
Keesokan harinya. Lonza sudah boleh dirawat dirumah. Akan tetapi karena keadaan Lonza belum pulih total, dan jika tinggal dikediaman Flores cukup beresiko. Tuan Andrew Flores memutuskan Lonza tinggal dulu sementara dikediaman Floyd.
"Ini, kamarnya. Lonza bisa tidur disini sampai keadaannya membaik dan dapat pulang kerumah" ujar nyonya Veronica.
"Hm...Terimakasih nyonya Veronica." Balas Lonza datar.
Lonza pun masuk perlahan kedalam kekamarnya. "Serasa tidak asing...Sudahlah, hari ini aku sangat lelah. Tidur dulu baru mandi."
Siang hari pun tiba, Shiyun baru pulang dari sekolahnya.
"Sepertinya Cherry pulang terlambat lagi. Ayah dan ibu juga sedang ada acara. Sudahlah, aku harus segera membersihkan rumah lalu belajar untuk ujian. Aku berharap aku bisa masuk universitas terbaik dikota Los Nevera ini" uajr Shiyun pada dirinya sendiri.
Dikamar Lonza, dia baru saja selesai mandi.
"Akhirnya bisa mandi juga. Bau rumah sakit memang tidaklah enak. Hmm...sepertinya ada orang dikamar sebelah."
Shiyun yang baru saja ganti pakaian langsung keluar kamarnya dan bergegas menuju dapur untuk mencuci piring.
Klek...Lonza membuka pintu kamarnya.
"Aku rasa tadi ada orang dikamar sebelah"
Karena rasa penasarannya, Lonza pun memberanikan diri mengetuk pintu kamar tersebut. Tetapi tidak ada jawaban, Lonza pun takut terjadi hal mengerikan didalam karena tadi yakin ada orang dikamar sebelah ini.
Lonza pun akhirnya memutuskan masuk kedalam kamar tersebut. Betapa terkejutnya dia melihat kamar perempuan yang rapi dan bersih itu.
"Ini kamar siapa ? Huh, ada ransel dibawah. Sepertinya baru pulang dari sekolahnya."
Lonza terus melihat-lihat, tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah tulisan diatas meja belajar Shiyun.
Lonza dan aku sahabat dan kami akan saling melindungi serta melengkapi satu sama lain- Shiyun.A
"Huh, tulisan tangan Shiyun tidak tahu malu itu. Berarti ini kamar dia...! Sudahlah aku harus cepat-cepat keluar".
Lonza pun keluar dari kamar Shiyun. Dia heran kenapa kamarnya bisa bersebelahan dengan kamar Shiyun.
Lonza pun merasa haus, ia memutuskan untuk mengambil air didapur. Belum sempat memegang apa pun Lonza terkejut setengah mati melihat Shiyun yang sedang mencuci piring.
Dia mencuci piring sebanyak itu seorang diri...? Apakah tidak ada pembantu dirumah ini? batin Lonza.
Ketika Shiyun selesai merapikan dapur, ia beralih menyapu dan mengepel rumah. Setelah itu ia membersihkan kamarnya. Teringat kamar Lonza yang belum dibersihkan, ia mulai bergegas kekamar Lonza.
Lonza dari tadi hanya memperhatikan gerak-gerik Shiyun.
"Hei, jangan masuk kekamarku....!" teriak Lonza.
Shiyun yang mendengar teriakkan Lonza langsung terkejut.
"Lo...nza ? Kamu kok bisa disini....?" tanya Shiyun yang masih terkejut.
"Iya, ada masalah dirumahku. Kamu jangan masuk kekamar aku. Nanti aku yang bersihin" balas Lonza pelan.
"Nggak apa-apa. Kamu kan baru pulang dari rumah sakit. Ngga bagus kalau banyak gerak. Aku aja ya...?"
"Ngga usah...!"
"Biarin, sekalian juga aku rapihin rumah"
"Shiyun, kalau aku bilang ngga usah, ya ngga usah...!"
"Aku cuma ngga mau kamu sakit lagi...!"
"Jangan sok peduli. Kamu itu munafik yang salalu membual. Gadis yang nggak tahu diri, bukannya melakukan yang baik setelah masuk keluarga Floyd. Apa keluarga Alister memang jelek seperti ini. Pasti ayah dan ibumu tidak mengajarimu tata krama....!"
