Ustadz Nikah Yuk

Ustadz Nikah Yuk
Salah Faham Dua



Di Mesjid terlihat Ashraf yang sedang mengimami sholat Isya berjamaah. Suaranya yang sangat indah tidak jauh beda dari Adrian. Hanya saja Ashraf lebih lembut dan datar sedangkan Adrian mengaji dengan penuh intonasi.


Waktu menunjukan hampir jam delapan.


"Ya Allah, walaupun saya gak keburu sholat di Mesjid karena baju basah. Saya akan tetap melaksanakannya di Mesjid." ucap Adrian, yang sudah mengganti pakaiannya. Lalu dia buru-buru keluar, dengan meninggalkan hpnya dimeja.


"Assalamualaikum!" ucap Aisyah,


"Assalamualaikum!" ucap Aisyah kembali karena tidak ada sahutan.


"Sepi sekali rumahnya, apa pada pergi?" Aisyah cemberut.


Ceklek


Adrian membuka pintu rumah.


"Waalaikumsalam wa rahmatullah," Adrian mendekat.


"Ustadz?" Aisyah tersenyum.


"Ini wanita kenapa sih? Seperti tidak ada harga diri. Nyamper-nyamperin terus." Batin Adrian.


"Ustad?" Panggil Aisyah kedua kali.


"Kenapa?" Datar.


"Ana mau kasih ini, ini bakso yang satunya buat ustadz Ashraf kan?" Memberikan kreseknya.


"Naam." Menerimanya.


"Ustadz Ashrafnya kemana ustadz?"


"Tidak ada dirumah. Ada perlu apa?"


"Afwan, tadi ana chat beliau ada perlu."


"Chat? Berarti chat ke saya doang. Oh iya hp kan dimeja." Batin Adrian.


"Nanti saja. Saya buru-buru."


"Yaudah. Saya pulang dulu ustadz."


"Tunggu!"


"Kenapa ustadz?"


"Anty sebagai wanita harus punya izzah dan iffah, jangan bermudah-mudahan dalam hal bergaul dengan aznabi. Terlebih lagi guru sendiri." Tegas Adrian.


Deg


"Ustadz Adrian kenapa ya? Apa benar fikir aku, dia marah sama aku? Karena dia udah tahu video itu?" batin Aisyah.


"Ana gak bisa lama-lama afwan. Ini payung nya!" Adrian memberikan payung, Aisyah menerimanya tanpa berkata apa-apa dan berlalu.


"Kata-kata ustadz Adrian membuat aku yakin, bahwa dia benar-benar sangat marah. Tapi perkataanya memang benar juga. Ana terlalu dekat sama para ustadz. Tapi kan itu semenjak ana jadi ketus osis." batin Aisyah, sambil terus berjalan.


"Ini saatnya aku menjadi Aisyah yang dulu, Aisyah yang pendiam dan tak banyak bicara." Batin Aisyah, terus melamun disepanjang perjalanan.


Sedangkan disisi lain, Alvin sedang berada dirumahnya. Dia baru saja pulang dari mesjid, dan langsung merebahkan diri dikamarnya.


"Aku coba telpon Aisyah lagi deh," ucapnya sambil melihat layar hpnya.


"Eh statusnya udah gak ada?" Alvin tersenyum.


"Semoga dia tidak sengaja, dan perkataan Papa benar." Alvin langsung menekan tombol telpon.


Tuuuut tuuuut tuuut


"Gak diangkat terus." Mulai resah.


Tuuuut tuuuut tuuut


"Kemana ya? Apa dia masih luka?" batin Aisyah.


Ashraf sendiri sedang diperjalanan pulang. Saat dia membawa motor, dia melihat Aisyah begitupun Aisyah yang melihatnya. Namun, dia buru-buru berjalan ketika ingat perkataan Adrian.


"Semoga ustadz Ashraf membalas chat ana, dan menceritakannya kepada ustadz Adrian. Hem, harusnya aku gak terlalu banyak bercanda. Aku jadi sedih kalau mengingat keluarga aku yang banyak utang. Jadi nyesel udah bercanda ke ustadz Adrian." Batin Aisyah menunduk, dan terus berjalan.


"Awww. Astagfirullah." Lamunan Aisyah tersadar saat kakinya tersandung ke batu.


