Unforgettable Love

Unforgettable Love
CH. 5_ Firts Meet with Him



Pada malam harinya dikediaman keluarga Floyd. Seluruh anggota keluarga Floyd sedang berkumpul diruang keluarga.


"Aku disini ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian. Kalian mungkin sudah tahu keluarga besar Flores. Mereka merupakan pemilik perusahaan besar GT Flores. Tapi apakah kalian sudah tahu anak tunggal mereka, Lonza Flores ?" tanya Franco Floyd serius.


"Lonza Flores....? Aku pernah mendengar itu, tetapi anak tunggal mereka itu tidak disorot lagi" ujar nyonya Veronica Floyd, ibu angkat Shiyun.


"Iya, mungkin ada yang sudah dengar. Lonza Flores berumur 9 tahun saat ini. Tetapi karena dia memiliki keterbatasan sehingga sangat sulit bagi keluarga Flores untuk membiarkan Lonza hidup dikeluarga mereka, karena banyak sekali yang ingin mencelakai tuan muda Lonza Flores" ujar tuan Franco Floyd.


Sejenak nyonya Veronica Floyd pun terkejut akan kebenaran tentang tuan muda Lonza Flores. Begitu pun dengan Shiyun dan Cherry. Tetapi mereka berpikir apa keterbatsan dari tuan muda Lonza Flores ini.


"Ayah, memang apa sebenarnya keterbatasan Lonza Flores ?" tanya Cherry dengan penasaran.


"Dia buta sejak lahir. Ditambah sekarang keadaan ibunya yang sedang sakit keras dan sudah tidak mungkin disembuhkan lagi. Tuan Andrew Flores, ayah Lonza sedang mengurus istrinya Merry Flores dirumah sakit luar negeri. Sehingga ia mempercayai kita, keluarga Floyd sebegai rekan bisnis untuk menjaga Lonza."


"Kenapa harus kita...? Dia akan mempersulit kita dengan mata butanya...!" ujar Veronica Floyd.


"Veronica, kamu jangan sembarangan. Lonza juga tergolong pandai ditengah keterbatasannya. Tuan Andrew Flores masih sedang berusaha mencari cara untuk mengatasi masalah Lonza." Jelas tuan Franco.


"Shiyun, besok Lonza Flores akan datang kemari. Ayah dan ibu harus membawa adikmu kerumah sakit, untuk check kesehatan Cherry. Jadi nanti kamu tolong temani Lonza ya...!" perintah ayah angkatnya.


"Iya ayah. Ayah tapi ayah bilang ayah akan membawa Shiyun ketaman bermain dipusat kota nanti...." ujar Shiyun.


"Oh, itu maaf ya Shiyun ayah tidak bisa. Akhir-akhir ini ayah sangat sibuk." Balasa tuan Franco.


Shiyun yang merasa kecewa..... "Baiklah, tidak apa-apa jika ayah sibuk. Aku masih bisa bermain dirumah." Ujar Shiyun sambil tersenyum. Sebenarnya dihati Shiyun ia merasa sangat sedih.


Keesokan harinya. Tuan Franco, nyonya Veronica dan Cherry bergegas ingin kerumah sakit besar Los Nevera. Shiyun ditinggalkan sendiri lagi bersama para pekerja lainnya.


Shiyun sendiri dikamarnya. Ia merasa sedih, air matanya mengalir membasahi bingkai foto keluarga Alister. "Ayah, ibu, kak Elvis...apakah kalian bisa mendengar Shiyun disana ? Kenapa kalian pergi dengan sangat cepat. Kalian tahu, Shiyun sangat kesepian." Ujar Shiyun kepada dirinya sendiri.


Tidak lama kemudian, berbunyi suara bel rumah. Shiyun yang sedang tenggelam dalam kesedihannya langsung kembali pada kenyataan, dan bergegas membukakan pintu.


"Halo..." sapa tamu itu duluan dengan senyumnya.


"Hai...paman siapa ya ?" tanya Shiyun.


"Oh iya, perkenalkan nama saya Jeremy. Saya merupakan asisten pribadi keluarga Flores. Kedatangan saya disini untuk mengenalkan seseorang" jawab tuan Jeremy sebagai asisten pribadi keluarga Flores.


Tiba-tiba dari belakang tuan Jeremy tersebut munculah sosok anak cowok yang lebih tinggi dari Shiyun. Jika dilihat, penampilan anak cowok tersebut memang tampan.


"Baiklah perkenalkan, ini adalah Lonza Flores. Usianya 9 tahun saat ini. Masalah Lonza tinggal sementara dalam keluarga Floyd sudah dirundingkan dengan masing-masing kepala keluarga, tuan Franco Floyd dan Andrew Flores. Biaya yang dibutuhkan pun sudah ditransfer kerekening tuan Franco Floyd." Jelas tuan Jeremy.


Shiyun masing dalam mode bingung. Dia tidak tahu harus berkata apa dan bagaimana.


"Barang-barang milik tuan Lonza ada dikoper ini. Saya harapa anda bisa membantunya. Kopernya akan dibawakan kedalam" ujar tuan Jeremy.


