This Is My Girlfriend

This Is My Girlfriend
Rindu



Semakin hari, Hanun dan Hafidz semakin dekat dengan keluarga pasangannya masing-masing. Bahkan, hubungan mereka juga terbilang sangat lancar dan sudah mendapatkan restu dari kedua belah pihak.


“Kalau lulus nanti, kamu mau kuliah di mana?” tanya Hanun saat tengah bersama dengan Sarah, Hafidz dan Gita di kantin sekolah.


“Aku ingin kuliah di Unpad. Aku sudah menemukan impianku,” kata Hafidz menjawab.


“Apa, tuh?” tanya Sarah penaran.


“Gue mau jadi jaksa. Jadi, gue harus bisa mendapatkan nilai yang sempurna ketika lulus UN dan SNMPTN nanti.”


“Elo pinter, Fidz. Elo pasti bisa jadi jaksa,” kata Gita yang diberi anggukan oleh Sarah dan juga Hanun.


“Doa- in aja, semoga gue bisa jadi Jaksa yang hebat dan adil. Kalian sendiri, impian kalian apa?”


“Gue pengen kerja di statuin Tv gitu, kayanya keren,” kata Gita tampak bersemangat.


“Kalau gue sih tahu kapasitas otak gue kaya gimana. Gue sih, pengennya jadi pebisnis gitu. Punya rumah makan di mana-mana, kan enak,” jawab Sarah yang tampak riang begitu membicarakan soal impiannya.


“Iya, soalnya elo mah suka makan. Jadi, pengen punya rumah makan di mana-mana biar gratis,” canda Hafidz yang membuat Sarah langsung menjitak kepala temannya itu. “Kamu gimana?” tanya Hafidz kepada Hanun.


“Aku sepertinya tetap akan menjadi guru kalau tidak iya jadi dosen, seperti permintaan papah dan mamah,” jawabnya.


“Soal menulis gimana? Kamu bukannya ingin menjadi penulis?”


“Papah sudah mengizinkan aku untuk menjadi penulis. Tapi, itu hanya jadi sampingan bukan prioritas utama.”


“Nggak apa-apa. Yang penting, kamu udah di izinin sama orang tua kamu. Aku ikut seneng dengernya,” katanya sambil memegang kepala Hanun dengan lembut dan menatapnya dengan mesra, hingga membuat Sarah juga Gita langsung terbatuk-batuk menyindir.


“Pacaran terus!” seru mereka berdua yang membuat Hanun dan Hafidz tertawa mendengarnya.


Sepulang sekolah, seperti biasa Hafidz mengantar Hanun pulang. Selama di perjalanan, Hanun memeluk Hafidz bergitu erat hingga membuat Hafidz paling senang jika Hanun sudah memeluknya seperti ini.


“Aku punya tebakan,” kata Hafidz yang membuat Hanun senang setiap kali Hafidz memberikannya sebuah tebakan.


“Apa?”


“Ada 1 orang sedang berjalan di bawah satu payung kecil. Tapi, kenapa yang lainnya tidak ada satu orang pun yang kehujanan? Tahu nggak kenapa?”


“Nggak tahu. Kenapa emangnya?”


“Karena tidak hujan,” katanya sambil tertawa.


“Garing. Kaya orang gila aja dia pake payung, padahal lagi gak hujan.”


“Kan namanya juga tebakan,” katanya kembali sambil tertawa. “Pintu, pintu apa yang didorong sama 10 orang yang nggak bakalan terbuka?” katanya kembali hingga membuat Hanun menggelengkan kepalanya. “Pintu yang ada tulisannya tarik,” katanya yang membuat Hanun tertawa mendengarnya.


“Nggak tahu. Apa emangnya?”


“Kung flu,” katanya menjawab hingga membuat keduanya tertawa tebahak-bahak.


“Aku juga punya lagi,” kata Hafidz bersemangat. “Kenapa kucing kalau di kejar anjing selalu lihat ke belakang?”


“Karena dia nggak punya spion,” jawab Hanun cepat.


“Ih, kamu pinter.”


“Kan, kamu yang ajarin,” jawab Hanun yang membuat Hafidz menggenggam tangan kekasihnya dengan lembut.


Setelah sampai di depan rumah Hanun, Hafidz menggandeng tangan Hanun yang sudah turun dari motornya.


“Masih kangen,” kata Hafidz manja.


“Kan, besok masih bisa ketemu. Kamu mau mampir dulu?”


“Besok aja, aku mau latihan futsal dulu sama anak-anak di Saparua.”


“Hati-hati di jalan, yah? Jangan pulang malam-malam.”


“Iya, bye pacar,” pamit Hafidz sambil melambaikan tangannya.


“Bye, pacar.”


Motor Hafidz berlalu. Namun, ia kembali lagi hingga membuat Hanun yang hendak masuk kembali menoleh ke belakang. “Kenapa?”


“Ada yang lupa,” jawab Hafidz yang langsung turun dari motornya.


Tiba-tiba saja Hafidz memeluk Hanun begitu erat dan membuat yang dipeluk begitu terkejut dengan sikap tiba-tibanya.


“I love you, pacar,” bisiknya di telinga Hanun kemudian mencium keningnya.


Hanun terpaku di tempatnya. Hafidz tertawa lebar kemudian pergi. Ini adalah kali pertamanya, Hafidz mencium kening Hanun dan mengatakan kata romantis seperti itu.


Selama berpacaran, Hafidz tidak pernah sama sekali mengatakan bahwa dia mencintainya. Walau itu kata yang sangat familiar dan hanya kalimat biasa, tapi Hanun sangat bahagia sekali begitu mendengarnya, sampai-sampai ia melompat-lompat kegirangan.


Mengenang semua kenangan di masa-masa pacaran selama 3 bulan terakhir ini memang begitu indah. Rasanya, Hanun ingin sekali kembali ke masa itu, di mana Hafidz tidak akan mengalami kejadian ini. Di polisi hingga menjadi buronan, Rama masuk rumah sakit, ayahnya Hafidz mengundurkan diri dari kepolisian hingga sekarang Hanun tidak tahu keberadaan Hafidz di mana dan bagaimana kabarnya.


"Kamu di mana, Hafidz? Aku rindu."