
Lalu Shiyun pun memutuskan untuk pergi berjalan- jalan. Didekat rumah dokter Jason terdapat taman dengan rumput hijau yang cukup luas. Shiyun sangat ingin bermain kesana.
Lalu dia pun berjalan menuju taman berumput itu. Ketika disana, dia hanya melihat beberapa anak kecil bermain dengan temannya menggunakan mainan yang mereka bawa. Memang ditaman tersebut tidak tersedia alat bermain seperti ayunan.
"Jika aku punya teman, pasti akan menyenangkan." ujar Shiyun kepada dirinya sendiri.
Shiyun pun hanya duduk diatas hamparan rumput hijau tersebut. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Angin pagi pun menghilir memainkan rambut hitam pirangnya yang pendek.
Mata Shiyun hanya memandangi sekeliling. Seketika matanya langsung tertuju pada seorang anak yang sedang bermain bersama ibu dan ayahnya. Betapa bahagianya anak itu. Terus tersenyum dan bermain riang dengan ayah dan ibunya.
Shiyun yang kembali meneteskan air matanya, langsung bangkit dari duduknya dan mencari tempat yang sepi untuk berdiam diri.
"Pohon diatas itu cukup besar, teduh dan indah. Disana juga sepi. Lebih baik aku duduk disana saja. " ujar Shiyun.
Shiyun pun berjalan menuju pohon tersebut. Sesampainya didekat pohon, dia tiba-tiba mendengar suara anak cowok yang sedang menangis. Shiyun awalnya kageg, tetapi dia langsung menuju sumber tangisan yang berada dibalik pohon besar tersebut.
"Hai... Siapa kamu? Kenapa kamu menangis disini?" tanya Shiyun.
Anak cowok itu tetap saja diam dan terus terisak "Hiks.... Hiks...."
"Emm... Kamu jangan nangis dong, anak cowok masa cengeng. " ujar Shiyun yang masih kebingungan.
"Hei.... Tidak bisakah kamu diam!" tiba-tiba anak cowok itu berkata dengan kerasnya kepada Shiyun.
Langsung anak cowok itu berhenti menangis dan mengusap pipinya yang baru saja dialiri air mata dengan lengan bajunya. Anak cowok tersebut pun beranjak dari posisi jongkoknya dan berlari.
Shiyun yang masih bingung dengan perangai anak cowok tersebut, terdiam sejenak. Shiyun pun melihat sarung tangan yang terjatuh dari saku anak cowok itu, langsung ia mengejar anak cowok tersebut.
"Hai... Kamu berhenti. Kamu menjatuhkan sesuatu. " teriak Shiyun.
Anak cowok itu pun melihat kebelakang sambil berlari, tiba-tiba ia tersandung batu, dan terjatuh.
Shiyun yang terkejut langsung berlari ke posisi anak cowok itu. "Hai apa kamu tidak apa-apa?"
"Sudah cukup, kamu mau apa sih? " bentak anak cowok itu.
"Ka... mu menjatuhkan sapu tangan dari sakumu tadi. Aku ingin mengembalikannya kepadamu" jawab Shiyun dengan gemetar, karena bentakan anak cowok tersebut.
Lalu anak cowok tersebut berdiri dan mengambil sapu tangannya dengan kasar dari tangan Shiyun.
Tetapi mata Shiyun langsung tertuju pada lutut kaki kanan anak cowok itu. Lututnya terluka dan mengucurkan darah.
"Hei... Lututmu terluka. Lebih baik kamu istirahat dulu dan bersihkan lukanya dengan air! " ujar Shiyun.
Anak cowok itu tidak menghalau kata kata Shiyun dan langsung berjalan untuk pergi. Seketika Shiyun menarik tangan anak cowok itu. Tiba-tiba anak cowok itu menangkis tangan Shiyun dengan kencangnya hingga Shiyun terjatuh dan tangannya terluka.
"Au...! "
Anak cowok itu langsung kaget dan buru-buru menolong Shiyun.
"Hei... Apakah kamu baik-baik saja?" tanya anak cowok tersebut dengan nada panik.
Shiyun hanya menunduk dan memegangi tangan kirinya. "Ma... af aku mengganggumu" ujar Shiyun dengan nada bersalah.
Shiyun pun langsung pergi berbalik. Anak cowok itu tersebut mulai menunjukkan ekspresi bersalah dan mengejar Shiyun.
"Hei tunggu dulu... Ayo ikut aku! " ujar cowok tersebut sambil memegang tangan kanan Shiyun dan berjalan menuju tempat pohon rindang tadi.
