
Keesokan harinya. Shiyun memutuskan tetap bekerja sebagai sekretaris sang Ceo di Zeemperor.
“Shiyun, apa berkasnya sudah diselesaikan?” tanya Sam yang baru memasuki ruang sekretaris itu.
“Eh, Sam, kok kamu yang datang kesini. Aku baru aja mau anterin berkasnya keruanganmu” balas Shiyun datar.
“Kamu lagi balas dendamkah?”
“Balas dendam? Nggak tuh. Aku nggak ada dendam sama siapa pun”
“Huh, kalau begitu jangan terlalu datar ngomongnya”
“Terserah aku? Mulut, mulut aku ini” ketus Shiyun.
“Yaudah. Oh iya Shi nanti malam mau makan diluar nggak?” tanya Sam serius.
“Nggak!” tolak Shiyun mentah-mentah.
“Eh, kamu marah sama aku yah? Ayo, sekarang aku butuh teman makan” paksa Sam.
“Yaudah teman kamu aja sana!”
“Yaudah kalau gitu aku telpon Nagisa buat makan bareng!"
“Nggak boleh. Kamu bilang mau jagain aku itu mana....? Mau aku usir dari hati aku ya?”
“Cih...Licik...Yaudah, nanti sore kita berangkat, Ok”
“Baiklah”
Sam pun kembali lagi keruangannya dengan membawa berkas penting yang sudah dikerjakan oleh Shiyun. Dia sedang ada rencana memperluas jalinan bisnisnya. Saham perusahaan Zeemperor tetap stabil bahkan berada dalam posisi sangat aman. Bagi Sam ini kesempatan yang bagus untuk memperluas usahanya.
“Halo....”
“Ya, maaf dengan siapa ini?”
“Na...Nagisa?! ” terbelalak Sam, ketika menelpon Ceo Perusahaan Vogue Corp yang akan diajak bekerja sama.
“Sam? Ini kamu ya? Gimana kabar kamu?”
“Baik....Nagisa! kenapa kamu yang jawab telepon Ceo Vogue ini?”
“Eh, oh iya maaf ya aku tidak memberitahumu. Aku sudah bertunangan dua minggu yang lalu. ”
“Bertunangan? Jadi tunanganmu Ceo Vogue? Relvis Geraldo?”
“Hm”
“Kenapa kamu tidak bilang? Dasar Xixi? Awas saja kamu! ”
"Dia sangat baik, tidak sepertimu!” ledek Nagisa.
“Eits jangan salah! Aku gini-gini juga sudah punya calon istri” bangga Sam.
“Pfft....Hahaha....Sam aku tahu kamu jomblo, tapi jangan terlalu berharap. Mana mungkin gunung es sepertimu ada yang mau”
“Sudah! Cepat berikan ponselnya pada Relvis!”
“Iya...Iya....”
Terdengar Nagisa memanggil tunangannya dengan panggilan manis.
“Halo”
“Ah, akhirnya. Halo Tn. Geraldo”
“Hai Hanyu, sudahlah jangan terlalu formal."
“Tidak masalah. Kau lebih tua empat tahun dariku. Pantas menerima panggilan itu.”
“Kau pikir aku sudah tua hah? Cepat kemari biar kuberi pelajaran agar kau tahu rasa?”
“Okay...okay. Aku akan kesana tapi dengan kekasihku. Jadi kau tidak bisa memberiku pelajaran jika didepan kekasihku” ledek Sam.
“Benarkah?! Aku penasaran siapa yang berhasil membuat gunung es mu mencair?”
“Secret. Aku akan memberitahumu lusa, ketika aku kesana sekalian membahas kerja sama kita. "
“Baiklah, kutunggu kedatanganmu!”
“Hm...”
Pada sore harinya. Sam mendatangi Shiyun yang ternyata tidak ada diruangannya.
“Shiyun? Shiyun? Tidak ada jawaban? Apa dia sedang keluar. Tapi handphone dan tasnya masih diatas meja.”
“Hei, apakah kamu melihat Li Shiyun...?” tanya Sam pada salah satu karyawannya.
“Maaf pak, saya tidak melihatnya.”
