
Sarah baru saja keluar dari kamar mandi saat bel pulang berbunyi. Begitu hendak menuju
parkiran untuk menemui Hafidz, ia berpapasan dengan Rama di koridor. Sarah berusaha untuk menjauhi Rama, tapi Rama tiba-tiba saja melangkahkan kakinya begitu cepat dan langsung menghadang kepergiannya.
“Mau apa lagi sih lo, Ram?” Sarah terlihat kesal dengan kedua bola matanya yang melotot tajam.
"Gue ingin ngobrol sama lo sebentar, Rah."
"Nggak ada yang harus kita bicarakan lagi, Ram. Semua sudah selesai." Sarah langsung bergegas pergi namun Rama tetap menghentikan langkah kaki Sarah. "Mau lo itu apa, sih? Tinggalin gue, Ram!" teriak Sarah penuh emosi.
“Gue kangen sama lo, Rah. Elo nggak kangen sama gue?” Kedua bola Rama terlihat lirih dan ekspresi wajahnya pun terlihat jujur.
“Buat apa gue kangen sama lo?”
“Dulu kita itu sahabatan, Rah. Apa lo lupa?”
Sarah terdiam dan menatap kedua bola Rama dengan tajam. “Elo lupa, kalau sekarang itu kita udah nggak sahabatan?”
"Rah, bagaimanapun dulu kita pernah mempunyai kisah yang sama, melakukan hal bersama-sama."
"Lantas, kenapa elo baru ngomong seperti ini sama gue hari ini? Kenapa sebelum-sebelumnya elo diam saja tak bersuara? Jangan melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang kali, Ram!" seru Sarah yang menaikkan volume suaranya dengan suara yang cukup lantang dengan ekspresi wajahnya yang penuh kekesalan.
"Gue ingin memperbaiki semuanya, Rah."
"Memperbaiki apa? Kenapa baru hari ini lo ingin memperbaiki semuanya? Dulu lo ke mana? Saat gue membutuhkan lo, saat gue dengan Hafidz membutuhkan lo. Elo ke mana?" teriak Sarah dengan mata berkaca-kaca.
"Justru itu, Rah. Gue mau . . . "
"Sudahlah, Rama. Berhenti berbicara lagi sama gue. Tinggalin gue, lupain gue, kita hidup masing-masing saja tanpa mengganggu privasi masing-masing. Bisa kan lo? Bisa kan kita bersikap seperti biasanya seperti kemarin-kemarin?" potong Sarah dengan cepat dengan menatap wajah Rama dengan tajam.
“Masihkah lo marah dengan kejadian meninggalnya Jeri?” tanya Rama hingga membuat Sarah terdiam.
Begitu mendengar nama Jeri disebutkan, Sarah terlihat begitu terkejut dan membelalakan matanya. Nama itu sudah lama sekali tak terdengar olehnya dari mulut Rama. Sarah sempat meneteskan air matanya begitu nama Jeri di sebutkan tadi. Namun, dengan cepat ia langsung menghapusnya dengan kedua tangannya.
“Meninggalnya Jeri itu bukan salah kita semua. Itu sudah menjadi takdir, Rah. Elo harusnya mengerti hal itu."
"Mengerti lo bilang? Atas dasar apa elo mengatakan hal itu? Tak usah munafik, Rama!"
“Jangan sebutkan nama Jeri lagi dari mulut kotor lo, Ram. Gue nggak suka!”
“Kenapa? Masih mau menyalahkan gue atas meninggalnya Jeri?”
“Rama!” teriak Sarah cukup keras hingga membuat orang di sekelilingnya menatap ke arah mereka berdua.
Sarah mendengus kesal. Ia memalingkan wajahnya hingga membuat Rama yang berdiri di hadapannya mengacak-ngacak rambutnya yang tampak frustasi.
“Rama, lo ngapain sama cewe alay itu?” teriak Revika yang baru saja datang, saat melihat kebersamaan langka Rama dan juga Sarah.
Rama dan Sarah memang tidak pernah saling bertegur sapa saat mereka tahu mereka kembali satu sekolah satu tahun yang lalu. Kebersamaan mereka yang langka ini pasti akan dinilai begitu aneh oleh teman-temannya.
“Nanti kita bicara lagi,” katanya yang langsung pergi hingga membuat Sarah meneteskan air matanya kembali.
Tadinya, Sarah ingin sekali menanyakan pipinya Rama yang sembab dan memar saat melihatnya tadi. Tapi, ia mengurungkan niatnya kemudian pergi.
Sarah jalan tergontai menuju parkiran. Begitu melihat Hafidz, ia jalan menghampirinya dengan kedua matanya yang sendu.
“Lo lama banget, sih? Dari mana aja?” seru Hafidz saat melihat Sarah baru saja datang.
Sarah sama sekali tidak menjawab. Ia malah menangis keras hingga membuat beberapa orang yang melihat ke arah mereka berdua tampak terlihat bingung.
“Ko, malah nangis? Siapa yang buat lo nangis?”
Sarah sama sekali tidak menjawab. Ia malah menangis semakin menjadi-jadi hingga membuat Hafidz mendekap sahabatnya itu agar tidak menangis lagi.
“Kalau ada yang nyakitin lo bilang sama gue, Ra. Nanti, gue bakalan hajar mereka sampai mereka merasakan rasa sakit yang lo rasakan,” kata Hafidz yang membuat Sarah mempererat pelukannya.
“Udah jangan nangis lagi. Jelek lo kalau lagi nangis gitu, nanti dekilnya lo hilang."
“Rese lo!” serunya di sela-sela tangisannya.
Hafidz tertawa dan kembali memeluk temannya itu dengan erat. Rama sempat melihat ke arah parkiran di mana kedua temannya tengah berpelukan. Ada tersirat rasa iri dan rasa cemburu ketika mereka berpelukan erat seperti itu.
“Harusnya, ada gue juga di sana ketika lo sedih, Rah,” katanya pelan.