Shiyun terkejut mendengar ucapan Lonza tentang dirinya dan keluarganya, "Lonza....! kamu boleh hina aku, tapi jangan jelek-jelekkin keluargaku, terutama ayah dan ibuku...! Kamu ngga ada hak buat ngehina mereka...."
"Ngga ada hak ? Kamu yang tidak punya hak untuk berkata seperti itu padaku. Kamu hanyalah anak angkat keluarga Floyd, sejatinya kamu tidak bisa apa-apa tanpa keluarga Floyd ini" balas Lonza sarkastik.
"Cukup Lonza....! Kamu bukan Lonza yang aku kenal...!"
Mata Lonza menyipit, "Shiyun, kamu dari kemarin membual tentang persahabatan kita. Gadis seperti kamu yang tidak bisa apa-apa pasti ada maunya. Kamu mau uangku kan, mau ketenaran dari keluarga Flores kan. Jujur aja....!"
Mata Shiyun membulat tidak percaya apa yang baru saja dikatakan Lonza. Shiyun mulai lelah dan pusing. Lalu dia pun terjatuh.
Lonza langsung terkejut bukan main "Eh, Shiyun...! Kamu pura-pura kan....!" geram Lonza sambil membantu Shiyun yang hampir terjatuh.
Shiyun yang muak mendengar Lonza, langsung menepis tangan Lonza yang baru saja menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
Tanpa Shiyun sadari tangan Lonza tertusuk sesuatu.
Shiyun yang melihat darah mengalir dari tangan Lonza, langzung khawatir.
"Lonza....! tanganmu? Cepat kemari biar aku bersihkan lukanya."
Lonza menepis tangan Shiyun yang hendak membersihkan tangan Lonza.
Tiba-tiba Cherry pulang. "Aku pulang....! Hei ada ribut apa ini...? Suaranya dekat kamar Shiyun dan Lonza".
Cherry yang sampai disana terkejut melihat darah ditangan Lonza mengalir.
"Lonza...! Apa yang terjadi....?" tanya Cherry panik.
Cherry pun membawa Lonza kedapur untuk membasuh dan membalut luka ditangan Lonza. Shiyun membersihkan darah dilantai, dan masuk kekamarnya.
Malam harinya, tuan Franco dan nyonya Veronica kembali pulang.
"Cherry, kenapa disini. Oh iya mana Lonza....?" tanya tuan Franco.
"Lonza sudah pulang tadi siang....! Dia bertengkar dan terluka karena Shiyun" timpal Cherry dengan nada kesal.
Tuan Franco dan nyoya Veronica terkejut mendegar hal itu. "Apa....! Bagaimana bisa Shiyun melukai Lonza....?" tanya nyonya Veronica.
"Dia mungkin membenci Lonza karena Lonza tidak mengingatnya...!" balas Cherry dengan niat liciknya untuk menuduh Shiyun.
"Shiyun...!" teriak tuan Franco.
Shiyun kaget dengan teriakan ayah angkatnya. Dia pun segera beranjak keluar dari kamar.
"Ayah....! Ada apa ? Kenapa harus teriak memanggilku...?" tanya Shiyun heran.
Nyonya Veronica langsung menunjukkan tatapan tajam penuh kebencian pada Shiyun. Begitu pun tuan Franco.
"Bagus.....Ada apa katamu ? Kamu memang anak tidak tahu diuntung....? Berbuat salah masih saja bisa tenang...!" ujar tuan Franco.
Shiyun yang masih bingung tidak tahu harus berargumen apa untuk membela diri, karena dia belum tahu masalahnya.
"Ayah....! memang apa yang kulakukan....?"
"Apa yang kamu lakukan....? Biar kuberi tahu, kamu sudah berani melukai Lonza...! Tuan Flores terkejut melihat Lonza pulang dengan lukanya. Dia berpikir keluarga Floyd ingin berniat jahat pada Lonza"
Shiyun yang mendengar alasan ayah angkatnya, langsung terkejut.
"Hanya karena itu....? Dia yang salah, dia yang memulai duluan....!" jelas Shiyun.
"Dia yang salah karena melupakan mu, hah?" timpal tuan Franco marah.
"Bukan! Dia sudah menghina ayah dan ibuku, menghina keluarga Alister. Mana mungkin aku bisa terima penghinaannya kepada keluargaku....!"
"Cukup Shiyun. Memangnya kamu pikir keluarga Alister masih ada. Keluarga Alister bahkan sudah tidak dikenal lagi. Bukankah ada benarnya apa yang dikatakan Lonza...." balas nyonya Veronica.
