
Shiyun yang mendapati pertanyaan seperti itu dari Lonza masih tetap diam.
Tiba-tiba saja suara tepukan tangan terdengar. Lonza dan Shiyun langsung menoleh kesumber tepukan.
“Ryan Boyega?!” terkejut Lonza dan Shiyun.
“Cinta yang tidak ditakdirkan bersama? Apakah kalian tahu? Takdir itu menyakitkan! Hahaha.....Aku akan menyelesaikannya dari kalian!” teriak Ryan seperti devil.
“Ryan...Kenapa kamu disini?!” tanya Lonza menginterogasi.
Tiba-tiba saja handphone Lonza berdering. Tampak sekretaris pribadinya menelpon.
“Halo?”
“Ma...maaf Pak. Anda sebaiknya segera turun dari rooftoof. Kalau tidak salah Ryan Boyega membuat kekacauan dan menembaki setiap sudut ruangan dikator. Beberapa orang terluka parah, dan beberapa lagi tertembak. Sisanya sudah ada dijalur evakuasi!”
“A....Apa?!”
Seketika Lonza mematikan handphonennya dan mengetik kata kata yang ingin disampaikan dengan cepat.
Kak Elvis cepatlah datang dan bawa pasukan keamananmu. Ryan Boyega membuat kekacuan. Shiyun sedang bersamaku dirooftoop perusahaan Flores. Aku khawatir nyawanya terancam. Cepatlah!
Tiba-tiba handphone yang dipegang Lonza ditembak begitu saja. Lonza dan Shiyun terkejut bukan main.
“Lonza! Apa tanganmu terluka?” teriak Shiyun khawatir.
“Tidak! Shiyun tetap berada dibelakangku!”
Shiyun langsung bergidik ngeri melihat Ryan membawa pistol disaku celananya.
“Matilah kalian berdua!”
Lonza langsung menghindar bersama Shiyun.
Di rooftoop yang cukup luas itu, sedikit memudahkan Lonza dan Shiyun untuk menghindari peluru dari pistol Ryan.
“Ryan! Ada apa ini? kenapa kamu berusaha membunuhku dan Shiyun?!”
“Hahaha...Kalian pura-pura tidak tahu! Gara-gara keluarga kalian keluargaku hancur!” teriak Ryan keras seperti monster. Dia terus menembakan pelurunya kearah Shiyun dan Lonza..
“Ryan! Kamu gila ya! Dasar tidak waras! Hentikan tembakanmu!” teriak Shiyun.
Ryan tidak menggubris teriakkan Shiyun. Ia terus menembak hingga peluru terkahirnya mengenai tungkai Lonza.
“Lonza!” teriak Shiyun.
Shiyun segera mendekati Lonza.
“Shiyun, sebaiknya kamu segera turun. Dan masuklah kejalur evakuasi rahasi perusahaan!” bisik Lonza.
Shiyun yang mendengar itu langsung menggelengkan kepalanya. Shiyun pun merobek lengan bajunya untuk membalut luka Lonza.
“Kalian harus mati!” teriak Ryan sambil mengarahkan sebilah pisau.
Shiyun pun langsung menarik Lonza kerah lain. Tampak Lonza kembali berdiri meski kesulitan. Perlahan darah segar mengalir dari tungkainya.
“Kamu gila! Jelas-jelas bukan hanya keluarga Boyega! Keluarga Alister juga hancur seketika pada saat itu!” teriak Lonza lebih keras.
Ryan tidak memperdulikan lagi apa kata orang. Dia sudah terlanjur dikuasai akan dendam.
Sedangkan di perusahaan Shi Group.
“Apa! Cepat siapakan tiga helikopter untukku. Dan antarkan pasukan keamanan serta panggil pihak polisi untuk segera keperusahaan Flores!” perintah Elvis.
Elvis pun segera naik ke atap perusahaan Shi Group yang lebih luas dari Perusahaan Flores. Sebuah helikopter sudah siap dan sedang menunggunya.
“Elvis...apa yang terjadi?!” teriak Nagisa yang ternyata baru datang dan dikejutkan dengan tiga helikopter diatas perusahaan Shi Group.
