This Is My Girlfriend

This Is My Girlfriend
About Rama



Begitu besar pengorbanan Rama. Sampai, ia harus berbuat sejauh ini tanpa sepengetahuan mereka. Ketika mereka semua harus menerima kenyataan pahit ini, tiba-tiba saja Riki datang dengan wajah yang terlihat panik dan juga ketakutan.


“Guys, gawat!” katanya tiba-tiba hingga membuat semuanya menoleh kepadanya.


“Ada apa, Rik?” tanya Rey ikutan panik.


“Anak Drozr nyerang Rama,” katanya yang membuat semua teman-temannya terkejut mendengarnya.


“Elo kata siapa? Elo tahu dari mana?” teriak Hafidz sambil menarik pakaian Riki dengan kasar dan mendorong-dorong tubuhnya.


“Septian ngirim foto ini di Line. Dia lihat ada si Bule juga di sana, mereka sekarang ada di daerah Kiara Condong.”


Tanpa aba-aba, Hafidz langsung bergegas pergi dengan di susul oleh Ohen dan teman-temannya yang lain. Selama di perjalanan, Hafidz terus memikirkan persahabatannya dengan Rama, Jeri dan juga Sarah. Semuanya terasa indah untuk dilalui, rasanya berat menerima kenyataan ini.


“Tunggu gue, Ram. Elo harus baik-baik aja, lo gak boleh tumbang sebelum gue yang buat lo tumbang,” katanya pelan.


Sementara itu, Hanun terlihat cemas. Sejak mengantarnya tadi siang pulang, Hafidz masih belum mengabarinya. Biasanya, kalau sudah sampai rumah atau berkunjung dulu ke suatu tempat, ia selalu memberi kabar. Tapi, kali ini Hafidz tak ada kabar sama sekali seperti kejadian tempo lalu saat Hafidz pergi ke Bogor.


Kamu di mana, Fidz? Aku cemas. Batinnya.


Begitu sampai di tempat tujuan, Hafidz langsung memparkirkan motornya begitu melihat banyak orang-orang yang saling memukul, hingga masyarakat sekitar yang melihatnya lari terbirit-birit karena ketakutan.


Begitu melihat Rama sedang berduel dengan si Bule, yang katanya sudah membunuh Jeri. Hafidz langsung berlari ke sana dan menuntut pembalasan dendam padanya.


“Anjing!!” teriak Hafidz yang langsung menendang tubuh si Bule itu hingga tersungkur. “Elo yang udah bunuh Jeri? Jadi, elo yang udah bikin temen gue mati, hah? Brengsek!” katanya yang langsung menghajar si Bule itu hingga membuat Rama sangat terkejut begitu melihat Hafidz.


“Hafidz? Kenapa lo ada?”


“Ram, awas di belakang lo!” teriak Ohen yang membuat Rama langsung membalikkan badan dan menghajar pria yang berusaha untuk menusuknya.


Pergulatan terjadi diantara Rama dan juga orang itu. Namun, naas, pria itu berhasil membuat Rama tertusuk hingga teman-temannya berteriak keras dan berlarian menghampirinya. Pandangan mata Rama mulai kabur, seluruh semesta mulai terlihat gelap.


Teman-temannya berusaha untuk memanggil namanya. Namun, kedua matanya mulai tertutup rapat dan tak sadarkan diri.


Suara ambulance mulai terdengar menggema. Rama di bawa ke rumah sakit dengan beberapa temannya yang mengantar termasuk Hafidz.


Hafidz mulai menghubungi Sarah tentang kondisi Rama saat ini. Begitu mendengar Rama di bawa ke rumah sakit, tanpa perintah Sarah langsung bergegas ke sana.


“Terjadi lagi?” tanya Sarah membuka suara, saat ia tengah bersama Hafidz di loby umah sakit.


“Sorry, Ra,” katanya menunduk sedih.