"Kalian...Jangan mengecilkan keluargaku....Jika kalian benci padaku kenapa kalian harus mengadopsiku pada saat itu ?"
Mata tuan Franco langsung menyipit "Kamu untuk apa menyinggung hal itu. Seharusnya kamu berterimakasih kepada kami karena sudah mengadopsimu dan membantu dokter Jason".
"Apakah kalian pikir aku masih anak kecil yang mudah ditipu ? Kamu mengadopsiku, tapi tidak peduli dengan kebutuhanku. Selama ini aku hanya mendapatkan sedikit uang saku dari kalian, yang dimana uang saku itu pun tidak cukup untuk kebutuhanku sehari hari. Bahkan biaya sekolah SMA pun aku bayar sendiri dari hasil jerih payahku, dan sekarang kamu bilang aku harus berterimakasih....?" balas Shiyun sambil menahan amarah dan kesedihannya.
Tuan Franco dan Nyonya Veronica terkejut medengar perkataan Shiyun. Tuan Franco mulai merasa kesal dan sudah muak dengan Shiyun.
"Baiklah jika seperti itu, berarti kamu tidak membutuhkan keluarga Floyd lagi...! Mari putuskan hubungan kekeluargaan ini. Veronica ambilkan surat pernyataan pemutusan hubungan keluarga Floyd dengan Shiyun Alister."
Nyonya Veronica langsung menuju kamarnya untuk mengambil surat pemutusan hubungan. Tidak lama kemudian tuan Franco sudah menandatangani surat pemutusan hubungan keluarga.
"Shiyun cepat tanda tangan....!"
Shiyun masih tidak percaya dengan lelucon ini. Keluarga Floyd memang sangat naif dan tidak tahu belas kasihan.
"Shiyun, jangan mematung. Cepat tanda tangani. Apa kamu tidak rela untuk memutuskan hubungan dengan keluarga Floyd ?"
Tangan shiyun pun mulai memegang pulpen, tangannya sedikit gemetar.
"Jika kamu belum siap, kami masih bisa menunggu...!"
"Tidak perlu tuan Franco....Keluarga Floyd tidak cocok kalau harus menunggu seseorang seperti Shiyun....!" tiba-tiba perkataan itu menyambar seperti kilat.
"Lon....za ?" gumam Shiyun terkejut.
"Shiyun Alister tidak pantas berada di tengah keluarga Floyd. Shiyun lebih baik kamu tanda tangani saja surat itu. Jangan semakin mempersulit keluarga Floyd..." ujar Lonza dengan nada penuh kebencian terhadap Shiyun.
"Lonza....! Kenapa kamu juga berkata pedas dan terus mengejekku...?" teriak Shiyun pada Lonza sambil meneteskan air mata.
Lonza yang mendengar perktaan shiyun masih tetap memasang muka datar yang tampak tidak menyukai Shiyun.
"Kamu tidak punya hak untuk memutuskan. Walaupun kamu tidak tanda tangan, kamu masih tetap akan pergi dari sini...!" balas Lonza.
Shiyun sudah muak dengan perdebatannya dengan Lonza. Tanpa ragu Shiyun menandatangani surat tersebut.
"Bagus, mulai sekarang Shiyun Alister sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan keluargaku, Floyd" ujar tuan Franco.
"Dalam situasi apa pun kamu tidak ada hak untuk meminta pertolongan kami. Begitu pun dengan kami....!" ujar nyonya Veronica.
"Tidak perlu berkata seperti itu bu, sampai kapan pun kita tidak akan membutuhkan bantuan si Shiyun ini....!" timpal Cherry puas dengan keputusan hari ini.
"Shiyun, ada satu hal lagi, jika kita saling bertemu anggap saja kita tidak pernah saling mengenal....!" ujar nyonya Veronica
"Shiyun....Lebih baik kamu cepat keluar dan pergi dari rumah ini....!" ujar tuan Franco.
Shiyun pun pada akhirnya keluar dari keluarga Floyd. Keluarga Floyd sudah bukan lagi keluarga Shiyun. Shiyun memutuskan untuk lanjut sekolah ke perguruan tinggi dan menyewa sebuah apartemen dengan uang tabungannya.
Shiyun mulai hidup sendiri, walaupun terkadang ia selalu bersedih. Dia bekerja sebagai penjaga kasir di supermarket kecil yang dekat dengan apartemen yang ia sewa.
_______