This Is My Girlfriend

This Is My Girlfriend
Lembaran Baru



“Hafidz, ibu lagi ngomong sama kamu. Kamu denger, gak?” tanya ibu Hafidz yang merasa diacuhkan anaknya. Ketika ia sedang berbicara, anaknya malah sibuk memakan mie rebusnya yang baru saja ia buat.


“Iya, Ibu. Hafidz denger, ko.”


“Tatap lawan bicaramu kalau ada yang sedang mengajakmu berbicara. Gak sopan kalau diacuhkan seperti itu.”


Hafidz menaruh mangkuk mienya dan menatap wajah ibunya dengan seksama. “Ini udah perhatiin ibu. Sekarang, ibu mau cerita apa sama Hafidz?”


Ibu tersenyum dan kembali menatap wajah anaknya dengan ekspresi wajah yang terlihat serius.


“Ibu kesal sama murid ibu di sekolah. Masa, hanya gara-gara nilai ujian anak-anak kebanyakan di bawah standar KKM, anak-anak pada demo minta ujian ulang,” ceritanya yang terlihat kesal.


“Ya Allah ibu, masa gitu aja ibu marah? Ibu sudah macam anak abg aja pake acara marah-marah segala.” Hafidz tertawa lebar dan menggeleng-gelengkan kepalanya begitu mendengar cerita ibunya.


“Ibu itu paling malas mengadakan ujian ulang. Toh, mereka saja yang tak mampu menguasai materi saat ibu menjelaskan.” Ibu tampak percaya diri dengan opininya barusan.


“Yakin, Bu? Atau ibu aja kali yang salah menjelaskan.”


“Masa guru salah menjelaskan? Lieur kamu, mah,” katanya dengan logat Sundanya, tapi masih ada sisa logat Medannya yang terdengar cukup kental.


Hafidz tertawa melihat ekspresi ibunya ketika sedang bercerita dan berkeluh kesah seperti itu. Setiap kali ada masalah di sekolah, sang ibu selalu bercerita kepada anak-anaknya. Entah masalah pendidikan, murid-muridnya, atau biaya di sekolah yang semakin mahal.


“Guru juga terkadang selalu salah, Bu. Yang selalu benar cuma Allah SWT. Namanya juga manusia, tak luput dari kesalahan. Kalau semua orang benar dan tak mau disalahkan, nanti kantor polisi sepi dari penjahahat-penjahat yang ada di muka bumi ini. Terus, ayah kena PHK. Ibu mau ayah pensiun dini dan jadi pengangguran?”


“Ya allah, ibu gak maulah. Nanti kamu mau dikasih makan apa kalau ayahmu nganggur?” katanya yang langsung membayangkan jika suaminya jadi pengangguran. Begitu membayangkannya, ia langsung berigidik sendiri.


“Sama daging manusia. Biar Hafidz jadi Sumanto aja,” jawabnya asal lalu terkekeh.


“Sembarangan kalau ngomong. Pamali, ucapan itu adalah doa,” kata ibunya yang langsung memukul paha anaknya pelan.


Hafidz hanya bisa tertawa kecil hingga membuat ibunya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


“Bu, Hafidz mau cerita sesuatu sama ibu.” Hafidz kali ini memasang ekspresi wajah yang terlihat begitu serius dari sebelumnya.


“Cerita naon? Soal nilai ujianmu yang jelek lagi? Bosan ibu dengarnya.” Ibu menatap wajahnya anak sesaat, kemudian ia kembali lagi dengan kertas-keras yang berisi soal ujian murid-muridnya.


“Bukan. Ini soal makhluk paling cantik di sekolah Hafidz,” sanggahnya yang kemudian tersenyum centil.


Ibu Hafidz hanya manggut-manggut dan sibuk memerika hasil ulangan siswa-siswanya di sekolahnya.


“Namanya Hanun Almeera Romeesa. Katanya pake huruf E dan huruf E nya double. Cantik yah namanya?” katanya memuji, sambil membayangkan wajah cantiknya Hanun.


“Lalu apa? Kamu suka sama dia?” tanya ibu dengan mata yang masih melihat kertas-kertas ujian yang berada di tangannya.


“Hafidz nggak ngerti, Bu. Soalnya, Hafidz nggak pernah ngerasain rasanya jatuh cinta dan juga pacaran. Yang Hafidz tahu, rasa suka Hafidz sama Hanun itu seperti rasa suka Hafidz sama ibu, sama ayah, sama A Haris dan juga Salma,” katanya yang masih terlihat bingung.


