
Hanun dan Hafidz duduk bersama di salah satu sudut tempat di balai Kota Bandung. Mereka masih saling terdiam membisu, tak saling berbicara mau pun menatap. Akibat perkelahiannya dengan Rama tadi, sekarang mereka hanya bisa sibuk dengan fikiran mereka masing-masing.
“Aku tahu kamu kecewa padaku.” Hafidz membuka suara hingga membuat Hanun menatapnya sendu. “Aku terima bilamana kamu kecewa padaku. Aku terima, kalau sekarang kamu memutuskan untuk menjauh dariku. Aku tidak bisa memaksa kamu harus menerimaku apa adanya. Karena menurutku, manusia itu tidak bisa sesempurna yang kamu inginkan.”
“Bisakah kamu diam dan tak beranggapan dengan apa yang kamu fikirkan?” Hanun menatap wajah Hafidz dengan kedua bola matanya yang berkaca-kaca.
“Tidak semua wanita berfikiran seperti apa yang kamu fikirkan. Mungkin, kamu benar kalau aku bisa saja kecewa dengan semua perbuatanmu tadi atau pun di masa lalu. Mungkin, memang benar jika aku menyesal dengan semua yang terjadi akhir-akhir ini.
“Tapi, bisakah kamu mendengar suara hatiku? Mendengar semua jawaban dari sudut pandangku? Aku tidak ingin kita salah paham. Aku tidak ingin kamu berbicara tanpa bertanya dulu padaku apa yang sebenarnya aku rasakan saat aku tahu semua tentangmu.”
Hafidz tertegun. Ia menunduk tak berani menatap wajah Hanun. Fikirannya saat ini kacau, di sisi lain ia memikirkan tentang pembicaraannya tadi dengan Rama. Tapi, di lain pihak, ia takut kehilangan Hanun saat ia tahu semua tentang masa lalunya yang kelam.
“Aku tahu semuanya tentangmu dari Sarah. Tanpa kamu menjelaskan lagi pun, aku sudah tahu dengan jelas. Yang perlu kamu tahu adalah aku akan selalu ada untukmu. Kamu adalah bagian dari hidupku,” katanya menegaskan.
“Kamu itu seperti puzzle, kepingan gambar yang membuat sebuah kisah untuk menjadi satu rangkaian bagian yang lengkap. Kamu juga bagaikan sebuah buku diary yang kosong, di mana aku harus mencatat seluruh kisah dari masa lalumu sampai masa sekarang. Di mana ada bagian dari diriku yang masuk ke dalam rekaman hidupmu. Di mana jika masa depan telah tiba, kita bisa kembali membuka setiap lembaran kertas itu untuk mengenang masa indah mau pun kelam.
“Sama halnya seperti dirimu. Masa lalu itu tak perlu diperdebatkan, kamu di masa lalu mau pun di masa sekarang, kamu ya tetap kamu. Kamu yang nantinya akan menjadi bagian dari cerita hidupku.”
Hafidz cukup senang mendengar semua kata demi untaian kata yang dilontarkan Hanun barusan. Itu cukup memotivasinya dan menyemangatinya untuk hidup lebih baik dari sebelumnya.
“Kamu itu istimewa, special seperti martabak. Tahu kenapa?”
Hanun menggeleng. Ia penasaran dengan jawaban yang akan Hafidz jelaskan.
“Kamu itu orang pertama yang membuatku tergerak untuk mendekatimu. Kamu itu perempuan pertama yang membuatku rasanya jatuh cinta itu seperti apa. Aku tidak bohong atau pun gombal, ini fakta, sangat akurat dan terpercaya. Sumbernya dari hatiku langsung.”
Hanun mengangguk dan tersenyum kecil. Ia mengacak-ngacak rambut Hafidz kembali dan menarik hidungnya dengan gemas.
“Aku tidak sepintar kamu yang pandai menguraikan kata-kata indah dan romantis. Jadi, tolong aku, yah?” kata Hafidz kembali.
“Tolong untuk apa?”
“Tolong ajarkan aku untuk tidak berhenti mencintai kamu.”
Hanun tersipu malu begitu mendengar ucapan Hafidz barusan. Pipinya merekah dan merona, baru kali ini ia bisa sebahagia ini hanya dengan duduk bersama dengan pria yang ia sukai secara berdampingan dan berbicara banyak hal.
Hafidz banyak membuat Hanun tersadar akan sesuatu hal. Menyukai seseorang tidaklah harus melihat dari masa lalunya dulu seperti apa. Menyukai seseorang itu bisa menerima keadaannya sekarang ini dan ikut membantunya berubah untuk jadi pribadi yang lebih baik.
