
Sembilan tahun kemudian....
Siang harinya dikediaman keluarga Floyd. Shiyun yang baru pulang sekolah langsung berlari kerumah.
"Lonza...!" panggil Shiyun dengan nafas tersenggal.
Tidak lama keluarlah Lonza dengan membawa sebotol air mineral. Dia sudah hafal keadaan rumah Floyd sehingga dia tidak terlalu sulit untuk berjalan.
"Shiyun....? Kamu sudah pulang....! Duduklah dulu. Ini aku bawakan air untukmu. Aku sudah menduga kalau kamu akan berlari hari ini..." ujar Lonza sambil menyodorkan sebotol air mineral yang kemudia diraih oleh Shiyun.
"Terimakasih...Tentu saja aku berlari. Hari ini adalah jadwal kamu operasi. Kamu harus pergi kerumah sakit dan akan lama untuk kembali kemari. Jadi aku ingin memberikan sesuatu untukmu Lonza."
"Kamu mau ngasih apa nih Shiyun...? Kamu nggak negluarin banyak uang kan?"
"Nggak banyak kok. Ini cuma jas biasa. Aku lihat jas ini ditoko pakaian. Aku lihat-lihat jas ini cocok buat kamu. Jadi aku beli deh."
Lonza tenggelam dalam perkataan Shiyun. Tidak lama Lonza pun langsung tersenyum. Senyumannya begitu hangat. Wajah tampan berusia 18 tahun itu benar-benar tersenyum bahagia.
"Terimakasih Shiyun, aku akan mencobanya...!"
"Sama-sama Lonza."
Melihat Lonza yang sedikit kesulitan menemukan lubang lengan jas tersebutu, membuat Shiyun tertawa.
"Sudah, sini aku bantu kamu pakai jasnya." Dengan susah payah Shiyun memakainkan jas tersebut pada Lonza.
"Kamu kenapa ngos-ngosan pakaian aku jas doang...?"
"Hah...Lagian suruh siapa kamu tinggi banget, aku kan yang pendek susah pakein jasnya."
Setelah dilihat-lihat Lonza memang tampan. Setelah matanya bisa melihat, Shiyun yakin dia akan menjadi lelaki yang menyita banyak perhatian orang lain. Meskipun buta, Lonza selalu meminta tuan Jeremy panggilkan tukang cukur keluarga Flores. Rambut coklat pekatnya membuat gayanya lebih cool.
"Shiyun, bagaimana penampilan ku?"
"Hah? Lu...lumayan"
"Kamu kok grogi jawabnya. Sudahlah. Aku akan jaga dan akan kupakai jas ini."
"Shiyun, kamu tunggu aku. Aku akan siap melindungimu dan mengukir senyum diwajahmu....!"
"Iya....iya, aku selalu nunggu kamu. Kamu hati-hati dijalan ya Lonza...!"
"Okay"
_______
Dirumah sakit besar kota Los Nevera. Lonza sedang menjalani operasi. Keluarga Flores berada disana. Operasi kedua mata Lonza sebenarnya sangat berbahaya, tetapi ayahnya sudah berusaha sebaik mungkin untuk hal ini, agar Lonza bisa melihat.
Setelah tiga jam berada diruang operasi. Akhirnya operasi Lonza berjalan dengan lancar. Menurut dokter Lonza sudah pasti bisa melihat, tetapi beberapa bulan kedepan harus dilakukan check up rutin.
Keesokan harinya Shiyun dan keluarga angkatnya pergi untuk menjenguk Lonza. Cherry yang baru kembali dari pendidikannya diluar negeri, langsung ikut kerumah sakit.
Mungkin, jika dibilang Cherry benar-benar berubah menjadi lebih baik. Dia juga selalu membantu Lonza. Sehingga Shiyun merasa senang dengan sikap Cherry.
Dirumah sakit, kamar bangsal VIP...
Shiyun dan Cherry lebih dulu masuk keruangan Lonza. Hanya boleh maksimal dua orang yang masuk, itu pun tidak boleh terlalu lama. Sehingga harus bergiliran.
"Hai Lonza....! Bagaimana kedaan mu? tanya Shiyun.
Lonza pun melirik kesumber suara. Mata coklat pekatnya seakan sedang meratapi mangsanya. Dia sedang menganalisis Shiyun yang tadi bertanya padanya.
"Hmm....?? Aku ok. Mataku juga sudah mulai ok"
"Syukurlah. Lonza ini Cherry...! Kita pernah bermain bersama....!"
"Cherry...? Aku ingat. Kamu Cherry Floyd yang suka membantuku kan?"