“Haishh...”
“Saya permisi dulu pak” pamit karyawannya itu yang sudah setengah mati menghadapi Sam yang memang terkenal paranoid.
Lalu Sam pun mencari Shiyun kebeberapa bagian ruangan yang diyakini Shiyun disana, namun hasilnya nihil. Hampir semua orang sudah pulang bekerja. Tinggal beberapa saja yang memang sudah terbiasa lembur, beserta divisi keamanan perusahaan.
“Kalian! Cepat cari Shiyun, jangan lewatkan satu bagian terkecil pun diperusahaan ini. Termasuk toilet wanita, gudang, loteng perusahaan, dan semuanya! Tunggu apalagi? Cepat!” perintah Sam yang emosinya sudah diubun-ubun.
“Shiyu... kau kemana sebenarnya? Pergi tanpa membawa handphone" cemas Sam sambil meredam emosinya.
Tiba-tiba handphone Sam bergetar, satu panggilan masuk dari nomer yang tidak dikenal.
“Halo”
“Hai Sam. Apakah kamu masih ingat denganku?” ucap maja seorang wanita dalam panggilan tersebut.
“Haish...Dari dulu sampai sekarang aku hanya punya dua teman wanita, Nagisa dan Shiyun! Kamu gadis dari mana? Sembarang telepon aku! Sudah aku sibuk!” lalu Sam pun memutuskan sambungannya sepihak.
“Kamu! Kamu siapa?” gertak Sam.
“Hai, namaku Lauran Spaeny. "
“Aku tidak perduli! Jangan halangi jalanku, awas!”
“Ayolah. Dulu kau bilang kau mencintaiku” ucap Lauran manja.
“Security!” teriak Sam marah.
Security langsung datang dari luar ruangan.
“Kalian divisi keamanan ingin aku pecat semua ya? Bagaimana bisa orang asing masuk kedalam kantorku?”
“Ma....maaf pak. Tadi dia bilang dia sudah ada janji denganmu”
“Dengarkan aku baik-baik. Tidak ada yang bisa sembarangan menemuiku kecuali Li Shiyun! Mengerti ?!” marah Sam.
“Mengerti Pak!”
“Dan kau, aku tidak tahu siapa kau. Aku tidak perduli, dan jika kau masih menunjukkan mukamu maka siap-siap terima akibatnya!” ancam Sam bagai devil.
Security itu pun langsung mengusir wanita yang diketahui bernama Lauran itu. Sam pun langsung meninggalkan ruangannya dengan marah. Dia langsung masuk lift pribadinya dengan tergesa gesa, dan menekan tombol menuju lantai satu atau lobi perusahaan.
Sesampainya dilobi, Sam hanya melihat resepsionis yang belum pulang dan beberapa karyawan, serta para anggota dari divisi Keamanan yang sedang mencari Shiyun.
Haih, akhirnya antri panjang yang begitu lama. Aku bisa membeli minuman Green Tea spesial pasangan. Semoga Sam menyukainya....Tapi kenapa akhir-akhir ini aku selalu memikirkan Sam? Sudahlah, aku harus segera kekantor. Aku tadi lupa membawa handphoneku. Pasti Sam sedang menungguku sekarang....(batin Shiyun sambil berjalan menuju perusahaan).
Ditengah perjalan, terdapat beberpa keryawan yang baru pulang kerja.
“Huuh....hampir saja salah tingkah. Lihatlah betapa marahnya tadi bos” ucap salah satu karyawan perusahaan yang baru pulang itu.
“Ya, kau benar. Tadi Pak Sam sangat emosi....Dia benar-benar sangat marah, bahkan divisi keamanan kena semprotnya” balas rekan yang lainnya.
Shiyun yang tidak sengaja mendengar percakapan mereka, langsung khawatir dengan Sam. Sam akhir-akhir ini selalu mengontrol emosinya dengan baik, sehingga paranoidnya tidak keluar, tapi sepertinya sekarang Sam dalam tekanan.
Shiyun pun tiba di lobi perusahaan. Dia melihat banyak sekali anggota divisi keamanan.
“Maaf pak, kenapa banyak anggota divisi keamanan disini?” tanya Shiyun heran.
