
Setelah hampir 1 jam setengah di perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di depan rumah Hanun yang berada di daerah Batununggal. Hanun langsung turun dari motor dan memberikan helm yang ia pakai kepada Hafidz.
“Mampir dulu, Fidz?”
“Boleh, sekalian pamitan sama orang tua lo.”
Hafidz langsung membuka helmnya dan memparkirkan motornya. Setelah itu, ia mengikuti Hanun dari belakang untuk segera masuk ke dalam rumah.
“Assalamualaikum.”
Begitu membuka pintu, Hanun langsung di sambut mamahnya yang baru saja selesai memasak.
“Waalaikumsalam. Darimana kamu, Le? Jam segini baru pulang?”
“Habis keluar main sama temen. Ale bawa temen, Mah.”
“Assalamualaikum, Tante.” Hafidz langsung masuk ke dalam dan mencium telapak tangan ibunya Hanun.
“Waalaikumsalam. Ini siapa?” tanya ibunya Hanun bingung.
“Saya Hafidz. Teman satu sekolah Hanun. Maaf, anak tante jadi kemalaman pulangnya. Tadi, saya ajak main ke Stone Garden. Terus, di jalan tadi macet, jadi sampai rumahnya telat. Maaf ya, Tante.”
Hanun begitu kagum kepada Hafidz. Selama ini, tidak pernah ada laki-laki yang se gentle dan se sopan seperti Hafidz ketika dibawa ke rumahnya. Bahkan, wajah Hafidz yang biasanya terlihat seperti pelawak, berubah seketika menjadi Hafidz yang sopan santun kepada orang yang lebih tua.
“Oh, begitu. Lain kali, kalau ajak main jangan hari sekolah, yah? Hari libur aja biar gak kemalaman pulangnya,” nasehat sang ibu.
Hafidz mengangguk dan menundukkan kepalanya.
“Kalau begitu, kita makan malam dulu aja. Kalian belum pada makan, kan?”
“Saya langsung pulang aja. Takut kemalaman di jalan.”
“Oh, begitu. Hati-hati di jalan, yah? Terima kasih sudah mengantar Hanun pulang.”
“Iya, Tante. Kalau begitu saya pamit. Assalamualaikum,” katanya sambil mencium telapak tangan ibunya Hanun kembali.
“Waalaikumsalam.”
“Ale antar Hafidz ke depan dulu ya, Mah?”
Sang ibu mengangguk hingga membuat Hanun langsung mengantar Hafidz sampai depan rumahnya.
“Rumah kamu daerah mana?” tanya Hanun saat mereka sudah berada di luar.
“Diskotik,” jawabanya asal.
“Hah? Apaan itu?”
“Di sisi kota saeutik,” tawanya yang membuat Hanun tertawa begitu mendengarnya. Karena itu artinya adalah di sisi kota sedikit. Alias jauh dari kota, semacam daerah kabupaten dan jauh dari pusat kota.
“Serius, rumah kamu itu di mana?” tanya Hanun kembali.
“Di Kopo, daerah yang selalu macet luar biasa saat pagi hari, siang dan malam. Oh iya, kenapa kamu dipanggil Ale sama mamah kamu?”
“Ale panggilan kecilku di rumah. Nama aku kan Hanun Almeera Romeesa. Pake huruf E yah dan huruf E nya double,” paparnya menjelaskan.
“Nama kamu bagus. Cantik seperti orangnya,” katanya pelan hingga membuat Hanun tersipu malu mendengar pujiannya. “Itu bukan pujian, tapi itu fakta dan sudah terpercaya.”
“Iya. Eh iya, ko, tiba-tiba kamu ngomongnya pake aku-kamu? Nggak sama gue-lo lagi? Jadi aneh dengernya. Nggak biasa soalnya.”
“Kan, gue tadi udah bilang sama lo. Gue lagi pendekatan sama lo, jadi gaya bahasanya harus di rubah dikit. Dan, elo harus terbiasa mendengarnya. Kan, elo itu calon pacar gue,” tawanya yang membuat Hanun tertawa geli mendengarnya.
“Emangnya, aku bakalan mau gitu sama kamu?” tanya Hanun dengan memicingkan matanya.
Hafidz tersenyum simpul. “Itu urusan kamu. Kamu mau sama aku atau nggak, itu hak kamu. Aku nggak bisa melarang. Kalau kamu nggak mau sama aku, aku bisa apa? Berarti, aku gagal untuk menjadikanmu pacarku.”
“Aku suka jawaban kamu.” Hanun tersenyum dengan lebar dan penuh kekaguman.
“Tapi, akunya suka sama kamu,” katanya kembali yang membuat Hanun menjadi salah tingkah. “Ya udah, aku pulang dulu.”
“Hati-hati di jalan. Dan, makasih untuk hari ini.”
“Ingat yah, namaku Hafidz Reynaldi Rayshiva.”
“Buat apa aku tau nama lengkap kamu?” tanya Hanun bingung.
“Biar kamu bilang namaku bagus,” katanya yang membuat Hanun tersenyum kecil mendengarnya.