"Apa perkataan saya salah?" Batin Adrian, ketika baru menginjakan kakinya dimesjid.


"Ustadz?" Sapa salahsatu anak muda.


"Iya?"


"Asslamualaikum. Ustadz baru datang?"


"Waalaikumsalam. Iya, saya kejebak hujan."


"Saya salahsatu dkm mesjid ustadz. Tadi ustadz Ashraf yang menghandle ustadz."


"Iya. Gimana pengajiannya lancar?"


"Lancar ustadz alhamdulillah, ustadz Ashraf tegas banget tapi ada lucunya, jadi mudah difahami bahasanya."


"Alhamdulilkah kalau begitu, yasudah saya sholat dulu ya!"


"Naam. Waalaikumsalam." Adrian tersenyum sambil berlalu ke dalam Mesjid.


Aisyah baru saja merebahkan tubuhnya dikamar, dengan tangan yang sedikit diangkat.


"Makin sakit aja nih luka." ucap Aisyah kesal, lalu dia kembali beranjak dan mengambil hpnya.


"Ustadz Alvin?" Aisyah langsung menelpon balik.


Tuuut


Aisyah menelpon


Dreeet


Hp Alvin bergetar



Anggap saja Alvin dan Ali ya readers! :)


"Aisyah?" Alvin melihat ke arah Ali, yang sedang menatap layar laptop.


"Kamu kenapa lihat-lihat papa?"


"Aisyah pah?" Alvin tersenyum sumeringah.


"VC kalau kamu gantle mah!"


"Kalau dia gak malu pah." Alvin mengangkat telponnya.


"Assalamu'alaikum ustadz?"


"Waalaikumsalam wa rahmatullah!"


Truut truut truut


Ustadz Alvin meminta panggilan video call.


"Ustadz mau vc apa kepencet?" tanya Aisyah.


"Angkat saja!" titah Alvin sambil melirik ke arah Ali yang masih fokus menatap layar laptopnya.


"Malu ustadz." ucap Aisyah malu-malu.


"Mana kamu nya?"


"Hehe. Kenapa ustadz?" tanya Aisyah malu-malu.


"Papah lihat! Cantik nggak pah?" Bisik Alvin.


"Ustadz apa ada orang?"


"Ada."


"Siapa?"


"Assalamualaikum neng?" tanya Ali.


Deg


"Wa'alaikumsalam." Aisyah tersenyum.


"Ini papah." ucap Alvin, menempelkan wajahnya ke wajah Ali.


"Mirip hehe. Hallo om? Apa kabar?"


"Baik Alhamdulillah, kamu gimana?"


"Baik alhamdulillah om."


"Yasudah sama Alvin dulu ya!"


"Iya om."


"Ustadz malu ih." Aisyah tertawa kuda.


"Gak apa-apa. Oh ya aku mau tanya boleh gak?"


"Pasti. Nih anak mulai posesif." Batin Ali menggelengkan kepalanya.


"Boleh. Kenapa?"


"Tadi kamu bikin status kok ada ustadz Adrian dibelakangnya?"


"Hem. Gak hanya ustadz aja yang nanya, yang lain juga pada chat. Padahal ana bikin status seperti itu cuma ana sendiri pake camera depan, tapi pandangan ana fokusnya ke hujan. Dan tiba-tiba ustadz Adrian menghampiri ana, terus video pendeknya langsung terkirim. Ana gak lihat lagi tih."


"Jadi anty bareng sama ustadz Adrian?"


"Naam ustadz. Tadi kan rapat osis sampai jam lima. Terus ka tadi yang bantu ana waktu jatuh ustadz Riza sama ustadz Ashraf. Nah, pas pulang baru ngeuh ternyata kunci motor ana, ana fikir ustadz Ashraf yan bawa. Ternyata bukan, kuncinya udah dititip ke ustadz Adrian. Ustadz Ashraf langsung pulang soalnya. Ana gak bisa bawa motornya, karena satu arah yaudah ana pulang bareng. Motornya yang bawa ustadz Adrian. Tspi ditengah-tengah ada tas ana kok, jadi ana gak dekat-dekat ustadz Adrian."


"Oh."


"Kenapa ustadz?"