This Is My Girlfriend

This Is My Girlfriend
Mengenal Hafidz lebih Dalam



Setelah Sarah berpamitan pulang, Hanun duduk di ruang tamu hingga membuat ibunya Hafidz datang bersamaan dengan minuman dan juga beberapa cemilan yang beliau bawa.


“Jadi ngerepotin.”


“Nggak apa-apa sekali-kali. Hafidz itu jarang bawa temen perempuan ke rumah. Yang sering dia bawa itu cuma temen-temen dekatnya saja seperti Sarah, Rama dan Jeri.”


“Gitu ya, Bu? Ibu kenal Rama dan juga Jeri?”


“Kenal. Mereka itu sudah berteman dekat sejak kecil. Ke mana-mana selalu berempat. Ibu juga cukup kenal dekat dengan orang tua mereka masing-masing.”


Hanun manggut-manggut tanda mengerti. Ternyata, persahabatan mereka memang begitu dekat. Sampai-sampai, ibunya Hafidz sendiri sudah mengenal dekat keluarga dari teman-temannya Hafidz.


“Hafidz banyak cerita sama ibu tentang kamu. Katanya, Hafidz suka sama kamu,” cerita ibu yang membuat Hanun tersipu malu. “Hafidz itu belum pernah pacaran, belum dapat izin juga sih dari ibu. Soalnya, masih kecil, lebih baik sekolah saja dulu yang benar. Urusan pacaran belakanganlah.


“Tapi, ibu lihat Anun ini membawa hal positif kepada Hafidz. Hafidz jadi sering belajar, ibu senang melihat Hafidz rajin belajar lagi seperti itu. Eh, tapi boleh yah ibu panggil kamu Anun seperti Hafidz?”


Hanun mengangguk sambil tersenyum kecil. “Iya, boleh, Bu.”


“Anun, maaf ya, kalau masa lalu Hafidz membuat kamu kecewa. Kamu pasti sudah tahu masa lalunya Hafidz, kan?” kata ibu sambil menggenggam kedua tangan Hanun.


Hanun kembali mengangguk dan menundukkan kepalanya pelan.


“Hanun tahu semuanya, Bu. Makanya Hanun ke sini pengen ketemu ibu. Pengen tahu semua tentang pribadi Hafidz itu seperti apa di rumahnya.”


“Sejujurnya, Hafidz itu anak yang baik dan patuh sama orang tua. Anaknya juga pintar. Tapi, semenjak meninggalnya Jeri dan merenggangnya pertemanannya Hafidz dengan Rama. Ya, jadi seperti itulah sosok Hafidz itu.”


Hanun hanya bisa diam dan menatap ke arah sebuah meja. Di mana, di sana ada sebuah bingkai foto Hafidz dengan satu orang perempuan dan juga laki-laki.


“Itu Haris, kakaknya Hafidz. Sudah kuliah, sementara itu Salma, adiknya Hafidz. Mereka bertiga cukup dekat dan anak-anak yang bisa ibu banggakan. Kalau yang itu, ayahnya Hafidz. Dia polisi.”


“Ayahnya itu tegas, tapi dia baik. Hafidz paling dekat dengan ayahnya. Semua memang dekat, tapi Hafidz ini yang paling dekat. Kadang, Salma dan Haris selalu iri dengan kedekatan Hafidz dengan ayah mereka. Setiap kali Hafidz ulang tahun, ayahnya selalu pulang ke rumah walau harus dalam keadaan larut malam.


“Motor Vespa itu juga hadiah dari ayahnya saat Hafidz lulus Smp. Itu motor kesayangannya Hafidz. Ayahnya juga sering kali berdiskusi dengan Hafidz dan juga Haris soal pekerjaannya. Semenjak kejadian di kantor polisi dan hampir mendekam di penjara, ayahnya sangat marah sekali. Dia sampai menampar Hafidz saking begitu kecewanya. Dan, itulah pertama kalinya ayahnya menampar.”


Hanun mendengarkan semua cerita ibunya Hafidz dengan seksama. Ia juga baru tahu, ternyata pria yang disukainya itu begitu dekat dengan ayahnya. Ayahnya yang polisi dan ibunya yang merupakan seorang guru Sejarah. Kedua orang tuanya itu sudah membuat Hanun cukup kagum dengan cerita tentang pribadi Hafidz di masa lalu.


“Semenjak kejadian itu, Hafidz sering kali menghabiskan waktunya bersama ayahnya. Bahkan, Ia sampai menjauhi teman-temannya yang membuatnya jadi sering tawuran karena ultimatum dari ayahnya itu. Ya, seperti itulah Hafidz di masa lalu.”


Hanun terdiam. Ia kembali memandangi foto keluarganya Hafidz dan menatap begitu lama foto ayahnya Hafidz yang terlihat gagah itu.


“Bu, kalau boleh tahu, wajah Jeri itu seperti apa, yah?”


“Jeri? Tunggu, ibu punya fotonya.”


Ibu Hafidz langsung pergi ke kamar anaknya dan mengambil sebuah album foto. Di mana, di dalam album tersebut banyak sekali menyimpan kebersamaan Hafidz dengan ketiga temannya.


“Ini yang namanya Jeri,” kata ibu sambil menunjuk ke arah sebuah foto laki-laki dengan mata yang besar. “Matanya besar, paling tinggi diantara Rama dan juga Hafidz.”


“Mereka dekat sekali ya, Bu?”


“Sangat dekat. Jeri dan Rama sering menginap di sini. Saat masih Smp, mereka pernah bercita-cita ingin jadi polisi, seperti ayahnya Hafidz,” kenang ibu.


“Begitu, kah?”


Ibu mengangguk dan kembali mengenang kejadian 4 tahun yang lalu, di mana Rama dan Jeri berkunjung ke rumah.