
Keesokan harinya Shiyun terbangun dari tidurnya. Tampak cahaya matahari pagi masuk kedalam kamarnya dan menyambutnya dengan hangat.
Tiba-tiba pintu kamar Shiyun langsung terbuka.
“Ka...kamu! Kenapa tidak ketuk pintu dulu sebelum masuk kamar orang?” tanya Shiyun kesal.
Sam langsung terdiam. Lalu dia menatap Shiyun tajam dan mengerutkan dahinya. Melihat tatapan mengeinterogasinya membuat Shiyun bergidik ketakutan.
Lalu Sam tiba-tiba menutup kembali pintu kamar Shiyun. Shiyun dibuat heran karenanya.
Tok...Tok...tok (ketukan pintu kamar Shiyun).
“Bolehkah aku masuk.....?” tanya Sam.
Dia kenapa hari ini? Salah minum obatkah? Rasanya bukan kulkas berjalan yang biasa kutemui. Yang ini sepertinya kulkas berjalan yang idiot. Mana ada sudah masuk tanpa izin lalu mengulanginya lagi. Memangnya dia anak kecil (umpat Shiyun).
“Tidak boleh!” tolak Shiyun mentah-mentah.
“Kalau begitu cepatlah mandi, kutunggu kamu diruang tengah. Aku sudah buatkan sarapan!” balas Sam sedikit kesal.
Hah si kulkas berjalan ini bisa membuat sarapan ? I can’t believe it! (batin Shiyun tidak percaya).
Setelah selesai mandi, Shiyun pun keluar dari kamarnya. Shiyun tampak cantik dan elegan dengan pakaian kasualnya.
Mendengar langkah kaki, sam langsung menoleh kearah Shiyun. Sam pun mngerutkan keningnya, pertanda heran.
“Hei kamu ada acara ya?” tanya Sam datar.
“Iya. Acara untuk mengusirmu dari apartemenku!” ketus Shiyun.
Sam yang mendengar hal itu sedikit terkejut, namun dia langsung terkekeh kecil.
“Kenapa ketawa? Ada yang lucu? Jika kamu sudah selesai keluarlah!” celetuk Shiyun kesal.
Sam mengeryitkan keningnya. Dia berpikir kenapa Shiyun begitu ketus padanya. Apa karena kesan pertemuan pertama yang tidak menyenangkan? Sam memikirkan segala hal yang berkaitan dengan Shiyun.
“Tidak!” jawab Sam yang tidak kalah jutek.
“Kamu! Sudah main masuk apartemen orang. Tidur diapartemen orang tanpa izin. Lalu kemarin memelukku tiba-tiba ditengah malam. Sungguh kejadian mengerikan. ”
“Mengerikan?” ulang Sam bertanya.
“Iya...Tentu saja. Kamu memelukku tiba-tiba dengan sangat erat, bahkan untuk bernafas saja sulit bagiku. Tapi sepertinya kemarin kamu salah minum obat ya? Ckk....Lain kali minumlah obat sesuai resep dokter!”
“Hmm...Jadi kamu anggap kemarin aku tidak sadarkan diri?”
“Iya....Sudahlah sekarang kamu keluar dari sisni!” teriak Shiyun.
“Mana mungkin! Aku sudah membantumu, dan sekarang mengusirku?” bantah Sam tidak terima dirinya diusir begitu saja.
“Ayolah....Hari ini hari libur. Aku tidak perlu jadi sekretarismu juga kan jika dihari libur. ”
“Ini tidak ada hubungannya! Apa kamu mau dipecat?” ancam Sam.
“Pecat saja. Aku akan bayar dendanya. Sekarang kamu keluar. Keluar dari sini. ”
Sam yang sudah bersusah payah dari kemarin. Membantu Shiyun, dan tangannya juga terkena luka bakar ketika membuat sarapan untuk Shiyun, sekarang diusir begitu saja.
Sam tidak terima. Dia langsung menggenakan jaketnya. Shiyun sempat berpikir bahwa Sam benar-benar akan pergi, tetapi apa yang terjadi? Dia malah menarik paksa tangan Shiyun.
“Aku sudah memberimu waktu untuk sarapan! Tapi kau menyia-nyiakannya. Sekarang kamu ikut denganku pergi keluar negeri!”
Shiyun terkejut dan sempat menolak, tapi Sam terus memaksa. Dalam perjalanan Shiyun hanya diam tak bersuara. Dia begitu marah pada Sam.
“Hei kamu belum makan dari tadi, ini aku ada roti. Makanlah” ujar Sam dengan nada lembut kali ini.
Shiyun tetap tidak menjawab. Dia hanya menyingkirkan tangan Sam yang sedang menyodorkan roti padanya.
Sam hampir tidak bisa menahan amarahnya. Tetapi dia langsung mengerti.
“Baiklah jika sekarang belum lapar. Nanti jika kamu lapar mintalah makanan padaku” ujar Sam sambil mengelus kepala Shiyun.
Shiyun benar-benar merasa terkejut. Tetapi dia masih tetap tidak perduli dengan Sam.
Setelah lama diperjalanan. Akhirnya mereka sampai.
Noowa...? (batin Shiyun).
Noowa merupakan negara tempat kelahiran Shiyun. Tempat dimana ia tumbuh bersama keluarganya. Namun, tempat itu juga yang membuat kenangan pahit dalam hidupnya.
