
Besoknya, Shiyun terbangun dengan kedua matanya yang bengkak.
“Haish...Ini tidak bagus. Sam akan mempertanyakan keadaan kedua mataku, kalau aku kekantor dengan mata begini”
Shiyun pun memutuskan untuk mengoleskan krim khusus bercak hitam diwajah. Ia sengaja membeli itu untuk menutupi mata pandanya beberapa minggu yang lalu.
Shiyun pun keluar dari apartemennya. Ketika sudah dibawah ia mendapati sosok tubuh tinggi dengan pakaian kantornya yang rapi. Sosok yang menyita banyak perhatian, terutama kaum hawa.
Sam....? Tidak biasanya datang kesini dengan menggunakan pakaian kantornya. Biasanya kalau kesini dia memakai baju kasual, atau paling tidak memakai jaket bertopi.... (batin Shiyun heran).
“Hei Sam!” sapa Shiyun langsung untuk basa-basi pagi hari.
“Sudah siap? ayo” balas Sam sambil langsung menarik tangan Shiyun.
Sam pun menyuruh Shiyun untuk segera masuk kedalam mobil sportnya itu. Jujur saja Sam juga merasa risih dengan banyak mata yang memperhatikannya.
“Kamu sudah makan?” tanya Sam sambil mengendarai mobilnya.
“Sudah. Tumben nanya begitu, biasanya langsung ngasih daftar tugas baru” balas Shiyun.
“Hm....Aku kan juga kekasihmu. Aku harus bisa memastikan bahwa kamu baik-baik saja” balas Sam sambil tersenyum bangga ketika dia mengakui dirinya sabagai kekasih Shiyun.
“Huh...Kekasih....”
“Kenapa? Bukannya kamu udah sepakat mau menerima aku”
“Hm...”
“Shiyun, aku udah bilang. Lupain dia dan mulai lagi yang baru. Aku akan menjagamu!”
“....”
Sam yang melihat Shiyun tampak bimbang, langsung diam. Dia sadar bahwa dia telah membuat Shiyun kembali mengingat luka dihatinya.
Seharian Shiyun hanya diam. Setiap Sam bertanya, Shiyun hanya membalas singkat dan seperlunya. Sam yang melihat Shiyun tampak seperti kehilangan, merasa tidak tega. Ingin rasanya Sam membuat senyum Shiyun mengembang.
Sore harinya, Sam mengajak Shiyun pulang. Tapi Shiyun menolak. Sam membujuknya, karena dia khawatir Shiyun kenapa-napa. Moodnya sedang tidak bagus, Sam takut Shiyun malah menangis dijalan. Begitulah sosok Sam, yang sangat mencintai Shiyun. Walau hanya sebatas cinta bertepuk sebelah tangan.
“Tidak! Aku sudah katakan tidak bisa. Sam bisakah kamu memberiku waktu sendiri. Please”
“.....Aku mengerti. Maaf, jika ada apa-apa telpon saja aku” balas Sam yang merasa Shiyun benar-benar butuh waktu sendiri.
Sam pun akhirnya meninggalkan Shiyun. Shiyun berjalan sendiri, matahari sore membuat kesan tersendiri baginya.
Tiba-tiba ketika Shiyun sedang berjalan, ia melihat Lonza duduk ditaman. Pandangannya tampak kosong.
Seketika Cherry datang. Wajahnya yang menurut Shiyun lebih cantik darinya tampak terlihat habis menangis.
Entah angin apa yang membuat Shiyun ingin mengetahui apa yang mereka lakukan. Shiyun pun mendekat dan bersembunyi dibalik pohon yang cukup besar didekat mereka.
“Lonza....! Kamu....Kamu sudah mengingatnya?” tanya Cherry dengan nada kesal, sedih.
“Hm...” singkat Lonza. Jawabannya tidak seromantis ketika ia belum mengingat Shiyun. Ketika ia bilang pada dunia bahwa Cherry adalah cinta yang sangat berharga baginya.
“Lonza....lalu apa yang akan kamu lakukan? Menceraikanku dan menikahinya? Disaat kita saja belum lama menikah?”
“.....”