"Duduklah....! " ujar si anak cowok.
Shiyun yang langsung duduk, tiba-tiba menarik si anak cowok untuk duduk juga.
Anak cowok itu sempat kaget. "Tunjukkan lutut kaki kananmu! " pinta Shiyun serius.
"Eh... Baiklah"
Anak cowok itu tertegun sejenak melihat Shiyun begitu seriusnya. "Terimakasih" ujarnya tiba-tiba.
"Hmm.... Sama-sama. Oh iya kamu kenapa nangis tadi? " tanya Shiyun.
"Oh... Itu ya. Tentu saja, kamu tidak akan mengerti, seharusnya aku sebagai anak cowok tidak bileh cengeng"
"Tidak akan mengerti? "
"Tentu saja. Orang tua ku baru saja meninggal. Mereka mengalami kecelakaan mobil."
Shiyun pun langsung terkejut, dia pikir hanya dia saja yang sedang bersedih. "Aku mengerti perasaanmu! " ujar Shiyun.
"Kamu tidak akan mengerti! "
Tiba-tiba Shiyun murung dan bersedih. "Tentu aku mengerti. Dua hari yang lalu aku juga baru kehilangan ayah, ibu dan kakak ku. Itulah sebabnya aku pergi kesini untuk menghibur diri sendiri. " ujar Shiyun sedih.
Anak cowok itu langsung mengerti. Dia pun merasa bersalah pada Shiyun. Tetapi Shiyun langsung menunjukkan ekspresi cerianya dan tersenyum.
"Kamu kok jadi seneng tiba-tiba sih? "
"Kita harus ceria, jangan terus bersedih. Sebelum ibuku meninggal, dia bilang kalau aku terus bersedih, maka ibu, ayah, dan kakaku akan ikut bersedih disana. Jadi agar mereka bahagia, aku harus tetap ceria"
"Hah... Apakah itu yang ibumu katakan? "
"Iya... Kamu jadi jangan sedih lagi, nanti orang tuamu juga ikut sedih disana! "
Lalu anak cowok tersebut akhirnya tersenyum. Senyumannya tampak hangat "terimakasih...oh iya sini aku bersihkan luka ditangan mu! "
Anak cowok itu pun langsung membersihkan luka Shiyun dan membalutnya juga dengan sapu tangannya yang tadi terjatuh.
"Ini sapu tangan ibuku. Dia bilang kalau aku merindukannya, aku bisa memegang salu tangan ini. Tapi sekarang sapu tangan inu aku pinjamkan padamu. Jadi tolong dijaga ya! " pinta anak cowok tersebut sambil tersenyum.
"Tentu... Dan tali pita itu juga pemberian ibuku. Aku pinjamkan ke kamu, jadi kamu juga harus menjaganya ya! "
"Bisakah kita berteman. Aku tidak punya teman saat ini" ujar Shiyun.
"Tentu saja. Aku juga tidak ada teman. Shi adalah teman pertamaku. " balas Sam senang.
"Shi...? "
"Aku akan memanggil mu Shi...Bagaimana? "
Shiyun tertawa kecil " panggilan yang lucu" balas Shiyun.
"Oh iya, aku Ada 2 permen. Permen ini permen kesukaanku. Tapi aku jarang memakannya, karena permen tidak terlalu baik untuk gigi. Apa kamu mau mencobanya? " tanya Shiyun.
"Tentu... Aku juga merasa sudah lama tidak makan permen. "
Shiyun pun memberikan satu permennya kepada anak cowok tersebut. "Hei, kamu janji ya jangan sedih lagi. Kesihan orang tua mu nanti. Bagaimana pun kita harus tetap semangat untuk hidup ini" ujar Shiyun sambil tersenyum, dengan senyuman yang paling hangat yang baru dia tunjukkan lagi setelah kematian ayah, ibu dan kakaknya.
"Aku berjanji. Tapi kamu juga jangan murung lagi ya! " balas anak cowok itu.
"Tentu, aku akan berusaha" balas Shiyun dengan yakin.
Mereka pun mengobrol dan tertawa bersama. Kesedihan diantara mereka dapat diatasi. Shiyun sangat senang, karena sekarang dia punya teman yang baik.
Hari itu merupakan hari yang menyenangkan. Setidaknya kesedihan yang mereka alami dapat terobati dengan bermain dan tertawa bersama.
Aku harap tawa dan senyum ini dapat bertahan dan menemaniku dalam kesedihanku ini.... -Shiyun Alister
___________