
“Kenapa lo gak suka sama gue, Rah? Padahal gue ganteng, loh,” kata Jeri saat berada di dekat patung bintang berukuran besar yang berkelap-kelip saat berada di daerah Bukit Bintang, Bandung.
“Karena lo tinggi. Nanti, kalau gue jalan sama lo disangkanya gue kurcaci lagi,” jawab Sarah yang membuat ketiga temannya tertawa. “Lagian, elo sukanya kan sama Tiwi, Bleh. Gue juga udah ada Tito.”
“Tiwi gue masukin kolor gue dulu, deh. Elo gue masukin hati gue,” katanya yang berusaha menggombal, tapi jadinya malah membuat teman-temannya tertawa.
“Kampret lu, Bleh! Si Tiwi lo masukin kolor, emang geblek lu!” seru Rama yang masih tertawa terpingkal-pingkal dengan celotehannya Jeri.
“Jangan mau sama Jeri, Ra. Si Jeri mah cowo jadi-jadian. Siang jadi Jeri, malamnya jadi Jeni,” tawa Hafidz meledak yang kembali membuat Rama dan Sarah ikut terpingkal-pingkal juga menahan tawa.
“Dasar, buta ijo!” ledek Jeri.
“Dari pada lo buta warna. Nggak bisa bedain warna kuning sama jingga,” timpal Hafidz tak mau kalah hingga membuat semuanya kembali tertawa.
“Ah, udah-udah. Ngopi, yuk? Tunduh, euy,” kata Rama yang diberi anggukan Jeri. (Ngantuk, nih).
Setelah memutuskan untuk ngopi bersama, mereka langsung bergegas pergi setelah puas berfoto-foto dengan gaya mereka yang aneh dan heboh. Setelah puas berfoto, Jeri dan Rama jalan berdampingan sambil bergandengan tangan bagaikan sepasang kekasih hingga membuat Sarah juga Hafidz merinding melihatnya. Sementara Sarah sendiri, ia langsung meloncat ke arah pundak Rama bagikan seekor monyet.
“Monyet ngapung!” seru Jeri saat melihat Rama tengah menggendong Sarah. (Monyet terbang).
Sarah hanya terkekeh dan menjulurkan lidahnya kepada Jeri sambil menarik-narik kedua telinga Rama seperti anak kecil.
“Ram, cepetan lari!” teriak Sarah sambil memukul-mukul pundak Rama.
“Siap ibu monyet!” jawabnya yang kemudian langsung berlari, sedangkan Hafidz berjalan berdampingan dengan Jeri sambil merangkulnya.
“Habis di ruqiyah, jadi agak sinting,” jawab Jeri asal hingga membuat Hafidz tertawa mendengarnya.
Begitu tiba di warung kopi dalam bentuk gazebo, mereka langsung mencari tempat yang cocok dan memesan pesanan mereka. Sambil menunggu makanan mereka tiba, mereka berempat tampak sibuk bermain Mobile Legend yang menjadi famous akhir-akhir ini.
Berteriak heboh karena bermain games, mereka berempat tampak menggebu-gebu untuk saling mengalahkan satu sama lainnya. Yang kalah harus di dandani sejelek mugkin, itulah hukuman yang diberikan Sarah setiap kali bermain Mobile Legend.
Karena kali ini yang kalah adalah Jeri, teman-temannya yang lain langsung mendadani Jeri bagaikan seorang banci lampu stopan. Melihat hasil karyanya cukup memuaskan, Rama dan Sarah jadi orang pertama yang tertawa terpingkal-pingkal melihat Jeri yang seperti banci. Sementara Hafidz, ia sibuk memotret gaya Jeri yang centil seperti perempuan.
Karena hari sudah malam, mereka langsung bergegas pulang. Jeri mengemudikan motor Revo milik ayahnya yang sengaja ia bawa setiap kali mereka pergi bermain. Sementara Rama membawa motor Scoopy milik ibunya dan harus memboncengi Sarah yang selalu ingin dibonceng oleh Rama, setiap kali mereka pergi bermain. Katanya sih, motor Rama imut. Jadi, Sarah suka dibonceng oleh Rama.
Kalau Hafidz sendiri, seperti biasa nebeng di motornya Jeri dan memeluk perutnya begitu erat karena udara malam sudah semakin terasa dingin.
“Rama, gue suka sama lo!” teriak Sarah sambil memeluk Rama.
"Gue juga sama lo, Rah!” teriak Rama membalas.
“Gue suka si bibi tukang bala-bala deket sekolah gue!” teriak Jeri yang langsung ditoyor kepalanya oleh Hafidz dan teman-temannya pun kembali menertawakan candaannya.
Bukit Bintang