“Nagisa.....! Kamu tetap disini. Cepat hubungi Sam! Aku akan menempatkan beberapa keamanan diperusahaan Shi!” balas Elvis yang kemudian langsung naik keatas helikopter.
Nagisa yang masih belum mengerti apa yang terjadi hanya bisa mengikuti instruksi dari Elvis.
(Kembali keperusahaan Flores).
Tampak tangan Shiyun tergores pisau.
“Shiyun....Tanganmu tidak terluka parah kan?” khawatir Lonza.
“Tidak. Lonza kita harus segera turun dari gedung ini!”
“Aku juga sedang memikirkan jalannya Shiyun”
Shiyun berhasil mendorong Ryan menjauh meskipun tanganya harus terluka.
“Sudah cukup main-mainnya! Aku akan membunuh semuanya dimulai darimu!” teriak Ryan menggila sambil mengarahkan pisaunya itu kearah Shiyun.
"Shiyun awas! " teriak Lonza sambil berlari menuju Shiyun.
Srak.... (pisau pun mendarat tepat di jantung Lonza)
"Lonza! akh.... hiks... Lonza... " teriak Shiyun histeris karena terkejut sambil menangis.
Tubuh Lonza pun bersimbah darah. Tak lama tubuhnya roboh dalam pelukan Shiyun.
"Hahaha.... walaupun kamu tidak duluan, sekarang giliran kamu SHIYUN ALISTER.....! " teriak Ryan sambil mengekuarkan sebilah pisau lagi dari saku jasnya.
"Shiyun lari! " perintah Lonza.
Shiyun menggeleng, dia tetap menangis sambil menggenggam erat tangan Lonza.
Baru saja Ryan mendekati Shiyun, tiba-tiba suara derap helikopter terdengar.
Mulutnya tiba-tiba memuntahkan darah.
"Ck... Awas saja Shiyun Alister aku akan membunuhmu lain kali! " ancam Ryan begitu menyeramkan.
Ryan pun langsung kabur dan berlari untuk keluar dari gedung perusahaan.
Shiyun sudah tidak peduli lagi dengan Ryan. Dia terus menangis.
"Lonza..... Kumohon bertahanlah... Akh...! aku sangat takut, Lonza.... " ucap Shiyun diiiringi tangisannya
Lonza pun tersenyum, dia menatap Shiyun. Tangannya mencari cari tangan Shiyun dan langsung menggenggamnya erat.
"Hei.... Gadis aneh jangan menangis! Jelek tau.... " ucap Lonza pelan dengan terbata bata.
"Tidak... Lonza.... Kamu bodoh! Kenapa melakukannya? Hah? Dasar bodoh! Kenapa kamu melindungiku?! " tanya Shiyun dengan tangisan yang semakin menjadi.
Elvis yang sudah turun dari helikopter sedari tadi hanya bisa menyaksikan dengan perasaan sangat prihatin.
Shiyun pun meredakan tangisannya. Ia kembali menatap pisau yang masih menusuk jantung Lonza.
Tangan Shiyun pun bergetar....
"Maukah kamu mencabut pisau itu dari tubuhku? " pinta Lonza sambil tersenggal-senggal.
Shiyun terkejut, tangannya bergetar. Lalu dia pun menganguk.
Perlahan Shiyun menarik pisau itu keluar. Begitu sulit, pisaunya sudah terlalu dalam.
Tenaga Shiyun mulai melemas. Shiyun tetap berusaha menarik pisau itu.
"Argh....! "
Lonza pun mengerang menahan sakit ketika pisau itu sudah berhasil ditarik.
Darah segar mengalir begitu banyak.
"Lonza..... Apakah sangat sakit?! " tanya Shiyun sambil mengeratkan genggaman tangan Lonza.
Lonza pun tersenyum dan menggeleng lemah.
"Tidak.... Aku bahagia karena kamu selamat. Shiyun... Maafkan aku, karena sudah mentakitimu. Maafkan aku karena sudah mengecewakan mu..... Jadilah wanita yang kuat! " ucap Lonza terbata bata. Nafasnya semakin tersenggal senggal.
