
Keesokan harinya tampak Sam sedang sibuk dengan laptopnya dikantor. Disamping ruangannya terdapat ruangan Shiyun.
Hm...Shiyun belum datang? Tumben, tadi dia bilang ketika pamit dari mansionku dia ingin pulang sebentar ke apartemennya untuk bergegas kekantor. Tapi ini sudah dua jam kemudian! Apa dia mencoba bolos? (batin Sam mulai resah, karena Shiyunnya belum kunjung datang).
Setengah jam kemudian, tampak Shiyun sedang tergesa-gesa dan memasuki ruangannya.
Benar-benar deh....Jadi telat kan. Awas saja kak Elvis...karena dia bajuku basah, dan dia malah tertawa melihatku basah kuyup? Pagi begini dia sudah buat aku bad mood! (batin Shiyun kesal).
Tiba-tiba saja ketukan pintu yang cukup keras dan lama itu mengganggu Shiyun yang sedang bad mood.
“Siapa?! Sudah cepat masuk!” ketus Shiyun.
Ketika ia melihat sosok Sam yang sudah mulai ia cintai, ia mulai melupakan bad moodnya.
“Sam....?”
“Kamu ada apa sih? Jam segini baru dikantor. Nggak tahu aturan ya? Ada masalah dirumah bukan?” tanya Sam bertubi-tubi tanpa memikirkan nasib si penjawab.
“Nggak ada apa-apa, maaf baru nyampe kantor, karena jalanan agak macet. Saya tahu sangat aturan di Zeemperor, dirumah saya sedang ada sedikit problem!” balas Shiyun seformal mungkin karena ia sedang dikantor.
“Baiklah. Jika ada sesuatu katakan saja, Ok?”
“Hm....Ok”
Sam pun kembali keruangannya, dan kembali terlarut dalam kerjaan yang menumpuk didepan mata. Yah, dia keruangan Shiyun hanya ingin menyapa Shiyun dipagi hari, karena dengan begitu maka Sam akan kembali semangat bekerja.
Di kediaman Lonza, ternyata ada yang sedang bertamu.
“Kamu kemana saja Za? Udah lama ngga liat. Terakhir liat ditelevisi kemarin!”sapa tamu itu pada Lonza yang tampak pucat.
“Hah....Aku ada dirumah, kalau tidak dikantor. Aku sangat lelah belakangan ini jadi tidak ada waktu buat kumpul dengan yang lainnya. Ini Lauran ya?”
“Oh iya aku hampir lupa (tampak Lauran kesal karena sedikit diabaikan) ini Lauran Spaeny Boyega. Dia satu-satunya keluargaku yang aku punya, dia adalah adikku” balas Ryan, yang ternyata bertamu kerumah Lonza.
“Ternyata dia sudah dewasa dan sangat cantik. Oh iya Ryan, bagaimana hasil penyelidikan kematian keluarga kamu?”
Ryan yang mendapati pertanyaan itu langsung bersikap kuat, dia masih tidak rela bahwa keluarganya hancur karena dendam keluarga lain.
“Hm....Sebentar lagi juga akan selesai. Bahkan SEMUANYA akan KUSELESAIKAN! SATU PERSATU!” balas Ryan yakin penuh penekanan pada beberapa kata.
Lonza yang mendengar intonasi Ryan membalasnya dengan angukkan “Aku mengerti kamu pasti benci pada mereka yang menghancurkan keluargamu!”
“Hahaha....Tentu saja Lonza!” balas Ryan lebih menggema.
“Baik....sudah tertawanya. Nanti rahangmu patah!” ejek Lonza.
“Ok....Ok...Oh iya Lonza, aku tahu kamu mau Shi Group karena kamu pengen Shiyun kembali kan?”
“Iya...tapi itu semua hanya angan saja. Aku malah lepas kendali dengan mengajukan diri untuk menjadi Ceo Shi Group. Aku benar-benar membuat Shiyun terluka lagi” balas Lonza dengan nada kecewa pada dirinya sendiri.
“Haish...Sudahlah jangan menyalahkan dirimu sendiri!” balas Ryan bersimpati.
“Aku harus minta maaf padanya! Jangan sampai dia membenciku. Walaupun dia tidak mencintaiku lagi, setidaknya dia jangan membenciku! Lebih baik aku menghubunginya saja!”