“Jadi, anak ibu ceritanya lagi jatuh cinta?” goda ibu sambil mencolek dagu anaknya.


Hafidz terkekeh dan menunduk malu. Baru kali ia bercerita soal perempuan selain Sarah kepada ibunya. Biasanya, yang ia ceritakan itu hanya seputar Sarah, tentang sekolahnya dan hal-hal yang tidak jauh dari kehidupannya, kecuali jatuh cinta.


“Kalau Hafidz pacaran boleh nggak, Bu?” tanya Hafidz tiba-tiba.


“Jangan boleh, Bu!” teriak Salma, adik Hafidz yang baru saja pulang.


“Heh, anak kecil. Main nyaut aja kamu!”


“Ko, pulang nggak salam?” tanya ibu.


“Lupa,” katanya nyengir, “bentar diulangi lagi.”


Salma langsung berjalan mundur dan keluar dari rumah. Hafidz yang melihat tingkah laku adiknya yang unik, langsung tertawa terbahak-bahak begitu melihat Salma langsung keluar dari rumah dan kembali mengetuk pintu.


“Assalamualaikum,” ucapnya pelan yang kemudian masuk kembali.


“Waalaikumsalam,” jawab Hafidz dan ibunya yang langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Anak-anak ibu pada aneh semua. Kelakuan kalian memang ajaib.”


“Kalau anak-anak ibu aneh, ibu juga aneh, dong. Kan, ibu yang udah ngelahirin anak-anak aneh seperti kita” celoteh Salma sambil tertawa hingga membuat ibunya ikut tertawa juga.


“Salma, diem dulu. A Hafidz lagi cerita ini sama ibu. Bu, jadi gimana? Hafidz boleh pacaran nggak?”


Ibu menghela nafas pendek. Selama ini, ia sudah cukup keras mendidik anak-anaknya. Anak-anaknya adalah anak yang pintar. Ketiga anaknya selalu menjadi anak yang berprestasi, meski ada salah satu anaknya yang terkadang bikin kepala pusing dengan sikapnya yang berbeda dari anak-anaknya yang lain.


“Perbaiki dulu nilai-nilai pelajaranmu, baru ibu izinkan kamu pacaran.”


“Beneran, Bu?” tanyanya memastikan.


“Iya, dulu kan kamu selalu masuk 10 besar. Tapi, semenjak kejadian 3 tahun yang lalu, prestasimu jadi merosot.”


“Iya, Hafidz tahu. Maaf kalau Hafidz mengecewakan ayah dan ibu selama ini,” katanya menunduk sedih.


“Masa lalu biarkan jadi lembaran kertas yang banyak coretannya. Sekarang, kamu buka lembaran baru. Buat ayah ibumu bangga, buat perempuan yang kamu suka itu juga bangga. Kamu mengerti, Nak?” kata ibu sambil memegang bahu anaknya.


Hafidz mengangguk dan tersenyum. “Makasih, Bu. Makasih sudah menjadi ibu yang baik dan selalu mendengarkan semua cerita Hafidz.”


“Masa lalu biarlah masa lalu!” teriak Salma sambil bernyanyi bergaya ala dangdut hingga membuat Hafidz terkekeh melihatnya.


“Salma! Kamu ngejek ibu?” teriak ibu setelah Salma berhenti bernyanyi.


“Nyanyi, Bu. Bukan ngejek. Aduh, ibu ini gimana, sih? Gak gaul nih ibu guru,” katanya menjawab.


“Astagfirullah, durhaka kamu ngejawab pertanyaan ibu terus.”


“Kalau ada yang nanya, ya Salma jawablah, Bu. “


“Ibu kutuk, baru nyaho kau!” katanya yang kembali mengeluarkan logat medannya.


“Di kutuk jadi Song hye Kyo aja, Bu. Biar Salma cantik dan gak usah operasi plastik,” katanya cengengesan.


”Di kutuk jadi orang gila aja, Bu. Biar nyaho ieu budak hiji,” kata Hafidz menimpali. (Tahu ini anak satu).


“Nooo!” teriak Salma yang langsung masuk ke dalam kamarnya.


Ibu dan Hafidz tertawa terbahak-bahak. Salma memang selalu saja ada kelakuannya yang selalu membuat keluarganya tertawa lebar. Kalau kata peribahasa, ibu dan Salma itu seperti kucing dan anjing. Ribut terus kalau bertemu, tapi kalau nggak ada selalu ditanyakan kabarnya.


Salma memang penghidup suasana di rumah. Dia ceria dan selalu membuat candaan-candaannya yang fresh. Si bungsu satu ini adalah mataharinya keluarga Hafidz.