This Is My Girlfriend

This Is My Girlfriend
Berkumpulnya Broxe



Rama dan Hafidz memparkirkan motor mereka setelah mereka sampai di sebuah halaman yang cukup luas. Rama melihat sudah ada jejeran motor yang begitu banyak terparkir di sana.


Sudah lama sekali ia tidak pernah ke sini dan sudah lama sekali ia tidak pernah menginjakkan kakinya lagi di sini. Rasanya, ia seperti bernostalgia. Terkenang lagi semua kenangannya bersama teman-temannya dulu di sini, di tempat ini.


“Jadi, kumaha? Alus kan tebakan urang tadi?” tutur Jeri kepada Rama dan juga Hafidz, saat mereka masih berseragam putih biru. (Jadi, bagaimana? Bagus kan tebakan saya tadi?).


“Bisaan euy maneh, apal ti saha tebakan kawas kitu?” tanya Rama penasaran. (Hebat nih kamu, tahu dari siapa tebakan seperti itu).


“Nya bisa atuh. Urang gitu ,loh,” katanya berbangga diri, “matakna, maraneh mun hayang pedekate jeng awewe, kudu unik jiga urang. Bere tebakan jiga kieu, meh indehoy,” tawanya lebar hingga membuat Rama


juga Hafidz ikut tertawa terbahak-bahak bersamanya. (Ya bisa dong. Saya gitu loh. Makanya, kalian kalau mau pedekate sama perempuan, harus unik seperti saya. Kasih tebakan seperti ini, biar keren.).


“Belegug sia mah!” seru Hafidz yang langsung menoyor kepala Jeri dengan kasar. (Bodo kamu).


Hafidz ikut tersenyum, saat melihat sebuah kursi kayu yang berada di depan sebuah rumah yang terlihat gelap, kosong dan berantakan.


Di tempat ini, almarhum sahabatnya mengajarkan tips-tips untuk mendekati perempuan. Walau ia tahu sendiri kalau sahabatnya itu, sampai ia meninggal ia tidak pernah merasakan apa itu yang namanya pacaran.


“Ah, sial banget, nih!” keluh Jeri sambil mengangkat kedua kakinya ke atas kursi dan mulai menyalakan rokok miliknya.


“Kenapa?” tanya Hafidz yang baru saja datang sambil membawa 2 gelas berisi kopi hitam.


“Gagal nih urang bobogohan jeung si Tiwi,” katanya terlihat putus asa. (Gagal nih, saya pacaran sama Tiwi.)


“Ko, bisa?” tanya Hafidz kembali.


“Tiwi jigana teu resep ka urang, Bleh.” Jeri menekuk wajahnya. (Tiwi sepertinya nggak suka sama saya, Bleh.)


“Tahunya dari mana, Bleh?”tanya Hafidz yang sejak dulu sering memanggil Rama juga Jeri dengan sebutan ‘Bleh’. Itu adalah panggilan sayang mereka untuk teman-teman dekatnya agar terlihat akrab.


Panggilan ‘Bleh’ itu muncul tiba-tiba dari idenya Jeri, saat ia pertama kalinya menonton film porno bersama dengan Rama dan juga Hafidz di rumahnya.


“Teuing, soalna si Tiwi cuek gitu sama urang. Gak ada hasil.” (Gak tahu, soalnya Tiwi cuek begitu sama saya).


“Walau sudah di kasih tebakan anehmu itu?” tanya Rama yang tiba-tiba muncul dan duduk di samping Hafidz.


Jeri mengangguk hingga membuat Hafidz dan juga Rama tertawa lebar begitu melihat eskpresi wajah Jeri yang kecewa dan itu menurutnya sangat lucu.


Sejak dulu, Jeri hanya menyukai Tiwi; kakak kelasnya yang cantik seperti model. Walau tidak sempat berpacaran, Tiwi cukup terpukul dengan kematiannya Jeri. Karena mereka memang pernah dekat dan nyaris jadian. Dan, dari Jeri jugalah, Hafidz belajar dengan semua tebakannya yang unik dan juga konyol.


Dengan cara Jerilah, Hafidz berhasil mendekati Hanun. Walau dulu sempat mengejek Jeri dengan cara pendekatannya yang aneh, tapi akhirnya ia melakukannya juga kepada Hanun.


“Udah pada datang?” tanya Ruli, pria bertubuh tinggi yang baru saja muncul di dekat pintu.


Rama dan Hafidz menatap wajah Ruli kemudian mengangguk pelan. Begitu Ruli masuk, Rama dan Hafidz mengikutinya dari belakang. Saat masuk ke dalam, ternyata sudah banyak orang yang datang untuk berkumpul.


“Kemana aja lu berdua? Udah lama nggak ke sini. Nggak kangen sama kita-kita?” tanya Rey dengan rambutnya yang terlihat cepak.


“Ada apa?” Akhirnya Rama membuka suara.


“Ada hal yang mau kita bahas. Soal kematiannya Jeri,” tutur Ohen yang paling pendek di antara teman-temannya yang lain.


“Untuk apa di bahas lagi? Udah selesai juga semua masalahnya,” kata Hafidz menjawab.


“Lu pasti tahu sesuatu kan, Ram? Ngomonglah sama kita semua di sini sekarang!” kata Ruli hingga membuat Hafidz cukup terkejut mendengarnya.


“Apa maksudnya dia tahu tentang sesuatu?” tanya Hafidz sambil menunjuk wajah Rama dan terlihat mulai emosi.