Belum sempat melanjutkan perkataannya, Hafidz sudah memeluk Sarah hingga membuat keduanya menangis bersama. Saat ini, kondisi Rama sangatlah buruk. Ia langsung dilarikan ke ruang operasi hingga membuat semua teman-temannya, termasuk keluarganya berdatangan ke rumah sakit.


“Gue nggak mau kehilangan sahabat gue lagi, Fidz. Gue . . . gue nggak mau kehilangan orang yang gue sayang,” tangisnya dalam pelukan Hafidz.


“Gue tahu, Ra. Dari dulu, lo emang sayang sama Rama. Sayang lebih dari sahabat, gue tahu itu.”


Sarah melepaskan pelukannya dan menatap wajah Hafidz dengan seksama. “Elo tahu itu?”


“Gue tahu kalian berdua itu saling menyukai sejak kecil. Gue dan Jeri menyadari hal itu. Tapi, kalian berdua tidak mau saling mengaku satu sama lainnya, kalian tidak ingin persahabatan kita rusak karena perasaan cinta kalian, kan? Ra, ini semua salah gue. Gue juga nggak mau kejadian yang pernah terjadi kepada Jeri, terjadi kembali kepada Rama."


Sarah menatap Hafidz lirih. Ia masih bingung dengan semua perkataan Hafidz yang dilontarkan kepadanya.


“Rama tidak berkhianat, Ra. Rama justru menjadi saksi kunci saat terbunuhnya Jeri oleh si Bule. Elo tahu kan si Bule itu siapa?”


“Jadi, si Bule itu yang sudah membuat sahabat kita meninggal?” seru Sarah dengan nada tinggi.


Hafidz mengangguk. Air mata Sarah kembali berlinang. Hafidz mulai menceritakan semuanya yang ia tahu tentang kematian Jeri dan tentang menjauhnya Rama dari mereka. Begitu mendengar semuanya, Sarah kembali menangis. Ia kembali menangis bersama Hafidz dan mengenang kembali persahabatan mereka 3 tahun yang lalu.


4 jam berlalu begitu cepat. Setelah Rama di operasi, ia di bawa ke ruangannya. Sarah, Hafidz dan teman-temannya yang lain meminta maaf kepada keluarga Rama atas terjadinya kecelakaan ini. Meski sudah dimaafkan, Hafidz dan Sarah bertekad untuk menunggu Rama sampai siuman.


“Elo masih inget gak kejadian Jeri dan Rama nangis saat nonton film Romeo and Juliet?” tanya Hafidz, saat ia sedang bersama dengan Sarah duduk di ruang tunggu depan kamar tempat Rama di rawat rumah sakit.


Sarah tersenyum tipis dan mengenang kembali lembaran kenangannya bersama ketiga sahabatnya.


“Dulu, Rama sama Jeri itu paling cengeng dari kita semua kalau sudah menyangkut nonton film mellow kaya gitu. Mereka berdua juga bakalan jadi orang pertama yang mendramatisir isi filmnya. Terus, lo inget juga gak waktu lo masuk RS gara-gara kena tipes?”


Sarah kembali mengangguk dan menundukkan kepalanya dengan mata yang sudah berair menahan tangis.


“Elo sampai gak mau kita bertiga pulang. Dan, lucunya lo sampai ngancem sama kita kalau kita pulang, lo gak mau makan seminggu.”


Sarah tersenyum kecil dengan air mata yang sudah mulai menetes dengan perlahan dan membanjiri pelupuk matanya.


“Gue juga kangen sama kalian. Satu-satunya tempat paling nyaman, tempat gue berpijak hingga gue bisa bertahan sampai saat ini, ya cuma kalian. Kalian itu bagaikan udara, udara agar gue masih bisa tetap bernafas untuk bertahan hidup.


“Kalau bisa, gue ingin mengganti posisi Rama saat ini dengan tubuh gue. Biar gue aja yang sakit,” katanya kembali.


Mendengar itu semua, Sarah dan Hafidz terhanyut dalam sunyi akan sebuah rindu. Rindu akan persahabatan mereka yang terjalin cukup lama. Rindu yang teramat besar hingga membuat mata ini terus beruraian air mata.