“Lonza, aku sangat mencintaimu. Akan ku berikan semua yang kamu butuhkan, selama aku bisa memberikan itu untuk membuktikan rasa cintaku padamu!”
“Kalau begitu. Buktikan rasa cintamu?” balas Lonza dingin.
“Maksudmu?”
“Kamu bilang kamu mencintaiku dan memberikan apa pun. Kalau begitu berikan aku surat cerai. Tandatangani itu, dan kita bisa berpisah!”
“Tidak...Aku tidak bisa. Aku mencintaimu, mana mungkin menceraikanmu! Kamu pikir pernikahan kita ini adalah lelucon? Kamu pikir pernikahan kita ini adalah serangkaian alur dari sebuah cerita atauapun drama yang bisa diputuskan begitu saja oleh penulis atau sutradara?!”
“Kamu hanya bisa membuktikan cintamu padaku hanya dengan seperti itu!”
“Kamu sangat mencintainya?”
“Tentu saja. Melebihi langit dan bumi!”
“Tidakkah kamu memikirkan perasaanku?”
“Tidak perlu, karena yang kucintai hanya Shiyun....”
Plak...satu tamparan berhasil lolos mendarat dipipi kanan Lonza.
Lonza terkejut dengan tamparan dari Cherry.
“Cukup Cherry! Kamu pikir jika seperti ini pernikahan kita akan berjalan lama dan harmonis? Tidak !”
“Lonza...hiks...setidaknya kamu pikirkan perasaanku...hiks!” balas Cherry diselangi isakan tangisnya.
“Aku hanya mencintai Shiyun! Dan Shiyun mau bersamaku jika aku tidak memiliki istri!” keras Lonza.
“Egois! Aku tidak percaya jika Shiyun akan bersamamu setelah dia mengetahui bahwa kamu sudah menyakiti hati seorang wanita!”
“Cukup....Ceraikan aku, maka kita berdua tidak akan terus berselisih!”
“No! I can’t do it”
“What? You very want with me? I not love you, i only love Shiyun.....!”
“Please!”
“Cukup!” tiba-tiba teriakkan itu datang bagai petir yang menyambar.
“Shi....Shiyun?” terkejut Lonza.
“Shiyun! Shiyun apa yang kamu lakukan disini? Kamu ingin merebut Lonza dariku?” tanya Cherry yang emosi dan kesedihannya sudah ada diubun-ubun.
“Diam Cherry! Jangan berkata seperti itu pada Shiyun!” bentak Lonza.
Tiba-tiba plak.... satu tamparan lagi berhasil lolos dipipi sbelah kiri Lonza. Lonza lebih terkejut lagi, karena Shiyun yang menamparnya.
“Kamu pikir Cherry apa?” dingin Shiyun.
“Shiyun....? Aku sangat mencintaimu. Mana mungkin aku bisa hidup dengan orang yang tidak aku cintai!” balas Lonza.
Mendnegar hal itu, Shiyun teringat akan perkataan Sam.
“Cukup Cherry yang mencintaimu! Maka kamu perlahan akan mencintainya juga!” balas Shiyun tajam.
“Tapi...Selagi aku bisa bersamamu. Apa pun akan kulakukan!”
“Aku tidak ingin bersamamu!” keras Shiyun.
Deg...Lonza langsung terkejut mendengar pernyataan Shiyun. Pernyataan yang bagaikan tusukan pisau.
“Kenapa? Apa karena aku masih bersama Cherry?”
“Bukan! Tapi karena kamu sudah memandang rendah wanita! Cherry juga wanita, dan kamu meminta dia membuktikan cintanya padamu dengan cerai?! Kamu pikir jika aku diposisi Cherry aku tidak marah, kamu bukan lagi Lonza yang dulu! Lonza yang lembut dan menghargai siapa pun”
Cherry yang mendengar itu juga terkejut bukan main, dulu Shiyun sangat ingin bersama Lonza. Tapi sekarang, tampaknya berbeda.
“Shiyun! Aku tidak bisa hidup dengan orang yang tidak kucintai!”
“A...apa?”
“Lonza....Aku bisa hidup tanpamu disampingku selama empat tahun terakhir ini....”