Pernyataan Lonza yang antusias begitu tentang Cherry membuat Shiyun sedikit heran. Biasanya Lonza sedikit dingin terhadap Cherry.
"Kamu kenapa gugup. Lagian aku bukan kanibal kok" blas Lonza.
"Oh, iya kamu siapa ya...?"
Mata Shiyun langsung membulat ketika Lonza menanyakan tentang dirinya.
"Lo...lonza...kamu lagi main sandiwara buat drama ya...? Masa pura-pura nggak kenal aku. Aku Shiyun"
Lonza yang merasa dibohongi langsung membalas "Shiyun...! Oh iya, aku baru ingat...!"
Mendengar jawaban Lonza, ekspresi wajah Shiyun langsung kembali senang.
"Kamu Shiyun Alister. Kamu setahun lebih muda dari aku, dan kamu kakak angkatnya Cherry."
Shiyun tidak percaya bahwa Lonza tidak mengingatnya.
"Lonza, aku juga sahabatmu. Kita sudah bersama dari kecil. Kamu ingat kan...?"
Lonza yang terkejut mendengar pernyataan Shiyun langsung membantah "Kamu itu bisa tidak jangan berbohong didepan pasien yang baru saja selesai operasi?"
Bukan hanya Shiyun yang terkejut, tetapi Cherry pun tidak percaya kalau Lonza tidak mengingat Shiyun.
"Lonza, tapi kak Shiyun itu benar. Kamu sangat dekat dengannya...!" ujar Cherry meyakinkan.
Lonza pun muak dengan hal ini "Sudah cukup. Aku ingatkan sekali lagi, Shiyun bukan siapa-siapa aku. Aku nggak kenal dia. Aku bukan temannya, apalagi sahabat. Shiyun lebih baik kamu keluar dan jangan berkata membual lagi....!"
"Lonza....?" panggil Shiyun.
"Haish....kuminta kamu keluar dari sini Shiyun Alister....Kamu dengar...? keluar...!" bentak Lonza dengan amarah yang tidak dapat dikendalikan lagi.
Dia merasa lelah sehabis operasi. Kepalanya sangat pusing, dan tiba-tiba seorang perempuan datang menjenguknya hanya untuk membual dan berbohong.
Lonza merasa muak dengan Shiyun. Hingga akhirnya benih kebencian terhadap Shiyun muncul.
Shiyun pun langsung berlari keluar dari kamar rawat Lonza. Dibelakangnya Cherry tengah ikut berlari untuk mengejar. Tuan Franco, nyonya Veronica, tuan Andrew Flores, dan tuan Jeremy terkejut setengah heran saat Shiyun berlari keluar.
"Cherry...! Tunggu, kenapa dengan Shiyun...?" tanya tuan Franco.
"Ayah, Lonza sepertinya tidak ingat Shiyun...!" balas Cherry setengah ngos-ngosan, lalu Cherry lanjut berlari mengejar Shiyun.
Semua orang didepan kamar terkejut dengan yang baru dikatakan Cherry.
Ditaman belakang rumah sakit besar Los Nevera...
"Hiks...Hiks...Kenapa-kenapa dia juga melupakanku...?"
"Shiyun, udah deh jangan ditangisin mulu....!" ujar Cherry sambil berjalan mendekat.
Shiyun tetap diam dalam kesedihannya. Seperti biasa Cherry mulai merasa kesal.
"Shiyun, kamu tuh kan sudah diakui keluarga Floyd, ngapain juga masih harus nangisi Lonza dari keluarga Flores....!"
"Cherry, kamu tahu kan kalau aku sama Lonza udah dari kecil jadi sahabat. Hampir setiap waktu aku main sama dia. Sudah sewajarnya aku sedih, ketika dia tidak ingat siapa aku....!"
"Iya aku tahu, tapi....apa jangan-jangan Shiyun suka sama Lonza...?" tebak Cherry memancing.
Shiyun lalu terdiam dengan apa yang baru saja dikatakan Cherry.
"Kalau kamu mau tahu, Lonza pernah janji ke aku kalau dia sudah bisa melihat dia akan melindungi aku. Dia bilang, dia pengen hidup bersama denganku. Dia sendiri yang bilang."
Cherry hanya tersenyum sinis, "Shiyun, lain kali mimpimu jangan terlalu muluk. Takutnya ketika tidak kesampean bisa bikin kamu gila....! Udah deh"
"Aku nggak mimpi. Sejak dia berkata begitu, dan kami saling berjanji. Aku sudah menyimpan hatiku hanya untuknya. Dia pun bilang hal yang sama untukku."
_______