“Kenapa kenegara ini?” tanya Shiyun sambil melihat negara asalnya itu yang sudah berubah menjadi lebih modern dan tertata.
Shiyun hanya diam. Dia juga masih terjun dalam memori masa lalunya. Tiba-tiba saja air mata Shiyun jatuh. Sam yang melihat itu, langsung merasa kesihan.
Pasti dia sedang mengenang masa lalunya...Ingin sekali kupeluk dia dan menghiburnya. Tidak perduli kau suka padaku atau tidak, tapi aku akan tetap menjagamu, Shi..... (batin Sam).
Lalu Sam mendekati Shiyun dan kali ini merangkul Shiyun dengan tangan sebelah kananya.
“Ayo jalan. Aku tahu kamu terpukau dengan keindahan kota ini...Sudahlah jangan terlalu takjub....” ucap Sam ringan.
“Takjub? Bukan aku!” balas Shiyun ketus.
Shiyun yang terus menikmati keindahan kota sambil mengenang masa lalunya tidak perduli lagi dengan Sam yang membawanya bertemu keluraga Sam.
Tiba tiba Sam mengarah kearah pemakaman.
“Lho....Kok kesini? Bukannya kamu bilang mau mengunjungi keluargamu?” tanya Shiyun heran.
Sam hanya diam dan terus memegangan tangan Shiyun sambil berjalan.
“Sudah sampai....Mereka keluargaku....” ujar Sam sambil mengelus batu nisan makam kedua orang tuanya.
Shiyun tampak sangat terkejut. Dia tidak tahu kalau keluarga Sam sudah tiada.
Lalu Sam pun berdoa untuk orang tuanya. Shiyun juga ikut mendoakan kedua orang tua Sam.
Setelah selesai berdoa, Sam menoleh pada Shiyun dengan senyuman tulusnya yang baru ia perlihatkan pada Shiyun. Shiyun sempat terkejut.
“Ayah, Ibu, perkenalkan dia adalah kekasihku, Shiyun Alister. Aku sangat mencintainya, dan aku akan menjaga orang yang kusayangi.....” ujar Sam blak-blakan membuat Shiyun langsung terkejut.
“A....apa! Siapa juga yang mau jadi kekasihmu. Lalu dari mana kamu bisa bilang aku bermarga Alister?”
Sam hanya tersenyum kecil. Dia menarik tangan Shiyun lagi. Lalu pamit kepada ayah dan ibunya yang sudah pergi mendahuluinya.
“Kamu mau narik aku kemana lagi.....? Jawab dulu pertanyaanku tadi” kesal Shiyun.
“Ketempat terindah dikota ini.....” ujar Sam datar.
“Tempat indah.....? Masa ada kulkas berjalan kaya kamu tahu tempat indah?” ejek Shiyun yang mebuat Sam mentapnya tajam.
Setelah mereka sampai ditaman dengan hamparan rumput hijau yang tidak berubah dari dulu.
Shiyun terkejut. Dia kembali mengingat masa lalu. Dimana dia bertemu dengan seorang anak laki-laki yang sedang menangis dibalik pohon besar dibagian atas taman ini.
Saat itu dia adalah teman pertamaku. Tapi....aku meninggalkannya tanpa salam perpisahan. Aku tidak tahu bagaimana dia sekarang. Bahkan aku belum sempat mengetahui namanya. Tapi, jujur aku sangat ingin mengenal lelaki itu..... karena dia juga sempat memberiku kehangatan sehari setelah keluargaku meninggal....(batin Shiyun yang sedang tenggelam dalam dimensi masa lalunya.
“Shiyun....? Shiyun....? Shiyun Alister!” panggil Sam yang mulai kesal.
“Eh...maaf ada apa?” tanya Shiyun gelagapan dari lamunannya.
“Ayo temani aku duduk dibawah pohon besar itu.....” pinta sam sambil menunjuk kearah pohon besar nan rindang tersebut.
Shiyun hanya menganguk pertanda iya.
“Hah...udara disini memang nyaman....” ujar Sam ketika sampai dibawah pohon rindang itu.
Lalu Sam pun membuka jaketnya. Dia memakai baju kaos lengan panjang yang kemudia dia gulung hingga ke siku.
Akan tetapi Shiyun terkejut ketika melihat pergelangan tangan Sam terluka.
“Sam...! tanganmu terluka, kenapa tidak bilang?”
“Huh....? ini hanya luka kecil, tidak masalah untuku....” balas Sam datar.
“Luka kecil?....Itu luka bakar....Apa tadi kamu terluka saat membuatkanku sarapan?”
“Sudahlah Shiyun.....” malas Sam.
“Cepat ulurkan tanganmu! Jika tidak aku akan berhenti bekerja tanpa membayar dendanya!”
Sam hanya tersenyum kecil. Tapi dia tetap menggeleng pertanda tidak mau.
“Shiyun.....Terimakasih waktu itu sudah menenangkanku dan mengobati lukaku. Ini aku kembalikan padamu pita milikmu.....” ujar Sam sambil mengeluarkan benda tersebut.
Tiba-tiba mata Shiyun langsung terkejut tidak percaya.
“Ka....kamu! Kamu adalah anak laki-laki yang nangis terus waktu itu?”
_______