“Shiyun...itu berbeda situasinya!” tukas Lonza.
“Tapi aku sudah tidak lagi mencintaimu!”
Jawaban Shiyun bagai pisau yang menikam Lonza lagi dan lagi.
“...?”
“Aku sudah jatuh cinta pada laki-laki yang lebih mengahargai wanita. Pada lelaki yang sabar denganku! Yang setia menungguku!”
Lonza terkejut mendengar hal itu. Cherry juga terkejut bukan main ketika mendengar Shiyun mencintai lelaki lain selain Lonza.
“Siapa? Siapa lelaki yang ingin merebutmu dariku?!” marah Lonza sambil menggoncangkan kedua bahu Shiyun.
“....”
“Shiyun jawab siapa? Biar kuberi pelajaran dia!”
“Cukup Lonza! Dia tidak pantas diberi pelajaran. Cukup aku mencintainya juga, maka dia ikut bahagia. Tidak boleh seorang pun mencoba memisahkan kami!”
“Apa....! Siapa dia Shiyun...?”
“S...Sam Li Hanyu!” balas Shiyun.
Seketika satu tubuh dibalik pohon bergetar hebat. Tampak Sam sangat terkejut dengan jawaban Shiyun. Ya, sedari tadi Sam mengikuti Shiyun. Ia khawatir dengan keadaan Shiyun. Semenjak Shiyun keruamah sakit, Sam selalu mengikutinya. Bukan maksud apa-apa, tetapi dia ingin manjaga Shiyun. Dia tidak perduli walaupun Shiyun bersama lelaki lain. Yang terpenting bagi Sam adalah Shiyun tetap aman.
“Apa? Sam Li Hanyu!” ulang Lonza kesal.
Aku sudah memanfaatkan Vogue Corp untuk menjatuhkan saham Shi Group, tapi sepertinya itu tidak cukup ya? Tunggu saja Sam. Kamu pikir aku tidak tahu bahwa posisi Ceonya kosong! Aku akan merebut semuanya darimu....Kekuasaan.....dan cinta lamaku! (batin Lonza dengan ambisi devilnya).
“Cherry maaf jika selama ini aku menyusahkan hubungan kalian berdua. Aku janji tidak akan ikut campur lagi. Aku juga sudah memiliki cintaku. Jadi sudahi masalah ini...Good Bye!” balas Shiyun sambil berjalan menjauh.
Sam yang melihat Shiyun sudah pergi langsung diam-diam ikut pergi dan menyusul Shiyun.
Setelah Shiyun sangat jauh dari taman. Sam langsung menggas pelan mobilnya mendekati Shiyun.
“Hai....Shi!” sapa Sam dengan senyuman hangatnya.
Entah kenapa akhir-akhir ini senyuman Sam membuat jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya....(batin Shiyun).
“Ha....Hai Sam!”
“Kamu kok masih disini?”
“A...aku tadi.....”
“Sudahlah, cepat naik!” potong Sam yang sudah mengetahui sebenarnya.
Shiyun pun langsung naik kedalam mobil Sam. Dalam mobil Sam terus menghibur Shiyun hingga akhirnya Shiyun tertawa lepas.
“Sam, kok keperusahaan Shi?” tanya Shiyun heran.
“Masalah yang sudah berusaha diselasiakan, maka lupakan saja. Ayo!” balas Sam.
Sam menarik tangan Shiyun pelan dan berlari kecil. Banyak karyawan yang masih disana. Spertinya mereka karyawan bagian lembur. Mereka yang melihat Sam masuk langsung menunduk hormat. Tapi mereka langsung terkejut ketika melihat Shiyun yang masih minta dilepaskan tangannya dari tarikan Sam.
“Nona Shiyun Alister?” gumam seorang karyawan.
Jika kalian ingin tahu. Semua yang bekerja disana, hampir mengenali keluarga Alister. Mereka tahu bahwa Shiyun masih hidup, tetapi mereka tidak pernah bertemu langsung. Hanya sebuah photo yang terpajang diruang Ceo yang kosong. Photo Shiyun...
