
Dalam alam bawah sadar Lonza
"Lonza...!" panggil Shiyun.
"Shiyun....kamu kenapa?" tanya Lonza khawatir.
"Kamu kan mau operasi, setelah operasi kamu bisa tahu warna dunia ini..." ujar Shiyun dengan nada senang.
"Iya....Tapi yang paling ingin kulihat adalah wajah kamu. Wajah Shiyun yang selama ini selalu ada untukku walaupun aku sosok yang buta, kamu tetap setia menemaniku!"
"Jangan bilang gitu. Lonza cepatlah sembuh, aku akan menunggumu....."
"Iya. Aku aka segera kembali dan akan ada selamanya disisimu untuk menjagamu.....Tunggulah aku Shiyun...."
"Iya, pasti Lonza!"
"Shiyun aku akan selalu bersamamu!".
Melompat pada ingatan lainnya.
"Aku juga sudah lelah, selama empat tahun ini aku menunggumu, dan berusaha membuatmu ingat padaku. Jangan salahkan aku jika suatu saat nanti kamu mengingatnya"
"Aku benci padamu Shiyun.....!"
Kembali pada kenyataan.
Tiba-tiba Lonza langsung membuka matanya. Nafasnya memburu tidak teratur.
Diruangan itu dia sedang sendiri. Ya, kamarnya dengan Cherry.
Shiyun... Kenapa? Kenapa baru sekarang aku mengingatmu? Shiyun.....aku sudah ingat semuanya....Maafkan aku. Kumohon tunggulah sebentar lagi, aku akan ada bersamamu lagi. (batin Lonza dengan muka yang tampak pucat).
Dirumah Sam Li Hanyu.
Tampak Shiyun sudah tertidur pulas dikamar Sam. Sam menyelimuti Shiyun dengan hati-hati. Tampak seulas senyum terukir diwajah Sam.
"Shiyun aku akan tetap menjagamu.....Selamat malam, selamat bermimpi Shi..." ucap Sam pelan namun cukup dekat dengan Shiyun.
Tiba-tiba saja Sam mencium kening Shiyun pelan. Lalu dia pun beranjak pergi dan mematikan lampu kamarnya agar Shiyun bisa tidur nyenyak.
Oh tidak! Ternyata Shiyun belum tertidur. Shiyun langsung membuka matanya lagi.
Sam...haruskah aku benar-benar memilihmu? Apakah kamu benar-benar akan menjagaku? Mungkin ini sudah saatnya melupakan Lonza. Sam aku akan menerimamu perlahan. Kuharap kamu tidak keberatan, karena aku masih belum bisa mencintaimu....(batin Shiyun).
Keesokan harinya. Tampak Shiyun sedang memasak didapur. Ketika Sam keluar dari kamarnya, betapa terkejutnya dia saat melihat Shiyun sedang memainkan spatula dengan mahirnya diatas wajan.
"Shiyun...." panggil Sam sambil berjalan mendekat.
"Eh, kamu udah bangun. Aku baru selesai masak, sebagian makanan udah ada diatas meja makan. Kamu kesana duluan. Aku mau beresin dapur".
"Kamu butuh batuan ngga? Kalau ada, mungkin aku bisa bantu" tawar Sam.
"Nggak ada....!" jawab Shiyun.
Lalu Shiyun pun tidak memperdulikan Sam. Sam pun memilih untuk menunggu Shiyun dimeja makan.
Aku hanya berharap bahwa ini akan terus berlanjut. Hanya bisa berharap bahwa kamu akan jadi pasangan hidupku. Shiyun aku akan membuatmu membalas perasaanku selama ini! Percayalah, aku bisa melakukan apa yang ku mau (batin Sam penuh harap).
Ketika Sam sedang melihat Shiyun, tiba-tiba keempat mata mereka berdua bertemu.
"Kamu ngapain terus-terusan liat aku? Mau kutinju kedua matamu!" celetuk Shiyun kesal.
