
Semenjak janjinya kepada ibunya Hanun dan juga keluarganya, Hafidz membuat suatu perubahan yang besar. Ia jadi sering belajar, rajin ke perpustakaan, mendengarkan guru yang sedang menjelaskan dan membuat Hanun yang melihat perubahan tersebut ikut senang melihatnya.
Hanun tidak pernah mengganggu waktu Hafidz untuk belajar. Setiap harinya, mereka selalu belajar bersama di rumahnya. Kadang-kadang mereka sering belajar di perpustakaan, parkiran sekolah dan warung mie ayam dekat sekolah: tempat favorit mereka setiap pulang sekolah.
Sarah juga sering ikut belajar bersama dengan mereka berdua. Karena sering ikut dengan kegiatan belajar-mengajar Hafidz dan juga Hanun, Sarah jadi lebih akrab dengan Hanun. Mereka juga jadi sering pergi nongkrong bertiga hingga membuat Rama yang melihat keakraban mereka, sering menatap mereka dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.
“Jadi, perhitungan yang ini ditambahkan dulu sama hasil yang sebelumnya?” tanya Sarah kepada Hanun, saat mereka bertiga tengah berada di warung mie ayam dekat sekolah.
“Iya, kamu tambahkan dulu sama hasil yang ini. Nanti, baru ketemu titik temunya,” jelas Hanun yang tengah mengajari Sarah soal matematika, dengan keadaan buku catatan mereka yang berserakan di mana-mana.
Sarah manggut-manggut tanda mengerti.
“Udah belajarnya, 2 hari lagi ujian sudah
di mulai. Sekarang, kita istirahat aja dulu. Nanti, otak kalian meledak kalau terlalu rajin belajar,” tutur Hafidz yang langsung mendapatkan rangkulan kasar dari Sarah.
“Kampret lo emang! Otak lo aja yang meledak. Jangan bawa-bawa gue!”
Hafidz tertawa lebar hingga membuat Hanun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Eh, gue punya tebakan buat lo, Ra.”
“Apa itu?” Sarah terlihat antusias.
“Gajah apa yang belalainya pendek?” tanyanya yang membuat Hanun jadi ikut berfikir juga.
“Nggak tahu. Gajah apa emangnya?” tanya Sarah penasaran.
“Gajah pesek. Sama kaya hidung lo yang pesek,” tawanya terbahak-bahak.
“Kampret! Kenapa jadi bawa-bawa hidung gue, hidung lo juga pesek, cuy!” seru Sarah yang langsung mengacak-ngacak rambut Hafidz seenaknya hingga membuat Hanun ikut tertawa melihat perilaku mereka berdua.
“Ada lagi. Aku ada tebakan juga buat kalian berdua.” Hanun dan Sarah sudah siap mendengarkan tebakan selanjutnya dari Hafidz. “Apa bedanya balapan kuda sama balapan motor?”
Hanun dan Sarah sama-sama mengangkat kedua bahu mereka tak tahu.
“Kalau balapan kuda ada tempat parkiran motornya. Kalau balapan motor ya nggak ada parkiran buat kudanya,” tawanya kembali.
Hanun dan Sarah sama-sama menoyor kepala Hafidz dengan kasar. Mereka terlarut dalam gelak tawa mereka. Hal sederhana inilah yang membuat Hanun bahagia bisa berkumpul bersama dengan Sarah dan juga Hafidz. Obrolan mereka yang menyenangkan dan penuh dengan tebak-tebakkan yang lucu dan juga unik.
“Aku juga punya tebakan buat kalian,” kata Hanun tiba-tiba.
“Oh, iya? Apa itu?” tanya Hafidz penasaran.
Hafidz dan Sarah menggeleng tidak tahu hingga membuat keduanya sudah tak sabar mendengar jawabannya.
“Jawabannya, karena malu mempunyai ibu seekor babi,” jawab Hanun yang membuat Sarah dan Hafidz tertawa terpingkal-pingkal.
“Lo udah ketularan peanya si Hafidz ya, Nun? Kalau anaknya babi ya pasti ibunya juga babi. Masa iya monyet?” kelakar Sarah.
Hanun hanya nyengir dan sudah cukup puas dengan tebakan yang ia buat sendiri. Sementara Hafidz, ia memegang kepala Hanun hingga membuat Hanun menoleh ke arah Hafidz dan menatapnya lembut.
“Anak pintar. Aku suka,” katanya sambil tersenyum. Mereka berdua pun saling melempar senyum.
Karena hari sudah sore, mereka memutuskan untuk pulang. Hanun berpamitan pulang dan meminta Hafidz untuk mengantar Sarah pulang saja karena rumah mereka searah.
“Serius? Gue bisa pulang naik angkot, Nun. Biar Hafidz aja yang nganterin lo,” kata Sarah yang merasa tidak enak.
“Aku nggak apa-apa. Rumah kalian searah ini, kan? Aku bisa pulang naik angkot atau ojek online.”
“Udah, gini aja, deh. Kalian aku antar bareng-bareng,” tutur Hafidz yang membuat keduanya terkejut mendengarnya.
“Hah? Gimana caranya?” tanya Sarah dan Hanun bersamaan.
“Kita dempet tiga.”
“Kampret lo! Kagak mau gue, kalau ada polisi gimana, cuy?”
“Iya, aku juga nggak mau. Aku mau cari aman aja, aku naik angkot dan gak mau ambil resiko tinggi.”
Hafidz berkacak pinggang. Ia menatap wajah Sarah dan juga Hanun dengan ekspresi wajah yang terlihat serius.
“Ngapain takut sama polisi. Bapak gue juga polisi. Haduh, tenang aja deh kalian. Kita lewat jalan tikus aja, lagian dari sekolah ke rumah Hanun deket ini. Cuma 30 menit juga nyampe.”
“Eh, kampret! Gue nggak mau cabe-cabean. Lagian, motor lo Vespa. Mana muat ngebawa kita bertiga. Ngarang lo, kuya!”
“Eh, nagin! Gue lagi pake motor FU punya A Haris. Kita lagi tukeran motor, jadi kalian aman,” timpalnya tak mau kalah.
“Eh, ayam betutu, motor FU kan udah macam serodotan duduknya. Lu kira kita mau naik permainan ulil yang macam di mall Kings itu?” kata Sarah lagi membalas.
“Eh, tutug oncom, bawel ya lu lama-lama! Gue bawa juga lu ke tempat ruqiyah!”
Sarah langsung menjitak kepala Hafidz hingga membuat Hafidz membalasnya dengan menarik hidung Sarah dengan kasar. Melihat perdebatan kecil diantara Sarah dan juga Hafidz, itu selalu membuat Hanun tertawa. Bukannya cemburu, tapi ia malah senang melihat kedekatan mereka.