“Nama kamu bagus.”
“Kamu fotocopy kata-kata aku. Nggak seru, ah!” rutuknya manyun.
“Ih, Hafidz pea!"
“Ya udah Hafidz pamit, nih. Bye calon pacar!” katanya langsung bergegas pergi.
“Iya.”
“Ada yang lupa,” kata Hafidz nyengir.
“Apa?”
“Wilujeng kulem, Anun,” katanya pelan yang artinya selamat tidur Anun.
Hafidz memberikan isyarat dua tangannya seperti sebuah pistol yang sedang menembak kepada Hanun, kemudian pergi. Melihat kelakuan Hafidz yang terkadang aneh, konyol dan seperti anak kecil, Hanun selalu merasa terhibur dengan semua perilaku ajaibnya itu. Berkatnya, Hanun selalu tertawa bahagia dengan semua yang dilakukan Hafidz kepadanya.
“Pacarmu, Le?” tanya sang ibu saat Hanun kembali masuk ke dalam.
“Bukan, temen Ale di sekolah. Dia anak Ips,” jawab Hanun yang langsung masuk kamar mandi untuk mencuci kaki dan tangannya.
Setelah selesai, ia kembali menghampiri mamahnya untuk makan malam bersama.
“Papah belum pulang, Mah?”
“Katanya sebentar lagi pulang.”
“Aqila masih les?”
Ibunya Hanun menganggukkan kepala kemudian segera mengambil piring untuk menyiapkan makanan untuk anaknya.
“Anaknya sopan,” katanya kembali.
“Siapa?” tanya Hanun bingung.
“Temanmu, Hafidz.”
Hanun tersenyum kemudian menerima alas piring yang diberikan mamahnya kepadanya.
“Beda sama temanmu yang waktu itu kamu bawa ke sini,” kata ibunya kembali.
“Rian maksud mamah?” tanya Hanun untuk memastikan hingga membuat mamahnya mengangguk. “Ale juga nggak suka Rian, Mah.”
“Nggak suka? Tapi, beberapa kali kamu sering bawa Rian ke rumah.”
“Kan, biar mamah kenal sama Rian.” Hanun kembali menjawab.
“Buat apa kenal Rian?” tanya mamah yang membuat Hanun bingung untuk menjawabnya.
“Mah, Ale boleh pacaran nggak?” tanya Hanun tiba-tiba hingga membuat mamahnya mengernyitkan keningnya.
“Pacaran?”
Hanun mengangguk dan menatap wajah mamahnya dengan harap-harap cemas.
“Buat apa pacaran?”
“Supaya ada temen special yang lebih intens deketnya gitu, Mah. Tapi, Ale nggak akan macam-macam, ko. Serius!” katanya yang langsung memasang ekspresi wajah seriusnya dan memberikan tanda huruf V oleh kedua tangannya.
“Kalau orangnya baik, sopan dan mamah suka. Kamu boleh pacaran.”
“Beneran, Mah?” tanya Hanun bersemangat.
Ibunya Hanun mengangguk hingga membuat Hanun terlihat kegirangan. Karena akhirnya, ia mendapatkan izin juga untuk berpacaran.
“Kalau Aqila boleh nggak, Mah?” tanya Aqila yang tiba-tiba saja datang dan menghampiri mamahnya sambil mencium telapak tangannya.
“Kamu nggak boleh. Kamu masih kecil,” kata Hanun sambil menjulurkan lidahnya.
“Aqila udah gede tahu. Udah 14 tahun,” katanya manyun.
“Aqila belajar aja dulu yang rajin. Kan, mau UN. Nanti papah marah kalau Aqila nilainya jelek,” kata mamah yang membuat Aqila terlihat kecewa.
“Assalamualaikum.”
Seorang pria berkumis datang menghampiri Hanun dan keluarganya yang sedang berada di ruang makan.
“Waalaikumsalam,” jawab Hanun, Aqila dan mamahnya bersamaan.
Begitu melihat papahnya pulang, Hanun dan Aqila langsung mencium telapak tangan papahnya silih berganti.
“Mamah masak apa?” tanya papah.
“Tumis kangkung, cumi-cumi, ikan asin sama jengkol kesukaan papah,” jawab mamah Hanun riang hingga membuat suaminya langsung tersenyum sumeringah.
“Ih, bau. Papah jangan makan jengkol. Nanti, kalau papah masuk kelas, terus ngajar mahasiswa papah. Seisi kelas bakalan pada pingsan waktu menghirup udara bau jengkol dari mulut papah!” seru Aqila yang langsung ditertawakan keluarganya.
Aqila ini orangnya memang periang dan senang bercanda. Ia juga cukup dekat dengan papahnya, makanya bisa mengucapkan hal tersebut kepadanya. Karena sebenarnya, papahnya Hanun ini orangnya serius. Namun, terkadang sifat humorisnya selalu muncul tiba-tiba tanpa diduga-duga.
“Papah nggak ada jadwal ngajar, Ila. Jadi bisa dong makan jengkol,” kata papah menjawab.
“Ih, papah!” seru Aqila manyun.