"Sorry, sudahlah. Aku Cuma berharap setiap pagi ada yang buatkan aku sarapan. Aku hanya berharap kamu menjadi pasangan hidupku....Shiyun....Ups! Bukan berharap, tetapi pasti akan terjadi. "
Oh Shit....Jelas-jelas ini masih pagi. Aku sudah salah bicara.....Pasti Shiyun akan terluka lagi. Tapi jika kau benar-benar mencintainya, maka aku harus mengejarnya. Sudahlah ucapkan saja semuanya kepada Shiyun, jika dia memang akan menolak, dan membenciku, maka aku tidak akan memaksakannya dulu, setidaknya untuk saat ini (batin Sam seirus).
"Shiyun....aku tahu kalau aku salah. Tapi ini isi hatiku. Aku hanya beharap kamu bisa terus bersamaku, menjadi pasangan hidupku, selamanya. Aku tahu aku tidak seperti Lonza. Tapi aku berharap kamu memberikan sedikit ruang untukku. Tapi aku tidak memaksakannya. Kamu boleh menolak pernyataan cintaku, tapi kumohon jangan tolak orang-orang ku untuk menjagamu. Meskipun aku tidak bisa bersamamu.....Shiyun.....I Love You So Much!" ucap Sam penuh arti.
Kali ini ambisi dan cinta bersatu dalam diri Sam. Rasa ingin memiliki dan melindungi Shiyun sepenuhnya.
Shiyun benar-benar tidak bisa berkutik, dia sangat terkejut bukan main.
Apakah Sam benar-benar baru menyatakan perasaannya dengan sangat tulus. Haruskah aku menerimamu Sam? Kurasa ya, ini saatnya membuka hatiku untuk yang lain dan melupakan Lonza.(batin Shiyun).
"Sam....maafkan aku"
Mendengar kata maaf dari mulut Shiyun, bagi Sam itu berarti Shiyun sudah menolaknya.
"Maafkan akau karena belum bisa mencintaimu. Tapi aku akan tetap memberikanmu ruang dihatiku untukmu. Kuharap aku tidak salah menerimamu, Sam" balas Shiyun dengan nada perlahan, memang tampak sedikit ragu. Tetapi, wajahnya berharap Sam tidak mengecewakannya.
Sam terkejut bukan main ketika mendengar balasan dari Shiyun.
"Shiyun....Kamu benar-benar menerimaku?"
"Iya, buatlah aku mencintaimu Sam! " mantap Shiyun.
"Pasti. Aku akan berusaha!" jawab Sam bertekad.
"Jangan tinggalkan aku seprti Lonza. Teruslah ingat aku."
"Tentu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, apalagi melupakanmu, karena aku mencintaimu. Aku akan menjagamu walaupun nyawa harus kukorbankan untukmu. Pasti! "
"Jangan.....Ketika orang yang kita cintai meninggalkan kita, apalagi mati karena kita. Maka rasanya akan lebih sakit. Aku hanya ingin orang yang nanti menjadi pasangan hidupku, tidak akan pergi meninggalkanku...."
"Aku akan buktikan padamu Shiyun. Bukti! Bukan janji belaka!"
Lalu Sam pun memeluk Shiyun dengan erat. Shiyun sempat terkejut.
"Aku akan menjagamu Shiyun....I Love You.....Forever...." gumam Sam sambil menambah erat pelukannya. Dia merasa hari ini menjadi seorang pria yang paling bahagia didunia.
Shiyun yang mendengar gumaman Sam, dengan yakin membalas pelukan Sam. Sam sangat bahagia, karena akhirnya dia bisa bersama dengan Shiyun.
"I always beside you, Shi. Forever, we must together....I can show that to you.....I Love You....Thanks, because you give me occasion for love you."
"You're welcome. I hope, i can begin to love you Sam...." balas Shiyun.
Sekarang Shiyun percaya bahwa Sam adalah pilihannya yang tepat. Walaupun belum sepenuhnya Shiyun melupakan Lonza. Tapi dia yakin untuk memulai hari hari tang baru dalam hidupnya, bersama pria yang begitu mencintainya, Sam Li Hanyu.
_______