
“Jer, gimana? Semua udah ready?” tanya Hafidz, saat ia dan Jeri baru saja sampai di base campe Broxe.
“Udah, besok kita tinggal berangkat. Tadi, gue lihat gelagatnya Tito sedikit aneh saat dia jemput Sarah sepulang sekolah,” kata Jeri menjawab.
“Aneh gimana?” tanya Hafidz bingung.
“Nggak tahu, feeling gue Tito emang mata-mata di Broxe. Dan, gue yakin ada mata-mata lain selain Tito. Tapi, gue nggak tahu siapa orangnya.”
“Kita cari tahu besok. Pasti, besok bakalan ketahuan pelakunya siapa.”
Jeri mengangguk dan kembali membuat rencana dengan Hafidz, Asep, Rey dan juga Agus. Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Tepat pukul 12 siang, semua berkumpul di Taman Lalu Lintas sesuai komando Rey dan juga Hafidz. Anak-anak Broxe lainnya pun juga ikut berkumpul di sana.
Semua berkumpul dengan memakai seragam sekolah mereka, putih biru. Bahkan, ada anak Sma juga yang dulunya merupakan mantan sekolah dari 5 sekolah yang berada di Broxe, ikut membantu menyerang satu sekolah yang sudah mereka rencanakan.
“Rey, Jeri sama Hafidz mana?” tanya Ohen kepada Rama.
“Tadi Rey telepon gue, katanya kita langsung ke lokasi. Mereka nyusul, ada keperluan mendadak katanya,” jawab Rama yang langsung menutup sebagian wajahnya dengan menggunakan scarf.
“Ram, harus ya kita tawuran gini, nyerang sekolah lain?” tanya Sarah begitu melihat teman-temannya yang lain tengah bersiap-siap.
“Kalau lo gak mau ikutan, lo pulang aja, Rah. Ini bahaya.”
“Tapi, gue nggak mau kalian kenapa-kenapa. Ini penyerangan terbesar yang gue tahu, setelah beberapa kali kalian ikutan tawuran. Kenapa sih harus menyerang sekolah itu?”
“Sekolah kita di hina besar-besaran, Rah. Ada dari anak sekolah sekutu kita yang dihajar sampai babak-belur dan parahnya sampai masuk RS. Kita nggak bisa tinggal diam,” kata Rama menjawab.
Sarah tertegun. Kedua bola matanya berputar ke kiri dan ke kanan. Beberapa hari ini, ia sadar kalau teman-temannya begitu sibuk mengurusi perencanaan mereka untuk menyerang sekolah yang sudah menjadi musuh bebuyutan mereka.
Mendengar cerita kalau mereka menghina almamaternya, tentu Sarah tidak akan tinggal diam begitu saja. Ia juga sama marahnya dengan teman-temannya, maka dari itu ia ikut kemana pun apa yang akan dilakukan teman-temannya.
“Oke, kalau gitu gue tetap ikut,” kata Sarah tetap bersikukuh.
Rama mengangguk. Ia sudah memberi aba-aba kepada teman-temannya untuk segera bersiap-siap seperti apa yang sudah diperintahkan Rey kepadanya.
“Berangkat!” teriak Rama mengomandai.
Sementara itu, Hafidz, Jeri dan juga Rey yang sudah berada di Gasibu, melihat ada titik-titik yang meresahkan. Di mana titik itu yang bisa dijadikan tempat persembunyian penyerangan anak-anak Drozr.
Mereka terlihat sedang berdiskusi dan bersiap-siap untuk melakukan penyerangan dengan alat tempur yang sudah mereka siapkan.
“Rey, barudak geus daratang.” Asep membawa sekumpulan anak-anak geng motor yang berwajah sangar dan juga garang. (Rey, anak-anak sudah datang).
“Oke, rencana siap. Kita langsung ke lokasi!” perintahnya.
Setelah semuanya siap, mereka langsung bergegas pergi dengan menggerung-gerungkan motor mereka.
“Woi, aya barudak Broxe nyerang!” teriak seseorang dari kejauhan begitu melihat kendaraan beroda dua berbondong-bondong, bergerombol, memasuki area musuh sekolah mereka.
“Serang!!” teriak Rama sambil mengacungkan pisau belatinya.
Pelemparan batu mulai terjadi di mana-mana. Suasana riuh mulai terasa, cheos, kacau, perkelahian yang membuat banyak orang berjatuhan dan berdarah-darah.
Ketika ada seseorang yang mulai menghadang Sarah dari belakang, Rama langsung menarik tangannya dan menghajar pria tersebut. Meski Sarah bisa sedikit berkelahi, tapi Rama harus tetap melindunginya karena ia tidak ingin sahabatnya terluka.
“Tito mana?” teriak Rama.
“Gue nggak tahu,” jawab Sarah terlihat panik.
“Lo jangan jauh-jauh dari gue, tetep di bekalang gue.”
Sarah mengangguk hingga membuat suasana mulai terasa menyeramkan. Anak-anak sekolah di sana mulai berlarian karena ketakutan dengan tawuran kali ini yang terlihat brutal.
Sarah mulai panik sendiri. Meski di sekolahnya ia merupakan anak karate dan bisa sedikit berkelahi, tapi ia tidak diajarkan untuk menghajar orang lain tanpa alasan. Ia diajarkan oleh pelatihnya untuk menangkis dalam bentuk perlawanan dan pembelaan diri.
“Gawat Ram, mereka bawa anak-anak geng motor. Ternyata, mereka sudah membawa bantuan!” kata Ruli dengan keadaan wajah yang terlihat memar.
“Apa? Bantuan geng motor? Rey dan yang lainnya mana? Hafidz? Jeri?” tanya Rama panik.
“Mereka belum datang.”
“Barudak urang banyak yang tumbang. Gimana ini?” seru Ohen menghampiri Rama dan juga Ruli yang mulai kewalahan.
“Rama!” teriak Sarah.
Begitu mendengar teriakan Sarah, Rama langsung menghampirinya dan menarik tangan Sarah agar ia tak kena sasaran anak-anak Drozr. Bermaksud untuk melindungi Sarah, tangannya malah terkena goresan pisau hingga berdarah. Sarah yang melihat kejadian itu terlihat begitu terkejut dan juga panik.
“Ram, tangan lo?” katanya dengan air mata yang mulai menetes.
“Gue ngga apa-apa. Yang penting lo baik-baik aja. Lo jangan jauh-jauh dari gue.”
Sarah mengangguk pelan. Rama terlihat sangat frustasi. Ia mengacak-ngacak rambutnya emosi. Namun, dari kejauhan terdengar suara riuh motor yang begitu banyak dan mulai berdatangan.