"Kak Jeremy, bukankah kamu masih ada urusan. Lebih baik anda cepat bergegas. Sisanya saya akan urus diri saya sendiri. Terimakasih karena telah mengantar saya sampai kekediaman keluarga Floyd" ujar Lonza yang sedari tadi diam tanpa kata.


"Oh, baiklah. Tuan muda Lonza saya pamit terlebih dahulu. Sampai jumpa lagi...!" ujar tuan Jeremy.


Setelah asisten pribadi keluarga Flores itu pergi. Tiba-tiba keheningan tercipta. Shiyun tidak tahu harus bagaimana, karena Lonza tidak bisa melihat. Lonza pun sama, diam dalam tatapan kosongnya.


Tetapi tidaka lama, keheningan ini membuat Lonza muak, dan ia angkat bicara duluan, "hei, apakah kamu masih berdiri disana....? Kenapa tiba-tiba aku merasakan aura ketidak hidupan saat ini. Apa kamu tidak ingin berbicara dengan orang buta ?" tanya Lonza dengan terang-terangan tentang dirinya.


Shiyun pun langsung tersentak agar tidak tercipta kesalah pahaman akan dirinya dimata Lonza. "Tidak, bukan seperti itu. Jangan salah paham, memangnya aku sudah bilang tidak mau berbicara dengan orang buta...?" balas Shiyun sambil sedikit sewot.


"Kalau seperti itu tolong tunjukkan ruanganku yang sudah disiapkan oleh keluarga Floyd. Kalian sudah menyiapkannya kan. Aku tinggal disini juga bayar loh. Aku harap kalian tidak mengecewakan ayahku....!" ujar Lonza.


Shiyun pun langsung menarik tangan kanan Lonza. Tentu saja Lonza terkejut bukan main. "Hei gadis aneh...! Kamu terkena gangguan apa ? Tiba-tiba tarik tangan orang sembarangan" tanya Lonza yang masih terkejut.


"Eh...Maaf kalau aku tiba-tiba. Tapi kan tadi kamu minta dianterin keruangan kamu. Karena kamu ngga bisa lihat, makanya aku pegang tangan kamu buat ikutin aku. Masa aku harus suruh kamu ikutin aku tanpa ada yang nuntun" balas Shiyun yang sangat kesal dengan Lonza.


Lonza yang mendengar alasan Shiyun langsung berdecak tidak percaya, karena ada orang yang ingin membantunya. Lalu Lonza pun tersenyum..."Baiklah, tolong bantu aku yah gadis aneh...!"


Mata Shiyun langsung terbelalak melihat Lonza tersenyum dan berbicara dengan nada yang berbeda. "Tentu saja...." jawan Shiyun.


Setelah berada diruangan Lonza. Shiyun pun duduk terlebih dahulu karena lelah sudah bersusah payah membawa Lonza keruangannya. Walaupun ruangan Lonza disamping kamar Shiyun. Tetapi kalau harus menuntun Lonza itu memang sangat sulit.


"Oh, iya gadis aneh. Aku belum mengucapkan terimakasih" ujar Lonza.


"Tapi aku sudah mengucapkan sama-sama lebih awal sebelum kamu mengucapkan terimakasih, jadi tidak perlu. Oh iya, dan kamu jangan panggil aku gadis aneh. Aku punya nama, namaku Shiyun Alister dan usiaku 8 tahun....!" ujar Shiyun dengan nada sedikit kesal karena Lonza memanggilanya gadis aneh.


"Loh, kok nama belakang kamu Alister? Marga keluarga kamu bukan Floyd....?" tanya Lonza heran.


"Bukan...Aku anak terakhir dari keluarga Alister. Shiyun Alister" jawab Shiyun yang kemudian langsung murung.


"Shiyun Alister.....? Aku tidak pernah dengar marga keluarga ini sebelumnya. Shiyun kenapa kamu ada disini...?" tanya Lonza yang masih penasaran.


Lonza terkejut mendengar penjelasan Shiyun. Tentu saja itu adalah tragedi mengerikan yang tidak dapat ia lupakan, dan sekarang dia benar-benar bersedih.


"Shiyun, jangan bersedih lagi. Bukankah sekarang kamu sudah memiliki keluarga baru, Floyd..." bujuk Lonza.


"Mereka tidak menginginkan aku sebenarnya. Setiap kali mereka selalu mengabaikanku. Begitu pula Cherry. Dia selalu menghinaku, selalu menjelek-jelekkan aku didepan teman-teman. Aku hanyalah seseorang yang kesepian...." ujar Shiyun.


Lonza yang tidak ingin melihat Shiyun bersedih langsung meraba dan menggenggam tangan Shiyun kanan Shiyun.


"Hei, jangan sedih lagi. Mulai saat ini aku bersedia menjadi teman terdekatmu. Kalau kamu sedih, nanti keluargamu disana juga akan merasa sedih melhatmu." Ujar Lonza sambil menenagkan Shiyun.


"Terimakasih Lonza..." ucap Shiyun yang mulai berhenti bersedih karena teringat kata-kata ibunya.


