
Di Negara Saitama, kediaman Relvis Geraldo.
"El...apa ada masalah? Semenjak Sam datang, kau tampak sedikit tertekan. Katakan saja padaku El! Jangan sembunyikan masalahmu seorang diri!" ujar Nagisa ketika melihat Relvis, tunangannya itu melamun terus.
"Sa, aku juga tidak ingin menyembunyikan apapun darimu. Tapi saat ini belum tepat. Aku masih berusaha mencerna masalahnya. Aku janji sebelum kita menikah masalah ini sudah selesai!" balas Relvis sambil memegang tangan Nagisa untuk menghilangkan kekhawatirannya.
"Hah...Baiklah. Aku tidur duluan. Kamu juga cepatlah tidur ya. Good Night....El."
"Good Night too, Sa. Hope you have a nice dream" balas Relvis.
Relvis kembali memandangi photo di handphonennya. Seorang perempuan yang selama ini dia cari.
Ku harap kamu baik-baik saja. Aku akan segera menemukanmu....Kakak janji.... (batin Relvis hingga akhirnya dia juga ikut tertidur.
Keesokan harinya. Tampak Nagisa sedang duduk memegang handphone Relvis. Wajahnya tampak kesal, sedih, bercampur aduk semua rasa dipagi hari itu.
"Hoam....Hei, Nagisa. Kenapa kamu bangun sepagi ini?" tanya Relvis bingung. Biasanya dihari libur Nagisa selalu bangun agak siang.
"Tadi handphonemu berbunyi terus karena ada panggilan. Aku mengangkatnya, itu dari sekretaris Sam, Li Shiyun. Sam ingin kamu pergi ke Los Nevera untuk mengunjunginya sekaligus membahas kerja samanya lebih jauh."
"Ah, tentu. Kita akan kesana secepat mungkin. Aku akan mengatur jadwalku dari sekarang agar kita bisa berlibur disana"
"Hm. Aku kebawah dulu buat siapin sarapan pagi" balas Nagisa datar tanpa ekspresi.
Nagisa pun meletakkan handphone Relvis diatas meja dan segera turun kebawah.
"Nagisa....! Apakah ada sesuatu?" teriak Relvis, namun tak digubris oleh Nagisa yang sudah keluar dari kamar.
Ada yang salah dengannya! (batin Relvis serius).
Relvis pun curiga dengan handphonenya, segera dia turun dari kasur dan meraih handphonenya. Ketika terbuka, Relvis sangat terkejut photo Shiyun terpampang jelas. Relvis lupa tidak mengembalikan dari galeri ke page home karena ketiduran semalam.
Jangan-jangan dia salah paham bahwa aku jatuh cinta pada perempuan yang adikku sendiri. Aku harus segera memberitahukan kebenarannya! (batin Relvis serius).
Relvis pun segera turun kebawah menyusul Nagisa. Ketika dibawah tampak Nagisa sedang duduk disofa sambil menatap keluar.
"Hei....Nagisa...Kamu sedang apa?"
"Duduk...." singkat, datar, jelas.
"Kamu jangan salah paham dulu, Sa"
"Untuk?"
"Photo Shiyun."
"Kamu juga mencintainya?"
"Hah...mana mungkin aku jatuh cinta pada adik sendiri!"
Nagisa langsung terbelalak kaget. Dia akhirnya menatap lawan bicaranya, Relvis dengan tatapan serius.
"Maksudmu?"
"Ini masalahnya, Sa. Dia adikku yang selama ini aku cari. Aku sempat memberitahu kamu bahwa aku juga sedang mencari adikku!"
"Shi...Shiyun adikmu?"
"Iya....Ini photo masa kecilnya" balas Relvis sambil mengulurkan selembar photo. Tampak Shiyun kecil yang masih berambut pendek dan Relvis yang saat itu baru berumur 10 tahun.
"Ini rahasia terbesar dalam hidupku, Sa. Aku akan memberitahukan semuanya padamu!"
"...." Nagisa diam dan hanya menganguk.
"Aku bukanlah Relvis Geraldo. Tapi aku adalah Elvis Alister. Anak pertama keluarga Alister. Mungkin hanya segelintir orang yang kenal marga ini. Aku tidak perduli walaupun marga ini sudah tidak dikenal."
"A...apa Alister?!"
"Iya. Adikku juga pasti berpikiran hal yang sama. Dia pun mengubah nama marganya, menjadi Li."
"Tapi kenapa?"
"Keluarga kami dibantai habis melalui rencana kebakaran gedung perusahaan Alister. Saat itu Shiyun sedang sakit, jadi tidak ikut ke perusahaan. Singkat saja, semua langsung terjadi tiba-tiba. Ledakan besar melahap gedung perusahaan ayahku, Harry Alister. Ibuku, Mitsuha Alister yang tidak bisa meninggalkan ayah terpaksa masuk kedalam kobaran api. Aku tidak ingin kehilangan mereka berdua, tapi aku juga takut nasib adikku. Hingga akhirnya aku memilih diam dan ledakan itu membuatku terpental dan mengalami luka bakar serius...."