“Tito, dia kan yang jadi mata-mata di Broxe? Dia juga kan yang memecah belah anak-anak Broxe dan mengadu ke anak-anak Drozr, kalau kita mau nyerang sekolah mereka yang merupakan musuh bebuyutan sekolah kita dulu?” kata Rey kembali.


“Heh, apa bener yang dikatakan Rey barusan? Elo tahu semua itu? Jadi, beneran Tito, cowo yang sengaja lo deketin sama Sarah yang tahu semua rencana kita?”


Rama terdiam dan tak menjawab. Ia malah memalingkan wajahnya hingga membuat suasana menjadi cukup tegang.


“Jawab, anjing!!” serunya yang langsung memukul wajah Rama begitu keras hingga tersungkur jauh.


“Fidz, udah! Nggak ada gunanya lo ribut sama Rama!” kata Ohen yang mencoba untuk melerai pertengkaran Hafidz dengan Rama dan berusaha menenangkannya.


“Jawab lo, brengsek! Jangan kaya banci lo!” teriak Hafidz yang mulai berapi-api.


Rama membersihkan mulutnya yang mulai mengeluarkan darah segar. Suasana yang mulai tegang dan memanas, membuat semua anggota Broxe terbawa amarah juga.


“Gue nggak tahu maksud dan tujuan Tito ngedeketin gue apa. Dia cuma bilang pengen dikenalin sama Sarah. Dia suka sama Sarah, dia juga banyak bantuin gue di luar sekolah. Gue kenal Tito saat tawuran di daerah Dago. Kalau pun dia sengaja pacaran sama Sarah biar tahu banyak soal informasi kita, udah gue hajar dia dari dulu,” katanya dengan nafas tersenggal.


“Gue juga baru tahu satu tahun yang lalu kalau ternyata si Tito anak buahnya si Bule. Lo semua tahu si Bule, kan?” seru Rey.


“Si Bule ketua Drozr? Yang mukanya putih kaya mayat? Musuh geng kita?” tanya Ohen untuk memastikan.


Rey mengangguk. Begitu mendengar semua kebenaran itu, suasana mulai riuh. Mereka mulai merutuk dan menyesalkan dengan apa yang telah terjadi saat kejadian 3 tahun yang lalu.


“Anjing!” teriak Ohen kesal seraya menendang meja yang berada di dekatnya.


“Terus, yang sudah membunuh Jeri siapa? Anak-anak Drozr, kah? Anak suruhan si Bule?” tanya Hafidz tak sabaran.


“Yang bunuh Jeri kita masih nggak tahu jawabannya siapa. Gue juga masih cari tahu yang menyebabkan lo, Sarah, Agus dan Ohen hampir masuk penjara. Sekarang, kita tenang-tenang aja dulu. Jangan bertindak gegabah dan sendirian. Seminggu lagi kita bertemu di sini. Sekarang, sampai di sini aja.” Rey mengakhiri pembicaraannya dan seketika semua pun bubar.


Semenjak pembicaraan mereka yang membuka kembali kasus kematian Jeri, Hafidz terlihat seringkali melamun. Selama 3 hari di skorsing, Hafidz sama sekali tidak pernah bertemu dengan Hanun. Bahkan, menghubunginya saja tidak.


Semua Line dan telepon dari Hanun pun sama sekali tak di balas dan di angkat olehnya. Apa yang sebenarnya terjadi padanya?


“Gue harus cari Tito,” kata Hafidz saat berada di base camp.


“Jangankan lo, kita semua yang selama 3 tahun ini mencari Tito, dia sama sekali nggak pernah kelihatan batang hidungnya. Dia udah jarang kumpul sama-sama anak Drozr atau pun Broxe. Kita aja nggak tahu di mana dia sekolah sekarang,” tutur Ohen sambil menyalakan rokoknya dan menawari Hafidz untuk merokok. Namun, Hafidz menolaknya.


“Gue udah berhenti ngerokok,” kata Hafidz pelan menolak.


“Sebenernya, gue agak sedikit curiga sama Ruli,” kata Rey tiba-tiba hingga membuat Ohen, Agus dan juga Hafidz menoleh ke arahnya.


“Curiga kenapa?” tanya Agus.


“Ada yang aneh sama dia, gue curiga aja. Gue lagi menyelidikinya juga, sih.”


“Gue juga sih, Rey. Si Ruli juga udah lama banget kan gak ngumpul sama kita. Sekarang, kenapa dia tiba-tiba mau ngumpul sama kita lagi coba?” kata Agus kembali.


“Apa dia mau mencari sesuatu dari kita? Mencurigakan juga, sih.” Ohen menambahi.


“Gue juga akan mencari tahu soal itu. Gue mau ke Bogor, ke kampung halamannya Tito yang pernah Sarah bilang dulu.”


“Bogor? Boleh juga tuh, gue boleh ikut, Fidz?” tanya Rey sambil menatap Hafidz.


Hafidz mengangguk. “Sekalian gue mau ke rumah nenek gue. Tapi, kalian jangan pernah ada yang bilang sama Rama atau pun Sarah gue cari Tito, yah?”


“Kenapa?” tanya Ohen dan Agus berbarengan.


“Gue nggak mau Sarah terlibat dalam urusan kita lagi. Rey, nanti malam kita langsung berangkat.”


Rey mengangguk dan memberikan dua jempolnya.