“Hm...bagus-bagus. Ajaklah dia ketempat yang sepi tetapi menarik. Seperti rooftoopf perusahaanmu! Itu kan indah. Ajaklah bicara disana!” tambah Ryan.
“Kamu benar! Thanks Ryan....You’re my best friend!” balas Lonza.
Lalu Ryan dan Lauran pun memutuskan untuk pergi. Setelah itu Lonza pun berusaha menghubungi Shiyun.
Dikantor Zeemperor, tepat didalam ruangan Shiyun. Handphone Shiyun berdering. Satu panggilan masuk. Tampak nama kontak penelpon tertera. Shiyun menaikkan alisnya sebelah ketika melihat siapa penelpon yang menghubunginya.
“Halo?” tanya Shiyun mengawali.
“Hai Shiyun...Maaf jika aku mengganggu waktumu. Aku hanya ingin menjelaskan sesuatu. Sebentar saja! Kali ini saja! Kumohon jangan menolak! Ini yang terkahir kalinya! Aku janji, akan kuusahakan ini menjadi yang terakhir kalinya aku berbicara pribadi padamu!” ucap Lonza panjang lebar penuh nada memohon.
“Hahaha....Lonza kamu kenapa? Kamu kebelet buang air kecil ya? Kamu lagi sakit?” balas Shiyun yang malah tertawa.
“Eh? Ya nggak lah! Aku tau kamu pasti marah. Kemarin aku salah kaprah!”
“Udah...jangan kaya anak kecil yang tertindas tidak dapat uang jajan. Aku juga sudah memaafkanmu kok!” balas Shiyun enteng dengan nada yang bersahabat.
“Benarkah?!” heboh Lonza.
“Tentu saja benar” balas Shiyun meyakinkan.
“Thanks Shiyun....Oh iya, apa aku bisa bertemu denganmu? Kali ini saja, aku janji ini akan yang jadi terakhir kalinya untuk pertemuan pribadi kita!”
“Hm...Baiklah. Kamu ngga usah janji kaya begitu. Kalau mau curhat ke aku secara pribadi juga ngga apa-apa, yang penting jangan masa lalu aja!” balas Shiyun sambil tersenyum dan tertawa.
“Ah...tentu. Jika aku ingin curhat aku bisa mendatangimu?”
“Ya....bisa. Aku akan tetap jadi sahabatmu!”
“Terimakasih banyak Shiyun....Kalau begitu nanti sehabis jam makan siang aku tunggu kamu diperusahaanku!”
“Ok...Aku akan kesana!”
“Thanks....See you Shiyun!”
“You’re welcome. See you too Lonza” balas Shiyun yang kemudian Shiyun putuskan sepihak.
Tanpa Shiyun sadari suara langkah sepatu menjauh dari ambang pintu ruangannya. Shiyun sama sekali tidak menyadari itu.
Beberapa menit kemudian....
“Kyaa....akhirnya sudah selesai. Lima menit lagi waktu makan siang. Sam biasanya masih diruangan. Lebih baik aku keruangannya dan mengajaknya makan siang dulu!” ucap Shiyun, yang kemudian membawa bekalnya keruangan Sam.
Sesampainya diruangan Sam, Shiyun mendapati ruangan tersebut kosong tak ada orang.
Hei....kemana perginya Sam. Dalam jadwal tidak ada urusan lain lagi selain dikantor. Dia juga tidak ada meeting ataupun janji makan siang dengan klien lain. Biasanya dia konfirmasi ke aku, sebagai sekretarisnya. Haish....Lalu? (batin Shiyun benar-benar bingung).
Shiyun pun memutuskan kembali keruangannya dan segera memakan bekalnya. Setelah itu dia pun merapikan berkas yang sudah dikerjakanya dan meletakkannya diatas meja kerja Sam. Kemudian dia pun langsung berangkat menuju perusahaan Flores.
Sekitar setangah jam lebih Shiyun sampai diperusahaan Flores. Shiyun pun segera masuk dan mencari resepsionis di lobby.
Setelah mendapatkan konfirmasi pertemuan. Shiyun pun menuju ruangan Lonza. Tampak Lonza sedang memegangi kepalanya dan tengah berusaha berdiri sambil memegang kursi.
