
Saat jam istirahat, Hanun langsung mencari Hafidz ke kelasnya. Namun, Hafidz sama sekali tidak berada di dalam kelasnya. Yang ada Hanun malah harus bertemu lagi dengan Rian; mantan kekasihnya yang sudah 3 bulan putus.
“Mau apa lagi, sih?” kata Hanun sambil melipat kedua tangannya dan memalingkan wajahnya.
“Kurangnya aku apa sih, Nun? Sampai kamu tolak aku?” katanya membuka suara.
“Kurang waras iya,” jawab Hanun kemudian pergi.
Namun, Rian tidak tinggal diam begitu saja. Ia menarik tangan Hanun secara paksa dan juga kasar, hingga membuat beberapa orang yang melihat ke arah mereka berdua dengan ekspresi wajah yang terlihat bingung.
“Lepasin tangan aku, Ian. Sakit!” rengeknya kesakitan dan berusaha melepaskan tangan Rian dari pergelangan tangannya.
“Terima aku dulu, baru aku lepasin!” paksanya.
“Yang namanya sayang nggak harus kaya gini caranya! Kamu tuh udah nyakitin aku. Lepasin tangan aku, Ian!”
“Kamu harus jadi pacarku dulu, baru aku lepasin kamu. Kalau kamu tolak aku terus, aku nggak akan lepasin kamu!”
Hanun berusaha untuk melepaskan tangan Rian yang terus menarik tangan Hanun dengan kasar, sampai orang-orang yang melihatnya merasa kasihan dengan Hanun. Namun, Rama tiba-tiba saja datang dan membantu Hanun untuk melepaskan tangan Rian dari pergelangan tangannya.
“Ian, lepasin tangan Hanun!” seru Rama yang langsung menepis tangan Rian dari pergelangan tangan Hanun.
“Elo jangan ikut campur!"
“Ini sekolah, Ian. Elo jangan kasar sama cewe,” kata Rama membalas.
“Elo itu temen gue, kenapa lo malah belain dia?” teriak Rian emosi.
Rama menarik tangan Hanun dan mengarahkannya untuk berdiri di belakang tubuhnya.
"Dia itu cewe. Walau lo temen gue, tapi lo nggak bisa perlakukan Hanun seperti ini.”
“Elo suka sama Hanun?” teriak Rian penuh emosi hingga membuat orang-orang langsung mengerubuni mereka bertiga. “Kalau lo suka sama Hanun, bilang sama gue!"
“Gue nggak suka sama Hanun. Gue cuma ngebela orang yang butuh dibela.”
“Alasan lo, brengsek!” teriak Rian yang langsung menghajar wajah Rama hingga ia tersungkur.
“Rama!” teriak Hanun yang langsung menghampirinya.
“Anjing lo! Kampungan!” teriak Rian kembali kemudian pergi sambil memberikan jari tengahnya kepada Rama dan juga Hanun.
“Ram, kamu nggak apa-apa?” tanya Hanun yang terlihat cemas.
“Muka kamu bengkak, Ram. Harus sering dikompres dan diobati biar gak infeksi lukanya.”
“Elo nggak apa-apa, Nun?” tanya Rama memotong pembicaraan Hanun.
“Aku nggak apa-apa. Tapi, kamu yang kenapa-kenapa. Maaf yah, gara-gara aku kamu kena pukul Rian.” Hanun menundukkan kepalanya.
Rama hanya tersenyum dan kembali meringis begitu Hanun mengobati lukanya.
“Makasih ya, Ram. Makasih untuk hari ini.”
“Makasih juga udah ngobatin luka gue.”
"Jangan terluka karena aku, Ram. Aku tidak ingin kamu terluka."
"Gue nggak apa-apa, Nun. Rian tadi yang kelewatan, gue memang harus memberinya pelajaran."
Hanun menatap wajah Rama dan kembali mengobati lukanya.
"Yang penting elo baik-baik saja, itu sudah lebih dari cukup untuk gue, Nun."
Hanun dan Rama saling beradu pandang cukup lama. Mereka berdua pun saling melempar senyum. Begitu selesai mengobati luka Rama, Hanun kembali untuk mencari Hafidz. Saat perjalanannya menuju kantin, akhirnya Hanun berhasil menemukan Hafidz yang sedang jalan bersama dengan Sarah.
“Hay, Anun,” katanya sambil tersenyum.
Hanun terdiam. Ia menghampiri Hafidz dengan ekspresi wajah yang terlihat dingin. Hafidz yang melihatnya begitu bingung dengan perubahan sikap Hanun secara mendadak.
“Aku tadi cari kamu ke kelas.”
“Kamu cari aku? Ada apa? Oh iya, kenalin ini Sarah. Rah, kenalin ini Hanun. Calon pacar gue,” bisik Hafidz yang langsung membuat Sarah memukul kecil dada Hafidz.
“Sarap lo, kampret! Hay, gue Sarah,” katanya memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya.
“Aku Hanun,” jawab Hanun sambil membalas uluran tangan Sarah. “Boleh, aku pinjam Hafidznya sebentar? Ada yang mau aku bicarakan sama dia.”
“Oh, boleh. Fidz?”
Hafidz mengangguk hingga membuat Sarah langsung pergi setelah berpamitan dan tersenyum tipis kepada Hanun.
Rian; Mantan kekasih Hanun dan teman Rama