“Ternyata dia lebih cantik daripada di photonya....” tambah salah seorang karyawan lainnya. Mereka menatap kagum melihat Sam dan Shiyun berlari tanpa menghiraukan pandangan mata yang tertuju pada mereka berdua.
“Sam...lepas banyak orang....malu tau...kayak anak kecil aja!” kesal Shiyun yang menyadari bahwa ia dilihat oleh banyak mata.
“Sorry....Yaudah yuk naik lift” ajak Sam.
Sam dan Shiyun pun naik lift. Sam langsung memilih lantai atap perusahaan.
“Rooftoop? Kenapa kesini?”
“Karena ini salah satu tempat kesukaan kamu! Atap perusahaan ini sengaja aku rapihin, aku dekor ulang, supaya cocok ketika kita mau lihat pemandangan malam. Cuma aku dan kamu yang boleh kesini!” balas Sam sambil mengambil posisi duduk.
Shiyun pun ikut duduk disamping Sam.
“Sam....?”
“Hm...?”
“Thank you so much”
“For what?”
“Because you after waiting me and give me love”
“Don’t say it. Aku yang seharusnya berterimakasih, karena kamu udah hadir dalam hidup aku”
“...” Shiyun tidak membalas. Dia hanya tersenyum sambil menatap langit yang sudah malam. Sam melihat seulas senyum Shiyun. Dia pun ikut tersenyum. Dia tidak pernah merasakan kehangatan seperti ini sebelumnya.
“Are you love me?” sambar Sam tiba-tiba.
“....” Shiyun yang masih terkejut dengan pertanyaan Sam hanya membalas dengan diam.
“I’ll be waiting you to love me.....Berapa pun lamanya aku akan tetap menunggumu!” balas Sam yakin dengan senyuman hangatnya lagi.
Shiyun masih tetap diam. Tiba-tiba Sam berdiri dan berjalan mendekati pegangan untuk melihat jalanan kota Los Nevera. Lalu dia kembali menegadah keatas memandangi langit malam.
“Aku tahu kamu masih mencintainya. Oleh karen itu aku akan tetap menunggumu mencintaiku, kerana perasaan tidak bisa dipaksakan”
Shiyun yang mendengar balasan Sam langsung terkejut. Sam mengira Shiyun masih mencintai Lonza.
Jujur Sam, perasaanku akhir-akhir ini tak menentu. Hingga kejadian hari ini dengan Lonza, Aku sadar ketika aku bilang aku mencintaimu. Itu adalah jawaban dari hatiku yang paling dalam! Bukan lagi pura-pura belaka (batin Shiyun sambil menatap Sam sendu).
Shiyun pun ikut berdiri.
“Sam...Aku tahu bahwa kamu mengetahui perasaanku. Kamu pasti tahu bahwa sebelumnya aku berpura-pura menerimamu. Aku tahu kamu tidak suka akan hal itu. Kamu lebih suka menungguku daripada aku harus berpura-pura mencintaimu....Tapi Sam ketahuilah akhir-akhir ini perasaanku sangat bimbang...”
“Itu wajar Shi. Aku tidak marah padamu, aku akan tetap menunggumu!”
Tiba-tiba Shiyun berlari dan langsung memeluk Sam dari belakang. Pelukannya sangat erat. Sam terkejut buukan main mendapati pelukan dari Shiyun.
“Kali ini, setelah kejadian yang kuhadapi hari ini. Aku sadar.....ini dari lubuk hatiku yang paling dalam....Sam I Love You” uacapan Shiyun langsung membuat Sam bertambah terkejut.
“Shiyun...?”
“Kali ini aku jujur Sam. Kamu berhasil membuatku jatuh cinta. Kuharap kamu tidak meninggalkanku. Suka duka kita harus tetap bersama!”
Sam sangat bahagia. Dia pun langsung berbalik dan memeluk erat Shiyun.
“I Love You too, Shi. Sekarang aku yakin, bahwa kamu benar-benar mencintaiku!”
Mereka pun berpelukan dengan cukup lama dibawah sinar rembulan malam. Malam itu mereka berdua yakin dengan perasaanya maisng-masing.
_______