
Waktu menunjukan pukul 17:00 WIB
Sekolah sudah benar-benar sangat sepi, ketika para pengurus osis sudah pada pulang, dan sebagian ada yang pulang ke Asrama. Asrama tersebut masih berada disekitar sekolah. Hanya dipisahkan oleh tembok yaang memanjang, dan tingginya sekitar tiga meter.
"Ustadz masih puasa?" tanya Aisyah yang melihat Adrian beberapa kali membasahi kepalanya. Karena hari itu setelah hari sebelumnya hujan, cuaca benar-benar sangat panas.
"Insya Allah," ucap Adrian yang fokus kepada hpnya.
"Ustadz? Biasanya kalau sudah jam segini, mobil elf nya ngetem dulu ditempat pemandian mobil."
"Gak apa-apa."
"Ustadz apa proposalnya udah sama ustadz?"
Deg
"Tadi kan sama anty gimana sih? Masa ketinggalan." Melirik ke Aisyah.
"Ini ada." Asiyah mengangkat proposalnya sambil menyipitkan matanya.
"Jangan bercanda!" Menatap ponselnya kembali.
"Ustadz?"
"Apalagi?" Menyimpan hpnya ke saku, dan melihat jam.
"Ustadz kok ganteng ya?" Goda Aisyah, menatap ke jalan yang hanya beberapa motor saja dan mobil pribadi yang lewat.
"Massya Allah." Responnya simple.
"Ustadz?"
"Apasih?"
"Nikah yuk!"
Deg
Adrian yang mendenarnya hanya tertawa kecil, Aisyah sendiri hanya memutarkan kedua bola matanya. Tanda tak suka dengan respon Adrian yang malah tertawa.
"Ana serius." ucap Aisyah penuh penekanan.
"Punya apa mau nikah sama ana?"
"Punya hati, punya otak, dan punya mulut."
"Ah, itu semua orang juga punya."
"Hati untuk anta lah ustadz, terus otak ana untuk ilmu agama yang nanti ustadz ajarkan, dan mulut ana, untuk menyampaikan bahwasanya ana ngajak ustadz untuk menikah."
"Massya Allah, kenapa anty seyakin itu ingin menikah sama ana?"
"Ana pernah dekat sama ustadz Riza, dan sekarang dekat sama ustadz Alvin. Tapi agama mereka tak sekuat ustadz. Ana yakin itu."
"Jadi anty memilih ana, karena ilmu agama?"
"Tentu saja ustadz. Tapi,"
"Tapi apa?"
"Tapi ana bukan dari keluarga yang faham agama, dan ana juga bukan dari keluarga yang hartanya banyak."
"Hem. Apa yang,"
"Nggak, nggak terimakasih." tolak Aisyah, saat knek mobil elf menawarinya untuk naik.
"Aisyah kenapa ditolak sih?" Bentak Adrian, yang melihat elf sudah berlalu.
"Ustadz kan sedang berbicara, masa bicarain hal gini di mobil. Kan malu banyak orang?"
"Kan bisa nanti ceritanya," sesal Adrian.
"Ana minta maaf ustadz. Ustadz mau nanya apa tadi?"
"Gak ada. Nanti saja." Mengeluarkan hpnya. Aisyah berlalu jalan menyusuri pinggir jalan raya.
"Ustadz kenapa?" Aisyah balik badan.
"Anty mau kemana?"
"Ini buat ustadz, maaf jadi lama lagi. Mobilnya udah pergi." Aisyah memberikan bunga yang dipetiknya dipinggir jalan. Bunga itu berwarna putih, berbentuk bulat, yang kalau ditiup akan berterbangan.
"Hem. Ana fikir anty mau pergi, kalau anty pergi ana yang repot." Menerima bunganya dan berjalan duluan.
Aisyah memainkan hpnya, sedangkan Adrian membuat video. Dimana bunga tersebut diarahkan ke langit, lalu ditiupnya. Bunga itupun berterbangan.
Tak lama kemudian, mobil elf datang. Adrian yang baru saja membuat status video tersebut, langsung menyimpan hpnya.
Aisyah sendiri hanya memainkan game diamon. Dimana seorang anak kecil yang berpakaiaan seperti anak petualang, berusaha sendiri untuk mengumpulkan kristal. Aisyah bermain game tersebut tanpa mengaktifkan data seluler.
"Aisyah ayo!" Ajak Adrian yang sudah akan naik ke elf. Aisyah hanya melirik elf tersebut.
"Duluan saja gak apa-apa, mobinya penuh."
"Buruan naik! Masih muat buat seorang. Biarkan saya berdiri sambil pegangan."
"Baiklah (Aisyah naik ke mobil). Tahu aja pak, kalau mau ada knek dadakan."
"Alhamdulillah neng, mudah-mudahan dengan knek nya ganteng banyak yang naik." ucap sang supir yang ternyata langganan Aisyah.
"Ah, bapa gimana sih. Ini kan udah penuh." Cebik Aisyah.
"Bentar lagi pada turun neng." Supir ketawa.
"Yahh ngetem lagi dong?" Teriak Aisyah.
"Hehe." Supir hanya ketawa.
"Ais?" Panggil Adrian.
"Kenapa?"
"Berhenti di warung makan aja!"
"Yang mana?"
"Yang soto Bogor."
"Iya."
"Pak, aku gak jadi ikut ngetem. Hehe."
"Hem ya ya ya neng." Supir pun memberhentikan mobilnya tepat didepan rumah makan yang dimaksud.
Ditempat lain
Alvin sedang mengendari mobilnya dengan kecepatan mobil pada umumnya, saat dijalan tol. Dia menggunakan mobil yang beriringan bersama ayahnya.
Mereka sengaja menggunakan mobil yang berbeda, karena Alvin akan menginap dirumah mamahnya. Sedangkan Ali, akan kembali pulang ke Bogor.
"Ya Allah, kenapa harus ada perceraian antara mama dana papa? Situasi ini benar-benar sangat gak enak. Dan membuat aku merasa sangat kesepian. Apalagi aku gak punya saudara." Batin Alvin terus melamun.
Bruk bruk bruk
"Astagfirullah papaaaaaaaa!" teriak Alvin.
Beralih ke rumah Riza, saat itu dia sedang menikmati secangkir kopi bersama sahabatnya.
"Kenapa masih gak mau ngeroko? Cobainlah!" Tawar salahsatu temannya ke Riza.
"Kalau rokok bisa menghidupkan papa kembali, saya sendiri yang akan membangun pabriknya." respon Riza tersenyum sinis.
"Maaf. Papa kamu kan sudah meninggal lama. Memang apa penyebabnya?"
"Paru-paru. Karena sering ngerokok. Udah diusahain berobat sampe bolak balik ke Dokter. Tapi gak ada hasilnya. Dari semenjak itulah saya yang tadinya suka ngeorok walaupun jarang. Jadi lebih bahkan sangat membenci rokok. Saya bisa menyimpulkan, paru-paru itu tidak ada gantinya. Kalau paru-paru rusak. Siapa yang akan ikhlas memberikannya?"
Jdeerr
"Tak semudah itu berhenti merokok, tapi cerita kamu membuat saya takut za." Membuang rokoknya dengan diinjak. Riza sendiri hanya melihat kelakuan sahabatnya itu.