
"Saya sudah ada calon bang," ucap Adrian puas, bikin Aisyah panas.
"Astaghfirullah lupa, ustadz Alvin kan ngajak nikah." ucap Aisyah tak mau kalah. Adrian hanya mangut-mangut. Tukang bakso kebingungan, sampe salah nuang bakso. Semua bola bakso malah ditaro disatu mangkok.
"Duh, bakso kenapa disini semua sih?" oceh tukang bakso.
"Kenapa bang?" tanya Aisyah, Adrian hanya mengyilangkan kedua tangan diatas meja, lalu menunduk kepala diatasnya.
"Bola baksonya salah neng, malah dituang disatu mangkok."
"Yang ini namanya jendil bang, kalau di Sunda." Menunjuk ke arah bola bakso."
"Masih lama yang bang?" tanya Adrian, yang masih menunduk.
"Ini udah ustadz, biar aku saja bang." pinta Aisyah ke tukang bakso.
Lalu Aisyah menyuguhkan dua mangkok bakso ke Adrian.
"Yang satu buat anty." Adrian menggeser satu mangkok ke hadapannya.
"Emm. Katanya tadi dua mangkok bakso sekali makan."
"Harus bisa bedakan, mana bercanda mana yang nggak."
"Gimana mau bedakan, kan ekspresinya sama seperti itu terus." Aisyah membawa dua gelas air teh anget tawar.
"Terimakasih."
Adrian meminum airnya, lalu membumbui baksonya.
"Bang?"
"Gak ada abangnya keluar, tendanya ada yang bocor. Abangnya baru buka."
"Pantes cuma kita." ucap Adrian yang masih menatap baksonya.
"Kenapa?" Aisyah membuka cadarnya, lalu langsung minum.
"Ana gak bisa, kalau gak ada kecap."
"Saya ambilkan." Aisyah bergegas, setelah menuangkan dua sendok sambal.
"Aduh, ada agen tuh. Nanti kalau masih hujan, aku mau belanja dulu deh. Luamyan, dikasih tambahan ayah nih 25 ribu, yang tadi pagi 87 ribu. Jadi, totalnya 112 ribu." batin Aisyah melirik ke luar. Dimana terlihat warung Agen, di ruko yang ketiga, setelah tukang bakso.
"Ada gak kecapnya?"
"Ada-ada." Aisyah bergegas.
"Ini." (Mohon maaf) tak sengaja mereka saling menatap.
"Massya Allah, cantik sekali gadis ini. Wajah nya mulus, putih bersih." batin Adrian.
"Ustadz mau gak kamu nikah sama saya? Jangan malu-malu ustadz. Wkwkwk." batin Aisyah.
"Ehm. Jendilnya mau loncat tuh." ucap tukang bakso yang tiba-tiba datang, sambil
Nyengir.
"Maaf bang, Pak Adrian kenapa kali lihat-lihat, katanya udah punya calon. Iya kan bang?"
"Iyaaaa calonnya neng kali." Goda Tukang bakso.
"Apa benar pak?" tanya Aisyah, sambil mengaduk baksonya.
"Buruan makan!"
"Ini juga, lagian mau kemana? Diluar masih hujan besar."
"Loh neng? Kenapa itu tangannya?" tanya Tukang bakso melihat ke lengan baju Aisyah.
"Jatoh bang, tapi gak apa-apa ini udah kering kok." Aisyah tersenyum.
"Jangan kehujanan neng. Pake jas hujan punya saya aja nanti, tapi habis dipake."
"Gak usah, nanti Abang pake apa?"
"Gak apa-apa neng, lihat neng jadi inget sama anak dikampung. Sama kelas tiga SMA."
"Massya Allah. Tapi kok, abang tahu saya kelas tiga SMA?"
"Soalnya, kalau udah kelas tiga suka banyak yang nungguin neng."
"Nungguin apa tuh bang?"
"Nungguin buat dijadiin istri." Melirik Adrian, tak sengaja Adrian pun melirik tukang bakso. Tukang bakso tetsenyum kikuk, Adrian hanya mengerutkan dahinya.
"Kenapa bang?" Adrian mendekati tuoang bakso.
"Maaf pak, bercanda tadi."
"Loh? Ya gak apa-apa pak. Saya cuma mau pesen tiga lagi. Yg dua bungkusnys pissh kantong ya." Adrian melirik bakso yang masih utuh.