"Hmm...sama-sama gadis aneh...."balas Lonza.


Pada malam harinya tuan Franco, nyonya Veronica dan Cherry sudah sampai dirumah. Cherry terlihat begitu senang sambil memeluk boneka beruang yang sepertinya baru ia dapatkan.


Tiba-tiba Lonza muncul dan menyapa.... "Hai, selamat malam tuan Franco Floyd dan nyonya Veronica Floyd."


Tuan Franco langsung menyapa balik "Hai juga tuan muda Lonza Flores. Aku tidak tahu kamu sampai kemari sebelum tengah malam."


"Ayahku sengaja mememinta asisten pribadi keluarga kami mengantarku lebih pagi agar aku tidak menganggu waktu malam kalian" jawab Lonza jelas.


Cherry yang sedari tadi melihat penampilan Lonza, tidak percaya bahwa Lonza memang buta.


"Hai, perkenalkan namaku Cherry Floyd. Usiaku 7 tahun. Aku merupakan putri kandung keluarga Floyd" sapa Cherry.


"Oh. Hai Cherry. Kamu bisa memanggilku Lonza.Usiaku 9 tahun. Senang bertemu dengan kalian keluarga Floyd" balas Lonza datar.


Tiba-tiba Shiyun pun muncul. "Shiyun...! Apa kamu sudah bertemu dengan Lonza Flores...?" tanya ayahnya yang langsung berbicara ketika melihat Shiyun baru muncul.


"Hai gadis aneh...Aku kira kamu sudah tertidur....!" ujar Lonza yang secara tidak langsung telah menjawab pertanyaan tuan Franco.


Cherry terkejut mendengar Lonza menyapa Shiyun dengan akrabnya.


"Hai juga Lonza. Selamat malam ayah, ibu, Cherry" sapa Shiyun.


Tuan Franco yang masih terkejut karena Lonza mengenal Shiyun langsung balik menyapa "Selamat malam juga Shiyun. Apakah kami membangunkan mu?"


"Tidak, kalian tidak membangunkanku. Aku memang belum tidur" balas Shiyun singkat, dan matanya langsung tertuju pada benda yang dipeluk Cherry.


Cherry yang menyadari Shiyunsedang memperhatikan bonekanya langsung angkat bicara "Ah, ayah aku sangat lelah hari ini. Aku tidur duluan ya, dan juga terimakasih telah mengajakku keteman bermain di pusat kota."


Shiyun langsung sadar akan janji ayah angkatnya, tetapi tidak disangka ayah angkatnya membatalkan janji dengan Shiyun dan mengajak Cherry diam-diam ke taman bermian.


Lonza yang menyadari bahwa Shiyun sepertinya merasa sedih, langsung memecahkan kecangguangan "Shiyun bisa tolong bantu aku kekamar....!"


Shiyun pun langsung kembali dari lamunannya dan menjawab Lonza "Tentu saja. Kemari, ulurkan tanganmu....!"


Lonza pun mengulurkan tangannya dan Shiyun menuntun Lonza. Cherry sedikit kesal dengan Shiyun yang akrab dengan Lonza.


Sesampainya dikamar Lonza. Lonza meminta Shiyun diam dulu sebentar. Shiyun pun duduk.


"Hei, gadis aneh jangan sedih ya. Memangnya seberharga apa sih taman bermain itu....? Sampai kamu bersedih" ujar Lonza membujuk.


"Kamu tahu Lonza....! Ayah angkatku pernah berjanji untuk mengajakku bermian disana, tapi dia bilang dia sibuk sehingga dia membatalkan janjinya. Tapi tidak kusangka dia bisa meluangkan waktu untuk mengajak Cherry kesana" balas Shiyun dengan sedih.


Lonza benar-benar merasa kesihan. Dia berharap dia bisa melihat. Sehingga dia bisa melindungi Shiyun dan mengukir senyum diwajahnya.


"Kamu, jangan sedih gadis aneh. Bagaimana kalau besok kita pergi kesana. Aku akan minta kak Jeremy untuk mengantar kita kesana. Bagaimana, aku akan membiarkanmu main sepuasnya dan membelikan boneka kesukaan mu" ajak Lonza sambil menenagkan Shiyun.


Wajah Shiyun yang baru dialiri air mata itu langsung kaget mendengar ajakan Lonza "Kamu tidak perlu melakukannya. Aku tdak sesedih itu kok"


"Sstt...aku memang berencana mengajakmu kesana kok. Kamu belum pernah main ketaman bermain pusat kota Los Nevera kan ? Jadi besok kita kesana, tanpa Cherry. Ok...?"


"Baiklah, terimakasih Lonza" balas Shiyun dengan senyuman hangat yang mulai terukir.


Shiyun pun kembali kekamarnya. Dia merasa sangat tenang sejak Lonza ada dalam kehidupannya. Lonza adalah satu-satunya orang yang memberikan Shiyun ketenagan disaat sedihnya.


Terimakasih Lonza....batin Shiyun sambil tersenyum, lalu terlelap dalam mimpinya.


_


______