“Sekretari Li Shiyun?” teriak anggota divisi yang ditanyai Shiyun itu dengan wajah lega karena Shiyun akhirnya kembali.
“Hmm, ada apa?” tanya Shiyun dengan nada yang masih bingung.
“Cepat keruangan Ceo. Dia sangat marah ketika kami belum kunjung menemukanmu!”
“A....apa? Baiklah terimaksih. "
Shiyun segera naik lift khusus umum. Setibanya dilantai tempat ia dan Sam bekerja langsung Shiyun berlari kearah kantor Sam.
“Shiyun.....dimana kamu? Aku tidak akan membiarkan kamu terluka! Tidak akan, aku harus menemukanmu secepat mungkin!” ujar Sam frustasi.
Shiyun langung terhenyak mendengar Sam begitu mengkhawatirkannya.
“Sam....” panggil Shiyun pelan.
Sam langsung menoleh kearah panggilan “Shiyun....?” terkejut Sam tidak percaya.
Shiyun pun berlari kearah Sam dan memeluknya erat.
“Maafkan aku Sam, karena aku tidak mengabarimu”
Sam pun memeluk balik Shiyun dengan sangat, sangat erat.
“Tidak....jangan minta maaf. Lain kali kabari aku dulu jika kamu mau pergi. Aku sudah setengah mati mendapatimu tidak diperusahaan, dan tidak ada yang melihatmu. "
“Maaf. Sudah ya. Lain kali kontrol emosimu”. Shiyun pun menarik tangan Sam untuk duduk.
“Aku tadi pergi untuk membeli minuman baru paket pasangan. Kau tahu rasa Green tea ini sangat enak. Aku tidak menyangka kalau disana akan mengatri dengan panjangnya....Nih, cobain dulu” ujar Shiyun sambil menyodorkan minuman itu pada Sam.
Sam yang tadi begitu cemas, langsung kembali rileks. Dia sangat senang Shiyun sudah kembali.
Setelah kejadian itu, Sam mulai menempel pada Shiyun. Sam sangat takut. Tapi ketakutannya yang sebenarnya adalah, takut Shiyun masih mencintai cinta pertamanya dan pergi meninggalkan Sam seorang diri. Akan tetapi Sam bertekad untuk tidak membiarkan itu terjadi.
Malam harinya, Sam dan Shhiyun pergi makan diluar.
“Pokoknya aku tidak mau restoran!” bantah Shiyun.
“Baiklah, malam ini kamu yang tentuin tempat makannya!”
“Bagus...deal!” balas Shiyun puas dengan kesepakatan Sam.
“Mimpi apa aku? Harus menghadapimu yang keras kepala jika sudah mengenai makanan. ”
“Mimpi dikejar wanita gila!” jawab Shiyun meledek.
Sam yang tidak terima langsung membalas “Iya benar, sepertinya wanita itu gila. Dia berambut panjang berwarna hitam, mendekati pirang. Kulitnya putih. Tubuhnya setinggi bahuku, bola matanya berwarna biru.
Shiyun langsung merendah....merendah untuk meluapkan amarah “Sam Li Hanyu...! Kamu pikir aku ini orang gila? Aku mana ada ngejar kamu dalam mimpi?” balas Shiyun yang menyadari bahwa yang dideskripsikan Sam adalah dirinya.
“Tidak. Shi....I Love You!”
Tiba-tiba Shiyun berhenti memukuli Sam, dan wajahnya tampak merona mendengar Sam mengatakan itu.
Kenapa aku merona? Sebelumnya dia sering bilang kaya gitu tapi aku biasa aja. Kok sekarang bisa jadi malu-malu. Apa karena aku udah....(batin Shiyun yang langsung terpotong oleh Sam).
“Kamu udah jatuh cinta sama aku!” sambar Sam seakan-akan bisa membaca isi pikiran Shiyun.
“A....apa?! ”
“Iya...kamu masih malu? Aku akan tetap tunggu kamu bilang I-Love-You-Too ke aku” ujar Sam yakin.
Shiyun hanya diam, dia masih tampak merona seperti kepiting rebus.
________