Berubah jadi pribadi yang lebih baik tidaklah harus menjadi orang lain. Menjadi pribadi yang lebih baik itu merubah sikap perilaku yang menurut kita buruk di masa lalu, untuk menjadi lebih berguna dan bermanfaat di masa sekarang.
Karakter dan watak mungkin tidak bisa diubah, tetapi sikap perilaku yang dianggap meresahkan masih bisa diubah secara perlahan. Asalkan ada tekad bulat, niat dan berusaha, sikap perilaku kita pasti akan bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Semenjak kejadian Rama dan Hafidz berkelahi, kedua orang tua mereka diminta pak Wawan untuk menghadap kepala sekolah. Setelah sekian lama tak berjumpa, ibu Hafidz kebali dipertemukan dengan ibu Rama yang notabenenya sudah kenal lama. Namun, semenjak kedua anaknya saling bermusuhan, mereka tidak pernah saling bertemu lagi.
“Sudah lama ya kita tidak pernah bertemu. Kamu apa kabar, Mbak?” tanya ibunya Rama setelah mereka keluar dari ruangan kepala sekolah.
“Alhamdullilah, Mbak baik. Kamu dan suami kamu apa kabar, Ris? Semenjak kejadian 3 tahun yang lalu, kita sudah tidak pernah bertemu lagi.”
Ibu Hafidz hanya tersenyum kecut.
Saat ibunya Rama dan ibunya Hafidz tengah berbincang-bincang di koridor sekolah, kedua anak mereka datang menghampiri ibunya.
“Gimana, Bu?” tanya Hafidz yang baru saja datang menghampiri ibunya.
“Kamu dan Rama mendapatkan peringatan keras. Kalau kamu berulah lagi, kamu bisa dikeluarkan dari sekolah. Lagian, kamu ada-ada aja. Kenapa harus berkelahi dengan teman sendiri?”
Hafidz terdiam. Rama memalingkan wajahnya, sementara ibunya Rama hanya bisa merangkul anak semata wayangnya itu.
“Mamah nggak mau ikut campur urusan permasalahan kalian berdua. Tapi, mamah berharap kalian selesaikan masalah kalian itu di luar sekolah, jangan di sekolah. Kalian kan sudah besar, kejadiannya juga sudah terjadi lama sekali. Kalian tidak bisa berdamai untuk sementara saja?”
Ibunya Rama menatap wajah anaknya dan Hafidz saling bergantian. Ibunya Hafidz setuju dengan apa yang dikatakan oleh ibunya Rama. Bagaimana pun masalahnya, mereka dulu adalah teman dekat. Teman baik yang saling bergantung satu sama lainnya.
“Maaffkan Rama, Mah. Maafkan Rama juga, Bu,” kata Rama tampak menyesal dan menatap wajah ibunya sendiri dengan ibunya Hafidz silih berganti.
Hafidz menghela nafas pendek. Ia datang menghampiri ibunya Rama dan mencium telapak tangannya. Begitu pun dengan Rama, ia juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Hafidz.
Walau pun mereka sudah lama tak bertemu, sudah tidak berteman dekat seperti dulu lagi, Rama dan Hafidz tidak ingin menjadi anak yang durhaka. Mereka ingin silahturahmi mereka tetap terjalin dengan baik. Walau kedua anaknya saling bermusuhan, tapi Rama dan Hafidz tidak ingin orang tuanya ikut terbawa dalam urusan pribadi mereka.
“Mbak Ratna, saya pulang duluan, yah? Kapan-kapan, mbak Ratna mainlah ke rumah,” ujar ibunya Rama sambil berpelukan dengan ibunya Hafidz untuk melepas rindu.
“Iya Risa, nanti kapan-kapan mbak main ke rumah. Jaga dirimu baik-baik.”
Ibu Rama mengangguk dan tersenyum simpul.
“Saya pamit ya mbak, saya kangen sama mbak Ratna.”
“Mbak juga kangen sama kamu, Ris.”
Setelah berpelukan dan saling melepas rindu, ibunya Rama pamitan pulang begitu pun dengan ibunya Hafidz. Setelah mengantar mereka sampai gerbang sekolah, Rama dan Hafidz saling beradu pandang kembali.
“Anak-anak Broxe mau ketemu kita hari ini. Elo bisa?” tanya Rama.
“Di mana?”
“Di base camp.”
“Ayo, pergi sekarang.”
Melihat Rama dan Hafidz yang langsung bergegas pergi dengan menggunakan kendaraan mereka masing-masing, Hanun terlihat tampak sangat khawatir melihat keadaan mereka. Apalagi Hafidz, ia sangat khawatir kalau orang yang disukainya itu berbuat masalah lagi dengan Rama.
“Semoga kalian baik-baik saja,” ucap Hanun pelan sambil memandangi kepergian Hafidz dan juga Rama.