"Lonza....! Aku sudah memaafkanmu. Jangan minta maaf terus! Kumohon bertahan.... Sebentar lagi ambulance datang! "
Lonza menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
"Sudahlah... Terimakasih karena kamu sudah hadir dalam hidupku. Terimakasih Shiyun.... Aku akan tetap mencintaimu" balas Lonza semakin terbata-bata, nafasnya semakin mencekit.
Hingga akhirnya matanya terpejam sempurna. Tangan yang digenggam Shiyun itu langsung terkulai lemas dan mengakhiri genggamannya dengan Shiyun.
Lonza sudah menghembuskan nafas terakhirnya.
"Lonza! " teriak Shiyun dengan tangisannya yang kembali pecah dan semakin kencang.
Shiyun memeluk erat tubuh Lonza yang sudah tidak bernyawa itu. Wajah Lonza tampak pucat.
Elvis sudah tidak kuat lagi mendengar adiknya menangis.
Elvis pun berjalan mendekati Shiyun.
"Sudahlah.... Lonza sudah pergi. Biarkan dia tertidur tenang disana. Jangan buat dia bersedih juga disana! " ucap Elvis pelan sambil mengambil alih tubuh Lonza yang bersimbah darah tidak bernyawa itu.
Kemudian tubuh Lonza pun dibawa dalam helikopter.
Elvis pun membantu Shiyun berdiri. Pandangan Shiyun tampak begitu kosong.
Elvis yang mengetahui betul bagaimana adiknya langsung memeluk erat Shiyun.
"Sudah.... Dia mengorbankan nyawanya untukmu. Dia benar-benar menyesal sudah melupakanmu. Sekarang jangan buat dia menyesal disana karena meninggalkanmu selamanya. "
Elvis pun segera membawa Shiyun untuk berbenah diri dan menghadiri pemakaman Lonza.
Tampak banyak orang dipemakaman Lonza. Cherry juga menangis dan frustasi.
Ayah Lonza, Andrew Flores meninggal setahun lalu. Ayahnya juga tampak selalu sedih jika mengingat ibu Lonza, Merry Flores yang meninggal ketika usia Lonza 14 tahun.
Sebenarnya Lonza merupakan sosok yang sangat kuat dibalik kerapuhannya.
Cukup lama dipemakaman, tinggalah Shiyun sendiri.
Tampak Elvis pergi mengurus kekacauan diperusahaan Flores. Kali ini perusahaan Flores tidak memiliki pewaris.
Sam belum menampakkan dirinya? Sebenarnya dia sudah ada bersama Elvis di helikopter yang membawa Lonza pergi.
Namun, ia merasa tidak berguna dan memilih diam.
"Lonza.... Aku sudah memaafkanmu. Beristirahatlah dengan tenang disana. Lonza... Kamu sempat bertanya apakah jika kamu tidak melupakanku, apa aku akan tetap bersamamu? Jawabannya adalah iya. Kamu juga bertanya jika kamu melupakanku tetapi kamu tetap menghargaiku dan tidak merendahkanku saat itu apakah aku akan tetap menunggu mu dan bersedia menikah denganmu? Jawabannya sama Lonza... Iya aku BERSEDIA menunggumu dan menjadi pasangan hidupku. Namun, sekarang takdirnya berbeda. Kuharap kamu tenang disana. Terimakasih karena telah hadir dalam hidupku dan melindungiku. Kamu akan tetap berada dihatiku.... Sebagai keluargaku" ucap Shiyun didepan makam Lonza.
Tampak buliran air mata mengalir membasahi kedua pipi Shiyun.
Shiyun pun tersenyum dan melangkah meninggalkan makam Lonza.
Sam pun keluar dari persembunyiannya. Dia mendengarkan semua perkataan Shiyun. Sam pun mendekati makam Lonza.
"Terimakasih Lonza, karena kamu sudah melindunginya.... Semoga kamu bahagia disana. Kali ini aku mengerti perasaan terdalam Shiyun! " ucap Sam pelan.
_______