Nagisa yang mendengar itu, mulai merasakan bagaimana keadaan tunangannya itu.
"Aku tidak tahu kelanjutannya. Semenjak itu aku terpisah. Aku hidup sendiri. Awalnya sulit, tapi tekadku untuk menemukan Shiyun membuatku terus berjuang hingga aku bisa seperti ini dan bertemu denganmu, cinta pertamaku." jelas Elvis sambil tersenyum hangat pada Nagisa.
"El...vis" panggil Nagisa ragu akan nama Elvis yang sebenarnya.
"Aku mencintaimu Nagisa. Tapi Shiyun adalah adikku. Aku yakin Sam pasti akan segera tahu identitas asli Shiyun. Daripada dia yang mengetahuinya sendiri, lebih baik kita segera memberitahunya....!"
"Iya...Pasti. Maafkan aku, karena salah paham padamu."
"Sudahlah, aku mengerti perasaanmu tadi. Tadi muka kamu kaya monster lho...."
"Apa katamu? Aku kaya monster?! Baiklah, aku tidak akan berbicara lagi dengan mu, karena aku adalah monster!"
"Eh...ayolah aku hanya bercanda honey."
"Hmmph...Pagi ini kamu sudah merusak mood ku tau!"
"Hm... Ok kalau gitu."
Di kota Los Nevera...
"Shiyun...." panggil Sam.
"Hm."
"Kamu kenapa?"
"Sam hari ini pulangnya jangan terlalu malam ya. Aku kayanya kelelahan lagi, kemarin baru sembuh, sekarang kepalaku pusing lagi...haih...."
"Hah....baiklah. Nanti pulang kita kedokter dulu."
"Ngga usah repot-repot kedokter!"
"Ngga, periksa aja. Ok? Aku takut kamu ada penyakit serius, terus ninggalin aku" gombal Sam.
"Sam....aku serius!"
"Aku duarius...." balas Sam meledek.
"Hmmph...." Shiyun pun mulai kesal.
"Eh... Hahaha.... Sorry. Aku tau kamu pasti pusing banget. Kalau gitu aku beresin kerjaanku dulu, baru kita langsung kedokter"
"Baiklah...." pasrah Shiyun.
Tak lama Sam pun selesai dengan tugasnya. Lalu ia segera membawa Shiyun kedokter untuk memeriksa kesehatan Shiyun yang sedang menurun.
Setelah cukup lama dalam perjalanan, mereka pun sampai. Sam pun langsung mengangkat Shiyun.
"Kyaa! Sam!" terkejut Shiyun.
"Apa?" datar Sam.
"Ngga usah digendong juga kan. Aku masih bisa jalan!"
"Oh. Yaudah aku turunin kamu kalau udah diruangan dokternya"
"Sama aja kalau kaya gitu. Udah buruan turunin!"
"Iya...iya" balas Sam sambil menurunkan Shiyun perlahan.
Lalu Sam pun mengulurkan salah satu tangannya. Shiyun yang melihat itu hanya membalas dengan mengerutkan alis tanda bingung.
"Ayo....Takut kamu pusing tiba-tiba, jadi aku pegang tangan kamu."
Shiyun yang terkejut dengan sosok Sam hanya bisa diam.
"Udah ayo!" ulang Sam yang memutuskan meraih tangan Shiyun. Shiyun pun masuk kedalam ruangan dokter, sedangkan Sam masih menunggunya diluar. Tidak lama Shiyun pun keluar.
"Udah?"
"Iya"
"Kamu tunggu aku dulu disini, aku urus obatnya sambil mau ngomong sedikit sama dokternya" balas Sam.
Shiyun hanya menganguk. Dia benar-benar merasa lelah dan lemas tidak punya tenaga. Ketika Shiyun sedang asyik menunggu Sam, tiba-tiba dia terkejut dengan satu panggilan.
"Shiyun...!"
Shiyun pun menoleh kearah suara.
"Lonza?....Kamu lagi apa disini?"
"Oh, aku lagi check up. Biasa... kontrol keadaan kepala kepala ini" jawab Lonza dihiasi senyum.
"Oh....Kamu masih sakit ya?"
"Ngga juga sih. Cuma pusing aja dikit" balas Lonza yang lagi-lagi dihiasi senyumannya.
"Kalau gitu cepat sembuh ya."
"Thanks. Kamu lagi apa disini?"
"Aku habis berobat, sekarang lagi tunggu Sam. Dia lagi ngambil obatnya"
Lonza yang mendengar Shiyun sedang menunggu Sam, merasa benar-benar kesal. Seharusnya ia yang bersama dengan Shiyun.
Tidak lama Shiyun pun melihat Sam sudah selesai. Shiyun langsung beranjak dari duduknya.
"Lonza aku duluan ya. Bye....."
"Hm...Bye....Shiyun..." balas Lonza kecewa.
Sam...kamu awas saja! Beraninya mengambil Shiyun dariku. Aku akan merebut kembali darimu, meskipun harus menggunakan berbagai cara....! (batin Lonza menyeringai).
_________