“Lonza!” teriak Shiyun karena terkejut.
“Akh....Shiyun kamu cepat sekali sampainya”
“Hei....kepalamu sakit lagi?” tanya Shiyun sambil membantu Lonza duduk.
“Begitulah. Semakin hari sakitnya semakin bertambah. Seakan obat yang kuminum itu tidak ada gunanya” frustasi Lonza sambil memegangi kepalanya.
“Sudah....jangan dirasakan. Kamu bawa obatnya kan? Lebih baik kita coba dengan obat dulu”
Lonza pun setuju dan menunjukkan letak obat-obatannya. Shiyun mengambil obat tersebut dan membantu Lonza meminumnya.
Beberapa saat kemudian.
“Bagaimana?”
“Hm....Ini jauh lebih baik. Terimakasih Shiyun”
“Baiklah. Kamu bilang kamu mau ngomong susuatu!”
“Oh iya, hampir aja lupa. Tapi ngga disini ya. Ayo kita ke rooftoof!” ajak Lonza.
Shiyun pun hanya menganguk dan mengikuti Lonza dibelakang.
Tak lama berada di lift, akhirnya mereka ada dirooftoof perusahaan Flores.
“Indah?”
“Iya....aku masih tetap menyukainya meskipun terakhir kali aku kesini beberapa hari sebeum kamu operasi waktu itu”
“Maaf...”
“Sudahlah....jangan minta maaf terus Lonza. Aku sudah memaafkanmu sebelum kamu memintanya!”
“Terimakasih....Shiyun kemarin aku benar-benar keterlaluan karena udah ngancem kedudukan Shi Group. Aku benar-benar khilaf, maaf ya Shi!”
“Sudah kukatakan jangan minta maaf, atau kutinju kamu ribuan kali!”
“Baik...Baik” balas Lonza.
Seketika keheningan tercipta.
“Shiyun terimakasih karena telah hadir dalam hidupku. Meskipun pada akhirnya kita tidak ditakdirkan bersama. Aku sadar, semakin aku mencintaimu, rasa tidak rela semakin membunuhku!”
“....”
“Mulai saat ini aku hanya ingin kamu bahagia....gadis aneh”
“Aku paham Lonza. Ini adalah jalan terbaik. Aku memang benar-benar sudah tidak ada lagi rasa cinta untukmu!”
“Aku suda tahu itu! Aku juga sudah merelakanmu. Hanya saja aku ingin memelukmu yang terakhir kalinya” pinta Lonza.
Shiyun yang mendengar permintaan Lonza langsung mengerti perasaan Lonza, karena dulu ia juga merasakannya.
“Peluklah.....!” pelan Shiyun.
Lonza yang mendapatkan balasan Shiyun sedikit terkejut, tapi rasa bahagianya tidak dapat dia sembunyikan lagi.
“Bernarkah?!”
“Hm....Ceptalah. Atau aku berubah pikiran!”
Lonza langsung mendekat dan merangkul Shiyun. Dia memeluk Shiyun semakin erat, sangat erat. Lonza memeluk Shiyun cukup lama. Seakan tidak ingin kehilangan, namun pada kenyataannya ia akan kehilangan Shiyun.
“Terimkasih Shiyun!”
Lonza pun melepaskan pelukannya dari Shiyun. Tampak wajah Lonza begitu bahagia, tapi Shiyun dapat melihat bahwa Lonza berusaha menutupi kesedihannya.
Keheningan kembali tercipta. Shiyun pun berjalan sedikit kedepan untuk melihat pemandangan kota. Disiang hari itu, cuacanya tidak panas dan tidak hujan. Tampak teduh dan menenangkan. Angin semilir diketinggian gedung perusahaan itu menyelimuti keheningan mereka.
“Shiyun...Ini pertanyaan terakhirku untuk masa lalu kita. Jika saja aku tidak melupakanmu akankah kamu mencintaiku dan bersama denganku? Jika aku tetap melupakanmu, tetapi aku tidak merendahkanmu dan menghargaimu, akankah kamu bersedia terus menungguku dan menemaniku? Jika saja aku tidak bersama Cherry.....maukah kamu menikah denganku?” tanya Lonza dengan nada kecewa pada dirinya sendiri sambil menatap Shiyun yang sedang membelakanginya.
_______