kan habis bubar sekolah mereka janjiannya, tapi karena bapa komitenya kena macet, habis dari Jakarta. Ustadz Adrian menghadiri rapat osis dulu, iya kan?"
"Iya ustadz. Terus ustadz ngapain nungguin usatdz Adrian? Kenapa gak pulang duluan?"
"Ana sudah pulang, tapi ana kesini lagi buat jemput. Kita kan satu motor, sekalian ana tadi ke atm."
"Oh gitu. Ustadz Adrian rapat sama bapa komite? Berarri menggantikan ustadz Ishak ya?"
"Kok kamu tahu?"
"Kemarin ana butuh tanda tangan usatdz Ishak di proposap buat acara LDKS, tapi beliau gak ada katanya. Jadi belum di tandatangi."
"Oh gitu. Yaudah ayo keluar kelas! Takut jadi fitnah, pintu ana buka kok. Tadi malahan tertutup."
"Iya ustadz. Terimakasih ustadz udah bangunin ana. Kalau ana sampe ketiduran kaya tadi, pasti ana ketakutan malam hari dikelas sendirian." Sambil ngunci pintu kelas.
"Anty kenapa bisa ketiduran?"
Adrian yang baru saja selesai rapat, berpamitan kepada bapa Komite yang masih mengobrol dengan wakasek kesiswaan.
"Loh? Ustadz Ashraf? Sama siapa itu?" Batin Adrian, lalu menyender ditembok dan mengecek hpnya.
"Kenapa anty malah diam?"
"Eh iya ustadz. Afwan, teringat mimpi buruk tadi. Serem banget." Ashraf hanya mengangguk, ketika melihat Adrian yang susah menunggunya dengan tatapan datar.
"Ustadz afwan, sudah lama nunggu?" tanya Adrian.
"Baru saja ustadz." Jawab Adrian melirik Aisyah.
"Ana langsung pulang ustadz. Assalamualaikum." Aisyah mulai melangkah.
"Waalikumsalam, tunggu!" Teriak Ashraf.
"Kenapa ustadz?"
"Anty belum jawab, kenapa bisa ketiduran dikelas, sedangkan teman-teman anty sudah pada pulang?"
"Hem. Ana tadi udah sampe parkiran mau pulang boncengan sama ukhty Amina. Tapi ana nyuruh Ukhty Amina duluan. Terus balik lagi ke ruan osis, terus ke musola, terakhir ke kelas. Hampir satu jam lebih ana nyari buku diary, tapi gak ketemu." Lesuh Aisyah.
Deg
"Astagfirullah," batin Adrian, saat baru ingat kalau buku diary Aisyah dibawa olehnya.
"Apa orang tua gak nyariin?" Bawel Ashraf.
"Ini. Hp ana lowbat." Memperlihatkan hpnya yang mati.
"Huuuuh. Terus gimana pulang?"
"Anta bawa mobil kan?" Celetuk Adrian tiba-tiba, sambil melihat jam ditangannya.
"Bawa ustadz. Buku-buku nya sudah ana taro di perpustakaan."
Deg
"Itu bukannya?" Batin Aisyah, melirik ke arah tangan Adrian.
"Oh jadi tadi ustadz habis dari perpus? Pantes ustadz lewat kelas ana. Tapi kok ustadz bisa tahu ana didalam?" Mengalihkan pandangan ke Ashraf.
"Anty ketiduran. Ngigo, teriak-teriak. Yasudah ana cek." Menyunggingkan bibirnya, hingga jambanngya mengerut dsn membuatnya menjadi terlihat sangat manis.
"Syukron ustadz. Kalau gitu ana pulang duluan ya!"
"Naik apa?"
"Elf ustadz."
"Kita pulang bertiga." Ucap Adrian berlalu.
"Afwan ustadz tidak mau." Teriak Aisyah.
"Sekolah tidak akan bertanggungjawab jika anty kenapa-napa."
"Sekolah tidak akan tanggungjawab, tapi ustadzlah yang tanggungjawab."
"Kenapa harus ana?" Menatap taja Aisyah.
Ashraf kebingungan.
"Tunggu sebentar!" Menghampiri Adrian, dan langsung merebut buku diary berwarna coklat miliknya.
"Ini?" Aisyah mengangkat buku diary nya. Adrian hanya membuang nafasnya dengan kasar.