"Saya buka dari pagi pak, jam 10an. Ini baru buka lagi, maksudnya saya habis asar dulu. Mesjid disini lumayan jauh. Istri juga lagi repot dikontrakan."
"Oh. Pendatang ya?"
"Iya. Saya dari daerah suramadu?"
"Oh. Surabaya Madura?"
"Nah, iya bang."
"Lagi repot? Apa punya usaha lain? Ah coba nanti besok-besok aku tanyain bapanya. Siapa tahu butuh karyawan. Jadi, aku gak harus jualan." batin Aisyah, yang ternyata mendengar percakapan mereka.
Waktu menunjukan hampir jam 18:00 WIB.
Saat itu terlihat Alvin, yang sudah berada di mesjid. Karena hujan, dia menggunakan mobilnya.
Saat di Mesjid, dia duduk dibarisan paling depan. Bersama Ali, dan yang lainnya.
Rasulullah, bersabda: Sebaik-baiknya shaf-shaf lelaki itu di shaf paling awal dan seburuk-buruknya shaf lelaki itu shaf paling akhir. Dan sebaik-baiknya shaf-shaf perempuan itu di akhir dan seburuk-buruknya shaf perempuan itu di paling awal. (Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim, Abu Dawud, Turmudzi dan Nasai).
"Maaf?" Menepuk pundak Alvin.
"Loh? Ustadz Adrian? Kenapa disini?"
"Naam. Ana baru pulang, masih ada keperluan. Tapi mala kejebak hujan, didaerah sini."
"Oh. Oh ya, kenalin dulu ini papah." Merangkul Ali.
"Kenapa vin?" tanya Ali.
"Ini Adrian pah." Alvin tersenyum.
"Oh Massya Allah. Sini-sini! Saya Ali, sahabatnya pak Ishak." ucap Ali, dan merangkul Adrian.
"Adrian om. Om sehat?"
"Alhamdulillah. Kamu sendiri gimana?"
"Alhamdulillah om."
"Yasudah yuk sholat dulu! Nanti kita ngobrol lagi." ajak Ali. Karena bedug sudah dipukul. Tanda adzan akan dikumandangkan.
"Iya pak."
Saat adzan dikumandangkan, Alvin dan Adrian sudah duduk dishaf paling depan. Lalu, Ali menyuruh salahsatu tim DKM Mesjid, agar saat itu Adrian yang menjadi imamnya.
Tak berselang lama, setelah Alvin komat. Salahsatu tim DKM tersebut. Menyuruh Adrian untuk menjadi Imam.
Massya Allah, hujan yang sudah mulai merada. Yang hanya menyisakan suara tetesan airnya, ditambah suara kendaraan yang sedang macet-macetnya. Membuat hati orang yang beriman menggetar. Suara bavaan Al-Qur'an yang sangat lembut dan berintonasi. Membuat semua yang mendengarnya bertanya-tanya. Siapa imam saat itu? Kenapa berbeda dengan imam yang biasanya?
Sementara ditempat lain, terlihat Aisyah yang juga sedang mendengarkan Adrian menjadi Imam dan mendengarkan dari speaker.
"Itu kaya kenal suaranya? Apa itu ustadz Adrian?" batin Aisyah bertanya-tanya.
Saat itu dirakaat kedua, Adrian membacakan q.s.Al Baqarah ayat 255-257. Yang artinya
"Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, Yang Terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apapun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya-* meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar.
Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut-* dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
Allah pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya."
"Massya Allah, merinding." batin Aisyah kembali.
Dreeet
"Dimana? Bapa marah, kamu belum pulang." chat dari Dija.
"Di Tukang bakso bu, ini dari tadi dari jam 5 kehujanan disini."
"Sendiri kamu?"
"Sama teman nih bu, bentar lagi pulang kok. Bilang aja dulu bu ke bapa, aku tadi pagi juga udah bilang mau rapat osis dulu."
"Yasudah. Hati-hati kamu ya!"
"Iya bu." Aisyah kembali memasukan hp ke sakunya.
Tak lama kemudian, setelah sholat sunnah ba'diyah, Adrian langsung berpamitan pulang duluan, kepada Alvin dan Ali.
"Gak nunggu Sholat Isya? Diluar masih hujan."
"Nggak om, aku hari ini ada amanah buat gantiin abi ngisi pengajian di Mesjid juga."
"Oh yasudah. Hati-hati!" ucap Ali,
"Jangan ngebit hujan!" Alvin merangkulnya.
"Baiklah." Adrian tersenyum.