
Esok harinya, Sarah dan Hafidz tidak masuk sekolah. Mereka masih menunggu Rama sampai ia sadar. Saat Rama siuman, sudah ada Sarah yang berada di sampingnya sambil menggenggam tangannya begitu erat. Begitu pun dengan Hafidz dan juga Rey yang menemani Rama sampai pagi hari.
“Rah?” katanya begitu melihat Sarah dengan suaranya yang masih terdengar lemah. “Kenapa lo ada di sini?”
“Gue, Hafidz dan juga Rey di sini untuk lo. Menemani sahabat kita yang sedang terluka,” jawab Sarah dengan mata berkaca-kaca.
“Gimana keadaan lo, Ram?” tanya Rey sambil tersenyum.
“Lumayan sakit, badan gue rasanya remuk banget,” jawabnya pelan.
“Ram, gue??"
“Gue tahu elo mau minta maaf sama gue,” potong Rama cepat, saat melihat Hafidz tertunduk dengan perasaan menyesalnya. “Dari dulu gue udah maaffin lo dan maaffin kalian semua. Sebenarnya, kalian itu nggak salah. Gue yang salah di sini,” katanya berkaca-kaca sambil menahan rasa sakit di perutnya.
“Pelan-pelan ngomongnya, Ram. Elo baru aja di operasi,” kata Sarah yang terlihat khawatir.
“Kenapa lo bisa diserang anak Drozr, Ram? Apa yang telah mereka perbuat sama lo?” tanya Rey penasaran.
“Gue mencoba lapor polisi. Gue berhasil menemukan salah satu anggota mereka yang memakai obat-obatan terlarang. Mereka tahu itu sebelum gue lapor, jadi mereka menyerang gue. Saat itulah, gue bertemu dengan si Bule. Tadinya, gue ingin menuntut keadilan dan menjebloskannya ke penjara. Tapi, takdir berkata lain.”
Rama memalingkan wajahnya hingga membuat ketiga temannya merasakan apa yang ia rasakan selama ini.
“Kita pasti akan membuatnya di hukum, Ram. Kita akan menjebloskan si Bule ke penjara. Dia sudah membunuh sahabat kita,” kata Hafidz dengan penuh rasa marah, emosi dan sedih.
“Gue tahu, tapi akan sulit menjebloskan si Bule itu ke penjara. Ayahnya itu salah satu anggota DPR. Dia punya kuasa yang sangat besar.”
“Jadi? Kita harus bagaimana?”
Belum sempat Rama menjawab pertanyaan Hafidz, Ohen dan juga Ruli langsung masuk ke dalam ruangan tempat Rama di rawat.
“Fidz, Rey, gawat! Ada polisi ke sini mencari kalian!” seru Ohen yang terlihat panik.
“Apa? Ada apa ini sebenarnya?” tanya Hafidz tak mengerti.
“Fidz, Rey, kalian cepat pergi dari sini sebelum kalian di bawa polisi,” kata Rama yang ikutan panik juga.
“Tapi, Ram? Elo gimana?”
“Biar di sini gue sama Rama yang urus. Sekarang kalian cepat kabur!” kata Sarah yang langsung mendorong tubuh Rama dan juga Rey agar cepat pergi.
Merasa dalam siatuasi tertekan dan penyesalan yang begitu mendalam, Rey dan juga Hafidz terpaksa meninggalkan Rama di rumah sakit dan segera pergi menjauh dari kejaran polisi. Ohen dan juga Ruli ikut kabur bersama kedua temannya, sementara Sarah menemani Rama di rumah sakit dan akan berusaha menyembunyikan keberadaan sahabat-sahabatnya dari kejaran polisi.
Namun, sialnya, saat keluar dari rumah sakit, Hafidz malah bertemu dengan ayahnya. Dan, pada saat itulah, Hafidz mengalami dilema yang begitu besar, sampai-sampai ia dan ayahnya saling beradu pandang beberapa detik dengan pandangan mata yang bingung, kalut dan juga sedih .
Ayah Hafidz berjalan menghampiri anaknya. Ia tidak akan menyangka, profesinya sebagai polisi akan membuatnya menangkap anak kandungnya dengan tangannya sendiri.
Mata mereka saling bertemu dengan penuh kehampaan. Air mata Hafidz mulai terjatuh ke dasar pipi begitu melihat ayahnya memegang kedua pipinya dan memeluknya begitu erat.
Selama ini, ia sudah jarang sekali dipeluk seperti ini oleh ayahnya. Ia merasa menyesal, menyesal karena sudah membuat ayahnya sedih dan juga kecewa.
“Maafkan Hafidz, Yah,” tangis Hafidz sambil menundukkan kepalanya.
“Ayah percaya padamu, Nak. Kamu tidak bersalah, kamu hanya melakukan perlawanan bukan percobaan pembunuhan.”
“Maksud ayah?” tanya Hafidz tak mengerti.
“Ada salah satu korban yang koma saat perkelahian yang terjadi kemarin di Kiara Condong. Ayah yakin bukan kamu pelakunya, sekarang kamu lebih baik pergi. Biar ayah yang urus semuanya di sini.”
“Tapi, Yah? Hafidz?”
"Pergi, cepat pergi sebelum mereka menangkapmu.”
Dengan terpaksa, Hafidz dan teman-temannya bergegas pergi meninggalkan ayahnya yang masih berseragam polisi menatap kepergiannya dengan nanar.
“Maafkan Hafidz, Yah.”
"Kau akan baik-baik saja, Nak. Ayah janji akan melindungimu," tutur ayah Hafidz pelan dengan kedua bola matanya yang sudah memerah menahan tangis begitu melihat kepergian anaknya.
Si Bule
Rey
Ohen
Ayahnya Hafidz